
"Lepaskan mereka, jangan sentuh mereka!" Teriak Farah langtang, sesampainya Farah di lokasi proyek.
Farah berjalan dengan langkah lemahnya. Beberapa hari ini kakinya melemah. Obat pereda rasa sakit tak lagi mampu menghilangkan nyeri di kakinya. Meski begitu Farah tetap datang ke lokasi yang berbahaya. Dia tak memikirkan lemahnya, Farah hanya peduli dengan keselamatan pekerja. Farah takut terjadi sesuatu yang lebih parah. Bagaimanapun para pekerja masih menjadi tanggungjawab Fara sepenuhnya.
"Farah, berhenti jangan pergi ke sana. Mereka sedang emosi. Kamu bisa celaka!" Teriak Bayu histeris, nampak Bayu berusaha mencegah Farah. Namun bukan Farah, jika peduli dengan kekhawatiran orang lain.
Farah datang ke lokasi proyek, tepat saat Arya melaporkan ada perkelahian di proyek. Pada saat bersamaan, Bayu datang menemui Farah. Bukan sebagai kakak atau sebagai laki-laki yang menyayangi Farah. Bayu datang sebagai perwakilan dari perusahaan Azzam. Sudah bukan rahasia umum, jika Bayu dan Fatih bekerjasama dengan Fatih. Sedangkan Azzam dan Farah mulai bersaing, meski secara sembunyi-sembunyi.
"Lepaskan dia, jangan berani menyentuhnya. Dia terlalu tua untuk menjadi lawanmu. Jika berani, lawan aku!" Tantang Farah, Bayu terperanjat mendengar perkataan Farah.
Bayu melangkah maju, dia menarik tangan Farah. Bayu tidak setuju dengan perkataan Farah. Nampak jelas kaki Farah kesakitan, tapi Farah mencoba menahan rasa sakit dan terus berdiri paling depan. Keteguhan dan ketegaran Farah yang membuat Bayu merasa bodoh. Dia semakin tak memahami cara pikir Farah. Pola pikir Farah jauh di atas Farah yang terkadang sembrono.
"Anda siapa? Kenapa harus ikut campur? Saya ditugaskan langsung oleh pimpinan perusahaan ini. Kami diperintahkan untuk memberikan pelajaran pada mereka. Agar mereka tidak membangkang!" Ujar kepala preman, seketika Farah meradang.
Farah meradang, dua bola matanya membulat sempurna. Mata merahnya jelas menunjukkan amarah yang tersimpan. Farah merasa emosi, ketika menyadari ada aktor intelektual di balik kerusuhan yang terjadi di proyeknya. Farah maju menatap tajam sang preman. Farah berdiri tepat di depan preman. Farah mencengkram kra baju kepala preman. Tak ada rasa takut di mata Farah. Bagi Farah preman di depannya hanyalah bawahan. Farah harus bisa menemukan pemimpinnya.
"Farah, jangan lakukan itu!" Ujar Bayu, Farah menoleh ke arah Bayu. Tatapan dingin Farah mengunci mulut Bayu. Tak ada lagi kata yang keluar dari bibir Bayu. Secara perlahan, Bayu melangkah ke sisi Farah. Diam melihat Farah melakukan apapun yang diinginkannya. Nampak jelas cengkraman tangan Farah kuat. Sang preman merasa tercekik, mata Farah membuat sang preman tak berkutik.
Bayu yang semula menahan tangan Farah. Tak lagi berkutik, Farah tak mampu dicegah. Dengan tenaga yang tiba-tiba ada, Farah meronta melepaskan diri dari genggaman tangan Bayu. Farah benar-benar marah, sedangkan Bayu hanya bisa siaga di samping Farah. Bayu takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini? Aku pemimpin proyek ini, tak pernah aku menggunakan tangan kotor para preman. Katakan dengan jelas, siapa pemimpin yang kamu maksud? Lagipula mereka manusia bukan hewan, kenapa kalian perlakukan mereka semena-mena? Sebagai petarung, seharusnya kalian malu. Kaliam memilih lawan yang tak sepadan. Hentikan sekarang juga, sebelum aku menghentikan langkah kalian. Aku dengan mudah bisa menghubungi polisi, akan kupastikan kalian membusuk di penjara!" Ujar Farah lantang, Bayu mendelik. Dia melihat sisi lain Farah yang menakutkan.
Farah menghempaskan sang preman kasar. Amarah Farah tak lagi bisa dikendalikan. Dengan penuh emosi, Farah menunjuk wajah satu per satu preman yang ada di depannya.
__ADS_1
"Lepaskan mereka!" Ujar Farah marah, tapi tak satupun dari preman yang menghentikan perkelahian.
"Silahkan saja anda menghubungi polisi. Kami di sini atas perintah pimpinan. Jadi apapun yang terjadi akan ditanggung oleh pimpinan. Anda bukan siapa-siapa jadi tidak berhak memerintah kami?" Tantang kepala preman balik. Farah semakin marah, tatapan tajamnya bak elang yang mengincar buruannya.
"Arya, siapa yang memerintahkan hal semacam ini? Siapa yang meminta mereka menyiksa pekerja? Aku merasa tidak pernah memberikan perintah gila seperti ini!" Teriak Farah emosi, Bayu menahan tangan Farah. Mencoba menenagkan Farah, tapi semua sia-sia. Farah benar-benar marah, dia tidak suka dengan keributan yang terjadi.
Bugh bugh bugh
Suara pukulan terus terdengar, mereka seolah kerasukan. Mereka memukul tanpa belas kasih. Farah semakin gelisah, sepintas nampak Farah mengusap wajahnya kasar. Farah berdiri mematung, merutuki kebodohannya yang tak mampu mencegah kejadian mengerikan itu. Bukan Farah takut terluka, tapi Farah tak berharap kejadian ini berlarut. Farah bimbang antara mendekat atau tetap di tempatnya. Namun jika Farah tetap diam, para preman akan membabi buta. Sebaliknya jika Farah mendekat, akan terjadi hal yang fatal padanya.
"Cukup!" teriak Farah, menghadang pukulan untuk seorang bapak tua. Suara pukulan yang mendarat di kepalanya. Seirama dan sekeras suara teriakkan penuh amarah Farah.
Bugh
"Ini peperanganku, bukan perangmu. Kemungkinan keluarga Atmaja di balik semua ini. Jadi jangan ikut campur, Nafisa bagian keluarga Atmaja. Aku tidak ingin kamu terjebak pada posisi yang sulit!" Ujar Farah lirih sembari menahan tangan Bayu.
"Kenapa?" Sahut Farah lirih.
"Bu Farah!" Teriak Arya histeris, saat melihat Farah mendapatkan pukulan.
Arya berlari menghampiri Farah, tapi terhenti ketika Farah merentangkan tangannya. Farah melarang Arya membantunya. Farah selalu menjaga jarak dengan yang bukan mukhrim.
"Aku bisa berdiri sendiri. Bantu mereka yang terluka. Aku akan membereskan mereka!" Ujar Farah emosi, bola mata Farah merah menahan amarah. Nyata amarah Farah berkobar. Farah benar- benar marah, bukan karena aku terkena pukulan. Namun marah karena kekerasan yang dilakukan para preman.
__ADS_1
"Arya, segera hubungi polisi. Percuma bicara baik-baik dengan mereka! Aku juga ingin tahu, siapa pemimpin mereka!" Ujar Farah dingin dan Tegas. Arya hendak menghubungi polisi. Salah satu preman itu merebut ponselnya.
"Jangan berani-berani kamu menghubungi polisi. Kami dibayar untuk membereskan orang-orang seperti kalian!" Ujar preman kasar, lalu membanting ponsel Arya.
Prryyyaaar
"Itu peringatan untuk kalian. Jadi sekarang lebih baik kalian pergi. Jangan pernah ikut campur masalah kami!" Ujarnya lagi, Farah menghampiri para preman. Farah menghadang dengan penuh keberanian.
"Arya, bawa semua pekerja dari sini. Rawat yang terluka ke rumah sakit terdekat. Semua biaya akan ditanggung perusahaan. Pastikan mereka mendapatkan penanganan yang terbaik!" Titah Farah, Arya mengangguk tanpa ragu.
"Lalu, bagaimana dengan anda?, jika saya mengantar mereka!" Ujar Arya cemas.
"Aku akan menyelesaikan urusan dengan mereka!" Sahut Farah tegas.
"Kamu hanya wanita lemah, apa yang bisa kamu lakukan pada kami?" Ujar salah seorang laki-laki. Dia menggenggam tangan Farah erat. Sontak Farah emosi, tak ada satupun laki-laki yang pernah menyentuhnya kasar.
Plaaakkk
"Jangan pernah sentuh saya. Hargai saya sebagai seorang wanita. Anda terlahir dari rahim seorang ibu. Jadi jangan bersikap tidak pantas!" Ujar Farah marah.
"Kamu berani menamparku, besar juga nyalimu!" Ujarnya ketus, sembari mengangkat tangan hendak memukul Farah.
"Aku memang wanita. Sejak tadi aku hanya diam, bukan karena takut pada kalian. Aku hanya menjaga batasan antara kalian denganku. Namun jika terpaksa aku harus melawan. Aku akan melakukannya, meski itu artinya aku harus melanggar batasan!" Ujarku dingin, menahan tangan laki-laki yang hendak menamparku balik.
__ADS_1
"Katakan pada tuan Angga, berhenti bermain kotor. Jika dia seorang pemimpin sejati, minta dia melawanku dengan berani. Para pekerja tidak salah, begitu juga dirimu yang tak tahu apa-apa? Pulanglah, jangan menjadi budak orang tak berhati itu. Ingat ada keluarga yang menunggumu!" Ujar Farah lantang, lalu menghempaskan tangan mereka kasar.