
"Vira!" teriak Nadya, dia berlari menghampiri Vira yang baru saja datang. Nadya langsung memeluk Vira sangat erat. Dia bahagia melihat Vira akan menjadi temannya di kampus.
Hari ini akan diumumkan siapa saja yang akan menerima beasiswa dari kampus? Nadya datang lebih dulu dari Vira. Dia ingin melihat sendiri hasil pengumumannya. Seperti harapan Nadya, Vira menjadi salah satu penerima beasiswa dari kampus.
Nadya sangat bahagia, akhirnya dia bisa satu sekolah lagi dengan Vira. Harapan dan impian Nadya sejak dulu. Nadya tidak ingin jauh dari Vira. Bagi Nadya secara pribadi. Vira bukan orang lain atau sekadar teman. Dia sudah seperti Saudara baginya. Apapun akan Nadya berikan, selama Vira mengingkannya.
"Kenapa berteriak? Apa ada sesuatu yang penting?" cecar Vira, Nadya mengangguk pelan. Nadya menunjuk ke arah papan pengumuman. Lalu mengangguk pelan ke arah Vira.
"Apa aku lulus dan mendapatkan beasiswa itu?" ujar Vira, Nadya mengangguk pelan. Lalu memeluk erat Vira lagi dan lagi. Nadya sangat bahagia, sebab dia akan selalu bersama Vira. Meski jurusan yang dipilih keduanya berbeda. Namun mereka masih bisa bertemu kapanpun?
"Kamu lulus dengan nilai terbaik. Sekarang kita akan tetap bersama. Aku dan kamu tidak akan terpisahkan!" ujar Nadya, Vira mengangguk. Dalam hati Vira mengucapkan alhamdulillah. Sebagai rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan padanya. Kini Vira selangkah lebih maju dalam menggapai cita-citanya.
"Nadya, aku izin ke mushola sebentar. Tadi aku belum sempat sholat dhuha. Kamu ikut denganku atau menungguku di kantin!" ujar Vira, Nadya terdiam. Lalu dia tersenyum simpul, sembari menggeleng lemah. Vira mengeryitkan dahinya, dia tidak mengerti arti senyum manis Nadya yang seolah menyimpan makna tersendiri.
"Aku lagi tidak suci, jadi kamu ke mushola sendirian saja. Aku tunggu kamu di kantin saja. Tidak nyaman kalau aku menunggumu di depan mushola. Setelah sholat dhuha, kamu langsung ke kantin. Kamu harus mentraktirku!" ujar Nadya senang, Vira mengangguk. Lalu berjalan menuju mushola kampus. Sedangkan Nadya langsung pergi menuju kantin kampus.
Vira pernah berjanji pada Nadya. Jika dia lulus ujian beasiswa. Vira akan mentraktir Nadya di kantin kampus. Dengan syarat Nadya harus memilih salah satu diantara makanan atau minuman. Nadya tidak mempermasalahkan syarat yang diberikan Vira. Baginya bisa makan bersama Vira. Sudah lebih dari cukup, daripada sekadar traktiran Vira.
__ADS_1
Nadya berjalan penuh keceriaan menuju kantin. Dia sangat bahagia, akhirnya bisa mengajak Vira makan bersama. Sekian tahun mereka berteman. Vira selalu menolak pemberian Nadya. Bukan Vira merasa terhina, tapi Vira bukan pribadi yang ingin menyusahkan orang lain. Terutama Nadya yang sudah sangat baik padanya selama ini.
Setelah lebih dari lima belas menit Nadya menunggu. Terlihat Vira datang dengan wajah yang sangat segar. Air wudhu menjadi make up alami Vira. Meski Vira tak memakai make up, tapi kecantikan Vira tak berkurang sedikitpun. Kecantikan yang terlahir dari iman dan hati. Vira berjalan dengan anggun menuju meja Nadya. Sempat Vira heran, ketika dia tidak melihat Fariz.
Sebab sejak Fariz menjadi salah satu mahasiswa di kampus ini. Fariz sudah menguasai seluruh kampus. Apalagi para mahasiswi yang entah kenapa tergila-gila pada Fariz? Pesona seorang pewaris keluarga Atmaja yang tak dapat ditolak. Namun seolah tak terlihat oleh Vira yang sederhana.
"Nadya, segera pesan makanan. Sore nanti aku ada pengajian. Setelah ini aku harus pulang!" ujar Vira, Nadya mengangguk mengiyakan. Nadya memesan dua bakso dan dua jus jeruk. Menu sederhana yang seolah mewah bagi Vira. Namun sesederhana menu yang mereka pesan. Sesederhana itupula persahabatan diantara mereka dua. Tidak ada tuntutan, tapi berusaha saling mengerti satu dengan yang lain.
"Vira, kamu belum menceritakan tentang laki-laki yang menolongmu saat itu. Penampilannya berbeda dengan Fariz yang berantakan. Meski aku akui, Fariz tampan dan mempesona!" ujar Nadya penasaran, Vira mengutas senyum simpul. Vira tidak pernah berpikir, Nadya akan menanyakan tentang laki-laki yang menolongnya. Laki-laki yang tidak pernah dia kenal, tapi namanya selalu terdengar di telinganya.
Bukan hanya Nadya yang melihat pertemuan tak terduga itu. Azzam melihat jelas hubungan yang tersirat antara Vira dengan laki-laki itu. Amarah satu kata yang ada menelisik ke dalam hatinya. Seketika Azzam langsung pergi meninggalkan Vira. Tanpa berpikir Vira mungkin membutuhkan bantuannya. Namun kehadiran laki-laki itu, mengusik pikiran Azzam. Sikap santun dan hangat Vira terlihat nyata. Sikap yang tak pernah Vira berikan pada Azzam atau Fariz. Hanya jarak yang selalu Vira tunjukkan.
"Vira, jawab pertanyaanku. Apa dia dan kamu memiliki hubungan? Apa dia calon imammu?" ujar Nadya lantang, sontak Vira menempelkan telunjuk tepat di tengan bibirnya. Nadya langsung menutup mulutnya dengan tangan. Rasa penasaran membuat Nadya kehilangan akal. Dia begitu ingin mengetahui, siapa sosok yang begitu sopan itu?
Teriakan Nadya membuat seisi kantin menoleh. Tak terkecuali satu sosok yang sejak tadi mencuri dengar pembicaraan Vira dan Nadya. Fariz Maher Putra Atmaja hanya terdiam membisu. Ketika dia mendengar ada laki-laki yang begitu dekat dengan Vira. Kedekatan yang ingin dia rasakan, tapi hanya jarak yang Vira berikan. Fariz mengusap wajahnya kasar, dia gusar memikirkan cintanya harus kandas dan tersingkir.
"Diamlah Nadya, tidak ada yang spesial diantara kami. Aku memang sering mendengar namanya, tapi kemarin pertama kalinya kami bertemu. Aku tidak pernah tahu, siapa dia sebenarnya? Rasa canggung yang tersirat, bukan karena ada rasa diantara kami. Aku menghargai dia, sebab dia juga menghargaiku!" ujar Vira tegas, Nadya mengangguk mengerti.
__ADS_1
Drrrtt Drrrttt Drrrttt
Terdengar suara ponsel Nadya bergetar. Nadya melihat ada satu pesan yang baru saja masuk. Kedua bola matanya membulat sempurna. Ketika dia melihat siapa pengirim pesan? Nadya menoleh kesana-kemari, seolah dia sedang mencari sesuatu. Lalu dengan santai Fariz melambai, Nadya tidak mengenalinya. Fariz membuka topi yang dikenakan, seketika Nadya mengangguk pelan. Nadya membuka pesan yang dikirimkan Fariz
"Tanyakan pada Vira, jika dia menghargai laki-laki itu. Kenapa dia begitu acuh padaku? Tak pantaskah aku dihargai, sedangkan dia jelas menyadari ada rasaku untuknya!" tulis Fariz.
Nadya mengangguk sembari mengacungkan jempol ke arah Fariz. Posisi Fariz tidak terlalu jauh dari Vira dan Nadya. Sehingga dia bisa mendengar percakapan Vira dan Nadya. Sengaja Fariz menyamar, dia tidak ingin Vira menjauh dari kantin. Ketika dia melihat Fariz ada di tempat yang sama. Selama ini vira secara jelas menghindar, untuk bertemu dengan Fariz.
"Kamu begitu menghargai laki-laki itu. Lalu kenapa kamu begitu acuh pada Fariz? Aku rasa kamu sudah menyadari rasa Fariz untukmu!" ujar Nadya, Vira menunduk terdiam. Lalu tiba-tiba pesanan mereka datang Seorang pelayan kantin mengantarkan jus dan bakso. Vira meminum jus yang baru saja datang.
"Nadya, Fariz laki-laki yang baik. Dia pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Aku tidak hanya menghargai Fariz. Aku menghormati keluarga Atmaja. Rasa yang ada tidak salah, tapi rasa itu bukan untukku. Aku tidak berharap merasakan cinta pada Fariz atau laki-laki lain. Termasuk uztad Arif, aku tulang rusuk yang harus menjadi tulang punggung. Jadi jangan pernah berpikir akan ada rasa itu!" ujar Vira lirih, Nadya langsung menarik tangan Vira. Menggenggam erat tangan Vira, lalu mengedipkan mata dan mengangguk.
"Maaf!" ujar Nadya, merasa bersalah. Vira menggeleng lemah. Isyarat dia baik-baik saja.
"Ustad Arif!" teriak Nadya spontan, sontak Arif Menoleh bersamaan dengan Vira. Tatapan keduanya bertemu di udara, Fariz mengikuti arah tatapan Vira.
"Diakah laki-laki itu? Haruskah aku mengalah atau tetap bertahan? Jelas terlihat aku dan laki-laki itu berbeda. Vira katakan padaku, apa yang membuatmu begitu keras padaku? Kenapa kamu teguh memberikan jarak diantara kita?" batin Fariz sendu.
__ADS_1