Ikhlas

Ikhlas
Aku Mencintaimu


__ADS_3

"Vira, turun sekarang!" ujar Azzam lirih, Vira menunduk seraya menggeleng. Azzam berdiri tepat di samping pintu mobilnya.


Azzam membujuk Vira untuk segera turun dari mobil. Namun Vira menolak turun, dia duduk tak bergeming di kursi depan mobil Azzam. Dengan lembut Azzam membujuk Vira. Azzam menunggu dengan sabar. Mencoba meyakinkan Vira semua akan baik-baik saja.


Tepat pukul 23.00 WIB, Azzam dan Vira tiba di rumah keluarga Atmaja. Rumah megah dengan puluhan pintu dan jendela. Rumah yang terlihat meski malam semakin gelap. Sebab semua lampu masih terlihat menyala. Alasan ketakutan Vira turun dari mobil Azzam.


"Vira!" ujar Azzam lirih, sembari mengulurkan tangannya. Berharap Vira meraih tangannya ikut turun dari mobil. Azzam ingin mengajak Vira masuk ke dalam rumah megah keluarga Atmaja. Namun ketakutan Vira jelas terlihat. Vira tidak mungkin sanggup bertemu dengan keluarga Atmaja yang terhormat.


"Sayang!" sapa Azzam lebih mesra, Vira tetap menunduk tak bergeming. Vira benar-benar takut memasuki rumah keluarga Atmaja.


Azzam menghela napas panjang. Dia bingung harus bersikap seperti apa? Vira pribadi yang teguh. Tidak mudah membuatnya setuju. Apalagi sejak awal Vira sudah menolak ikut dengan Azzam. Lama Azzam menunggu luluh hati Vira. Terlihat Azzam mulai gusar, dia mengusap wajahnya kasar. Vira tetap diam tak bergeming.


"Azzam, kenapa tidak masuk?" sapa Melda lirih, Azzam menoleh melihat Melda berdiri tepat di depan pintu. Azzam diam membisu tak menjawab pertanyaan Melda. Azzam menoleh ke dalam mobil. Vira semakin ketakutan, terlihat dia mendekap tasnya erat. Tubuh Vira bergetar, rasa takut Vira jelas nyata terlihat. Azzam bingung harus berbuat apa?


Melda berjalan mendekat ke arah Azzam. Dia penasaran melihat Azzam berdiri di samping mobilnya. Bahkan sesekali Azzam menoleh ke dalam mobil. Melda melihat kebingungan di wajah putranya. Raut wajah datar sang putra, kini seolah hidup. Melda semakin penasaran, siapa yang ada di mobil putranya? Siapapun dia tentu bukan orang sembarangan? Mengingat dingin sikap Azzam pada semua orang.


"Tuan Azzam, pulang!" ujar Vira memelas, sembari menarik tangan Azzam. Sontak Azzam kasihan sekaligus marah. Azzam sudah melarang Vira memanggilnya dengan sebutan tuan. Namun Vira masih terbiasa dan tidak mudah merubah semuanya.


"Vira, kenapa tidak masuk sayang?" sapa Melda ramah, Vira menggeleng lemah. Azzam semakin bingung melihat diam Vira. Melda tak kalah bingung melihat sikap hangat Azzam pada Vira.


Tak berapa lama, Vira turun dari mobil Azzam. Dengan sopan Vira mencium punggung tangan Melda. Vira menyapa Melda, dia sangat menghormati Melda. Tanpa banyak bicara, Vira hendak kembali masuk ke dalam mobil Azzam. Dengan sigap Azzam menahan tangan Vira. Sekilas Vira menggeleng, dia memohon pada Azzam agar bisa masuk ke dalam mobil. Namun bukannya melepaskan tangan Vira, Azzam malah merangkul tubuh Vira.


"Azzam, lepaskan tanganmu. Hargai Vira, dia tidak seperti wanita lain!" ujar Melda emosi, Azzam bukan melepaskan rangkulannya. Dia malah memeluk Vira erat. Melda tercengang melihat sikap Azza. Sebaliknya Vira menunduk malu.

__ADS_1


Vira diam membisu, bibirnya kelu tak dapat berbicara. Vira tak mampu lagi menatap Melda. Nyonya besar keluarga Atmaja yang sangat dia hormati. Azzam menatap sendu Vira, ada rasa sakit melihat sikap Vira. Tanpa Azzam sadari, dia membawa Vira masuk ke dalam ketakutan yang besar. Cintanya tidak hanya membahagiakan Vira, tapi juga menyakiti Vira.


"Maaf!" ujar Azzam lirih, Vira menggeleng lemah. Kemudian menarik tangan Azzam, Vira meminta Azzam mengizinkan dia masuk.


Melda semakin heran dengan sikap Vira dan Azzam. Kehangatan sang putra yang tak pernah terlihat. Nyata diperlihatkan Azzam, saat memperlakukan Vira. Azzam seakan takut kehilangan Vira. Melda merasa Vira bagian terpenting dalam hidup Azzam. Naluri keibuannya mengatakan, jika putranya bahagia bersama Vira.


"Vira sayang, apa ada yang ingin kamu katakan pada tante? Apa yang sedang kalian sembunyikan? Setidaknya katakan sesuatu, jangan buat tante penasaran!" ujar Melda heran, Azzam menatap Vira. Berharap Vira mengatakan semuanya, tapi dugaannya salah. Vira semakin menunduk, tangannya meremas hijabnya erat.


Vira merasa takut masuk ke dalam rumah Atmaja. Rumah tempat ibunya bekerja dulu. Vira menghormati keluarga ini, tidak ingin Vira menjadi alasan hancurnya keluarga Atmaja. Vira tidak ingin mendengar hinaan keluarga Atmaja. Sebuah hinaan yang mungkin membuatnya membenci keluarga Atmaja.


"Sayang, mama berhak mengetahuinya. Lebih baik kamu bicara atau aku yang mengatakannya!" ujar Azzam lirih, Vira membisu. Melda semakin yakin akan dugaannya. Jika Vira dan Azzam memiliki hubungan spesial. Melda berjalan mendekat ke arah Vira.


Melda menarik tangan Vira, memutar tubuh Vira berhadapan dengannya. Melda menatap lekat Vira yang terus menunduk. Lalu Melda mengangkat dagu Vira pelan. Melda menatap dua bola mata indah Vira. Wajah yang teduh oleh air wudhu. Melda merasa tenang saat melihat keluguan Vira. Kebaikan hati Vira pernah menggetarkan hatinya.


Wajah seorang ibu yang haus akan kehangatan dari sang putra. Seorang ibu yang lama kehilangan senyum sang buah hati. Seorang ibu yang disalahkan, kala tak mampu memahami duka sang putra. Kini seorang ibu menghiba, bertanya alasan senyum di wajah sang putra. Wajah yang tak pernah hidup dan lupa akan senyum bahagia.


"Nyonya Melda, maafkan Vira telah mengkhianati kasih sayang dan kebaikan hatimu. Tuan Azzam terus meminta Vira menjadi makmumnya. Vira berusaha menolak, tapi!" ujar Vira terhenti, Vira merasa malu meneruskan perkataannya. Azzam mendekat lalu merangkul Vira hangat.


"Tapi kamu juga menginginkan hal itu. Jika tidak kamu akan menjauh dariku!" sahut Azzam lirih. Melda terkejut, dia melepaskan tubuh Vira.


Vira terhuyung menabrak Azzam, Melda tak berkedip menatap Vira dan Azzam. Perkataan Vira dan Azzam, bak petir di siang hari. Sebuah kabar yang akan menggemparkan pondasi keluarga Atmaja. Ketenangan keluarga Atmaja yang akan terusik.


"Maafkan Vira, maaf!" ujar Vira sembari terisak, Vira merasa bersalah pada Melda. Sikap Melda yang melepas tubuh Vira. Seakan jawaban dari keputusan Vira dan Azzam yang salah.

__ADS_1


"Azzam, katakan semua ini tidak benar? Kamu tidak mungkin menikah tanpa bicara pada mama. Apa kamu menganggap mama tiada? Sampai kamu tidak meminta restu pada mama. Apa yang kamu pikirkan Azzam?" ujar Melda emosi, Vira menunduk malu. Dia berjalan mundur, Vira hendak pergi dari rumah keluarga Atmaja.


"Sayang, kita sudah berjanji. Apapun yang terjadi? Kamu akan menghadapinya bersamaku. Jangan pergi tanpa diriku, jika kamu pergi aku akan pergi. Jadi tetap disini bersamaku atau kita pergi bersama!" ujar Azzam tegas, sembari menahan tubuh Vira. Melda menggeleng tidak percaya. Azzam menikah tanpa dirinya.


"Mama, bukan aku menganggapmu tiada. Apa yang terjadi begitu cepat? Aku menikahi Vira tanpa persiapan. Aku terlalu takut kehilangan Vira. Dia satu-satunya alasanku tersenyum. Sedangkan sikap mama dan papa alasanku diam!" ujar Azzam, Vira menunduk membisu. Azzam menggenggam erat tangan Vira.


Melda menggeleng lemah. Air matanya menetes, Melda merasa tak pernah berarti dalam hidup Azzam. Melda merasa gagal sebagai seorang ibu. Saat Azzam terluka, dia diam tak menyadari. Saat Azzam bahagia, dia tidak mengetahuinya. Melda tak pernah ada, ketika putranya membutuhkan dirinya.


"Azzam, aku ibu yang melahirkanmu. Aku mengorbankan segalanya demi melahirkanmu. Tidak mungkin mama tega melihat air matamu. Mama akan mendukung keputusanmu. Jika itu bisa membuatmu bahagia. Mama selalu merindukan senyummu!" ujar Melda, sembari merentangkan tangan.


Melda meminta Azzam mendekat dan memeluknya. Azzam mengangguk lalu menghampiri Melda. Azzam memeluk erat Melda, tanpa Azzam sadari tangan Vira terlepas. Dengan perlahan Vira berjalan menjauh, dia tidak ingin merusak kebahagian ibu dan anak.


"Vira!" panggil Azzam lirih, tepat saat dia merasakan tangan Vira terlepas.


Azzam menarik tangan Vira. Azzam memeluk erat tubuh mungil Vira. Menyandarkan kepala Vira di dada bidangnya. Vira mendengar detak jantung Azzam. Hembusan napas Vira, menyentuh hangat dada bidang Azzam. Melda menatap kehangatan dan kebahagian Azzam. Setetes air mata jatuh, menyentuh pipi putih Melda.


"Vira, kamu bukan orang lain dalam hidupku. Kamu makmum yang harus aku lindungi. Kehadiranmu membuatku bahagia, tanpamu takkan ada bahagia dalam hidupku. Mama mungkin wanita pertama dalam hidupku, tapi kamu satu dan terakhir di hidupku. Aku akan memeluk mama, tanpa berpikir melepas tanganmu. Maafkan aku yang membawamu ke dalam hidupku yang dingin dan gelap. Namun percayalah, malam tetap terang meski bintang dan bulan menghilang. Begitu pula hidup kita, mungkin sulit tapi akan mudah selama kita saling menggenggam. Jangan pergi menjauh dariku. Aku bernapas dan hidup denganmu!"


Cup


"Aku mencintaimu!" ujar Azzam sesaat setelah mencium puncak kepala Vira.


"Lebih baik Kita masuk, udara malam tidak baik!" ujar Melda, Azzam mengangguk sebaliknya Vira menggeleng. Dia takut bertemu dengan Angga Atmaja.

__ADS_1


"Aku ada untukmu, percayalah pada rasa kita!" ujar Azzam, Vira menunduk lalu mengangguk pelan.


__ADS_2