
Pukul 23.30, kota X
Malam semakin larut, jauh meninggalkan senja yang tenggelam. Siap menyosong fajar yang menyapa di pagi hari. Gelap dan pekat malam menidurkan para makhluk yang kelelahan. Hanya terdengar suara hewan malam yang bersahutan. Menyapa malam yang tenang dan dingin.
Kala seluruh makhluk menutup mata. Mengistirahatkan tubuh yang lelah. Nampak sosok wanita tangguh yang tetap terjaga. Tumpukan berkas menutup seluruh meja yang ada di hadapannya. Berkas-berkas yang seakan tak ada pernah lelah menemaninya. Mengisi hari-harinya sebulan terakhir. Menghibur hati yang merindukan sang buah hati. Waktu yang berputar sangat lambat di sekelilingnya. Detak jam dinding yang seakan mengiris hatinya. Kala telinga dan matanya. Tak menemukan buah hati yang memenuhi hidupnya.
Vira Azza Ifatunnisa sosok tangguh penuh dengan beban yang tak mudah. Air mata bak sahabat yang menemani setiap langkah kakinya. Hinaan bagai nada merdu yang terdengar dalam hidupnya. Senantiasa ada mengisi hari-harinya. Menjadi cambuk agar dia menjadi pribadi yang lebih baik. Tak pernah dia lemah, meski terkadang ikhlas dan pasrah dipilih menjadi akhir duka dan lukanya.
Terlihat kedua mata indahnya memakai kacamata minus. Menopang lelah kedua mata yang seakan ingin istirahat. Namun semua tak lagi terasa bagi Vira. Lelah dan letih tak lagi terasa, ketika hanya ada rindu yang menyapa hati dan benaknya. Vira menenggelamkan dirinya dalam tumpukan berkas. Seakan Vira mengejar waktu yang nyata takkan pernah berhenti.
Vira larut dalam kesibukan yang tak pernah ada habisnya. Bukan ingin menghancurkan diri. Tanggungjawab dan beban yang ditanggungnya. Tidak semudah membalikkan tangan. Tak seringan kapas yang tertiup angin. Butuh tekad dan kerja keras yang kuat. Agar semua berjalan sesuai dengan yang diharapkan Vira. Wanita lemah yang harus kuat demi keluarganya. Seorang ibu yang senantiasa tangguh demi sang buah hati.
TOK TOK TOK
Vira mendongak menatap ke arah pintu. Terlihat Fandi membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk Vira. Asisten yang senantiasa ada menemani Vira. Menangani puluhan bahkan ratusan proyek bersama Vira. Tanpa sedikitpun mengeluh lelah atau penat. Pengabdian Fandi tulus tanpa mengharapkan balasan. Pengabdian yang berawal dari rasa kagum dan bangga akan kerja keras Vira. ketangguhan dan keteguhan seorang wanita. Melawan keras dan kejam dunia yang terkadang memandang sebelah mata seorang wanita.
"Permisi Bu Vira!"
Vira tersenyum seraya mengedipkan kedua matanya. Vira mempersilahkan Fandi masuk ke dalam ruangannya. Vira melepas kacamata yang melekat indah menutupi dua mata sayunya. Vira memijit pelan pelipis yang mulai menjerit kelelahan. Fandi menghampiri Vira, meletakkan nampan di atas meja. Fandi melihat jelas lelah Vira. Lelah yang tak pernah dipedulikan oleh Vira.
"Ini ketiga kalinya kamu membawakanku makan malam. Sudah kukatakan tadi padamu. Aku akan makan, saat aku lapar!" ujar Vira lirih, senyum simpul terutas manis. Menyimpan wajah lelah Vira.
Fandi diam menunduk, dia merasa bingung harus bersikap pada Vira. Sejak seminggu terakhir Vira menyibukkan diri tanpa istirahat. Bahkan untuk makan secara teratur. Vira seolah tak ada waktu. Vira mengisi perut kosongnya dengan bercangkir-cangkir kopi. Berharap kedua matanya tetap terjaga.
__ADS_1
Terkadang Fandi ingin merampas berkas yang ada di depan Vira. Namun status sebagai asisten tak memberinya hak melakukan semua itu. Namun diam melihat Vira hancur dengan pekerjaan yang tak ada habisnya. Sesungguhnya Fandi tak sanggup, tapi dia memilih terus mengingatkan. Menjaga Vira dari sakit yang akan mendera. Bila Vira terus dengan pola kerjanya.
"Sudah tengah malam, waktu makan malam sudah sangat terlambat. Namun satu suap nasi belum mengisi perut ibu sejak sore. Aku tidak keberatan membawakan makan malam berkali-kali. Jika perlu sampai ibu marah dan akhirnya bersedia makan malam!" ujar Fandi lirih dengan menunduk.
Vira tersenyum mendengar perkataan Fandi. Perhatian yang lebih kepada tanggungjawab sebagai seorang asisten. Vira berdiri mendekat ke meja tempat Fandi meletakkan makanan. Vira mengambil nampan berisi makan malam untuknya. Lebih tepatnya makan tengah malam bagi Vira. Dengan perlahan Vira membuka tutup nampan. Vira tidak merasa lapar, tapi melihat kegigihan Fandi. Hati Vira tersentuh, tak mungkin Vira acuh melihat kepedulian Vira.
Braaakkk
Seketika tutup nampan terjatuh menghantam lantai ruangan Vira. Rasa terkejut sekaligus tak percaya menyelimuti hatinya. Tangan kuatnya tiba-tiba lemah tak bertenaga. Ketika kedua mata indahnya menangkap makanan yang tak biasa. Masakan yang mungkin biasa bagi orang lain. Namun sangat istimewa dan memiliki kenangan sendiri dalam hidup Vira.
Makanan yang puluhan tahun lalu pernah menggetarkan hatinya. Meneteskan air mata murni hatinya. Vira teringat akan makanan sederhana di tengah malam. Kala hujan deras membasahi bumi. Langit menangis menemani Vira yang sakit menatap jasad sang ayah. Makanan yang membuat kesedihannya berkurang. Makanan kesukaan sang ayah yang tak pernah bisa Vira temukan lagi. Makanan yang sempat terlupakan, tapi kini nyata ada di depannya.
"Dimana laki-laki itu?" ujar Vira membuyarkan keheningan malam.
Sontak Fandi bingung menatap Vira. Sedetik yang lalu Vira menolak makanan ini. Sekarang dia mencari orang yang membuatnya. Belum sempat Fandi bertanya alasan kesedihan Vira. Kini Fandi bertanya-tanya alasan Vira mencari laki-laki yang membuatkan makan malam untuk Vira.
"Apa yang ibu katakan? Siapa yang sedang ibu cari?" ujar Fandi bingung. Vira berlari ke arah pintu.
Dia menoleh ke kanan dan kiri bergantian. Mencari sosok yang begitu ingin dilihatnya. Bocah yang dulu memberikan sekotak permen dengan tiga rasa sekaligus. Bocah yang kini telah tumbuh dewasa seusia dengannya. Mungkin permen tak terlalu berarti, tapi Vira memahami makna di balik rasa yang ada di dalam sekotak permen. Rasa yang menggambarkan cerminan hidup seseorang. Prinsip yang dipegang teguh Vira sampai saat ini. Awal kekuatan dan ketangguhan di balik lemah dan rapuhnya.
"Dia yang memberikanmu makanan ini. Aku hanya mengenal satu orang, aku yakin dia yang memberikannya padamu. Katakan siapa yang memberikanmu ini? Sudah lama aku ingin menemuinya?" ujar Vira, Fandi menunduk lemah seraya menggelengkan kepala.
Duuukkk
__ADS_1
Vira jatuh terduduk, lututnya menghantam lantai dengan sangat kuat. Keras suara hantaman lutut Vira. Terdengar nyata di heningnya malam. Vira menunduk lesu, air mata membasahi lantai ruangannya. Tubuh mungilnya bergetar, kala air mata menetes tak terbendung. Fandi diam terpaku menatap tubuh Vira. Dia merasakan sakit yang teramat. Saat rapuh Vira nyata tersirat.
"Dimana kamu bersembunyi? Sebenci itukah kamu padaku? Sampai kamu jijik bertemu denganku. Sebesar apa amarahmu? Sehingga kamu menjauh dariku. Aku memang salah telah mengingkari janji diantara kita. Namun tidak adakah kata maaf untukku. Setidaknya izinkan aku menjelaskan alasan aku mengingkari janji kita. Aku ingin bertemu denganmu, izinkan sekali saja aku menatap wajah teduhmu. Meski kini bukan kamu imam yang mengiringi langkahku. Aku mohon keluarlah, demi persahabatan yang pernah ada!" batin Vira pilu.
"Bu Vira, kenapa anda merasa dia yang memberikannya?" ujar Fandi heran, Vira mendongak ke arah Fandi. Vira berdiri menghampiri makanan yang dibawa Fandi. Menggenggam erat sekotak permen yang terselip di atas nasi kuning kesukaan Vira.
"Karena dia yang mengenalkanku akan rasa manis, pedas dan asam permen. Dia yang mengajarkanku warna kuning nasi, merah cabai dan hijau sayuran. Dia yang membuatku merasakan asin nasi kuning, hambar rasa sayuran dan pedas cabai merah. Dia mengenalkanku pada arti hidup yang sesungguhnya padaku!"
"Maksud ibu?"
"Dia membuatku mengerti, ketika kita yakin permen selalu manis. Percaya atau tidak ada rasa pedas dan asam permen. Begitulah hidup ketika merasakan manisnya bahagia. Kita harus siap merasakan asam dan pedasnya hidup sulit. Pedas yang akan membuat kita menangis, asam yang akan membuat kita sakit. Warna akan selalu ada dalam hidup yang hambar sekalipun. Dia yang menenangkan hatiku yang mengeluh. Dia mengusap air mataku yang menetes. Ketika aku kehilangan ayah pemimpinku. Dia mengajarkanku arti bersyukur, meski di saat aku menangis. Dia yang mengingatkanku menangis, kala tawa terutas di wajahku!"
"Anda sangat menghargainya. Diakah alasan anda sulit menerima tuan Azzam!" ujar Fandi jujur, Vira menggeleng lemah.
"Aku tidak pernah ragu pada mas Azzam, tapi kehadirannya kini nyata mengusik hatiku. Aku ingin menemuinya bukan untuk bersamanya. Aku ingin mengakhiri sesuatu yang harus diakhiri. Karena hatiku nyata termiliki!"
"Maaf jika saya lancang. Jika kelak pertemuan membuat ibu bimbang. Akankah ibu memeluknya dan melepaskan tuan Azzam!"
"Entahlah, biarkan waktu yang menjawab!"
"Ibu benar, waktu jawaban penantian yang paling baik!"
"Fandi, pesankan tiket untukku besok. Aku akan kembali, Vika akan menikah. Aku tidak ingin dia merasa sendiri!" ujar Vira tegas, Fandi mengangguk mengiyakan. Vira keluar dari ruangannya. Vira melupakan makan tengah malamnya. Tak ada lagi lapar atau lelah yang terasa oleh Vira.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu hanya menatap punggung Vira? Sampai kapan kamu berharap? Ketika nyata harapan itu tak pernah ada?" ujar seorang wanita pada pemuda tampan. Dua orang yang mengawasi Vira sejak satu jam yang lalu.
"Sampai aku lelah akan hidup ini dan berpikir untuk mengakhirinya!"