Ikhlas

Ikhlas
Di Bawah Langit Menangis


__ADS_3

"Tunggu Farah!" Teriak Bayu, setengah berlari mengejar Farah. Bayu melihat Farah berlari tanpa peduli akan kondisinya. Bayu cemas melihat Farah yang keluar dengan cemas.


"Ada apa? Tidak perlu kamu mengikuti. Aku bisa sendiri!" Ujar Farah sinis, Bayu terus melangkah di belakang Farah. Dia tak bergeming, tetap teguh ingin menemani Farah.


"Aku tahu kamu bisa, setidaknya biarkan aku menemanimu sebagai seorang kakak!"


"Kakak!" Sahut Farah tak percaya, Bayu mengangguk tanpa ragu.


Bayu sengaja mengejar Farah, melihat Farah berjalan sendiri. Menjauh dari keluarga, menorehkan luka yang terlihat di hati Bayu. Entah kenapa Bayu merasa sesak? Saat dia mendengar suara tongkat penyangga Farah yang menjauh. Tanpa berpikir atau sekadar bertanya pada Fatih. Bayu berlari mengejar bayangan Farah. Tak ada rasa malu atau kecewa akan penolakan Farah yang mungkin dia terima.


Bayu terus mengejar, sampai akhirnya bayangan Farah nyata ada di depannya. Langkah tertatih Farah, semakin terasa perih di hati Bayu. Bak luka yang dibalur dengan garam. Setetes bening bulir air mata, jatuh tepat di pelupuk mata Bayu. Bulir air mata yang seolah ingin mengatakan besar kepedulian Bayu pada Farah. Bayu melihat jelas ketegasan Farah yang membuat tubuh lemah Farah menjauh. Memilih sendiri di dalam keramaian. Menerjang sepi dan sunyi malam yang tak bertepi. Bayangan perdebatan Farah, terlintas di benak Bayu. Bayangan yang seolah tak pernah ingin Bayu kenang.


FLASH BACK


"Farah, mama memintamu berhenti bukan karena membela papamu. Mama melakukan semua ini demi dirimu!"


"Apa yang mama harapkan dariku?" Ujar Farah lantang, Vira menggeleng lemah.


"Mama tidak meminta apapun? Hanya satu kata maaf untuk papamu!"


"Maafkan Farah, kata maaf Farah yang mama minta. Sudah tiada bersama harapan Farah!"


"Jangan membenci papamu. Dia tidak sepenuhnya salah!"


"Sejak dulu dia tidak salah, karena seorang laki-laki akan merasa benar meski mengkhianati cinta. Sama halnya dia yang bahagia bersama putrinya. Lantas untuk apa aku ada, jika sudah ada yang mampu menghapus airnya!"


"Tapi papa tidak pernah tahu tentangmu!" Sahut Azzam.


"Jika begitu, anggap aku tak pernah ada. Jangan meminta maaf, sebab hatiku terlalu dingin. Sehingga kata maaf tak ingin mengenalku!" Sahut Farah lantang. Vira menggeleng lemah, Farah melangkah pergi. Sedangkan Fatih hendak mengejar Farah. Namun langkah kakinya terhenti. Ketika Fatih merasa ada tangan yang menahannya.


Vira dengan sigap menahan tangan Fatih. Saat Vira melihat Fatih hendak mengejar Farah. Fatih yang merasa tak mengerti dengan sikap Vira menoleh dengan heran. Vira menggelengkan kepala, melarang Fatih mengejar Farah. Dengan helaan napas penuh kecewa. Fatih menuruti perkataan Vira. Meski Fatih tidak pernah merasakan hangat didikan Vira. Namun Fatih tak pernah sekalipun berpikir ingin membangkang pada perkataan Vira. Dengan hati yang berat, Fatih membiarkan Farah pergi. Dalam hati Fatih berharap, Farah akan baik-baik saja.


"Seandainya aku bisa memelukmu, menghapus air matamu!" Batin Bima.


Tatapan Bima nanar, ketika melihat langkah tertatih Farah. Bima merasa lemah, saat dia menyadari tak mampu mengejar Farah. Bima terlalu takut dengan tatapan tajam Andra. Bukan Bima tak ingin berjuang demi Farah. Melainkan sikap dingin Farah sudah melewati batas. Farah tak lagi bisa dipahami, saat hatinya tak terketuk melihat Azzam berlutut.


"Mas Azzam berdirilah, tak perlu kamu berlutut pada Farah. Hatinya tidak akan terketuk, dia terlalu egois untuk mengerti suara hatimu!"


"Tapi Vira!"


"Fatih, bantu papa berdiri!" Ujar Vira, Fatih diam tak bergeming.


Azzam menoleh ke arah Fatih. Bayu melihat diam Fatih, seolah Fatih tak mengakui Azzam sebagai ayah kandungnya. Bayu dengan hangat menepuk pundak Fatih. Bayu mengangguk pelan, ketika Fatih menoleh ke arahnya. Anggukan kepala Bayu, isyarat Fatih harus memenuhi permintaan Vira. Menepis rasa marahnya, demi rasa bakti Fatih pada Vira.


"Baiklah ma!" Sahut Fatih, lalu dengan perlahan. Fatih menarik tubuh Azzam.


Fatih menopang tubuh lemah sang ayah. Tubuh yang dulu dia rindukan. Namun kini terasa asing bagi Fatih. Azzam menerima uluran tangan Fatih dengan rasa haru. Azzam merasa menjadi seorang ayah yang sebenarnya. Azzam kehilangan cinta putrinya, tapi dia masih bisa berjuang demi cinta sang putra. Demi masa tua yang bahagia bersama buah hatinya.


"Terima kasih!" Ujar Azzam, Fatih mengangguk pelan.


"Mas Azzam, lupakan sikap Farah. Dia masih terlalu dini mengerti perselisihan diantara kita. Farah memang salah dengan sikapnya. Dia sudah melebihi batasan, tapi sebagai seorang ibu. Aku mengerti alasan amarahnya. Seorang wanita yang lahir dengan kelemahan. Bagai hidup tanpa arti!"


"Vira!" Ujar Azzam lirih, sembari menangkupkan kedua tangannya.


"Tidak perlu!" Ujar Vira seraya menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku benar-benar minta maaf!" Ujar Azzam, Vira menggeleng kepalanya lemah.


"Jika Farah merasa kata maafmu tak ada artinya. Sebaliknya bagiku kata maafmu itu tidak perlu. Dulu atau sekarang aku tak pernah menyalahkanmu. Hubungan kita memang berakhir. Hidupku hancur tanpa sisa tanpamu. Semua itu sudah jalan yang pantas kita jalani. Tanpa kita sadari, cinta kita menyakiti banyak hati. Sehingga kita harus menebusnya dengan sakit, bahkan perpisahan!" Ujar Vira lantang.


"Sekali saja Vira, katakan padaku kamu mencintaiku!" Ujar Azzam tanpa rasa malu, Nadya menunduk lesu.


Perkataan Azzam seketika menyakiti hatinya. Nadya merasa hancur, ketika Azzam mempertanyakan cinta Vira di depannya. Bukan karena Nadya merasa diacuhkan. Melainkan perkataan Azzam yang mungkin melukai hati Nafisa putrinya. Nadya merasa tak berdaya, bukannya hanya sakit. Nadya merasa tak berharga. Nadya dipermalukan tanpa diberi kesempatan, untuk membela diri.

__ADS_1


"Kenapa mas Azzam?" Ujar Nadya lirih, Azzam menoleh ke arah Nadya. Seolah pertanyaan Nadya tak berarti. Tatapan Azzam seketika melumpuhkan Nadya. Tak lagi ada amarah, cinta Nadya terlalu besar. Nadya terlalu takut kehilangan Azzam.


"Pantaskah kamu bertanya cinta padaku. Apalagi di depan putrimu Nafisa dan istrimu Nadya!"


"Pantas!"


"Kamu tidak pernah berubah!" Ujar Vira santai, Azzam menatap lekat Vira. Menanti jawaban yang selalu ditunggunya selama ini.


"Seharusnya kamu lebih peka akan hati Nadya dan Nafisa. Mereka terluka, bahkan hancur dengan pertanyaanmu yang tak seharusnya terucap. Mereka seorang wanita, bukan robot tanpa. Kami harus belajar mengerti mereka. Sebelum mengerti aku!" Ujar Vira lirih, Azzam memegang tangan Vira erat.


Azzam merasa dipermainkan dengan sikap Vira. Perkataan Vira bukan membuat Azzam tenang. Malah semakin memicu amarah Azzam. Vira merasakan sakit dipergelangan tangannya. Suara rintihan Vira memicu amarah Fatih. Sontak saja Fatih meradang, Fatih maju mencengkram tangan Azzam. Fatih tak terima dengan sikap Azzam yang menyakiti Vira. Suasana yang awalnya tenang, tiba-tiba ricuh. Azzam dan Fatih saling menatap. Keduanya terlihat sangat mirip, bak pinang di belah dua. Amarah Fatih seolah mampu menelan Azzam.


"Fatih, lepaskan tangan papamu!" Pinta Vira, Fatih menggeleng lemah.


"Fatih!" Ujar Vira lagi, Fatih tetap menggeleng.


"Lepaskan tangan papa atau mama yang akan melepaskannya!"


"Tidak akan aku lepaskan, sebelum dia melepas tangan mama!" Ujar Fatih lantang.


"Mama tidak pernah mengajarkan keburukan padamu. Jadi turuti perkataan mama, lepaskan tangan papamu. Biarkan mama menyelesaikan masalah diantara kami!"


"Tapi ma!"


"Bayu, bawa Fatih pergi!" Ujar Vira pada Bayu, seketika Bayu menarik tangan Fatih.


"Fatih, mama mohon!" Ujar Vira lirih menghiba pada Fatih. Vira berharap Fatih pergi dengan Bayu.


"Mama, biarkan Fatih disini!" Pinta Fatih, Vira menggelengkan kepala. Tanda Vira tidak mengizinkan Fatih tetap berada di dekatnya.


Fatih dan Bayu pergi menjauh, meninggalkan Vira bersama orang-orang yang tak pernah dipercaya Fatih. Dengan langkah berat, Fatih menuju meja tak jauh darinya. Meja yang sama dengan Bima dan Andra. Sengaja Bima dan Andra menjauh. Mereka tidak ingin ikut campur masalah keluarga Azzam. Saat semuanya takut dengan perdebatan Vira dan Azzam. Hanya Bima dan Bayu yang cemas memikirkan Farah. Wanita dingin penuh dengan keistimewaan yang nampak tegar tapi lemah di dalamnya.


"Mas Azzam, lepaskan tanganku. Aku kesakitan, genggamanmu terlalu erat!"


"Jawab pertanyaanku!"


"Jawab Vira, jawab!" Teriak Azzam emosi, tangannya meremas pergelangan Vira erat.


Awwwsss


"Mama!" Teriak Fatih, lalu berlari ke arah Vira.


Namun langkah kakinya terhenti, ketika dia melihat tangan Vira merentang tepat di depannya. Vira menghadang langkah kaki Fatih. Sedangkan Bayu langsung menahan tangan Fatih. Agar Fatih tak semakin dekat dengan Vira dan Azzam.


"Kamu tak pernah berusaha mengerti. Bahkan tentang hati, kamu harus mendapat jawaban pasti. Kamu tak pernah bisa merasakan arti cinta. Entah cintaku atau cinta Nadya? Setulua apapun cinta kami, kamu selalu meragukannya!"


"Vira, jawab!"


"Mas Azzam, apa yang diceritakan Farah kemarin malam? Seharusnya membuatmu menyadari, seberapa besar cintaku padamu. Gangguan jiwa yang aku alami, sudah bisa membuatmu percaya. Seberapa terlukanya aku saat kehilangan dirimu? Lemahnya Farah, bukti sedalam apa namamu tertulis dihatiku? Namun semua sudah berlalu. Cinta itu tak lagi sedalam atau sebesar dulu. Bukan karena aku kecewa atau ada cinta lain. Namun cinta indah diantara kita, sudah aku ganti dengan cinta pada buah hatiku. Aku meletakkan cinta suciku, pada senyum dan bahagia mereka!"


"Nadya, aku serahkan kebahagian mas Azzam. Dua puluh tahun kamu telah setia di sampingnya. Dua puluh tahun pula, mas Azzam bisa merasakan kasih sayangmu. Mungkin hatimu sakit saat bersamanya. Jika mungkin bertahanlah, tapi jika memang tak mampu bertahan. Lepaskanlah, kamu berhak bahagia!"


"Kamu tidak marah padaku!" Ujar Nadya, Vira menggelengkan kepala.


"Aku tak berhak marah, karena nyatanya kita sama-sama terluka oleh cinta!"


"Mas Azzam, kamu sudah mendengar jawabanku. Jadi lepaskan tanganku, aku harus mencari Farah!" Ujar Vira, Azzam melepaskan tangan Vira.


"Nafisa, jangan marah atau kecewa pada papa. Belajarlah mengerti papamu, dia butuh dukungan. Hubungan kami yang tak bersatu, menjadi cinta yang mengganjal dihati papamu. Apapun hubungan diantara kita, Fatih dan Farah tetap saudaramu!" Ujar Vira hangat, lalu berjalan menjauh dari Azzam dan Nadya.


"Vira, mungkinkah cinta kita bersatu!" Ujar Azzam, Vira menoleh sembari mengutas senyum.


"Waktu yang memisahkan, biarkan waktu yang menyatukan!" Jawab Vira tegas dan hangat.

__ADS_1


FLASH BACK OFF


"Iya kakak, aku sudah menganggap Fatih seperti saudara. Sudah sepantasnya aku menjagamu seperti adikku sendiri!"


"Kepedulian yang sama kamu berikan pada Nafisa. Alasan yang membuat Nafisa merasa hangat di sampingmu. Jika memang perhatianmu sebatas kakak. Aku mohon tinggalkan aku sekarang!"


"Kenapa Farah?"


"Karena aku tidak butuh kepedulian seorang kakak. Aku butuh sandaran untuk menghapus air mataku. Pundak yang mampu menopang dagu lemahku. Pundak tempatku menangis, kemeja yang tak takut basah oleh air mataku. Aku butuh itu, bukan sekadar perhatian seorang kakak!" Ujar Farah lantang, Bayu diam membisu.


"Aku sanggup menjadi semua yang kamu harapkan. Namun aku terlalu pengecut, untuk mengatakannya. Tubuh yang aku tawarkan, masih terlalu rapuh untuk menopang hidupmu. Pundak yang kamu minta, masih memiliki beban yang tak mampu aku tampung. Kemeja lusuhku terlalu jelek, untuk menghapus air matamu. Aku merasa belum pantas menjadi pendampingmu. Kebahagian yang ingin kuberikan padamu. Belum ada dalam genggaman tanganku. Tak ada yang bisa kutawarkan sebagai mahar pernikahan kita. Meski jujur Farah, aku berharap ada di sampingmu selamanya!" Batin Bayu.


"Kenapa diam? Heran dengan perkataanku!"


"Tapi Farah!"


"Cukup, siapapun kamu? Berhenti mengikutiku. Aku tak perlu dilindungi. Aku sanggup berjalan, meski dengan dua tongkat ini. Selama ini aku audah berjuang melawan ketakutan dalam diriku. Jika hanya ketakutan dunia, tidak akan membuatku berlari!" Ujar Farah lantang, emosi Farah mulai terlihat. Sikap dingin Farah, semakin dingin dan tak berhati.


Farah berjalan menjauh, dengan langkah tertatih dan tongkat yang dipegangnya. Farah berjalan menyusuri trotoar. Farah menerjang gelap malam. Tak ada rasa takut Farah, meski jalan di depannya sunyi. Hanya suara hewan malam yang menemani langkah gontai Farah. Langit seolah ikut bersedih, nampak langit berwarna merah. Semerah mata Farah yang siap meneteskan air mata.


Duaaarrr Duaaarrr Duaaarrr


Suara gemuruh menggelegar memecah kesunyian malam. Kilatan cahaya petir, seakan membelah langit menjadi dua bagian. Sejenak langit menjadi terang. Namun kembali gelap, saat kilatan menjauh. Riuh suara langit bertasbih, tak mengalihkan pandangan Farah. Langkah kakinya lurus tanpa arah. Berjalan selangkah demi selangkah di atas trotoar. Berharap menemukan tempat ternyaman. Sekadar menenangkan hati dan pikirannya.


"Mama!" Gumam Farah, tangannya mendekap erat bahunya.


Nyata dingin mulai menyergap ke dalam tubunya. Hijab panjang yang menutupi tubuhnya tak lagi mampu menghadang dingin malam ini. Bayu berjalan jauh di belakang Farah. Dengan tatapan elang, Bayu mengawasi setiap gerak Farah. Bayu takut terjadi sesuatu pada Farah.


"Mama!" Gumam Farah lagi, suara ketakutan yang semakin jelas terdengar oleh Bayu.


Tik Tik Tik


Tetes demi tetes air hujan mulai turun. Hijab Farah mulai basah oleh gerimis. Namun langkah Farah seolah tak ingin berhenti. Dingin air hujan, seakan tak mampu mengalahkan rasa sakit yang dirasakan Farah. Dengan sisa tenaga yang mulai menipis, Farah terus berjalan mencari tenang yang tak tentu arah.


"Farah, cukup kamu berjalan!" Ujar Bayu lantang, Bayu memayungi Farah dengan jaket yang tadi dikenakannya.


"Pergi!" Usir Farah penuh emosi, tangan Farah mendorong tubuh Bayu yang sangat dekat dengannya.


"Kamu kedinginan Farah!"


"Pergi!" Ujar Farah lantang, Farah tak peduli akan rasa cemas Bayu.


Dengan sekuat tenaga Farah mendorong tubuh Bayu. Farah tak ingin mendapatkan bantuan dari Bayu. Rasa kasihan yang selalau membuatnya lemah tak berdaya. Farah terus mendorong tubuh Bayu. Sampai Farah lupa, jika tubuhnya ditopang oleh dua buah tongkat.


Braaakkk


"Aaaaa!" Teriak Farah, saat dia merasa tubuhnya terhuyung. Kedua tongkat Farah terlepas. Sehingga dia mulai kehilangan keseimbangan.


"Farah!" Teriak Bayu histeris. Spontan Bayu memeluk tubuh Farah. Tubuh Farah yang mulai menggigil, dengan sigap Bayu menyelimuti Farah dengan jaketnya.


"Lepaskan aku!"


"Maafkan aku Farah, aku harus bersikap tak pantas. Namun aku akan menyesal, jika aku membiarkanmu bersikap bodoh!"


"Lepaskan aku, kita bukan mukhrim!"


"Maaf Farah, aku harus melawan batasan itu!" Ujar Bayu dingin, Bayu menggendong Farah untuk berteduh.


"Lepaskan!" Teriak Farah histeris. Farah terus meronta, tapi tenaganya tak begitu kuat melawan tubuh kekar Bayu.


"Diamlah, jika tidak ingin aku memelukmu lebih erat. Ingat Farah, jarak diantara kita masih dalam batas aman. Namun jika kamu terus meronta, maka hanya sehelai kain yang membatasi jarak kita!"


"Aku mohon, turunkan aku!" Ujar Farah lirih, Bayu menggeleng.

__ADS_1


"Aku akan membawamu pulang, dengan resiko apapun?" Ujar Bayu final, Farah diam meringkuk dalam dekapan Bayu.


"Termasuk menjadi imammu!" Batin Bayu tegas.


__ADS_2