Ikhlas

Ikhlas
Kedatangan Nafisa


__ADS_3

"Mama!"


"Iya sayang!" Sahut Vira lirih dan hangat, tangan Vira membelai lembut rambut Farah. Kedipan mata Vira, meneduhkan hati Farah yang gelisah.


"Mama, dimana dia?" Ujar Farah dingin, Vira menatap heran. Sebaliknya Farah seolah takut bertemu seseorang.


Farah menoleh ke kanan dan ke ke kiri. Seakan Farah mencari seseorang, lebih tepatnya Farah takut bertemu dengan Azzam. Rasa tidak suka Farah pada Azzam tak lagi bisa disembunyikan. Dengan tegas Farah menolak hubungan dengan Azzam. Meski sejujurnya Azzam ayah kandungnya. Laki-laki yang dicintai Vira, tapi seakan tak pernah dikenal oleh Farah.


"Siapa?" Sahut Vira datar, Farah diam membisu.


Farah ragu mengatakan siapa yang dimaksud olehnya? Farah tak pernah ingin mengingat atau menyebut nama Azzam. Sejak pertama kali mereka bertemu atau jauh sebelum mereka saling menatap. Farah sudah menyakinkan dirinya, untuk tidak mengenal Azzam. Baik sebagai ayah atau sekadar kerabat. Ada masa lalu yang membuat hubungan baik Azzam dengan Farah seolah tak mungkin terjalin.


"Laki-laki yang seharusnya aku panggil papa!" Sahut Farah dingin dan ketus.


Vira menggelengkan kepalanya. Vira merasa heran dengan Farah. Sikap yang tak peduli, tapi mencari keberadaan Azzam. Sejenak Vira berpikir, Azzam akan mendapatkan simpati Farah. Entah itu rasa kasihan atau lebih dari itu? Namun satu hal yang pasti, Farah tengah mencari keberadaan ayah kandungnya. Laki-laki yang telah lama dirindukan hati kecil Farah.


"Farah ingin bertemu!" Ujar Vira hangat, Farah menggeleng tanpa ragu.


Farah langsung menggelengkan kepalanya. Isyarat dia tak pernah ingin mengenal Azzam. Vira hanya bisa menghela napas panjang. Beberapa detik yang lalu, Farah seolah ingin mengenal Azzam. Namun detik berikutnya, Vira merasa tak pernah mengenal atau ingin mengenal Azzam. Sifat yang tak bisa ditebak oleh siapapun? Bahkan Farah sendiri tak mengerti keinginan hatinya.


"Kenapa?" Sahut Vira santai, Farah menghampiri Vira.


Dengan penuh rasa lelah, Farah bersandar pada tubuh lemah Vira. Mencari ketenangan jiwa yang tak ditemukan Farah dalam segala hal. Hanya pada Vira, Farah mampu mengatakan lemahnya. Sebab Farah tak ingin bergantung pada orang lain. Dia hanya nyaman pada Vira.


"Farah tak ingin mengenal laki-laki yang menyakiti mama!" Sahut Farah dingin, Vira menggelengkan kepalanya tidak setuju.


Azzam memang satu-satunya laki-laki dalam hidup Vira. Laki-laki yang membuat Farah ada. Ayah kandung yang tak ingin dikenal oleh Farah. Cinta yang dengan tegas ditepis oleh Farah.


"Siapa yang mengatakan itu? Papa tidak pernah menyakiti mama. Bukankah mama sudah katakan, mama yang pergi meninggalkan papa!"


"Tapi dia yang mengkhianati cinta mama. Dia menikah dengan sahabat mama!"


"Farah, jangan menilai papa seperti itu. Dia tetap papamu. Darah yang mengalir dalam nadimu, itu darah yang sama dengannya!"


"Farah sadar itu, tapi melupakan aku tumbuh tanpa mengenalnya. Tentu bukan hal yang mudah. Aku harus belajar berdamai dengan kenyataan yang tak pernah ada dalam bayanganku!"


"Farah!" Ujar Vira lirih, Farah menggeleng lemah.


Vira menggenggam erat tangan Farah, menghiba akan sebuah kehangatan untuk Azzam. Namun semua seolah sia-sia, gelengan kepala Farah menjadi jawaban final yang tak lagi bisa ditawar. Vira hanya bisa menghela napas. Semua memang salah sejak awal. Kini menunggu kata maaf, satu-satunya cara agar bisa dekat pada hati Farah yang dingin.


"Nyonya Vira!"


"Dokter Bima!" Sapa Vira ramah, Farah langsung memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Farah jelas tak ingin menatap wajah Bima. Trauma ataupun rasa sakit, semua itu tak berlaku bagi Farah. Setiap laki-laki seolah hal menakutkan dalam benaknya. Vira hanya bisa pasrah, melihat sikap dingin Farah pada laki-laki yang ditemuinya. Bahkan pada Fatih kakak kandungnya, Farah masih menjaga jarak.


"Maafkan Farah, dia selalu seperti itu!" Ujar Vira pada Bima. Dengan anggukan kepala dan seutas senyum, Bima menyahuti perkataan Vira.


Bima dokter muda tampan dan pintar, dokter yang kini merawat Farah. Bima yang begitu dekat dengan keluarga Azzam. Hubungan yang sekilas diketahui oleh Vira. Namun sengaja disembunyikan pada Farah. Agar tak ada amarah yang menyelinap dihati Farah pada Bima.


"Saya sudah biasa diperlakukan dingin oleh wanita cantik. Maklum, saya bukan laki-laki tampan yang mempesona!" Sahut Bima hangat, Vira tersenyum simpul. Seolah perkataan Bima, sesuatu yang lucu dan tidak benar.


"Sejak kapan aku peduli dengan wajahnya? Mengenalnya saja aku tidak ingin, dia malah berpikir yang tidak-tidak!" Batin Farah.


Bima menatap pasien yang mulai mengisi benaknya. Pasien yang secara khusus dititipkan Azzam padanya. Tatapan Bima tajam dan penuh tanda tanya. Seakan semuanya begitu misteri dan menarik. Bima merasa ada setitik rasa penasaran yang menelisik benak dan hatinya.


"Permisi nona cantik, bisa saya periksa!"


"Hmmm!"


"Terima kasih!" Ujar Bima ramah, seutas senyum di pipi Bima. Menandakan dia bahagia mendapat kesempatan memeriksa Farah.


Vira berdiri sedikit menjauh, mengawasi dokter Bima memeriksa Farah. Menelisik dalam hati Vira, sekelumit rasa heran. Melihat Farah yang merasa nyaman di dekat Bima. Laki-laki yang baru dikenalnya. Hampir lima belas menit dokter Bima memeriksa Farah. Dengan sabar dan telaten, Bima mengecek kondisi Farah. Tentu saja dengan sarung tangan, agar dia tak menyentuh Farah secara langsung.


"Nyonya Vira!"


"Panggil saja, bu Vira!"


"Maaf kalau begitu. Saya hanya ingin menyampaikan. Kondisi Farah semakin membaik. Namun ada beberapa hal yang harus saya periksa. Jadi untuk sementara waktu, nona Farah harus rawat inap!" Tutur Bima hangat, Vira mengangguk pelan.


"Mata yang begitu cantik, meneduhkan hatiku yang bergemuruh. Sungguh ciptaan-NYA yang begitu sempurna!" Batin Bima.


"Mama!" Ujar Farah manja, berharap Vira menolak permintaan Bima.


"Hanya beberapa hari, setelah itu Farah bisa keluar dari rumah sakit!"


"Tapi!"


"Farah, mama sudah setuju. Nanti kak Fatih yang akan menemanimu!"


"Tidak perlu!" Sahut Farah ketus, Vira menggeleng tak percaya. Dalam sekejap Farah berubah, dia merajuk hanya karena masalah kecil.


"Tenang saja nona cantik, aku tidak akan menggigitmu!" Goda Bima, Farah langsung mengerucutkan bibirnya.


"Tidak lucu!" Ujar Farah, lalu memalingkan muka.


Bima tertawa lirih, lalu keluar dari ruangan Farah. Tepat di depan pintu ruangan Farah. Bima bertemu dengan Nafisa. Adik perempuan Fatih, sekaligus putri Azzam yang lain. Bima terkejut, sekaligus heran melihat Nafisa berada di rumah sakit. Nafisa dan Bima sudah dekat sejak kecil, hubungan mereka layaknya adik dan kakak.

__ADS_1


"Ada apa?" Sahut Bima dingin, Nafisa menatap heran Bima.


Belum sempat Nafisa bertanya, Bima sudah melangkah pergi. Nafisa tidak kehilangan akal, dia mengikuti langkah lebar Bima. Nafisa mencoba berdiri sejajar dengan Bima.


"Ada apa Nafisa? Kenapa kamu datang ke rumah sakit? Kamu sakit!" Cecar Bima, tanpa menoleh ke arah Nafisa.


"Pertama kali aku melihat kak Bima hangat pada wanita. Pantas tidak? Jika aku merasa ada yang sedang kakak sembunyikan!" Ujar Farah lirih, sontak Bima menghentikan langkahnya. Bima tidak mengerti maksud perkataan Nafisa.


"Kamu bicara apa?"


"Farah!"


"Farah!" Ujar Bima tak mengerti, Nafisa mengangguk pelan.


"Kenapa dia?"


"Bukan dia kak, tapi kenapa kakak begitu hangat padanya? Apa yang sedang kakak pikirkan tentangnya?"


"Aku kenapa? Aku melakukan hal yang biasa. Dia pasienku saat ini. Sudah seharusnya aku baik padanya?"


"Lalu, kenapa padaku kakak begitu dingin?"


"Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu!"


"Kak Bima hangat pada Farah. Kakak memperlakukan Farah, seolah-olah hanya dia satu-satunya pasien yang membutuhkan bantuan kakak!"


"Jangan melantur!"


"Kakak memeriksa Farah hampir setengah jam. Langkah kaki kak Bima seakan-akan berat, saat meninggalkan ruangan Farah!"


"Cukup Nafisa, kamu mengigau. Selama ini aku bekerja dengan teliti. Tak ada yang mengistimewakan atau mengutamakan Farah. Dia pasienku, tidak lebih!"


"Bohong!"


"Terserah!"


"kak Bima mengaguminya!" Ujar Nafisa lirih, Bima diam tak menyahuti Nafisa. Hanya sekali nampak Bima menggelengkan kepala. Bima tak setuju dengan pendapat Nafisa.


"Aku harus memeriksa pasien. Jika kamu ingin menungguku, silahkan saja. Aku akan kembali satu jam lagi!" Ujar Bima final, Nafisa diam menatap punggung Bima yang menjauh.


"Kakak menyimpan rasa padanya!" Batin Nafisa penasaran, tapi penuh keyakinan.


"Aku menunggu kakak di kantin!" Teriak Nafisa, Bima mengangguk tanpa menoleh pada Nafisa.

__ADS_1


Langkah tegap Bima, menghilang diiringi tatapan nanar Nafisa. Tatapan yang seolah kecewa, lebih tepatnya cemburu pada hubungan Bima dan Farah. Dalam sekejap Farah mampu merebut perhatian dua laki-laki yang sangat dekat dengannya.


"Haruskah aku kecewa dengan keberadaannya!" Batin Nafisa penuh tanda tanya.


__ADS_2