Ikhlas

Ikhlas
Pingsan


__ADS_3

Seminggu berlalu setelah kepergian Vira. Rumah keluarga gelap tanpa ada kasih sayang. Tak ada lagi senyum dan hangat yang tercipta. Meja makan yang biasa penuh dengan anggota keluarga. Kini kosong tak berpenghuni, tanpa ada yang menduduki. Jika dulu sarapan menjadi waktu berkumpul. Kini saat sarapan menjadi waktu berpisah.


Azzam tak pernah lagi makan bersama keluarganya. Bahkan berpikir untuk makan, Azzam tak pernah. Hanya secangkir kopi yang menemani hari-hati Azzam tanpa Vira. Tak lagi Azzam peduli pada kondisinya. Azzam seakan tak ingin hidup, bila tak ada Vira di sampingnya. Azzam berubah 180°, tak ada lagi Azzam tampan dan gagah.


Hanya dalam waktu seminggu, Azzam terlihat kurus tak terawat. Kedua matanya sedikit bengkak. Azzam selalu tidur larut malam. Dia bisa menghabiskan beberapa cangkir kopi dalam semalam. Azzam tak lagi peduli pada hidupnya. Dia menghabiskan waktunya dengan bekerja, melupakan makan dan istirahat. Azzam takut teringat akan Vira, bila dia menganggur. Azzam takut tak bisa mengendalikan diri yang akhirnya melukai dirinya sendiri. Azzam masih ingat amarah Vira, ketika melihat Azzam melukai tangannya. Azzam tak ingin mengecewakan Vira.


TOK TOK TOK.


"Azzam!" teriak Melda, sembari mengetuk pintu kamar Azzam.


Tak ada suara terdengar dari kamar Azzam. Selama seminggu Melda mencoba memahami Azzam. Dia tidak memaksa Azzam melupakan Vira atau bangkit dari keterpurukannya. Melda sengaja membiarkan Azzam larut dalam kesedihannya. Melda tidak ingin memaksa Azzam melupakan rasa sedihnya.


Setidaknya dengan membiarkan Azzam sendiri. Akan membuat Azzam memahami arti sakit. Namun setelah seminggu, sikap Azzam tak berubah. Melda mulai cemas dengan keadaan Azzam. Awalnya Melda berpikir, Azzam akan membaik setelah seminggu. Namun dugaannya meleset, Azzam tak berubah malah semakin hancur.


"Azzam sayang, tolong buka pintunya. Mama sengaja membawakanmu sarapan. Sebentar lagi kamu akan ke kantor!" ujar Melda ramah, lagi dan lagi tak ada suara dari dalam kamar Azzam. Melda menempelkan telinganya di pintu kamar Azzam. Namun hasilnya sama, tak terdengar suara apapun.


Melda berjalan menuju meja dekat kamar Azzam. Melda meletakkan nampan di atas meja. Lalu mendekat lagi ke kamar Azzam. Melda mencoba mengetuk kembali. Namun hasilnya sama, Azzam tak mengindahkan panggilan Melda.


DORR DORR DORR

__ADS_1


Melda menggedor pintu kamar Azzam. Melda semakin cemas memikirkan kondisi Azzam. Melda takut terjadi sesuatu pada Azzam. Teriakan Melda terdengar sampai ke lantai bawah. Kebetulan Angga belum berangkat ke kantor. Sedangkan Fariz memilih tinggal di rumah temannya. Semenjak Angga menampar Vira. Fariz marah akan sikap tak pantas Angga. Fariz pulang saat pagi hari, hanya untuk berganti pakaian dan mengambil buku.


"Ada apa dengan Azzam?" ujar Angga cemas, Melda menggeleng tak mengerti kondisi Azzam. Angga berusaha mendobrak pintu kamar Azzam. Namun semua itu percuma, kamar Azzam dilengkapi dengan kunci yang tak mudah dibuka.


"Azzam, mama mohon padamu. Buka pintunya sekarang, biarkan mama masuk!" teriak Melda, Angga mencoba menggendor pintu kamar Azzam. Berharap Azzam membuka pintu kamarnya. Setidaknya Azzam menyahuti teriakkan Melda.


Semenjak kejadian malam itu, tak pernah Azzam bicara dengan Angga. Setiap kali bertemu, Azzam memilih menghindar. Tak pernah Azzam duduk dalam satu meja. Angga tidak hanya kehilangan senyum Azzam. Angga kehilangan putra kebanggaannya. Azzam tak lagi peduli akan keberadaan Angga. Bagi Azzam, kini dia hidup sendiri. Tanpa Vira atau keluarganya.


"Fariz!" panggil Melda, Fariz menoleh sejenak. Lalu berlalu tanpa berpikir mendekat ke arah kamar Azzam.


Fariz tidak peduli apapun yang menimpa Azzam. Fariz kecewa pada Azzam, karena dirinya Vira menerima perlakuan tidak pantas. Tangan kasar Angga menampar pipi Vira. Tanpa Azzam bisa mencegahnya. Fariz merasa sakit, melihat air mata Vira. Air mata yang jatuh, tak lain karena kesombongan Angga Atmaja.


"Fariz, mama memanggilmu. Kenapa kamu malah mengacuhkannya? Kamu tidak melihat air mata mamamu. Dia khawatir akan kondisi kakakmu. Kamu malah bersikap santai dan tidak peduli!" ujar Angga emosi, Fariz tersenyum tipis. Dia merasa perkataan Angga sangat lucu. Apa yang terjadi saat ini? Tak lain karena sikapnya yang arogant. Sebab itu Fariz tidak ingin ikut campur urusan Angga dan Azzam.


Melda menghiba pada Fariz putranya yang lain. Melda berharap Fariz bersedia membantunya. Air mata Melda terus menetes tanpa bisa dihentikan. Kecemasan akan kondisi Azzam, memenuhi benaknya. Melda tak lagi mampu berdiri, tubuhnya terasa lemah.


"Percuma mama memohon, aku tidak bisa membantu apa-apa? Kamar kak Azzam memiliki kunci ganda. Hanya dia dan Vira yang tahu nomer pin-nya. Maafkan Fariz, tidak ada yang bisa kita lakukan!" ujar Fariz lirih, Melda menangis tanpa henti. Angga tertunduk lesu menatap istri tercintanya hancur.


Bruukkk

__ADS_1


Melda jatuh lunglai ke tanah. Kecemasan akan kondisi Azzam membuat tulang belulangnya hancur. Kuat Melda seakan hilang, berganti rasa takut yang begitu besar. Rasa takut seorang ibu yang tak ingin terjadi sesuatu pada putranya.


"Melda!"


"Mama!" teriak Fariz, seketika Fariz menopang tubuh Melda. Fariz tercengang melihat tubuh Melda jatuh ke dalam pelukannya. Fariz menopang tubuh lemah Melda. Pertama kalinya Fariz melihat rapuh Melda. Selama ini Melda selalu kuat, apalagi di depan Azzam dan Fariz.


"Fariz, jaga kakakmu. Dia butuh kamu!" ujar Melda lemah dan terbata-bata. Tak berapa lama, Melda jatuh pingsan. Fariz membopong tubuh lemah Melda menuju kamarnya.


Angga memanggil dokter keluarga. Dia kalut melihat Melda jatuh pingsan. Melda yang selama ini kuat dan hancur di depan matanya. Fariz mencoba membangunkan Melda. Dia mengusapkan minyak angin. Berharap Melda tersadar, tapi usahanya gagal. Tubuh Melda semakin dingin, wajah Melda mulai terlihat pucat.


"Selamat papa, semua rencana papa berhasil. Papa telah menghancurkan banyak hati dengan satu tamparan. Papa tidak sadar, satu tamparan pada Vira. Namun tiga tubuh yang merasakan sakitnya. Papa terlalu arogant sampai akhirnya papa buta. Ada banyak hati yang hancur dengan sikap tak pantas papa!"


"Apa maksudmu Fariz? Kenapa harus papa yang salah?" sahut Angga membela diri. Fariz tersenyum sinis mendengar perkataan Angga.


"Vira, papa berhasil mengusi Vira. Namun tanpa papa sadari telah kehilangan dua putra kebanggaanmu. Kak Azzam memilih hancur tanpa Vira. Sedangkan aku memilih menjauh dari keluarga tak berhati ini. Kini tepat di depan kedua matamu. Mama jatuh sakit memikirkan kedua putranya yang menjauh!" ujar Fariz sinis, Angga meradang. Dia marah mendengar perkataan Fariz yang seakan menyalahkannya.


"Jaga bicaramu Fariz!" teriak Angga, sembari mengangkat tangan bersiap menampar Fariz.


"Tampar pa, tampar aku. Agar aku bisa merasakan sakitnya tamparan papa kepada Vira. Teruslah bangga dengan kekayaanmu, sampai papa kehilangan putra!" ujar Fariz menantang, Angga menurunkan tangannya. Angga duduk tepat di samping Melda. Angga merasakan dingin tubuh Melda. Tanpa terasa Angga meneteskan air mata.

__ADS_1


"Kembalikan Vira, hanya dia yang bisa mengembalikan senyum di rumah ini!" ujar Fariz dingin, lalu keluar dari kamar Melda.


"Haruskah aku memintanya kembali. Aku tidak akan menghiba pada anak ART itu. Dia hanya wanita rendah. Tak pantas aku menghiba padanya!" batin Angga sinis.


__ADS_2