
"Jika tidak kenapa? Dulu aku bisa terselamatkan dari kekejamanmu. Sekarang aku dengan mudah lolos dari ancamanmu. Tuan besar Atmaja, jika aku ingin. Bukan hanya perusahaanmu yang kuhancurkan. Namun hati keturunanmu akan aku luluhkan. Sehingga tidak akan ada yang tersisa dari keluarga Atmaja!" ujar Vira sinis.
"Diam!" teriak Arka marah.
"Jangan berteriak, bila suaramu tak lagi lantang!" ujar Vira sinis dan dingin, Arka meradang melihat sikap Vira. Dengan sangat marah, Arka mengangkat tangan ingin menampar Vira. Namun terhenti di udara, ketika ada tangan yang menahannya.
"Papa, aku pernah memintamu. Jangan pernah menyentuh Vira lagi. Jika tidak aku akan melupakan hubungan diantara kita!" ujar Dimas, Arka melotot melihat sikap tak pantas Dimas. Putra yang seharusnya membela dirinya. Malah membela Vira musuh bebuyutannya.
"Tuan Arka yang terhormat, dia kejutan ketigaku. Sekarang kamu mengerti maksudku!" ujar Vira, Arka meronta meminta Dimas melepaskan tangannya.
Dengan perlahan Dimas melepaskan tangan Arka. Dimas mundur beberapa langkah. Dia menjauh dari Vira, seakan takut bila bersentuhan dengan Vira. Dimas terdiam sembari menunduk. Bukan malu bertemu Vira, tapi ada rasa ngilu melihat Vira dekat dengan Azzam. Laki-laki yang tak lain keponakannya sendiri.
"Kamu wanita rubah. Jika aku tahu kamu akan menggoda keturunanku. Sejak dulu sudah aku hancurkan dirimu!" ujar Arka marah, lagi dan lagi Vira meletakkan telunjuknya tepat di tengah bibirnya.
Vira meminta Arka untuk tenang. Dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Vira memberikan isyarat pada Arka, jika ada banyak tamu yang memandang ke arah mereka. Harga diri keluarga Atmaja dipertaruhkan disini. Sikap arogant Arka sudah bisa menghancurkan harga diri keluarga Atmaja.
"Tenanglah tuan besar, anda sedang berada di rumahku. Jadi tidak pantas anda berteriak. Anda hanya tamu bagiku, jadi bersikaplah layaknya tamu. Kecuali anda ingin menghancurkan reputasimu. Aku dengan senang hati akan meladeni sikap kasarmu!"
"Banyak bicara kamu. Wanita tak berhati sepertimu. Sudah sepantasnya aku musnahkan!" ancam Arka, Rayyan meradang.
__ADS_1
Dengan tubuh kekar dan tegapnya. Rayyan berdiri di samping Vira. Namun Vira menahan tubuh Rayyan. Dia meminta Rayyan untuk mundur dan tidak ikut campur urusan mereka. Vira tak ingin Rayyan ikut dalam permusuhannya dengan Arka. Vira tak pernah ingin keluarganya tersakiti.
"Vira, apa hubunganmu dengan kakek Arka? Lantas kenapa om Dimas harus tersangkut denganmu? Siapa om Arka sebenarnya? Ada hubungan apa antara dirimu dengan dia?" ujar Azzam, Vira tersenyum simpul. Lalu menatap ke arah Arka. Seakan ingin meledek Arka yang sedang kesal bahkan marah besar.
"Kak Azzam, aku dan kakekmu musuh bebuyutan. Perusahaan Atmaja yang ada di negara X. Kini sudah berpindah tangan menjadi milikku. Perusahaan yang begitu dibanggakan tuan besar Atmaja. Telah menjadi anak perusahaanku. Jika menurutmu hubungan kami sebuah permusuhan, maka memang itu yang terjadi. Aku ingin melihat kehancuran keluarga Atmaja. Bukan ingin melihat kalian sengsara, tapi ingin membuat kalian tersadar. Ada banyak orang yang pantas dihargai. Bukan kalian hina tanpa ampun!"
"Vira!" ujar Dimas menyela, seolah meminta Vira menghentikan perkataannya. Namun dengan lantang Vira menolak permintaan Dimas. Vira mengacuhkan Dimas, bahkan memintanya untuk diam.
"Tuan besar Atmaja, anak yang ingin kamu bunuh. Dia tak lain keturunanmu sendiri, darah daging cucu pertamamu. Karena aku istri sah Azzam Auliqa Putra Atmaja. Wanita yang harus terhina dan tak dihargai. Seorang anak yang kehilangan ibunya. Hanya karena status yang dipertanyakan!" ujar Vira tepat di depan Arka.
"Kamu bercanda!" sahut Arka tak percaya.
"Percaya atau tidak, aku merebut perusahaanmu. Bukan tanpa alasan, aku ingin melihatmu menangis kehilangan harta. Layaknya ibuku yang menangis, karena tak berharta. Aku ingin membalas setiap tetes air mata ibuku. Penghinaanmu dan tuan Angga malam itu, masih aku bayar separuh. Kelak aku akan membuatmu membayar lunas setiap dosamu!" ujar Vira lantang.
Azzam dan Fariz terdiam tak berkutik. Mereka melihat sisi lain Vira. Bukan anggun layaknya putri, tapi Vira yang penuh kebencian dan berdarah dingin. Keduanya merasa tak mengenal Vira. Tak pernah mereka menyangka akan melihat sisi kejam Vira. Sisi yang tak berhati dan dingin.
"Fandi, berikan berkas yang aku minta kamu siapkan!" titah Vira pada Fandi, dengan cepat Fandi mendekat. Dia memberikan setumpuk berkas pada Vira. Dengan tenang Vira mengambilnya dan meletakkannya di depan Arka.
"Tuan Arka, aku sudah menjadi pemilik 51% saham perusahaan DAG( Dimas Atmaja Group). Sekarang katakan, aku pantas bertanding denganmu atau tidak!" ujar Vira sinis.
__ADS_1
"Dimas, katakan semua ini salah!" ujar Arka, Dimas mengangguk seraya menunduk. Vira tersenyum melihat kekalahan keluarga Atmaja.
"Vira sekarang menjadi dewan direksi di perusahaan kita. Dia investor sekaligus CEO yang membantuku mendapatkan beberapa proyek besar. Papa tidak pernah bertemu Vira, karena selama ini. Papa hanya fokus mencari dan menghancurkan Vira. Sehingga papa tidak menyadari. Vira ada tepat di dekat papa, bahkan sangat dekat dengan keluarga kita!"
"Dimaaaaass!" teriak Arka emosi, tangannya terangkat ke udara. Hendak menampar Arka, tapi terhenti tak jauh dari wajah Dimas. Arka tak mampu menyakiti putra kesayangannya.
Aditya Dimas Putra Atmaja, putra bungsu Arka Atmaja. Saudara sambung Angga Atmaja yang memiliki selisih umur hampir lima belas tahun. Adik sambung yang tak pernah dekat dengan Angga. Namun sangat disayangi oleh Arka. Kepintaran dan wibawa Dimas jauh melebihi Angga. Sebab itu dia Arka sangat menyayangi Dimas melebihi Angga.
"Kenapa Dimas?" ujar Arka tidak percaya.
"Kerena kak Dimas masih memiliki hati. Sedang kan anda tak lebih dari tubuh yang keras dan dingin!" sahut Vira dingin.
Vira menghampiri Azzam, dengan kedua tangannya. Dia meminta Fatih turun dari gendongan Azzam dan kembali ada dalam gendongannya. Azzam dan Fariz menatap nanar Vira. Mereka tidak percaya, Vira bisa melakukan semua itu. Bahkan semua yang terjadi bagaikan mimpi. Sosok Vira tak pernah ada dalam bayangan mereka.
"Vira!" ujar Azzam ragu, sontak Vira menoleh. Dengan mengutas senyum. Vira menoleh ke Azzam. Seolah menanti perkataan Azzam berikutnya.
"Kak Azzam, aku tak sebaik pemikiranmu. Saat kamu menghina cintaku. Di waktu yang sama, aku mengkhianatinya. Kak Dimas yang tak lain pamanmu sendiri. Dia menawarkan cinta tulus padaku. Namun dengan kejam aku telah menghancurkan cintanya!" ujar Vira, Azzam diam menunduk. Ada rasa bersalah dihatinya. Pengkhianatan cinta yang dilakukannya pada Vira. Kini membuat Vira bersikap sama pada Dimas.
"Maafkan aku!"
__ADS_1
"Tidak perlu meminta maaf, aku tidak akan menghiba cinta yang bukan untukku. Aku menolak kak Dimas. Bukan karena aku mencintaimu, tapi hatiku tak lagi hangat. Aku tidak ingin menghancurkan hati orang lain dengan hatiku yang dingin!" ujar Vira sesaat setelah dia menggelengkan kepala.
"Vira kita harus bicara!" ujar Dimas tegas dan lantang.