
"Minumlah!" ujar Azzam sembari memberikan sebotol air mineral. Sontak Vira menoleh ke arah orang yang menyapanya.
Vira terkejut ketika dia melihat Azzam berdiri di sampingnya. Menatap lurus ke depan searah dengan yang sedang Vira lihat. Vira heran bukan karena Azzam ada di sampingnya. Dia hanya tidak percaya, jika Azzam ada dalam pengajian malam ini. Acara yang sangat mustahil diikuti oleh Azzam Atmaja. Seseorang dengan jadwal yang begitu padat. Tidak mungkin memiliki waktu, untuk berbaur dengan orang lain.
"Kenapa hanya diam saja? Apa kamu masih puasa semalam ini? Atau kamu takut aku meracunimu. Jika tidak bersedia, kamu tinggal menggeleng. Tanganku pegal memegang botol ini!" ujar Azzam dingin, Vira mengangguk pelan. Dia langsung mengambil botol air mineral dari tangan Azzam.
Sejak pertama kali mereka bertemu. Vira selalu takut bila mendengar suara dingin Azzam. Entah kenapa Vira terlaku takut untuk dekat dengan Azzam? Ada rasa tak ingin mengenal Azzam lebih jauh. Apalagi dengan adanya perjodohan diantara Azzam dengan Nadya. Semakin membuat Vira tidak ingin mengenal Azzam.
Malam ini Vira menepati janjinya pada Arif. Dia datang hanya sebagai peserta tidak lebih. Vira datang tiga puluh menit lebih lambat dari jam acara dimulai. Vira sudah berusaha tepat waktu, tapi tugas dan kewajiban Vira terlalu banyak. Sehingga dia tidak mungkin bisa datang tepat waktu. Sebab itu Vira mendapatkan tempat duduk paling belakang.
Entah keberuntungan atau petaka yang tak terlihat yang dirasakan Vira kelak? Dia justru bertemu dengan Azzam Atmaja saat acara pengajian. Putra sulung Sandy Atmaja yang kelak akan menjadi penerus kerajaan bisnis Atmaja. Status yang berbeda bagai langit dan bumi yang takkan pernah bersatu.
"Terima kasih tuan Azzam!" ujar Vira, Azzam mengangguk lalu duduk di samping Vira. Azzam duduk sedikit menjauh dari Vira. Namun jarak yang sangat dekat menurut Vira.
Azzam duduk selonjor di atas rumput hijau. Dia melepas semua status keluarga Atmaja. Azzam duduk di samping Vira, bukan ingin mendekati Vira. Azzam hanya ingin merasakan kembali, saat dia tidak menjadi CEO perusahaan Atmaja. Vira menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Azzam. Jarak yang sengaja Vira buat, agar tak ada fitnah yang kelak menghancurkan reputasi Azzam.
"Tuan Azzam, sebaiknya anda tidak duduk disini. Nanti pakaian anda kotor. Saya akan mengambilkan kursi untuk anda!" ujar Vira, Azzam menggeleng lemah. Dia duduk tepat di samping Vira beralaskan tanah dan beratapkan langit. Dua keajaiban yang takkan pernah bersatu. Menjadi saksi rasa Azzam untuk Vira.
"Kenapa kamu menjauh? Sejijik itukah kamu padaku. Aku bukan seseorang dengan penyakit menular. Namun jika menjauh dariku membuatmu nyaman, silahkan saja. Asalkan kamu tidak pergi. Hanya demi menghindar dariku!" ujar Azzam, Vira menunduk bingung. Vira kikuk mendengar Azzam mengetahui sikap Vira yang ingin menghindar dari Azzam.
__ADS_1
Vira dan Azzam menatap langit tanpa ada yang menghalangi. Sejenak mereka lupa akan batasan yang ada diantara mereka. Keduanya menikmati indahnya malam yang penuh dengan bintang-bintang. Rumput yang menjadi alas mereka duduk. Membuat mereka nyaman dan tenang. Azzam dan Vira merasakan hembusan angin malam yang dingin. Bak air hujan yang mendinginkan bumi. Ketika panas matahari membakar bumi.
"Tuan Azzam, bolehkah aku bertanya!" ujar vira lirih, Azzam menoleh heran. Namun sedetik kemudian dia mengangguk mengiyakan.
Vira meremas ujung hijabnya. Ada rasa ragu menelisik jauh dalam hatinya. Pantaskah dia bertanya, tapi rasa penasaran mengusai pikirannya. Seandainya dia diam, selamanya Vira akan hidup dengan rasa penasaran akan sosok Azzam. Memberanikan diri bertanya, takut resiko yang kelak akan ditanggung dia atau ibunya.
"Katakan, selama itu bukan doa darimu untuk perjodohanku dengan temanmu. Tanyakan apapun yang ada dalam benakmu. Akan kujawab dengan kejujuran!" ujar Azzam tegas, Vira menelan ludahnya kasar. Ketegasan Azzam jelas terlihat. Sekilas menciutkan nyali Vira, untuk bertanya tentang pribadi Azzam.
Azzam diam menanti pertanyaan dari Vira. Tak ada suara keduanya diam larut dalam pikiran masing-masing. Terdengar suara riuh pengajian yang sudah berakhir. Sebenarnya pengajian sudah selesai sejak setengah jam yang lalu. Kebetulan para peserta sedang makan bersama. Vira pribadi yang pemalu, jadi dia memilih menjauh dari keramaian. Vira tidak ikut makan bersama dengan yang lain.
"Tuan Azzam, anda begitu baik. Anda juga sudah sangat matang dan siap untuk menikah. Tapi kenapa aku merasa anda terus menunda pernikahan. Sesuatu yang disunnahkan dalam agama kita. Jelas tuan Azzam sudah mampu melakukan sunnah itu. Apalagi ada Nadya yang siap menjadi istri tuan Azzam!" ujar Vira lirih penuh keraguan, Azzam menoleh ke arah Vira.
Vira merutuki kebodohannya, ketika dengan beraninya dia bertanya tentang Nadya. Bahkan keputusan Azzam akan perjodohan diantara Azzam dan Nadya. Sesuatu yang tak pernah ingin Azzam ungkit. Nyata ditanyakan oleh Vira.
"Maaf tuan Azzam, jika anda keberatan menjawab. Saya tidak akan memaksa, itu hanya rasa penasaran sesaat saya. Sekali lagi maaf, saya permisi pulang dulu. Sudah sangat malam!" ujar Vira lirih, tanpa menoleh pada Azzam. Vira berdiri hendak menjauh dari Azzam. Namun dia urungkan ketika Azzam memintanya duduk kembali.
"Sebab bukan dia yang ada dalam hidupku. Selama ini hidupku hanya, untuk bekerja dan tak pernah berpikir untuk menikah. Namun ketika aku menyimpan rasa untuk seseorang. Sebaliknya orang itu berlari menjauh. Dia membuat jarak yang begitu dalam. Jarak yang entah kenapa dia buat? Aku sendiri tidak pernah mengerti alasannya!" ujar Azzam dingin, Vira mengangguk mengerti.
"Siapapun dia? Sungguh wanita yang beruntung. Jika memang bukan Nadya wanita itu. Putuskan perjodohan kalian, aku tidak ingin melihat Nadya kecewa akan penolakan tuan Azzam. Sebelum rasa itu semakin dalam. Betapa bijaknya jika tuan Azzam tegas. Hanya doa yang bisa saya berikan. Semoga anda dan wanita itu bersatu!" ujar Vira, lalu berdiri tanpa berpikir akan duduk kembali.
__ADS_1
Azzam melihat Vira berdiri, ingin rasanya Azzam menahan tubuh Vira untuk tetap tinggal. Namun angannya takkan bisa terwujud. Melihat betapa teguh iman yang digenggam Vira. Azzam berdiri mengikuti Vira. Terlihat punggung Vira semakin menjauh.
"Jika wanita itu dirimu, akankah kamu bersedia menerima rasaku. Layaknya doamu untukku dan wanita yang ada dalam hatiku!" teriak Azzam lantang. Sontak Vira menoleh ke arah Azzam. Lalu Vira mengutas senyum simpul yang begitu manis. Senyum yang seketika menggetarkan hati Azzam. Namun juga senyum yang mungkin menghancurkan hati Azzam.
"Tuan Azzam, tulang rusukku terlalu rapuh dan takkan siap melindungi kehormatanmu. Aku mungkin tercipta dari tulang rusuk seseorang. Namun hidupku saat ini, hanya akan menjadi tulang punggung bagi keluargaku. Jika wanita itu aku, dengan sepenuh hati aku meminta maaf. Tulang rusukku tidak akan bisa melengkapi hidupmu, tapi hanya akan membenani dirimu. Kelak akan ada tulang rusuk yang melindungi dan melengkapi hidupmu. Dan itu bukan tulang rusukku!" sahut Vira, Azzam menatap lekat Vira. Ketegasan Vira terdengar menyakitkan di telinga Azzam.
"Jika bukan kamu yang melindungiku, biarkan tanganku yang menggenggam tanganmu. Menjadi tulang punggung keluargamu. Bukankah aku mampu melakukan semua itu. Atau penolakanmu sebenarnya, karena status keluarga Atmaja. Sehingga kamu terus mencari alasan!" ujar Azzam, Vira menggeleng lemah.
"Tangan yang kamu tawarkan, hanya mampu aku balas dengan tangan pertemanan. Tanpa ikatan atau janji penyatuan. Status keluarga Atmaja takkan pernah mampu aku tanggung. Semua itu nyata dan bukan alasan semata. Biarkan aku menanggung beban keluargaku. Seandainya jalan kelak ada jodohku denganmu atau orang lain. Artinya saat itu tulang punggunggku telah lemah menanggung semua tanggungjawab ini. Saat itulah aku akan menjadi tulang rusuk secara utuh. Semoga tuan Azzam menemukan tulang rusuk yang lebih kuat dariku!" ujar Vira, lalu berjalan menjauh dari Azzam.
"Dia bukan wanita yang ingin menjadi makmum, tapi wanita yang ingin menjadi tulang punggung keluarganya. Dia keras pada hidupnya, karena beban hidup yang tak pernah mudah untuknya. Haruskah kita memaksanya menjadi tulang rusuk yang melindungi kita. Namun disisi lain kita membuatnya lumpuh dengan melepaskan tulang punggungnya!" ujar Arif lirih, Azzam menoleh ke arah Arif.
"Maksudmu?" ujar Azzam tak mengerti.
"Jika kita memang mengaguminya, biarkan dia menjadi tulang punggung keluarganya. Jika tubuhmu tak mampu menunggu tulang rusuknya. Temukan tulang rusuk yang lain, agar tubuhmu kuat. Namun jika mungkin, tunggulah tulang rusuknya siap melengkapi tubuh kita yang tak sempurna. Sejatinya cinta itu indah pada waktunya!" ujar Arif bijak.
"Kamu mengenalnya dengan baik!" ujar Azzam lirih, Arif menggeleng lemah.
"Aku tidak pernah mengenalnya, dia yang takkan pernah ingin dikenal!" sahut Arif, Azzam mengangguk mengerti.
__ADS_1