Ikhlas

Ikhlas
Perjodohan


__ADS_3

Malam semakin larut. Angin menyingkap tirai putih di balik jendela. Sehingga, menampakkan wajah ayu bermata sendu. Netranya memandang ke luar, menatap kosong. Hatinya semakin gusar, tatkala mendengar hari perjodohan yang tak diinginkan sudah tiba.


Hai pria berwatak dingin ...,


Jika memang tak berjodoh, akan kuhapuskan semua rasaku yang tengah menggelora. Pertemuan singkat itu, sungguh tak berguna.


Tapi tidak dengan rasaku ke Mas Riwan, biarlah kusimpan rapat rasa ini. Bagaimana mungkin akan kuhapus perasaanku padanya. Sedangkan kuncup bunga di dalam hatiku tengah bermekaran dibuatnya. Biarlah tetap mekar meskipun, tanpa raganya. Maafkan aku yang tidak bisa memperjuangkan keagungan rasa ini.


“Nduk, calon suamimu sudah datang. Sana temuin dulu.” Perintah Ibuk membuyarkan lamunan Rinjani.


“Astagfirullahaladzim ..., sadarlah Rinjani. Pasti ini sedang bermimpi.” Ia menepuk pipinya berulang kali, tetapi hasilnya nihil. Perjodohan ini nyata.


“Nduk, ayo buruan. Kasian, kalau kelamaan nunggu.” Tegur Ibuk membuatnya terhenyak.


“Tapi buk, Rinjani belum siap. Kita juga ndak kenal sama orang itu kan, buk?” jawab Rinjani merengek bak anak kucing yang bermanja ke ibunya.


“Hust ..., ndak boleh ngomong gitu. Ibuk kenal kok sama anaknya. Wajahnya ganteng, mancung, putih, badannya tinggi, baik lagi orangnya.”


“Tapi buk ...,”

__ADS_1


“Sudahlah, sini, ibuk dandanin.”


Rinjani hanya pasrah. Diriasnya wajah putri semata wayangnya, dengan riasan tipis dan sanggul kecil di kepala. Namun, tetap anggun di pandang. Wajahnya begitu sumringah, berbeda dengan Rinjani.


Hatinya semakin kalut, dilihatnya pantulan cermin. Terlihat kemolekan tubuhnya, mengenakan kebaya biru laut bersetelan jarik lurik bercorak batik.


Ingin rasanya berlari, namun bagaimana dengan nama baik keluargaku? Betapa nistanya, jika harus kupertaruhkan kehormatan keluarga demi egoku. Haruskah aku menerima perjodohan ini? Sedangkan, aku tidak tau menahu siapakah dirinya, dari mana asalnya dan bagaimana bentuknya?


“Nduk, kamu tau Pak Marno kan?” tanya Ibu membuyarkan lamunan Rinjani.


“Njeh buk. Pak Marno Bapaknya Mas Riwan kan?”


Ibuk menganggukan kepala tanda kebenaran.


“Iya, nduk.”


“Ibuk, kenapa ndak bilang dari tadi? Kalau calonnya itu sih, Rinjani setuju saja buk. Ibuk duluan njeh, nanti Rinjani nyusul.” Wajah yang semula masam, berubah menjadi cerah.


Segera di temui tamunya di ruang tamu. Lalu, langkahnya tercekat.

__ADS_1


“Lho, Mana mas Riwan?” pertanyaan Rinjani membuat seisi ruangan bertanya-tanya.


Ekor matanya tertuju pria yang hampir mirip dengan Riwan. Tapi, dia bukanlah Mas Riwan. Siapa dia? Kenapa Mas Riwan tidak ikut? Apa yang terjadi?


“Haha ..., kamu itu kok lucu to nduk. Sebelumnya, perkenalkan ini anak saya Rivan kakaknya Riwan. Kebetulan Riwan sedang sakit jadi tidak bisa ikut kesini.” Jelas Pak Bardi.


“A ..., apa, jadi bukan Mas Riwan yang dijodohkan denganku?” Rinjani tercengang.


Ada sesak di dalam dada, nafasnya memburu. Ingin rasanya ditumpahkan semua isi kekecewaannya. Namun, hati kecilnya berkata untuk tidak melakukannya. Hanya sabar dan pasrah yang bisa dilakukannya saat ini.


“Apakah Mas ini, calon suamiku?” tanya Rinjani memastikan.


“Iya.”


Ah, pahit sekali. Baru kemarin hatiku berbunga-bunga dan secepat ini pula harus pupus semua harapanku.


Air mataku luruh ke ke tanah. Namun, segera kuusap dengan cepat.


tiba-tiba pening semakin kurasa. Pandanganku mulai buram dan semakin gelap.

__ADS_1


Bruk ...


Tubuhku ambruk. Ada sesuatu yang lepas dari kepalaku. Ah, ternyata konde kecilku terlepas menggelinding tepat di depan Mas Rivan. Harusnya aku sudah pingsan. Berhubung kondeku lepas, segera kuurungkan niat pingsanku. Cobaan apalagi ini?


__ADS_2