Ikhlas

Ikhlas
Hangat yang Tertunda


__ADS_3

"Benarkah semua yang terjadi? Atau aku hanya sedang bermimpi!" ujar Fariz lirih, Vira diam membisu. Vira merasa bersalah pada Fariz. Bertahun-tahun Fariz mencoba mendekat. Namun dengan tegas dan dingin Vira menolaknya. Vira mengabaikan perhatian dan kepedulian Fariz. Vira menganggap angin lalu kepedulian Fariz. Namun malam ini tanpa ada angin atau hujan. Vira datang ke rumah Fariz sebagai kakak ipar.


Fariz menatap Vira yang tengah menunduk. Ada rasa ngilu dihatinya, tatkala dia sadar. Apa yang terjadi memang sebuah kenyataan? Fariz menghela napas panjang. Harapan dan impiannya musnah tak bersisa. Cintanya pada Vira harus terkubur sedalam mungkin. Tak.ada rasa yang harus dipertahankan, semua tak lagi halal untuk diperjuangkan. Vira Azza Ifatunnissa telah termiliki.


"Maaf!" sahut Vira lirih tanpa berani menatap wajah Fariz.


"Kamu tidak perlu minta maaf. Kamu tidak salah, aku yang tak pantas menerima cintamu!" ujar Fariz lirih, Vira menggeleng lemah.


Vira semakin merasa bersalah mendengar perkataan Fariz. Tanpa Vira sengaja, dia telah melukai hati Fariz. Vira memilih diantara Azzam dan Fariz. Dua pewaris keluarga Atmaja yang berjuang mendapatkan cintanya. Fariz berjalan perlahan menuju balkon lantai dua. Vira mengikuti langkah Fariz, keduanya berdiri menatap langit malam.


"Vira, mungkin aku terluka akan keputusanmu. Namun disisi lain aku bahagia, akhirnya setelah sekian lama. Kamu berani menggapai bahagia yang sejatinya itu milikmu. Lama aku menunggu keberanianmu itu. Kini saat berani itu ada dan bukan aku orang yang kamu percaya. Tak lantas membuatku berhak marah atau terluka!" ujar Fariz, Vira diam menunduk. Semua yang dikatakan Fariz benar. Meski tak pernah Vira berpikir ingin memilih diantara Azzam dan Fariz.


"Maaf aku telah melukai hatimu. Tak pernah aku berpikir ingin memilih diantara kalian. Seandainya aku bisa memilih, ingin aku menjauh dan berharap tak pernah mengenal kalian. Jujur aku katakan, berada di dekatmu aku merasa tenang. Sebaliknya di samping tuan Azzam aku merasa takut dan gelisah. Namun entah kenapa aku mengatakan iya? Ketika dia memintaku untuk percaya padanya. Satu kata yang mengawali rasa diantara kami!" ujar Vira, Fariz menggeleng lemah. Dia menatap langit malam yang gelap. Langit yang menyimpan misteri alam.


"Kamu mencintainya Vira. Ketakutan dan kegelisahan yang kamu rasakan. Bentuk perhatian dan kerinduan yang tak pernah kamu sadari!" ujar Fariz, Vira mengangguk setuju.


Azzam laki-laki yang mengusik pikiran Vira. Rasa sakit Azzam seakan dirasakan oleh Vira. Kegelisahan Vira akan sakit Azzam. Meruntuhkan benteng kokoh yang sengaja dibangun Vira. Rasa takut akan kesedihan Azzam. Menghancurkan kuat Vira yang selalu bertahan menghadapi badai sekecang apapun.


"Seandainya ini cinta, memang benar aku mencintainya. Namun seandainya ini hanya rasa kasihan, tak mungkin aku bahagia bisa berada di dekatnya. Mungkin aku egois berkata seperti ini. Nyatanya kini hanya tuan Azzam yang ada dalam benakku!"


"Kamu berhak bahagia dan aku yakin kak Azzam mampu membahagiakanmu. Aku percaya dia mampu melindungimu dari keluargaku. Aku tak pernah mengenal dirinya, tapi aku tahu dia tidak lemah. Dia akan melawan keluarga ini demi dirimu. Hal yang sama akan kulakukan. Seandainya aku berada di posisinya!" ujar Fariz tegas sembari berjalan menuju kamarnya.


Vira mematung menatap Fariz. Perkataan Fariz membuatnya bingung. Dia merasa bahagia, di saat Fariz terluka akan keputusannya. Namun cinta suara hati yang tak bisa diubah. Vira tak dapat memungkiri, jika Azzam laki-laki yang membuatnya berani menggapai bahagia. Melawan rintangan demi mendapatkan bahagia.


"Masuklah!" ujar Fariz lantang sesaat setelah menoleh. Vira mengangguk mengiyakan. Meski dalam hati dia bingung. Sebab kamar Azzam memiliki kode pin. Hanya Azzam yang bisa membukanya. Tidak ada orang lain yang bisa membukanya.

__ADS_1


Vira berdiri mematung menatap pintu kamar Azzam. Kamar yang luasnya hampir sama dengan rumah kecilnya. Kamar dengan segala fasilitas terbaik. Kamar yang selalu rapi dan bersih. Sebab sang pemilik pribadi yang teliti dan sempurna dalam segala hal. Lama Vira menatap pintu, lalu terdengar Vira menghela napas panjang. Kebinguan Vira akan posisinya di rumah ini.


"Kode PIN-nya tanggal lahirmu!" ujar Azzam lirih tepat di samping telinga Vira.


Seketika Vira menoleh, dia kaget ketika merasakan pelukan tangan Azzam. Suara mesra Azzam menjalar ke seluruh tubuh Vira. Sentuhan hangat tangan Azzam menggetarkan tubuh Vira yang dingin. Azzam menekan tanggal lahir Vira. Azzam menyadarkan kepalanya di bahu Vira. Meski terasa berat, Vira diam menahan. Vira tidak ingin Azzam kecewa dan berpikir Vira menolaknya.


Azzam membuka pintu dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memeluk Vira mesra. Azzam menarik tubuh Vira masuk ke dalam kamar megahnya. Sepintas Vira menelab ludahnya kasar. Vira takut sekaligus tak berdaya akan sikap hangat Azzam. Setiap sentuhan Azzam membuat Vira mabuk dan kecanduan. Desiran hangat mengalir dalam darah Vira. Hasrat ingin saling memiliki yang tak pernah ada dalam bayangan Vira.


Azzam memutar tubuh Vira 180° menghadapnya. Azzam dan Vira saling menatap, kedua mata indah Azzam. Bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Sedangkan Vira bak kelinci manis yang takut membayangkan sergapan Azzam. Raut wajah takut Vira semakin membuat Azzam tertantang.


Azzam mengangkat dagu Vira pelan. Tak ada penolakan atau mengiyakan. Vira pasrah akan perlakuan Azzam.Tubuhnya kini telah menjadi hak Azzam sepenuhnya. Setiap inci tubuhnya tak lagi bisa dikendalikan. Setiap sentuhan Azzam membangkitkan kerinduan dan cinta yang terpendam. Azzam menatap wajah yang mengusik malamnya. Kini wajah itu ada di depannya dan sangat dekat.


Azzam mendekatkan wajahnya, bibir Azzam menyentuh bibir tipis Vira. Napas keduanya memburu menahan hasrat yang mengalir di setiap nadi darahnya. Kehangatan yang tercipta tanpa rencana. Menghancurkan pondasi iman sekuat dan sekokoh apapun. Semua kalah oleh hasrat cinta yang menggebu.


Azzam mengecup lembut bibir Vira. Sontak Vira menutup mata. Dia malu akan sikap Azzam. Tanpa Vira sadari, tubuhnya menggigil bergairah. Vira memegang erat lengan Azzam. Seolah Vira tak mampu menahan perlakuan Azzam. Tubuh Vira mulai terasa lemas, tak lagi mampu menolak perlakuan hangat Azzam.


"Aku tahu ini malam pertama kita, tapi aku tidak akan memintanya sekarang. Aku sanggup menahan sampai kamu percaya akan rasaku untukmu. Lagipula kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh. Tidurlah, aku akan mengambilkan minum untukmu!" bisik Azzam mesra, lalu mencium pipi Vira. Azzam melepaskan pelukannya. Vira tercengang melihat sikap Azzam. Penolakan Azzam membuat Vira kecewa. Setetes air mata Vira jatuh. Rasa sakit akan penolakan Azzam membuatnya tak mampu bernapas.


Vira berjalan menuju sofa, dia duduk bersandar. Azzam heran melihat diam Vira. Azzam merasa ada yang aneh dengan sikap Vira. Azzam menghampiri Vira, dia berjongkok di depan Vira. Azzam mendengar isak tangis dari bibir Vira.


"Sayang!" ujar Azzam khawatir, Vira diam tak bergeming. Azzam kalut memikirkan perubahan sikap Vira.


"Ada apa? Bicaralah agar aku mengerti!"


"Tidak ada apa-apa? Aku akan membersihkan diri. Setelah itu aku akan tidur di sofa. Satu hal lagi, tidak perlu mengambilkan air minum. Aku tidak haus!" ujar Vira sembari mengusap air mata yang sempat menetes.

__ADS_1


Vira berdiri melewati Azzam yang bingung. Azzam bingung melihat Vira yang tiba-tiba dingin padanya. Azzam menatap punggung Vira yang membelakanginya.


"Sayang, ada apa? Kenapa kamu dingin?" ujar Azzam sembari menahan tangan Vira. Tak ada jawaban dari Vira, dia hanya diam membisu.


"Sayang!" sapa Azzam sembari menarik Vira dalam pelukannya.


"Aaaaawwwsss, lepaskan aku harus ke kamar mandi. Aku harus istirahat. Besok pagi aku kuliah pagi!"


"Vira, ada apa?" ujar Azzam lantang.


"Aku harus ke kamar mandi!"


"Vira, katakan!"


"Sudah, lepaskan pelukanmu. Aku harus ke kamar mandi. Aku tidur di sofa, kakak tidur di tempat tidur!"


"Cukup, jangan marah tanpa alasan!" ujar Azzam kesal.


"Lepaskan atau aku pulang sekarang!" ujar Vira dingin, sontak Azzam melepaskan pelukannya. Vira berjalan menuju kamar mandi. Azzam gusar melihat sikap dingin Vira.


"Aku pinjam selimut kakak, besok aku akan membawa selimutku sendiri!" ujar Vira dingin.


"Vira, apa salahku? Kenapa kamu marah tanpa sebab?" ujar Azzam, Vira diam meringkuk di balik selimut.


"Vira, aku mohon!"

__ADS_1


__ADS_2