
Seminggu lebih Vira tak bertemu dengan Fariz atau Azzam. Harapan terbesar Vira terwujud, dia tidak ingin memiliki hubungan dengan pewaris keluarga Atmaja. Bukan karena status mereka yang berbeda. Banyak alasan yang tak membuat Vira yakin berhuhungan dengan Fariz atau Azzam. Saat Vira merasa lega tidak bertemu dua pewaris Atmaja. Sebaliknya Fariz merasa gelisah tidak bisa bertemu dengan Vira.
Tidak ada alasan Fariz untuk bertemu dengan Vira. Meski hampir setiap hari dia bertanya pada bik Siti tentang Vira. Tak merubah rasa gelisahnya saat tak melihat Vira. Berbeda dengan Fariz yang gelisah. Azzam jauh lebih santai. Selama dia tidak harus bertemu dengan Nadya. Azzam masih merasa tenang, setidaknya dia larut dalam pekerjaannya.
Selama seminngu terakhir, Vira berdiam diri di rumah. Vira membuat beberapa gorengan yang dititipkan di penjual sayur di pagi hari. Setiap hati Vira bangun dini hari menyiapkan semua bahan dan lalu membuatnya. Setelah sholat subuh, baru Vira menitipkannya pada penjual sayur dekat rumahnya. Meski penghasilannya tidak seberapa, tapi Vira senang menjalaninya. Setidaknya dia bisa membantu ibunya. Meski hanya mampu membeli satu tabung gas saja.
Ibunya tidak pernah setuju, bila Vira bangun dinu hari hanya untuk membuat gorengan. Namun pengertian yang diberikan Vira, membuat ibunya mengerti yang akhirnya mengizinkan Vira melakukannya. Tidak pernah Vira merasa minder dengan kondisi keluarganya. Vira selalu optimis menjalani hidupnya. Dia akan selalu berusaha dengan keringatnya sendiri. Tanpa berpikir menengadahkan tangan, meminta bantuan orang lain.
Pagi ini seperti biasa, setelah mengantar semua gorengannya. Vira mengantar ibunya ke rumah keluarga Atmaja. Sengaja hari ini Vira mengantar ibunya. Sebab setelah mengantar ibunya, Vira akan pergi ke pasar membeli bahan untuk membuat gorengan. Vira mengayuh sepeda mini tuanya dengan sangat kuat. Vira mengayuh tanpa mengeluh, meski beban dirinya dan ibunya tidaklah ringan. Vira terus mengayuh sampai ke depan keluarga Atmaja. Vira hanya mengantar sampai pintu gerbang. Vira tidak ingin bertemu siapapun? Terutama dua pewaris keluarga Atmaja yang sangat aneh menurut Vira.
Vira menatap megahnya rumah keluarga Atmaja. Dia mendongak melihat gerbang yang begitu tinggi. Setinggi batasan yang harus Vira jaga antara dirinya dengan kedua pewaris Atmaja. Sejujurnya Vira telah lama menyadari sikap hangat Fariz padanya. Bahkan satu kelas menyadari rasa Fariz untuknya. Rasa segan teman-teman sekelas pada Vira. Tak lain imbas dari kehangatan sikap Fariz pada Vira. Selain Fariz putra orang terkaya di kota ini. Fariz juga seorang remaja yang sedikit nakal. Dia sangat keras, jadi tidak ada satupun yang ingin mengusik Fariz. Apalagi berani menggoda atau menghina Vira.
__ADS_1
Sebesar rasa Fariz untuknya, sebesar itu pula Vira menutup rasa itu terbalas. Vira membangun benteng yang sangat kokoh. Dia tidak ingin terluka, bila memiliki rasa untuk Fariz. Dengan sekuat tenaga, Vira menghindar dari Fariz. Sedikitpun Vira tak ingin dekat dengan Fariz. Apalagi Azzam yang kini menjadi calon suami Nadya.
"Vira, ibu mungkin pulang sedikit sore. Ada banyak pekerjaan yang harus ibu selesaikan. Ibu titip adikmu, jangan keluar rumah bila tidak terlalu penting!" tutur ibunya, Vira mengangguk pelan. Vira mencium punggung tangan ibunya, lalu pergi mengayuh sepedanya. Dia ingin segera menjauh dari rumah keluarga Atmaja.
Vira mengayuh sepedanya menjauh dari rumah keluarga Atmaja. Dia harus segera pergi menuju pasar. Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 wib. Jika tidak bergegas Vira akan kesiangan. Dia bersyukur saat tiba di rumah keluarga Atmaja. Suasana rumah masih sangat sepi, kemungkinan semua orang belum bangun.
"Bik Siti, barusan itu putrimu bukan. Kenapa dia tidak ikut masuk ke dalam rumah?" ujar Azzam menganggetkan Siti, sontak Siti mengusap dadanya yang berdetak hebat. Siti mengucapkan istighfar berkali-kali. Azzam diam melihat Siti yang kaget. Entah kenapa Azzam merasa iba? Lalu dia mengambilkan Siti segelas air putih hangat. Agar Siti bisa sedikit tenang.
"Terima kasih tuan, maaf bik Siti benar-benar terkejut. Tuan Azzam tiba-tiba muncul tanpa ada suara!" ujar bik Siti lirih, Azzam diam mendengarkan. Tanpa berpikir ingin menyahuti, malah raut wajahnya terlihat masam. Seakan dia marah pada bik Siti. Lalu bik Siti teringat akan pertanyaan Azzam.
"Lantas kenapa bik Siti belum menjawabnya? Kenapa aku merasa putrimu seolah takut masuk ke dalam rumah ini?" ujar Azzam dingin, bik Siti tersenyum mendengar tebakan Azzam yang salah. Tidak pernah Vira merasa takut masuk ke dalam rumah ini. Hanya saja sejak bik Siti bekerja di rumah keluarga Atmaja. Tidak pernah bik Siti mengizinkan Vira datang menemuinya. Jika bukan untuk urusan yang sangat penting.
__ADS_1
"Tuan Azzam, tadi memang Vira. Dia mengantar bik Siti sembari pergi ke pasar. Jalan menuju rumah keluarga Atmaja sejalan dengan arah pasar. Jadi Vira mengantar bik Siti, daripada bik Siti jalan kaki. Dia harus bergegas ke pasar, jadi Vira tidak sempat untuk mampir!" ujar Bik Siti lirih, Azzam mengangguk mengiyakan. Meski sebenarnya Azzam melihat gelagat Vira yang gelisah.
Ketika Vira berdiri di depan gerbang rumahnya. Azzam sedang berdiri di balkon kamarnya. Setiap pagi Azzam selalu berolahraga. Sebab itu Azzam mengetahui kedatangan Vira. Azzam bisa melihat betapa takutnya Vira masuk ke dalam rumahnya. Seakan dia sedang menghindari sesuatu.
"Baiklah bik Siti, aku hanya ingin mengambil minuman!" ujar Azzam lirih, Bik Siti mengangguk mengerti. Azzam melewati bik Siti, dia membuka lemari pendingin. Azzam mengambil sebotol air mineral dingin. Sebenarnya di dalam kamarnya sudah tersedia lemari pendingin dan minuman. Azzam hanya ingin bertanya tentang Vira. Maka dari itu dia turun dan beralasan mengambil air minum.
"Tuan Azzam, bik Siti ucapkan selamat atas perjodohan tuan Azzam dengan Nadya. Dia anak yang baik, dia sudah seperti saudara bagi Vira. Nadya tidak hanya baik sikapnya, tapi hatinya juga baik. Nadya cocok dengan tuan Azzam, sama-sama berhati baik!" ujar bik Siti, sontak Azzam menoleh heran.
"Siapa yang mengatakan pada bik Siti?" ujar Azzam dingin, bik Siti tersenyum simpul. Dia berpikir Azzam merasa malu, padahal Azzam sedang marah. Sedikitpun dia tidak ingin menikah dengan Nadya yang manja menurutnya.
"Semalam Vira yang menceritakan pada bik Siti. Kebetulan Nadya datang ke rumah. Jadi Vira menceritakan tentang perjodohan tuan Azzam dengan Nadya. Bik Siti doakan tuan Azzam bahagia bersama dengan Nadya!" ujar bik Siti tulus, Azzam menggeleng lemah. Dia membuka tutup botol dengan kasar. Entah. kenapa tenggorokannya terasa begitu kering? Azzam meneguk air dalam botol tanpa bernapas. Hanya dalam beberapa detik, air dalam botol telah habis. Azzam merasa tubuhnya terbakar amarah. Dia kesal mendengar Vira bahagia atas perjodohannya dengan Nadya.
__ADS_1
"Aku sudah mengatakan padanya untuk tetap diam. kenapa dia merasa bahagia atas perjodohanku dengan temannya itu? Sampai dia harus menceritakan pada bik Siti. Awas saja bila aku bertemu dengannya. Aku pastikan akan membuatnya diam! Dia benar-benar membuatku gelisah!" batin Azzam kesal.
"Aku tidak akan bahagia bersama Nadya. Sebab bukan dia yang mengusik malamku, tapi putrimu yang selalu membuatku gelisah!" ujar Azzam tegas, lalu meninggalkan bik Siti yang bingung.