Ikhlas

Ikhlas
Amarah


__ADS_3

"Tuan Angga Atmaja!"


Braaaakkk Praaaayyyyrrr


Teriak Azzam histeris, suara bantingan pintu. Menggema di seluruh ruang tamu rumah megah Atmaja. Suara pecahan guci, bak suara jeritan amarah Azzam. Kebenaran yang tak pernah dia sadari. Membuatnya kalap, hatinya dipenuhi amarah dan rasa benci. Tatapan sinis Farah, dingin perkataan Farah. Membuat Azzam lupa akan kewarasan. Azzam marah, dalam otaknya dipenuhi kebencian yang tak bisa dinalar.


"Tuan Angga Atmaja, keluar!" Teriak Azzam.


Pyaaarrr Pyaaaarrr Pyaaaarrr


"Keluar!"


"Keluar kalian keluarga Atmaja!" Teriak Azzam kesetanan. Azzam benar-benar emosi. Tak ada yang mampu membuatnya meredam amarah. Azzam benar-benar kalut, hanya amarah yang ada dalam benaknya.


Azzam melempar hampir seluruh perabotan di rumah megah Atmaja. Azzam melampiaskan semua amarahnya, suara pecahan guci. Seolah mengganti suara tangis Farah dan Vira. Kebenaran yang menjadi alasan utama kehancuran keluarga kecilnya. Putri yang lahir tanpa dia ketahui. Rasa sakit yang dialami Vira. Bak tamparan keras dalam hidupnya. Azzam merasakan panas yang tak bisa dikatakan.


"Tuan Angga, keluar!"


"Kak Azzam, apa yang terjadi?" Ujar Faris cemas, Azzam menoleh dengan tatapan tajamnya. Seolah dua bola mata Azzam siap keluar.


Pyaaarrr


"Dimana tuan Angga yang terhormat?" Ujar Azzam, sesaat setelah dia melempar sebuah guci ke arah sudut ruang tamu.


"Azzam, hentikan!" Teriak Melda ketakutan, kedua tangannya menutup dua telinga rapat-rapat. Melda ketakutan melihat amarah Azzam. Amarah yang mampu menghancurkan rumahnya.


"Kak Azzam, tenangkan dirimu. Kita bisa bicara baik-baik!"


"Fariz, haruskah aku bicara baik-baik pada orang yang menghancurkan hidup putranya!" Sahut Azzam lantang, kedua matanya memerah. Azzam tak lagi bisa mengendalikan dirinya. Azzam benar-benar marah dan kalut.


"Apa maksudmu Azzam?"


"Mama tidak perlu pura-pura tidak tahu. Mama jelas tahu, awal kehancuranku!"


"Apa yang mama ketahui?"


"Kehamilan Vira dua puluh tahun yang lalu!" Ujar Azzam lantang dan dingin.


Duaaaarrrr


Bak petir yang menyambar tubuhnya, seketika tubuh Melda sempoyongan. Melda terkejut mendengar perkataan Azzam. Fakta yang selama ini terpendam, kini terkuak tanpa bisa Melda hindari. Fariz seketika menopang tubuh Melda. Tepat saat Fariz melihat ibunta berjalan mundur dengan tubuh yang bergetar hebat. Melda benar-benar tak menyangka, Azzam akan membuka fakta yang ditutupnya rapat.


"Jangan bercanda kak, mama tidak pernah bertemu Vira. Bukankah Vira pergi, saat mama terbaring lemah di rumah sakit!" Ujar Fariz mencoba membela Melda. Fariz berharap perkataannya mampu meredam amarah Azzam. Namun semua sia-sia, tatkala Fariz melihat tawa sinis Azzam.


"Dia ibu yang menghancurkan hidup putranya dengan kedua tangannya!"

__ADS_1


"Kak Azzam, hentikan. Mama tidak seburuk itu!"


"Seekor hewan saja takkan pernah membiarkan anaknya dalam bahaya. Sedangkan dia, ibu yang menyerahkan putranya dalam kehancuran!"


Plaaakkkk


"Cukup kak, aku akan diam selama kakak tidak menghina mama. Sadarlah kak, Vira pergi atas kemauannya sendiri. Mama tidak bersalah atas luka Vira!" Ujar Fariz emosi, sesaat setelah Fariz menampar Azzam.


Azzam berdiri menjauh dari Melda. Tangannya mengusap darah yang menetes di sudut bibirnya. Tamparan Fariz sangat keras, tapi seolah sakitnya tak lagi terasa. Hati Azzam lebih sakit, ketika dia mengetahui perbuatan keluarganya.


"Maafkan mama!" Ujar Melda lirih, keduanya tangannya menangkup tepat di depan dadanya.


Melda menangis menghiba pada putranya. Dosa yang dilakukannya dulu, jelas menghancurkan putranya Azzam. Melda tak tahu harus berbuat apa? Seolah permintaan maaf yang terucap dari bibirnya tak lagi bisa membuat Azzam memaafkannya.


"Mama!" Ujar Fariz lirih, ketika dia melihat Melda mengucap kata maaf.


Fariz tak percaya, jika Melda meminta maaf pada Azzam. Seolah permintaan maaf Melda membenarkan tuduhan Azzam padanya. Fariz mundur beberapa langkah. Dia merasa takut melihat Melda. Fariz seolah tak mengenal Melda.


"Mama bohong!" Ujar Fariz, Melda menggelengkan kepalanya. Menghiba belas kasihan putra kebanggannya.


"Maafkan mama!"


"Maafkan mama!"


"Kenapa ma?" Ujar Azzam lirih, Melda menggelengkan kepalanya pelan.


Azzam terduduk tepat di depan Melda. Azzam berlutut pada Melda. Dia mengharapkan penjelasan atas sikap Melda dua puluh tahun lalu pada Vira. Azzam hancur tak bersisa, saat dia menyadari dua wanita yang paling penting dalam hidupnya harus berada di dua sisi yang berbeda.


"Mama terpaksa melakukannya. Mama tidak ingin kamu pergi dari sisi mama. Ketakutan mama akan bayangan kepergianmu. Membuat mama sanggup menyakiti Vira!"


"Bukan hanya Vira ma, putriku harus lahir tanpa mengenal aku. Dia membenciku, tatapannya dingin. Tak ada tempatku dalam hatinya. Bahkan saat dia terjatuh, putriku lebih percaya pada tongkat penyangganya. Daripada tangan kekarku yang ingin melindunginya!"


"Maafkan mama Azzam!"


"Terlambat ma, kebencian putriku mendarah daging. Layaknya amarahku pada keluarga ini. Kalian bukan keluargaku, kalian musuh yang ingin melihatku tiada!" Ujar Azzam lantang, Melda syok. Seketika tubuhnya lemas, dia tak lagi melihat kasih sayang di mata putranya.


Melda merasakan tubunya tak berdaya. Tulang belulangnya remuk, kepalanya terasa berat. Amarah dan kebencian Azzam, seketika membuat Melda tak berdaya. Fariz berlari ke arah Melda. Dengan sigap Fariz menopang tubuh Melda. Sebaliknya Azzam tak tergetar, hatinya terlanjur penuh kebencian.


"Mama tenangkan dirimu, kak Azzam sedang emosi. Semuanya akan segera baik-baik saja!"


"Fariz, maafkan mama!" Ujar Melda dalam kondisi setengah tersadar.


"Mama harus kuat. Mama tidak salah, jadi tidak perlu meminta maaf!" Sahut Fariz.


"Mama tak pantas dipanggil ibu. Seorang ibu takkan pernah menghancurkan hidup putranya. Sedangkan mama, dengan sadar membuat Azzam hancur. Menjauhkan Vira dari hidup Azzam. Seakan menarik lentera yang menyinari hati Azzam. Sebagai ibu mama sangat kejam!" Ujar Melda lirih, Fariz menggeleng lemah.

__ADS_1


Fariz terlihat semakin cemas, ketika dia melihat keringat dingin keluar dari pelipis Melda. Hanya Azzam yang terus acuh akan kondisi Melda. Azzam merasa hubungan darah yang ada. Tak pernah berarti lagi, semua yang dilakukan keluarganya sudah sangat keterlaluan.


"Kak Azzam, mama!"


"Tuan Angga!" Teriak Azzam lantang, suaranya menggema.


"Kak Azzam, kita bawa mama ke rumah sakit. Setelah itu kakak selesaikan urusannya dengan papa!"


"Diam kamu Fariz!"


"Tuan...!" Teriakkan Azzam terhenti, saat melihat Angga keluar dari meja kerjanya.


"Tutup mulutmu Azzam, tak perlu berteriak!"


"Akhirnya anda keluar!"


"Azzam jaga bicaramu!" Bentak Angga lantang.


"Kenapa anda marah? Bagaimana rasanya dihina dan tersakiti?"


"Diam kamu!"


"Tuan Angga anda telah membuat hidupku hancur. Kini anda harus merasakan sakit yang sama. Kehancuran anda akan segera dimulai!"


"Kak Azzam, hentikan!"


"Tuan Angga Atmaja, dengarkan baik-baik. Mulai hari ini aku memutus hubungan darah dengan keluarga ini. Aku akan menarik semua saham yang ada di perusahaan Atmaja!"


Plaakkk


"Sadarlah Azzam!"


"Tuan Angga tidak perlu khawatir, aku sangat sadar. Mulai detik ini, tepat saat kakiku melangkah keluar. Tak ada lagi namaku dalam silsilah keluarga Atmaja. Ingatlah tuan Angga, aku bukan putramu lagi!"


"Tidaaakkk!" Teriak Melda, sesaat sebelum Melda tak sadarkan diri.


"Maafkan Azzam ma, apa yang Azzam lakukan hari ini? Semua karena keputusan mama yang ingin menghancurkanku!" Ujar Azzam lirih.


"Tunggu Azzam!"


"Ada apa tuan Angga!"


"Amarahmu hanya pantas untukku. Jadi luapkan amarahmu padaku. Jangan kamu menghancurkan hati yang lain!"


"Aku akan menghancurkanmu, agar kamu sadar uang bukan segalanya!" Ujar Azzam sinis.

__ADS_1


__ADS_2