Ikhlas

Ikhlas
Dimana?


__ADS_3

Sejak sore langit menangis, rintik hujan terus turun membasahi bumi. Langit tak hentinya menangis, seolah air matanya takkan habis menetes. Vira duduk termenung di dekat jendela. Menatap jauh ke luar, mencari rindu yang terbang entah kemana? Vira merasa kosong, hatinya sepi tanpa kehadiran Farah. Seminggu sudah Farah pergi tanpa berita. Tak ada satu orangpun yang tahu, kemana Vira pergi? Tidak juga Vira, ibu yang melahirkannya.


Farah berbohong pada Vira, ketika dia mengantakan ingin pulang ke rumahnya. Namun saat Bayu menyusul Farah. Nyatanya tak ada Farah di rumah itu. Bayu kembali dengan perasaan gelisah dan hancur. Bingung mencari keberadaan sang pemilik hati. Farah menghilang bak ditelan bumi. Tak ada tanda keberadaan Farah. Kenyataan yang membuat Vira semakin terpuruk.


Hampir lima jam Vira duduk termenung menatap langit mendung. Rintik hujan seolah mewakili hatinya yang menangis. Vira cemas memikirkan Farah. Duka seorang ibu yang tak mengetahui keberadaan putri belahan jiwanya. Vira sengaja duduk dekat jendela, berharap mobil Farah datang memasuki gerbang rumahnya. Namun semua seolah mustahil, saat harapan hanya menjadi asa. Vira tak berdaya, menyadari Farah tak pernah datang menemuinya.


"Mama, kita masuk sekarang. Udaranya mulai dingin, tidak baik bagi kesehatan mama!" Ujar Fatih lirih, Vira menggelengkan kepalanya pelan. Vira menepis tangan Fatih yang hendak mendorong kursi rodanya.


Vira terus melihat ke arah gerbang. Hanya satu harapannya, Farah datang menemuinya. Farah kembali ditengah-tengah keluarganya. Bukan sendiri merasakan sakit dan sepinya saat ini. Fatih menunduk lesu, saat merasakan penolakan Vira. Sejenak Fatih merasakan tersisih, berpikir Farah yang sepenuhnya mengisi hati Vira. Namun Fatih dengan cepat menampik pemikiran tak pantas itu. Fatih mulai menyadari, Farah jauh lebih membutuhkan Vira. Sebab sebagai seorang kakak, Fatih tidak mampu menjaga Farah.


"Mama, Fatih mohon kembalilah ke kamar. Mama harus istirahat, fisik mama belum sepenuhnya sembuh. Fatih janji, akan mencari Farah. Fatih akan membawa Farah menemui mama. Sekarang mama harus menjaga kesehatan, demi Farah dan Fatih. Aku yakin, Farah akan marah dan sedih. Jika melihat mama bersikap seperti ini!" Tutur Fatih lembut menghiba.


Fatih memohon belas kasihan Vira. Dia tidak sanggup bila melihat Vira sakit. Kehilangan adik yang baru dikenalnya. Sudah membuat Fatih hancur dan terluka. Sekarang malah Fatih harus melihat Vira sakit memikirkan Farah. Sungguh Fatih tidak mampu membayangkan semua itu. Fatih tidak sanggup melihat dua wanita yang paling berarti dalam hidupnya sakit dan terluka.


"Kamu tidak mengenal Farah, mama sangat mengenal Farah. Dia tidak akan mudah ditemukan, ketika dia ingin sembunyi. Farah tidak pernah lari dari kenyataan. Kecuali kenyataan itu melukai hatinya terlalu dalam. Kepergian Farah kali ini, bukan yang pertama. Ini kedua kalinya Farah menghilang tanpa jejak!"


"Artinya Farah pasti kembali!" Sahut Fatih gembira, Vira menggelengkan kepalanya lemah. Tanda pemikirab Fatih salah.


"Dulu Farah kembali, dengan syarat mama membawanya menemui Azzam Auliqa Putra Atmaja. Kalau sekarang, mama tidak tahu. Apa yang harus mama tukar dengan kepulangan Farah?" Ujar Vira lirih, Fatih terdiam membisu.

__ADS_1


Rahasia besar yang tertutup rapat, kini mulau terkuak. Farah bukan hanya tegas, tapi dia teguh akan keinginannya. Farah tak mudah dihadapi, tak ada yang mampu memberi pengertian pada Farah. Fatih mulai memahami, kenapa selama ini dia tidak mudah dekat dengan Farah? Fatih mengerti, Farah takkan mudah membuka diri. Dia selalu mandiri, berpikir Farah mampu berdiri tanpa orang lain.


"Kenapa Farah ingin menemui tuan Azzam? Sedangkan saat bertemu Farah tak pernah mengakuinya!"


"Farah ingin melihat ayah yang tak pernah ada untuknya. Laki-laki yang membuat mama jatuh cinta. Kepala keluarga yang tak mampu mempertahankan keluarganya. Imam yang tak bisa menuntun makmumnya. Seorang wali yang tak menyadari tanggungjawabnya. Farah ingin menemuinya, tapi tak ingin mengankuinya!"


"Alasan Farah ingin menghancurkan keluarga Atmaja!" Ujar Fatih lirih, Vira menggeleng lemah.


Vira menatap langit mendung, awan gelam seolah tak mampu meninggalkan sore. Rintik hujan terus turun membasahi tanah. Vira merasakan dingin yang teramat. Vira sepi tanpa senyum Farah. Kerinduan Vira tak lagi mampu ditutupinya. Vira benar-benar ingin bersama Farah. Dia selalu ingin memeluk Farah kecilnya. Putri kecil yang tumbuh dengan luka dan air mata. Duka yang tak mampu Vira cegah. Sekadar meringankan luka itu Farah tak mampu.


"Fatih, Farah tak seburuk itu. Dia memiliki hati yang tulus dan suci. Kekejiannya hanyalah benteng, agar tidak ada yang menganggapnya lemah. Farah kecilku tak ingin dikasihani. Kebenciannya pada keluarga Atmaja, hanya alasan dia menjauh dari mereka. Farah tak pernah ingin membalas dendam. Namun tetap diam melihat kekejian mereka. Membuat hati Farah teriris, Farah marah kerena terlahir dengan darah mereka!"


"Adikmu tak pernah ingin menyakiti mereka. Dia hanya ingin menyadarkan keluarga Atmaja dari kesombongan akan harta. Farah tak sekejam itu, hatinya suci penuh ketulusan!"


"Kenapa Farah merebut perusahaan tuan Fariz?"


"Karena perusahaan Fariz melakukan kecurangan. Proyek-proyek besar yang didapat Fariz, tidaklah murni dengan kerja keras. Ada campur tangan tuan Angga Atmaja. Kekuasaan yang membuat satu perusahaan kecil hancur. Ditambah kekerasan yang dilakukan tuan Arka di lokasi proyek. Semakin membakar amarah Farah. Meski sebenarnya Farah hanya menginginkan tanah rumah sakit!" Tutur Vira lirih, Fatih diam menunduk. Ada penyesalan jauh didalam hatinya.


Vira mengusap lembut rambut Fatih. Vira menangkup wajah tampan Fatih. Wajah yang terus mengingatkan dirinya akan Azzam. Ketampanan dan wibawa yang sama, menurun dari Azzam tanpa bisa dibantah. Vira jelas melihat Azzam, bukti nyata Fatih putra Azzam. Bukti yang menghancurkan keraguan keluarga Atmaja.

__ADS_1


"Siapa sebenarnya Farah?"


"Dia putri kecilku yang tidak beruntung!"


"Maksud mama?" Ujar Fatih tak mengerti.


Setetes bulir air mata Vira, seakan ingin mengatakan betapa berat beban yang ditanggung Farah. Fatih semakin penasaran, ketika melihat air mata Vira. Seolah ada beban yang begitu besar. Fatih menatap nanar Vira. Berharap Vira menjawab semua rasa penasarannya.


"Farah sedang sakit!"


"Kakinya yang lemah?" Sahut Fatih, Vira menggelengkan kepalanya lemah.


"Lantas?"


"Ada satu penyakit yang membuat Farah harus menahan rasa sakit itu. Alasan kecemasan mama saat ini. Kepergian Farah bukan tanpa alasan. Arya sudah mengatakan pada mama, Farah pergi untuk mengobati penyakitnya. Hanya saja Arya tidak mengatakan, dimana sekarang Farah? Mama cemas, mama takut memikirkan Farah sendirian menghadapi sakitnya. Selama seminggu, mama menunggu Farah. Namun sore ini, ketenangan mama berakhir. Farah kecilku kini menangis menahan sakitnya. Dia sendirian tanpa mama. Putri kecilku meringkuk menahan sakit. Tanpa ada tangan yang memeluknya!" Ujar Vira, sembari menangis.


Seketika Fatih memeluk Vira. Mencoba menenangkan Vira. Fatih memeluk erat Vira, menenangkan hati ibu yang tengah ketakutan. Fatih mendekap erat Vira, berharap tangis Vira berhenti. Fatih terus memeluk Vira, ada sedikit rasa sesak di hatinya. Menyadari Farah adiknya tidak sekuat itu.


"Dimana kamu Farah? Katakan pada kakak, dimana kamu menyimpan air matamu? Katakan pada kakak, dimana kamu menyembunyikan sakitmu? Katakan pada kakak, dimana kamu menyimpan obat lukamu? Katakan pada kakak Farah, katakan pada kakak. Setidaknya izinkan kakak mencoba mencari tempat itu. Agar kakak mampu menggantikan mereka. Kakak ingin menjadi penyembuh lukamu, penghapus air matamu, pengganti obatmu. Kakak ingin menjadi yang paling penting dalam hidupmu, kakak merasa bodoh. Ketika kamu menjauh dari kakak. Panggil kakak sekali saja, saat kamu rapuhmu!" Batin Fatih pilu, sembari memeluk tubuh Vira yang lemah.

__ADS_1


"Fatih akan menemukan Farah. Fatih akan menjadi sandarannya!" Ujar Fatih lirih.


__ADS_2