Ikhlas

Ikhlas
Larut Malam


__ADS_3

Hampir dua minggu Farah tinggal jauh dari Vira. Sejak Farah memutuskan, untuk menghancurkan keluarga Atmaja. Sejak saat itu Farah tak lagi bersama Vira dan Fatih. Farah menjauh dari dua orang yang begitu dekatnya. Farah memilih sendiri dalam keputusannya. Seolah Farah tak ingin melibatkan, siapapun dalam peperangannya? Watak keras Farah, berbanding terbalik dengan sikap Fatih yang pendiam. Farah lebih memilih berperang, daripada terus diam melihat kesombongan keluarga Atmaja. Farah tidak ingin melihat orang lain merasakan sakit yang dirasakannya.


Selama dua minggu pula, tak sekalipun Farah bertemu dengan Vira atau Fatih. Farah juga tak pernah bertemu dengan Bayu. Tak ada satupun orang dekat dengannya. Farah menjauh tanpa kata. Farah memilih duduk sendiri dalam sepinya. Menyimpan rasa rindu dan sakitnya. Tanpa ada satu orangpun yang melihat dukanya. Air mata Farah, seakan malu menetes. Hanya saat sendiri, Farah menangis dan mengeluh.


Layaknya malam ini, Farah merasa sepi tanpa Vira. Kerinduannya pada Vira, menggerogoti hati dan jiwanya. Farah tak lagi pulas dalam tidurnya. Napsu makan Farah menjauh, sejauh kedua mata indahnya yang tak mampu menatap Vira. Sebagai seorang anak, Farah tak mampu jauh dari sang ibu. Namun demi peperangannya, Farah harus sendiri dan kuat menahan rindu pada Vira. Namun rindu tetaplah rindu, suara hati yang tak mampu dihapus begitu saja. Farah tak mampu menahan rindu, tapi entah kenapa kakinya tak mampu melangkah menemui Vira?


Hampir dua jam mobil Farah berputar-putar mengelilingi jalan raya. Malam semakin larut, hanya terdengar suara hewan malam. Padatnya jalan raya, mulai sepi dan sunyi. Bulan bersinar semakin terang, bintang bertaburan menghiasi langit malam yang gelap. Keindahan sekaligus ketakutan yang tersimpan dalam malam yang gelap gulita. Namun tak secuilpun ada rasa takut di hati dan benak Farah. Dengan perasaan bimbang, Farah terus mengemudikan mobilnya. Tanpa lelah, Farah terus melajukan mobil mewahnya membelah malam yang sunyi. Lalu, entah kenapa kaki kecilnya menginjak rem tepat di sebuah masjid? Farah menghentikan mobil di tempat parkir masjid yang megah.


Rumah Allah yang tak pernah tertutup bagi hamba-NYA yang lalai. Rumah yang selalu terbuka, ketika tak ada rumah yang bersedia menampung hamba-Nya yang terasingkan. Rumah yang terlihat teduh dan menenangkan hati yang gelisah penuh kepenatan. Terang lampu masjid, bak sinar kasih sayang-Nya yang menghangatkan dan menyinari hati yang gelap. Rumah terakhir tempat Farah mencurahkan air mata dan rasa sakitnya. Suara hati yang terdengar, meski bibir tak terucap.


Farah turun perlahan, melangkah perlahan menuju tangga masjid. Farah menghentikan langkah kakinya tepat di atas tangga pertama. Entah kenapa Farah merasakan sakit kakinya yang teramat? Seolah kaki Farah mengeluh, karena telah dipaksa melangkah tanpa henti. Farah membungkuk, memijit perlahan kakinya. Setetes bening air mata Farah menetes. Rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan Farah. Terasa sakit, sangat sakit sampai Farah menggigit bibir bawahnya. Farah merasakan lemah tanpa siapapun di sampingnya? Farah rapuh tanpa Vira, tangis yang tak terucap. Seolah ingin menunjukkan, betapa Farah sakit dan sepi tanpa Vira.

__ADS_1


"Bismillahirrohmanirrohim!" Batin Farah, seraya melangkahkan kaki kecilnya di tangga kedua masjid.


Farah terus melangkah dengan tertatih. Tangannya menggenggam erat teralis pembatas tangga. Farah hanya mampu bertumpu pada besi tanpa hati. Farah tak memiliki tangan yang bisa digenggamnya. Farah tak menemukan pundak untuknya bersandar. Farah tak mampu memilih tubuh tempatnya bersandaar. Hanya pada-NYA sang pemilik hidup. Farah bergantung, menyerahkan hidup dan matinya.


"Ya Allah, Engkau maha melihat dan mendengar. Kebijaksanaan yang Engkau miliki takkan diragukan oleh hamba-Mu yang hina ini. Izinkan hamba mengetuk pintu rumahmu. Menyandarkan tubuh lemah dalam sujudmu. Menengadahkan tangan dalam doa dan dzikir-Mu. Menyerahkan hidup dan mati dalam Qodho dan Qodar-Mu. Menidurkan sejenak hati yang lelah akan sakit yang tak bertepi. Menghiba ampunan-Mu, agar langkah hamba mudah. Meneguhkan kembali iman yang mulai terkoyak. Ya Allah, Engkau mengetahui setiap suka dan duka hamba. Engkau pemilik ketetapan tanpa keraguan. Demi iman yang hamba simpan dalam jiwa terdalam. Tunjukkan dimana hati hamba akan mendapatkan ketenangan? Agar hamba percaya, Engkau tak pernah meninggalkan hamba yang lalai sepertiku!" Batin Farah tepat di depan pintu utama masjid.


Farah menatap lurus ke dalam masjid, terasa menenangkan hati gelisahnya. Farah berjalan masuk ke dalam, sesaat setelah dia mengambil wudhu. Farah membersihkan tubuhnya dari najis. Farah mengalirkan air suci yang membuatnya bersih. Sejenak Farah lupa akan dunia Fana yang penuh kegelisahan. Farah melalukan sholat malam, lalu dilanjutkan dengan dzikir dan membaca Al Quran. Farah tenggelam dalam damai rumah Allah yang terang. Tak lagi Farah mengingat akan sakit dan keluh kesahnya. Farah larut dalam lantunan ayat-ayat suci Al Quran yang pernah dihafalnya. Farah tenggela dalam indah dan luas makna Al Quran. Ketenangan dan keimanan yang terlupa beberapa hari ini oleh Farah. Tergantikan dengan hasrat dan rasa marahnya pada keluarga Atmaja.


"Alhamdulillah!" Batin Farah, sembari mencium Al Quran yang tengah di pegangnya. Farah merasakan ketengan dan kegelisahan yang tak bertepi.


Farah mendongak, dia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 00.000. Farah tersadar, malam mulai larut dan bersiap berganti dengan pagi. Farah menyeka air matanya, melepas mukena putih yang dipakainya. Dengan langkah tenang, Farah meninggalkan masjid. Bersiap melawan hari esok yang penuh dengan tantangan.

__ADS_1


"Terima kasih ya Allah, Engkau bersedia menuntun hamba datang ke rumahmu. Mengizinkan hamba mengetuk pintu rumah megah-Mu. Menangis dalam pangkuan kebijaksanaan-Mu. Ampuni hamba ya Allah, jika hamba penuh dengan dosa. Jangan pernah tinggalkan hamba dalam gelap keimanan!" Batin Farah, tepat di depan masjid. Berkali-kali Farah bersyukur, masih memiliki kesempatan bertobat.


Farah berjalan menuju mobilnya. Hati Farah merasa tenang, tak ada lagi kerinduan yang menyiksanya. Farah keluar dengan ketenangan hati.


"Farah!"


"Kakak, kenapa ada di sini?" Sahut Farah tak percaya. Bayu hanya diam seraya menoleh ke arah Arif yang ada di sampingnya.


Farah melihat Bayu sudah berdiri tepat di samping mobilnya. Farah merasa heran, sekaligus terkejut. Ketika menyadari, jika Bayu sengaja menunggunya. Namun dengan cepat, Farah membuang rasa percaya dirinya. Farah mulai mengatakan pada dirinya sendiri. Jika Bayu tidak sengaja bertemu dengannya.


"Aku menunggumu!" Sahut Arif.

__ADS_1


"Untuk!" Sahut Farah dingin.


"Aku ingin melihatmu, apakah hatimu tenang setelah menghancurkan orang yang begitu dekat denganmu!" Ujar Arif sinis dan dingin.


__ADS_2