
"Silahkan tunggu sebentar, ibu baru saja ke mushola kantor. Beliau sudah menunggu anda tadi. Beliau berpikir mungkin anda terjebak macet. Jadi beliau memutuskan untuk sholat dhuha terlebih dulu!" ujar Fandi ramah, sembari membuka ruang rapat. Azzam dan Andra mengangguk mengerti.
Azzam dan Andra datang setengah jam lebih lama dari jadwal rapat. Selama perjalanan Andra menggerutu, dia kesal karena Azzam mereka akan telat rapat. Sebaliknya Azzam terlihat tenang, meski sejujurnya dia takut proyek ini gagal. Sudah setengah tahun, Azzam mengejar proyek ini. Baru hari ini mereka bersedia bertemu dengan Azzam.
Azzam dan Andra masuk ke dalam ruangan yang cukup besar. Ruangan yang mampu menampung 10 sampai 15 orang sekali rapat. Desain ruangannya terasa nyaman, tak banyak hiasan dinding. Tidak ada lukisan yang menempel di dinding. Hanya ada dua kaligrafi besar bertuliskan Allah SWT di sisi kanan dan Muhammad SAW di sisi kiri. Kaligrafi yang mampu menggambarkan karakter sang pemimpin.
Azzam terkesima melihat desain yang begitu sederhana. Namun terlihat mewah dengan perabotan minimalisnya. Azzam dan Andra duduk berdampingan, keduanya merasa heran melihat tatanan kursi. Tatanan yang dibuat sama, seakan tidak ada pemimpin atau anak buah. Andra sedikit lega melihat cara Fandi mempersilahkan mereka masuk. Andra merasa sang investor tidak marah mengetahui keterlambatnya.
"Beruntung Azzam, dia tidak marah. Jika tidak kita akan kehilangan proyek ini. Awas saja sampai kita kehilangan proyek ini karena lemahmu!" bisik Andra kesal, Azzam mengangguk tanpa menoleh. Andra semakin kesal melihat sikap tenang Azzam. Seolah Azzam tidak peduli akan gagalnya proyek besar ini.
Fandi duduk tepat di depan Azzam. Fandi tangan kanan sang CEO. Dia bisa membuat keputusan bila sang pemimpin tidak ada. Namun Fandi tidak pernah bertindak sejauh itu. Fandi sangat mengagumi cara pandang sang pemimpin. Fandi tidak ingin mengecewakan sang CEO muda yang mulai diperhitungkan.
"Pak Fandi, jika saya boleh bertanya. Sudah lama kami mengajukan penawaran. Kenapa baru hari ini beliau menanggapi? Adakah alasan dibalik pertemuan hari ini!" ujar Andra ramah, Fandi tersenyum mendengar perkataan Andra.
"Pak Andra, anda tidak salah menanyakan hal itu. Sebenarnya saya juga bingung, kenapa hari ini ibu bersedia bertemu kalian? Bukan karena terlalu lamanya anda mengajukan tawaran. Namun ibu baru saja datang dari negara X. Beliau belum sempat melihat rumahnya, tapi memintaku menjadwalkan rapat dengan anda!" ujar Fandi, sontak Azzam menoleh.
Azzam merasa aneh dengan perkataan Fandi. Sepengetahuan Azzam, selama ini pemimpin perusahaan ini tidak pernah ke luar negeri. Jadi sangat tidak mungkin, dia baru saja tiba. Andra jauh lebih tak percaya dibanding Azzam. Sebab selama ini Andra melakukan kerjasama dengan perusahaan ini. Selama itu pula, Andra selalu merasa sang pemimpin ada di negara ini. Sebab semua keputusan diambil sesuai perintah sang pemimpin.
"Tidak mungkin dia baru saja datang. Selama inu aku menjalin kerjasama dengan perusahaan ini. Semua terlihat baik-baik saja di bawah kepemimpinannya!" ujar Andra, Fandi mengangguk setuju.
"Anda benar pak Andra, perusahaan ini di bawah kepemimpinan ibu. Namun ibu tidak ada di negara ini. Ibu terikat kontrak dengan perusahaan besar di negara X. Sedangkan perusahaan ini milik beliau sendiri. Saya yang selama ini menjalankan dan beliau yang memantau. Serta memutuskan akan bekerjasama dengan perusahaan mana. Termasuk bertemu dengan pak Azzam dan pak Andra!" sahut Fandi lirih, akhirnya keduanya mengerti. Fandi memberikan berkas yang sudah di revisi oleh pemimpinnya.
Azzam dan Andra memeriksa setiap point yang ditulis. Sekilas terlihat Azzam mengangguk seraya tersenyum. Azzam menganggumi cara berpikir CEO muda yang akan ditemuinya. Andra melongo tak percaya, dia melihat betapa teliti pemimpin perusahaan ini.
Tap Tap Tap
Tak berapa lama terdengar langkah kaki. Suara heels yang menyentuh lantai keramik. Bak simfoni lagu yang terdengar merdu di telinga Azzam. Ketukan beraturan sepatu, seolah menunjukkan langkah anggun dan tegas. Azzam dan Andra menatap ke arah pintu. Mereka sudah tidak sabar bertemu dengan sang CEO.
Deg Deg Deg
__ADS_1
Tiba-tiba Azzam memegang dadanya pelan. Entah kenapa jantung Azzam berdetak begitu cepat? Ada rasa tak biasa menyusup di hati Azzam. Andra menoleh melihat ke arah Azzam. Andra merasa Azzam sedang kesakitan. Namun Azzam menggeleng lemah, pertanda Azzam baik-baik saja.
KREEEKKK
Azzam mendongak menatap ke arah pintu. Suara pintu terbuka, terdengar nyaring di telinga Azzam. Detak jantung Azzam semakin cepat. Suaranya terdengar nyata, jantung Azzam seakan ingin meloncat dari tempatnya. Azzam menekan pelan dadanya, dia merasa sangat aneh. Tidak pernah Azzam merasakan gelisah yang teramat. Kecuali saat bertemu Vira dan kehilangan Vira.
"Assalammualaikum!" sapa Vira ramah, sembari menangkupkan kedua tangannya.
Braaaakkk
Seketika Azzam berdiri, dia mendorong kursi sangat keras. Suara kursi terjatuh menggema di dalam ruang rapat. Dia terkejut melihat Vira berdiri di depannya. Azzam tak mampu bicara, bibirnya kelu saat melihat Vira. Setelah sekian tahun, disaat Azzam mulai melupakan Vira. Kini nyata Vira ada di depannya.
Andra tak kalah terkejut dengan Azzam. Meski dia tidak sempat mengenal Vira. Namun Andra saksi hancur Azzam setelah kepergian Vira. Kini dia melihat Vira berdiri di depannya. Bukan sebagai istri Azzam, melainkan pemimpin perusahaan kecil yang berpengaruh dalam dunia bisnis.
" Bu Vira, mereka perwakilan dari perusahaan Atmaja. Mereka yang memberikan penawaran paling menguntungkan untuk kita!" ujar Fandi, Vira mengangguk mengerti.
Vira duduk tepat di depan kursi Azzam. Vira terlihat tenang dan santai, seakan dia tidak pernah memiliki hubungan dengan Azzam. Bahkan Vira seakan tak pernah mengenal Azzam. Vira sangat dingin, dia acuh akan keberadaan Azzam.
Suara yang mulai terlupa oleh Azzam. Suara yang membuat Azzam mencintai Vira. Suara yang menggetarkan hati Azzam kala itu. Azzam duduk tepat berhadapan dengan Vira. Azzam terpesona dengan penampilan Vira. Dia bukan lagi Vira yang lugu dan polos. Vira terlihat anggun dan berkelas. Make up tipis memancarkan kecantikan sejati Vira. Penampilan Vira yang tertutup, tak menghalangi Vira untuk terlihat modis.
Satu jam berlalu terasa cepat. Azzam seakan tak puas memandang Vira. Kesepakatan akhirnya terjalin diantara keduanya. Vira menerima kerjasama dengan perusahaan Azzam.
"Terima kasih bersedia bekerjasama dengan perusahaan kami. Semoga kita menjadi rekan yang baik!" ujar Azzam sembari mengulurkan tangan, Vira menangkupkan kedua tangannya. Isyarat dia setuju dengan perkataan Azzam.
"Pak Fandi, bawa Fatih kemari!" titah Vira tegas, Fandi mengangguk pelan. Dia bergegas keluar dari ruang rapat.
"Tuan Azzam, jika tidak keberatan tunggulah sebentar lagi. Ada yang ingin bertemu denganmu!" ujar Vira lirih.
"Siapa yang ingin bertemu denganku? Aku rasa tidak ada yang ingin bertemu denganku. Sebaliknya orang yang kurindukan, seolah tak pernah mengenalku!" sahut Azzam dingin, Andra diam melihat Azzam dan Vira. Keduanya saling merindukan, tapi angkuh mengakuinya. Azzam menjauh dari Vira, dia mendapatkan telpon dari Melda.
__ADS_1
KREEEKKK
"Mama!" teriak Fatih lantang. Dia berlari memeluk Vira sesaat setelah pintu terbuka.
Azzam menoleh ke arah Vira. Azzam menurunkan ponsel dari telinganya. Azzam mematung menatap Fatih yang memeluk erat Vira. Bukan hanya itu, panggilan mama yang disematkan Fatih pada Vira. Bak petir yang menyambar tubuhnya.Tulang Azzam seakan remuk tak bersisa.
"Fatih, lihat mama!" ujar Vira lirih, sembari berjongkok memegang bahu Fatih. Seketika Fatih mengangguk mengerti.
"Fatih ingin bertemu Papa. Fatih ingin memeluk papa. Fatih merindukan papa. Lihat kesana, itu papa yang selalu Fatih tanyakan sebelum tidur. Papa yang selalu Fatih impikan!" ujar Vira lirih, Fatih mengangguk lalu menoleh ke arah Azzam.
"Papa!" ujar Fatih lirih.
PRAAAYYYRRR
Azzam terkejut mendengar Fatih memanggilnya papa. Tanpa Azzam sadari dia menjatuhkan ponsel miliknya. Azzam bahagia sekaligus tak percaya. Dia terduduk di lantai, kedua lututnya menghantam sempurna lantai keramik. Azzam tak percaya, dia akan bertemu dengan putra yang dia rindukan.
"Fatih, peluk papa sayang!" bisik Vira, Fatih mengangguk pelan. Dia berlari memeluk Azzam. Air mata Azzam menetes, tubuhnya bergetar merasakan pelukan Fatih.
"Azzam Al-Fatih, putra yang terlahir dari cinta kita. Namun terhina dan tak dianggap sebelum dia lahir!" ujar Vira dingin.
"Fandi, antar Fatih pulang. Jika dia sudah selesai bertemu papanya. Aku ada rapat sebentar lagi. Hati-hati saat mengantar Fatih!" titah Vira, Fandi mengangguk mengerti. Vira keluar dari ruang rapat.
"Mama, Fatih ikut!" teriak Fatih sembari berlari mengejar Vira.
"Fatih, disini bersama papa. Bukankah Fatih merindukan papa!" ujar Vira lirih, Fatih menggeleng lemah. Azzam melihat Fatih takit berada di dekatnya.
"Kenapa?" sahut Vira.
"Fatih harus bersama mama, Fatih ingin melindungi mama. Papa kuat, dia bisa menjaga diri. Mama lemah, Fatih yang harus menjaga mama!" ujar Fatih, Vira mengangguk lemah. Vira menarik tubuh Fatih ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Mama akan kuat demi Fatih!" ujar Vira.
"Azzam, putramu hebat. Dia mungkin masih sangat kecil, tapi dia yang akan menjaga Vira dari keangkuhan orang tuamu!" bisik Andra.