Ikhlas

Ikhlas
Keluarga yang Hancur


__ADS_3

"Papa!" teriak Azzam penuh amarah. Azzam melempar barang-barang yang ada di depannya. Arif dan Andra berusaha menenangkan Azzam. Namun sia-sia tenaga penuh amarah Azzam. Tak lagi bisa dibendung.


Braaaakkkk Braaaakkkk Braaaakkk


"Papa!" teriak Azzam lantang, kedua mata Azzam memerah. Amarah nyata dan seolah tak lagi mampu ditahannya.


Azzam hancur dan terluka. Kenyataan akan kondisi Vira membuatnya tak berkutik. Vira istri kecilnya terluka, karena angkuh keluarganya. Rasa percaya yang diberikan Vira padanya. Tak lagi bisa dipenuhinya. Dengan amarah dan keangkuhan keluarganya. Vira tersakiti dan terkhianati.


"Azzam, tahan amarahmu. Percuma kamu marah, seharusnya kamu lebih memikirkan kondisi Vira. Bukan marah tanpa alasan seperti ini?" ujar Arif menenangkan, tangan Arif dan Andra mencoba menahan tubuh Azzam. Agar tidak melempar semua barang.


Azzam meronta mencoba melepaskan diri. Dengan segenap tenaga, Azzam melepaskan diri dari pegangan kedua sahabatnya. Lama Azzam meronta melawan dua orang. Akhirnya Azzam tumbang, tubuhnya lemah tak bertenaga. Azzam jatuh ke lantai, air mata Azzam membasahi lantai marmer rumah megahnya.


"Azzam, apa yang kamu lakukan?" ujar Angga emosi, Azzam mendongak menatap Angga Atmaja. Seorang ayah berhati keji, rela mempertaruhkan segalanya demi harkat dan martabatnya.


Praaayyyyrrr Praaayyyyrrr


Azzam melempar dua guci besar di sudut ruang tamu. Amarahnya kembali mencuat, tatkala dia melihat Angga Atmaja berdiri di depannya. Azzam kalut saat dia melihat bayangan Vira. Air mata dan darah Vira yang menetes membakar tubuhnya. Azzam marah mengingat kepingan-kepingan pahit yang terjadi pada Vira. Azzam tak lagi bisa berpikir, dia kehilangan akal. Mengingat kenyataan pahit yang terjadi pada istri kecilnya.


Melda menangis histeris melihat sang putra. Dengan kedua matanya, Melda melihat air mata penuh kepedihan Azzam. Melda berhambur memeluk Azzam. Mendekap erat Azzam, menenggelamkannya jauh dalam pelukan dan kasih sayangnya. Melda mengusap kepala Azzam berkali-kali. Mencoba menenangkan panas hati yang dirasakan Azzam.


Sebaliknya Angga marah melihat rapuh Azzam. Dia malu saat menyadari, putra kebanggannya hancur hanya demi Vira anak ART. Pewaris keluarga Atmaja yang hancur demi Vira wanita hina tak bermartabat. Amarah Angga semakin besar, ketika dia melihat tangis Melda. Air mata Melda terlalu berharga bagi Angga. Tak pernah dia berpikir ingin membuat Melda menangis.


"Azzam, kamu pewaris keluarga Atmaja. Tidak sepantasnya kamu menangis demi wanita hina itu. Dia bukan siapa-siapamu? Kamu mengenalnya hanya beberapa bulan. Sedangkan kami mengenalmu selama bertahun-tahun!" ujar Angga emosi, Azzam tersenyum sinis mendengar perkataan Angga.


Azzam melepaskan pelukan Melda. Dengan langkah lemah dan gontai, Azzam berjalan mendekat ke arah Angga. Azzam menatap lekat ayah yang begitu kejam. Ayah yang tega menghancurkan kebahagiannya. Seorang kakek yang tanpa sengaja membunuh cucunya sendiri. Cucu yang bahkan belum terlahir ke dunia.


"Tuan Angga yang terhormat, mungkin Vira hina dimatamu. Namun dia pelita dalam hidupku. Jika Vira tiada, kupastikan hatiku hampa dan kosong. Jangankan menjadi pewaris keluargamu. Bahkan membayangkan hidup tanpa Vira, aku tidak akan sanggup!" ujar Azzam emosi, Angga meradang mendengar nada bicara Azzam.


Angga merasa Azzam tengah melawannya. Angga merasa Azzam telah bersikap kurang ajar dan tidak sopan padanya. Melda histeris melihat pertengkaran Angga dan Azzam. Sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.

__ADS_1


"Diam kamu Azzam, lebih baik kamu masuk. Istirahat di kamarmu, lihat dirimu sekarang. Kamu sangat kacau, layaknya orang yang kehilangan akal. Lagipula anak ART itu sudah mendapatkan pertolongan dari rumah sakit terbaik. Itu sudah lebih dari cukup!" ujar Angga sinis, nada bicara Angga layaknya orang tanpa dosa.


Azzam mundur beberapa langkah menjauh dari Angga. Kepalanya menggeleng lemah tak percaya. Azzam melihat Angga, bak pembunuh berdarah dingin yang siap membunuh anak dan istrinya. Azzam tak percaya, keangkuhan Angga jauh dari kasih sayangnya dulu. Angga begitu dingin dan kejam. Harta membuatnya berani bersikap arogant pada siapapun?


"Papa, dirimu kejam. Aku tak lagi mengenalmu!" ujar Azzam lirih, Angga termenung menatap sang putra menjauh darinya. Melda hanya bisa menangis, Azzam bersandar pada dinding.


Azzam jatuh ke lantai, dia menunduk menutup wajah dengan kedua tangannya. Tubuh Azzam bergetar hebat. Suara tangis nyata terdengar dari mulutnya. Azzam terpuruk, tak ada bahagia yang kini bisa dirasakannya. Hidup bak orang mati yang kini dirasakan Azzam.


"Azzam, semua telah terjadi. Perbaiki semua sebelum terlambat. Bukan meluapkan amarah yang tak pernah ada habisnya. Menyalahkan atau merasa bersalah, tidak akan membuat Vira membaik. Dukung dia dengan cintamu, topang dia dengan kasih sayangmu. Yakinkan dia, kamu mampu melindungi dirinya. Vira butuh dirimu, buah hati kalian butuh ayahnya!" ujar Andra bijak, Azzam diam menunduk.


Azzam terlalu takut menemui Vira. Tatapan Silvia sudah mewakili sikap Vira padanya. Keberadaan Rayyan, seolah akan menggantikan dirinya. Abil yang selalu ada untuk Vira. Bahkan di saat Vira terpuruk dan sendirian. Seolah pertanda, Azzam tak lagi dibutuhkan. Ada atau tidaknya Azzam, tak lagi penting.


"Vira hamil!" ujar Melda lirih, Angga menoleh tak percaya mendengar perkataan Melda. Angga mundur beberapa langkah, dia terkejut akan kenyataan yang tak pernah dia inginkan.


"Azzam, jawab mama!" ujar Melda, Azzam diam tak bersuara.


"Andra, kamu tidak tuli. Jawab tante, dimana menantu tante?" ujar Melda, Andra diam membisu. Tak ada yang mampu menjawab pertanyaan Melda. Hanya Azzam yang berhak bicara, bukan mereka.


Melda berjalan mendekat ke arah Azzam. Melda bersimpuh di depan Azzam. Melda duduk di lantai, layaknya Azzam yang rapuh. Melda mengangkat dagu putranya. Menangkup wajah sang putra. Menghapus air mata jernih Azzam. Air mata kepedihan yang seolah menusuk hati terdalamnya. Melda menarik kepala Azzam, masuk ke dalam pelukannya. Mengusap lembut kepala sang putra. Mencium puncak kepala Azzam lembut. Melda berharap menjadi sandaran dan penopang rapuh Azzam.


"Azzam, katakan pada mama. Apa yang sebenarnya terjadi? Dimana Vira sekarang? Kenapa kamu menangis? Ketika kabar bahagia datang. Katakan pada mama, semua duka di hatimu. Alasan air matamu menetes!" ujar Melda lembut penuh kasih sayang. Arif dan Andra terdiam mematung. Keduanya melihat betapa rapuh sahabatnya Azzam. Sebaliknya mereka merasakan kasih sayang yang begitu besar Melda.


Azzam melepaskan diri dari pelukan Melda. Dia berjalan terhuyung ke arah Angga. Azzam berdiri tepat di depan Angga. Tatapan pilu Azzam seakan jawaban luka hatinya. Hidupnya hancur dengan sikap sang ayah. Harta keluarganya layaknya pisau tajam yang menusuk tubuh Vira.


"Papa, kenapa harus Vira yang menanggung amarahmu. Aku yang memaksanya menikah denganku. Aku yang terlalu takut kehilangan dirinya. Vira mungkin hina dimata papa, tapi dia harta berharga Azzam. Vira hidup dan segalanya bagi Azzam. Kini semua telah hancur. Tak ada cinta Vira untuk Azzam. Papa berhasil membuatnya membenciku. Papa tidak hanya membunuh cintaku, tapi papa juga membunuh putraku. Seorang putra tak bersalah yang bahkan belum sempat terlahir. Papa membunuhku dengan satu pukulan!" ujar Azzam lirih, Melda menggeleng tak percaya.


Angga diam membisu, perkataan Azzam seolah jawaban semua luka putranya. Terlihat Melda mendekat, dia menarik tubuh Azzam. Tatapannya seakan tak percaya, jika semua telah terjadi.


"Mama, semua berakhir. Putraku tiada demi harta keluargaku!" ujar Azzam lirih, Melda menatap Angga. Seakan bertanya yang sebenarnya terjadi. Angga diam tak menyahuti, seakan dia tak mengerti maksud Azzam.

__ADS_1


"Aku tidak tahu?" ujar Angga santai.


"Azzam, katakan sebenarnya apa yang terjadi?" ujar Melda lirih.


"Papa memberikan uang pada bik Siti, dengan syarat agar Vira meninggalkan kak Azzam. Papa menghina keluarga Vira, bahkan mengancam akan menghancurkan semua keluarga Vira. Bik Siti menangis di depan Vira, dia meminta Vira melepaskan Kak Azzam. Disaat Vira butuh kak Azzam, ketika Vira merindukan dekapan hangat kak Azzam. Vira harus merelakan kak Azzam pergi. Vira memilih pergi menjauh bersama buah hati mereka. Namun luka seolah tak ingin pergi darinya. Kini buah hati yang mengautkannya terancam tiada. Tekanan papa membuat Vira tumbang dan rapuh!" ujar Fariz lantang, Azzam dan menoleh bersamaan.


Fariz berjalan mendekat ke arah Azzam. Dengan tatapan membunuh, Fariz melihat Azzam sang kakak. Sekilas Fariz menoleh pada Angga. Melda merasa takut melihat amarah Fariz. Arif menahan tubuh Fariz, seolah dia menyadari akan amarah Fariz pada Azzam. Fariz menepis tangan Arif, dia berjalan mendekat ke arah Azzam.


Buuuugghhh


"Fariz!" teriak Melda histeris, Azzam jatuh tersungkur. Pukulan keras Fariz membuat Azzam tumbang. Melda memangku kepala Azzam, sedangkan Arif mencoba menahan tubuh Fariz.


"Aku merelakan Vira untukmu, bukan untuk disakiti. Lindungi dia dari angkuh keluarga ini. Jika kak Azzam tak mampu, lepaskan dia sebelum Vira terluka. Aku mampu melupakan hubungan demi melindungi Vira!" ujar Fariz lantang, Azzam menunduk mengiyakan perkataan Fariz.


"Papa, aku pernah mengatakan padamu. Vira segalanya dalam hidupku. Sikap papa pada Vira, membuatku enggan berada di rumah ini. Aku malu menjadi anggota keluarga ini!"


"Fariz, jangan gila kamu!"


"Papa, cinta membuat seseorang kehilangan akal. Bahkan siap kehilangan segalanya demi senyum pemilik hati. Terima kasih telah merawatku selama ini. Kelak aku akan membalas jasamu!" ujar Fariz lirih.


"Fariz berhenti!" ujar Angga, Fariz menoleh sembari menenteng tas punggung.


"Maafkan Fariz pa. Jika papa sanggup menghancurkan keluarga tak berdosa. Seharusnya papa siap merasakan sakit hancurnya keluarga besarmu. Bukan orang lain yang akan menghancurkannya, tapi aku yang menghancurkannya!" ujar Fariz sinis, Melda menangis histeris.


"Kak Azzam, aku tidak akan merebut Vira darimu. Karena bukan aku orang yang dicintainya. Namun jika Vira menyerah akan cintanya padamu. Ikhlaskan dia, Vira berhak bahagia!" ujar Fariz tegas.


"Fariz!" teriak Melda histeris, Fariz terus berjalan menjauh tanpa menoleh lagi.


"Tuan Angga, anda puas sekarang. Seluruh putraku pergi, aku sendiri berkat dirimu!" ujar Melda lirih dan pilu.

__ADS_1


__ADS_2