
"Apa dia sudah datang?" ujar Azzam pada Sri, salah satu ART di rumahnya. Dengan gelengan kepala Sri menjawab. Azzam menunduk lesu, dia berjalan menuju meja makan. Azzam terlihat lesu duduk di meja makan.
Melda memperhatikan raut wajah Azzam. Baru semalam dia melihat Azzam tersenyum. Sebuah senyum setelah sekian tahun tak pernah terutas. Kebahagian terbesar Melda, setelah lama dia melihat kedua putranya hancur. Namun pagi ini, senyum itu tak lagi terlihat. Malah Azzam terlihat lesu tak bersemangat. Melda bingung memikirkan perubahan sikap Azzam.
"Kenapa kamu khawatir Azzam? Ada masalah serius di kantor. Bukankah proyek yang kita ingjnkan. Sudah mencapai kata sepakat. Lantas ada masalah apa?" ujar Angga lirih, Azzam diam membisu. Angga menghela napas panjang. Melda hanya bisa diam melihat dingin hubungan Angga dan Azzam.
Hubungan Angga dan Azzam, dingin layaknya gunung es. Meski mereka duduk di meja yang sama, tinggal di bawah atap yang sama. Tak pernah satu kalipun Azzam menyapa atau bersikap hangat pada Angga. Setiap kali Angga mencoba menyapa Azzam. Saat yang sama Azzam selalu mengacuhkannya. Azzam seakan tak pernah mengenal Angga. Azzam tak pernah berpikir ingin dekat dengan Angga.
Azzam berpikir kehancuran dan kepahitan dalam hidupnya. Tak lain karena sikap angkuh Angga. Vira pergi menjauh darinya, menolak cinta tulusnya. Semua karena hinaan yang diberikan Angga. Selama lebih dari lima tahun Angga kehilangan Azzam. Bukan hanya senyum dan hangat sikap Azzam. Suara dan sentuhan tangan Azzam. Tak lagi ada mengisi hidupnya.
Fariz putra bungsunya, entah dimana rimbanya? Sejak malam Vira keluar dari rumahnya. Angga tak pernah lagi mendengar kabar Fariz. Segala usaha dilakukan Angga untuk menemukan Fariz. Namun semua sia-sia, Fariz seolah menutup jati dirinya agar tak ditemukan. Fariz menghilang bak ditelan bumi. Tak secuil kabar diterima oleh keluarga Atmaja.
Kehancuran sempurna Angga Atmaja. Hidupnya sepi tanpa dua putranya. Tak ada tawa yang terdengar di dalam rumahnya. Hanya air mata Melda yang terus menetes. Kala menatap foto Fariz. Kerinduan seorang ibu yang tak pernah bertemu putra manjanya. Angga Atmaja hancur tak bersisa, karena angkuh dan kesombongannya.
"Tunggu dia di depan, jika sudah datang. Langsung bawa dia kemari. Aku ingin sarapan bersamanya!" titah Azzam pada Sri, seketika Sri mengangguk pelan. Lalu berjalan ke depan menunggu orang yang dibicarakan.
Angga dan Melda hanya bisa diam menatap Azzam. Mereka tak lagi mampu mendekat atau memeluk Azzam. Cukup Azzam duduk di meja yang sama dengan mereka. Tinggal di bawah atap yang sama. Keduanya sudah merasa bahagia. Setidaknya keberadaan Azzam sedikit mengurangi rasa kehilangan mereka akan Fariz. Putra kebanggan yang memilih melupakan keluarganya.
"Pagi, om Angga!"
"Pagi, tante Melda!"
"Pagi, kak Azzam!" sapa Nadya ramah, Angga dan Melda mengangguk seraya tersenyum ke arah Nadya. Sebaliknya Azzam bersikap dingin dan acuh pada Nadya.
Nadya duduk tepat di samping Melda. Berhadapan langsung dengan Azzam yang teruz menunduk menatap layar ponselnya. Azzam tak seakan tak peduli ada atau tidaknya Nadya. Dia hanya fokus menunggu seseorang.
"Tuan Azzam, dia sudah datang!" ujar Sri ramah, seketika Azzam berdiri. Dia menatap lurus ke arah pintu masuk.
Terlihat Syifa berjalan perlahan sembari menggandeng Fatih. Melda berdiri terpaku menatap ke arah pintu. Dia tidak mengenal siapa yang datang? Namun ada rasa aneh dalam hatinya. Air mata yang tak terasa menetes, seolah ungkapan gelisah Melda. Tatapan tajam Fatih mengingatkan Melda akan Azzam kecil. Melda mengusap air matanya, dia mencoba menenangkan hatinya.
__ADS_1
Azzam menunggu Fatih tepat di sebelah meja makan. Fatih berjalan di belakang Syifa, terlihat jelas Fatih ketakutan. Azzam berjongkok sembari merentangkan kedua tangannya. Azzam berharap Fatih berlari memeluknya. Namun Azzam salah, Fatih diam mematung di belakang Syifa. Hanya kepala Fatih yang nampak keluar. Azzam menghela napas panjang, dia paham akan rasa takut Fatih. Melda berdiri di samping Azzam, tanpa dia bertanya pada Azzam. Melda sudah bisa menyimpulkan, siapa sebenarnya Fatih? Hanya Angga dan Nadya yang seakan tidak peduli pada Fatih.
"Fatih, itu papa dan ini rumah papa. Bukankah tadi mama berpesan. Fatih tidak boleh nakal. Fatiha harus bersikap sopan, apapun yang terjadi? Sekarang temui papa, beri salam pada semua orang!" ujar Syifa, Fatih mengangguk mengiyakan. Fatih berjalan perlahan ke arah Azzam.
Fatih mencium punggung tangan Azzam. Lalu mencium tangan Melda bergantian. Saat Fatih mendekat ke arah Angga dan ingin memberi salam. Angga mengacuhkan Fatih, sontak Fatig menoleh ke arah Syifa. Dengan perlahan Syifa mengangguk, dengan isyarat tangan. Syifa meminta Fatih memberi salam pada Nadya. Melda menutup mulutnya tak percaya. Air mata bahagia terus menetes. Sekian lama kepedihan ada dalam hidupnya. Kini kebahagian dirasakan Melda. Melihat cucu pertama keluarga Atmaja.
"Fatih, duduk di samping papa!" ujar Azzam, Fatih berjalan perlahan ke arah Azza. Syifa berdiri di belakang kursi Fatih.
"Azzam, dia siapa? Apa Vira sudah kembali?" cecar Melda, Azzam menoleh ke arah Melda.
"Dia Azzam Al-Fatih, putraku dengan Vira!" sahut Azzam dingin. Melda tersenyum bahagia, akhirnya dia melihat Azzam kembali hidup.
"Fatih, ini oma Melda. Fatih tidak perlu takut, ini rumah papa. Artinya rumah Fatih juga!" ujad Melda lirih dan lembut, Fatih mengangguk mengiyakan. Sebaliknya Angga tersenyum sinis, sedangkan Nadya menunduk lesu. Harapan dia akan menikah dengan Azzam. Nyata tidak akan pernah terjadi. Vira kembali bahkan dengan buah cinta Azzam.
"Jelas dia ketakutan, rumah ini terlalu besar untuknya. Selama ini mungkin dia tinggal di rumah reyot dan kecil!" ujar Angga, sontak Azzam menoleh penuh amarah. Azzam marah mendengar perkataan Angga. Melda menyikut lengan Angga. Isyarat agar dia diam dan tidak ikut campur.
"Fatih, sarapan bersama papa!" ujar Azzam lirih, Fatih menggeleng lemah. Syifa diam menatap interaksi antara Azzam dan Fatih. Hubungan ayah dan anak yang terpisah hanya karena ego semata.
"Lihat itu Melda, kotak makannya saja biasa. Apalagi isinya, tentu makanan yang tak selevel dengan kita. Lidahnya tidak akan bisa mengunyah makanan mahal seperti ini!" ujar Angga lirih, Azzam meradang. Dia mengepalkan tangannya, Azzam hendak menggebrak meja. Namun terhenti ketika Syifa menyentuh tangannya. Syifa menggeleng lemah, isyarat agar Azzam tidak marah. Sebab Fatih bisa melihat semua itu.
"Maaf tuan Azzam, Fatih ada alergi seefood. Bekal yang mbak Vira siapkan, bukan untuk menghina atau merasa tidak cocok dengan makanan rumah ini. Namun lebih karena Fatih masih dalam pertumbuhan. Semua makanan dan minuman yang dikonsumsi Fatih. Berada di bawah pengawasan dan perhitungan saya. Jadi maaf, selama masa penyembuhan. Fatih harus mengkonsumsi semuanya dengan seimbang!"
"Maksud kamu apa Syifa? Kenapa dengan Fatih? Dia baik-baik saja!" ujar Azzam cemas, Syifa mengangguk mengiyakan.
"Fatih memang sehat, tapi dia mudah sakit bila salah mengkonsumsi makanan. Jadi Fatih tidak boleh sembarangan makan. Mbak Vira khusus mempekerjakan ahli gizi untuk Fatih!" ujar Syifa, Angga tersenyum sinis.
"Ahli gizi, makanan bergizi saja dia belum tentu mampu memberikannya. Malah membayar ahli gizi. Jelas hal yang tidak mungkin!" ujar Angga sinis, Syifa tersenyum simpul. Azzam menggeleng tak percaya melihat sikap Angga yang tak pernah berubah.
"Maaf tuan Azzam bila saya lancang!" ujar Syifa, lalu membuka kotak makan Fatih. Setelah memperlihatkan pada Angga, Syifa meminta Fatih memakannya.
__ADS_1
"Tidak mungkin!" ujar Angga tak percaya.
"Tuan, bekal yang dibuat mbak Vira sudah sesuai kebutuhan Fatih pagi ini. Jika anda bertanya apakah makanan ini bergizi? Silahkan anda periksa tabel gizi yang saya bawa ini. Anda akan mengetahui, seberapa besar gizi dari bekal murahan yang anda katakan ini!" ujar Syifa sembari memberikan tabel gizi pada Angga.
"Siapa sebenarnya kamu?" ujar Azzam penasaran.
"Syifa Amalia Zahra, ahli gizi yang khusus mengawasi makanan Fatih!" ujar Syifa lantang.
"Kamu bukan pengasuh Fatih!" ujar Azzam, Syifa menggeleng lemah.
"Pengasuh Fatih ada di dalam mobil. Aku ahli gizi yang bekerja pada mbak Vira. Semenjak Fatih berusia 18 bulan. Jadi sangat salah bila tuan besar berpikir Mbak Vira tidak bisa memberikan makanan bergizi dan hidup layak untuk Fatih!" ujar Syifa, Angga menggeleng tak percaya.
"Maafkan papa sayang, maafkan papa!" ujar Azzam lirih. Lalu mencium puncak kepala Fatih.
"Papa, Fatih baik-baik saja. Fatih tadi takut bukan karena rumah papa besar. Rumah Fatih jauh lebih besar dari ini dan Fatih tidak takut ditinggal sendiri. Fatih merasa asing, makanya Fatih takut!" ujar Fatih lirih.
"Tuan Angga, anda mendengar itu. Dia bukan anak tanpa harta yang keberadaannya kamu tolak. Bahkan sebelum dia terlahir!" ujar Azzam dingin.
"Azzam, Vira membatalkan rapat hari ini. Dia harus ke luar kota. Ada proyek yang harus dia tinjau!" teriak Andra.
"Vira, kenapa harus dengan Vira?" ujar Angga lirih pada Andra.
"VRZ Corp, itu milik Vira. Kita berhasil bekerjasama dengan perusahaan itu!" ujar Andra lantang.
BRAAAKKKK
"Tidak mungkin!" ujar Angga tak percaya, sesaat setelah menjatuhkan kursi.
"Semua mungkin tuan Angga, roda terus berputar. Vira yang dulu kamu hina, kini dengan mudah bisa menghinamu. Semut yang kecil akan menggigit. Jika hidupnya selalu diganggu!" ujar Azzam dingin, lalu berdiri membawa Fatih menuju kamarnya.
__ADS_1
"Tuan Angga, hiduplah dengan angkuhmu yang dingin. Harta yang tak berhati, gelap tanpa cahaya kasih sayang putra-putramu!" bisik Melda sinis.