Ikhlas

Ikhlas
Makan Malam Meriah


__ADS_3

"Tuan besar!" sapa Vira dengan nada terkejut. Angga diam menatap tajam Vira. Sontak Vira menunduk ketakutan. Beberapa hari Vira berada di rumah keiuarga Atmaja. Tak satukalipun Vira berbicara dengan Angga.


"Jangan besar kepala kamu. Aku menemuimu, hanya ingin memperingatkanmu. Azzam mungkin tergila-gila padamu, tapi sampai kapanpun aku takkan pernah mengakuimu!" ujar Angga sinis, Vira menunduk tanpa berani mengangkat wajahnya.


Suara Angga bak petir yang menyambar tubuhnya. Meremukkan tulang belulangnya yang sedari awal lemah dan rapuh. Perkataan Angga layaknya sebilah pisau yang menyayat hatinya tipis. Terasa sakit sampai Vira tak mampu bernapas. Dingin sikap Angga sedingin malam. Terasa sepi dan sunyi tanpa kasih sayang untuknya. Vira lemah tak sanggup berdiri, tapi Vira mencoba tetap berdiri. Demi harga dirinya yang sedikit tersisa.


"Saya mengerti!" ujar Vira lirih, Angga tersenyum sinis.


Dia menatap Vira dari ujung kepala sampai ujung kaki. Angga menggelengkan kepala perlahan. Dia tidak menyangka, Azzam bisa mencintai wanita sederhan seperti Vira. Wanita tanpa kelebihan sama sekali dihadapannya. Wanita miskin yang seakan ingin menumpang hidup kepada keluarganya. Seseorang yang hanya pantas menjadi ART di rumahnya. Bukan menantu atau ibu pewaris keluarganya kelak.


"Siapapun kamu? Sebentar lagi akan perjamuan besar di rumah. Aku minta kamu tetap disini, sampai acara selesai. Jangan keluar atau mencoba menemui Azzam. Aku tidak ingin semua orang mengenalmu sebagai istri Azzam. Lakukan apapun yang kamu suka di tempat ini. Karena kamu lebih pantas di kamar ini, bukan di kamar putraku!" ujar Angga sinis, Vira menunduk semakin dalam.


Vira tak lagi mampu menatap Angga. Dia marah dan kecewa mendengar hinaan dan makian Angga. Orang yang sangat dihormatinya, meski tak pernah Angga menganggap keberadaannya. Hanya demi Azzam, Vira menerima status sebagai seorang istri. Demi Azzam pula, Vira kuat berada di rumah Atmaja.


"Satu hal lagi, jangan pernah katakan pada Azzam. Aku yang memintamu tetap disini. Jika kamu bicara, artinya kamu memang wanita rendah dan hina. Kamu hanya ingin hidup mewah di rumahku. Sekaligus ingin memisahkanku dengan Azzam putraku!" ujar Angga dingin tak berhati.


Vira mengangguk tanpa menyahuti. Vira menutup pintu dan menguncinya. Tepat setelah Angga keluar dari kamar khusus cucian. Vira tidak ingin ada orang lain yang menemukannya. Vira duduk di kasur busa tipis dalam kamar. Vira duduk termenung mengingat sang ibu yang kini jauh darinya. Kamar kecil tempat Vira berada, tak lain kamar tempat biasa ibunya bekerja.


Kamar yang hanya berisi baju kotor dan baju kering yang harus di setrika. Setetes air mata Vira jatuh. Dia merasakan kerinduan yang teramat pada ibunya. Vira merasakan sepi yang dialami ibunya. Berada di ruangan sempit dan melakukan pekerjaan kasar yang tak ada habisnya. Menjadi buruh cuci di rumah besar keluarga Atmaja. Vira menunduk menutupi wajahnya dengan kedua kakinya.


"Ibu, aku merindukanmu!" batin Vira pilu.


Vira menatap jam di dinding kamar kecil khusus ART. Jam menunjukkan tepat pukul 19.30 WIb. Sebentar lagi Azzam pulang. Dia pulang terlambat, karena akan menjemput salah satu rekan kerjanya di bandara. Vira mungkin miskin, tapi dia bukan wanita murah seperti yang dikatakan Angga. Dia tidak akan membiarkan Angga benar dengan pendapatnya. Vira akan memastikan dirinya tidak ada di dalam perjamuan itu. Vira tidak peduli akan anggapan Angga. Sekarang Vira hanya peduli pada harga dirinya yang direndahkan oleh Angga.


Vira mematikan ponselnya, sesaat setelah membalas pesan Azzam. Vira mengatakan dia akan istirahat lebih dulu. Jadi tidak perlu Azzam membangunkannya, untuk makan malam. Vira tidak ingin Azzam mencarinya dan memaksanya untuk turun. Vira memilih mengerjakan tugas ibunya dulu. Setidaknya kini Vira bangga, dia tidak makan gratis di rumah ini. Vira bekerja untuk sesuap nasi yang dia makan.


"Ibu, maafkan Vira. Selama ini ibu bekerja keras demi Vira. Sebelum Vira bisa membahagiakan ibu. Vira memilih menikah dengan kak Azzam. Pernikahan yang tak pernah direstui oleh keluarganya. Keputusan besar dalam hidup Vira, sebuah keputusan yang merubah jalan hidup Vira. Maafkan Vira yang tak bisa membanggakanmu. Vira membiarkan orang lain menganggap rendah kita. Namun Vira berjanji akan bahagia, meski air mata Vira mengalir tanpa henti. Ibu, Vira merindukanmu. Vira berada di kamar tempat ibu bekerja. Vira merasakan kehadiranmu, Vira ingin memelukmu!" batin Vira pilu.


...☆☆☆☆☆...


Tepat pukul 20.00 WIB, acara perjamuan dimulai. Rekan kerja Azzam satu per satu datang. Tak terkecuali keluarga Nadya yang datang sebagai kerabat dekat keluarga Atmaja. Nadya datang dengan menggunakan gaun cantik. Sedangkan Azzam mengenakan kemeja putih bersih. Penampilan sederhana Azzam menjadi pusat perhatian. Dia tampak dewasa dan gagah. Meski hanya mengenakan kemeja tanpa jas.

__ADS_1


"Mama, kenapa Vira istirahat lebih cepat? Apa saat pulang dia terlihat sakit?" bisik Azzam cemas, Melda menoleh ke arah Azzam. Lalu dia menoleh ke arah Angga yang berada tepat di sampingnya.


Melda menatap Angga lekat. Seakan pertanyaan Azzam, Angga yang mengetahui jawabannya. Namun Angga mencoba mengalihkan pandangannya, agar Azzam tak menyadari isyarat dari Melda.


"Azzam sayang, kenapa kamu tidak naik ke atas? Kamu tanyakan langsung pada Vira. Takutnya Vira hanya pura-pura istirahat. Agar kamu tidak mengajaknya makan malam bersama kita!" ujar Melda lembut, Azzam terdiam lalu menggeleng. Angga tersenyum penuh kemenangan. Sepintas Angga ketakutan, bila Azzam pergi mencari Vira. Sebab rencana busuknya akan ketahuan oleh Azzam.


"Biarkan saja dia, mungkin dia malu berada diantara orang-orang terhormat!" sahut Angga ketus, Melda menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak menyangka, Angga akan setega itu pada Azzam putranya.


"Papa, dia istri sahku. Jangan pernah papa menghinanya di depanku!" sahut Azzam dingin, lalu menjauh dari Angga. Azzam duduk di kursi yang telah disediakan.


Azzam dia menatap piring di depannya. Napsu makannya menghilang, hanya ada Vira dalam benaknya. Makanan lezat di depannya tak mampu membangkitkan napsunya. Azzam tetap membiarkan piringnya kosong.


"Kak Azzam ingin makan apa? Nadya ambilkan!" ujar Nadya menawari, Azzam terkejut saat tangan Nadya menyentuhnya. Dengan kasar Azzam menepis tangan Nadya. Tanpa Azzam sadari, Nadya duduk di sampingnya. Angga sengaja meminta Nadya duduk di samping Azzam.


"Jangan sentuh aku, menjauh dariku!" ujar Azzam kasar, lalu berdiri hendak pergi.


"Azzam, duduk kembali. Kamu tidak melihat, ada banyak tamu disini. Jaga sikapmu, Nadya bisa menjadi pendampingmu. Jangan hancurkan reputasi perusahaan dengan sikap tak pantasmu!" ujar Angga dingin dan tegas. Akhirnya Azzam duduk kembali, Azzam tak ingin mencoreng nama baik perusahaannya. Azzam mencoba menjaga nama baik keluarganya.


"Azzam, kemana kamu pergi? Orang tua Nadya belum pulang. Tidak sepantasnya, tuan rumah bersikap tidak sopan!" teriak Angga, tepat saat melihat Azzam berlari menuju kamarnya.


Azzam tak peduli akan teriakan Angga. Bertemu Vira menjadi prioritasnya. Hampir dua jam lebih, Azzam gelisah memikirkan Vira. Tepat pukul 22.30 WIB, acara selesai dan semua tamu pulang. Azzam tak lagi mampu menahan rasa cemasnya. Dia langsung naik ke kamarnya. Vira, hanya Vira yang ada dalam benaknya.


"Papa, Azzam sudah pergi ke kamarnya. Bersiaplah melihat amarahnya. Selama perjamuan, papa melihat sendiri piring Azzam tetap terbalik. Dia tidak menyentuh makanan apapun. Dia cemas memikirkan Vira dan lupa akan rasa laparnya. Bayangkan jika Vira tiada, apa yang akan terjadi pada putramu? Sekarang mungkin kamu tega melihat Azzam kelaparan. Kelak akankah kamu sanggup melihat kehancuran putramu!" bisik Melda lirih, lalu meninggalkan Angga. Melda pergi tanpa menunggu jawaban Angga.


Melda berjalan menuju kamar tempat Vira mengunci diri. Melda melihat bahkan mendengar hinaan dan ancaman Angga pada Vira. Sengaja Melda diam tak melarang. Melda ingin Angga melihat kehancuran putranya. Agar dia menyadari arti Vira dalam hidup Azzam. Namun Melda salah, Angga tetaplah tuan besar Atmaja yang tak berhati. Sedikitpun Angga tak tersentuh atau kasihan. Melihat lapar dan cemas putranya.


"Mama, Vira tidak ada di kamar!" teriak Azzam histeris. Sontak semua orang terkejut mendengar teriakan Azzam yang menggema di dalam rumah.


Azzam turun sembari berlari, dia tidak takut terjatuh. Azzam kalut melihat Vira tak berada di kamarnya. Azzam mulai mengerti arti kegelisahan hatinya. Azzam menyesal tidak mencari Vira sejak tadi. Seandainya saja Azzam mencari Vira. Mungkin dia tidak akan kehilangan Vira lagi.


"Sayang, darimana saja kamu?" ujar Azzam cemas, sembari menarik tangan Vira. Azzam meletakkan keranjang pakaian di anak tangga. Azzam memeluk tubuh Vira erat. Nadya menatap sinis ke arah Azzam dan Vira. Angga mulai cemas memikirkan amarah Azzam.

__ADS_1


Vira berpapasan dengan Azzam di tangga. Vira membawa keranjang berisi pakaiannya dan Azzam. Vira keluar dari kamar, setelah Melda menjemputnya dan mengatakan acara sudah selesai. Tanpa banyak bicara Vira berjalan menuju kamarnya. Lalu tepat di anak tangga, Vira bertemu Azzam.


"Lepaskan, aku sudah lelah. Aku harus istirahat. Kakak lanjutkan saja acaranya!" ujar Vira sembari melepaskan pelukan Azzam.


"Sayang!" ujar Azzam heran, dia menahan tangan Vira. Lagi dan lagi melepaskan tangan Azzam. Vira membungkuk mengambil kerangjang pakaian. Vira berjalan melewati Azzam, Vira terengah-engah membawa keranjang yang penuh pakaian.


"Sayang!" ujar Azzam sembari memegang tangan Vira erat.


"Lepaskan, aku mohon. Keranjang ini sangat berat, aku sudah sangat lelah. Tidak bisakah kakak membiarkanku pergi. Disana Nadya dan keluargamu menunggu!"


"Vira!" teriak Azzam emosi, dia merebut keranjang dari tangan Vira.


BRAAAKKKK


"Kamu istriku bukan ART, tidak ada yang memintamu melakukan semua ini. Aku khawatir memikirkanmu. Bukan menghargaiku, kamu malah memojokkanku. Seakan aku senang bersama temanmu itu!" ujar Azzam marah, tepat sesaat setelah melempar keranjang. Vira menatap lekat Azzam, lalu berjalan menuruni tangga.


Vira berjongkok memunguti pakaian yang baru saja dia setrika. Vira memasukkannya kembali ke dalam keranjang. Terpaksa Vira menyetrikanya kembali nanti. Vira berjalan menuju kamarnya. Dia berhenti tepat di depan Azzam.


"Aku istirahat lebih dulu, takutnya aku tidak bisa pergi kuliah. Jika setrika ini tidak selesai!" ujar Vira, lalu naik ke atas.


PRYYAAAAARRR


"Ada apa Vira? Kenapa kamu dingin?" batin Azzam sesaat setelah meninju kaca yang menempel di dinding.


"Azzam!" teriak Melda histeris, dia berlari bersama Nadya. Darah segar mengalir bersamaan dengan kaca yang jatuh berceceran.


"Lepaskan, aku tidak apa-apa?"


"Azzam, mama akan mengobati lukamu. Agar tak terasa sakit!" ujar Melda cemas.


"Tanganku tak sesakit hatiku, melihat sikap dingin dan sakit Vira!" ujar Azzam.

__ADS_1


"Dimana kamu sayang? Tanganku sakit, tidakkah kamu dengar suara kaca pecah itu!" batin Azzam pilu, sembari mendongak menatap kamarnya.


__ADS_2