
"Kamu yakin akan masuk ke dalam!" Ujar Fatih, Farah menoleh ke sebuah rumah megah.
Rumah yang berdiri kokoh, megah bak istana. Tatapan Farah tajam, lekat menatap rumah megah yang seolah meninggalkan kenangan pahit teramat dalam hatinya. Meski Farah tak pernah menginjak rumah nan indah di depannya. Hati Farah begitu sakit, melihat kuatnya pondasi rumah. Tempat Vira pernah terhina, tanpa ada yang mampu membelanya. Farah menatap penuh haru rumah keluarga Atmaja yang begitu besar.
"Farah!"
"Ada apa kak?" Sahut Farah, Fatih menepuk pelan pundak Farah. Membuyarkan sejenak tatapan nanar Farah.
"Jika kakimu terlalu lemah, tidak perlu kamu memaksa turun. Kita memang diundang, tapi tak ada yang memaksamu untuk datang!" Ujar Fatih, Farah menunduk lesu.
Fatih menatap penuh iba pada Farah. Fatih jelas merasakan sakit dan gelisah hati Farah. Datang ke rumah yang penuh dengan kenangan pahit Vira. Bukanlah hal yang mudah bagi Fatih dan Farah. Namun demi sebuah janji, Fatih dan Farah harus datang. Janji yang terlanjur terucap pada Vira. Bakti seorang anak pada ibu yang melahirkan mereka.
"Kita masuk!" Sahut Farah tegas, dengan perlahan Farah membuka pintu mobil Fatih.
Farah menurunkan kakinya satu per satu. Farah berdiri bersandar pada pintu mobil. Nampak Bayu berdiri tak jauh darinya. Bayu turun dari mobil Fatih. Sedangkan Fatih dan Farah datang menggunakan mobil Farah. Bayu hanya diam, menunggu Fatih dan Farah turun dari mobil. Sebab Bayu tak mengerti alasan kedatangan mereka di rumah ini. Lagipula sejak percakapan Farah dengan Bayu tadi sore. Tanpa Bayu sadari, ada jarak yang mulai terlihat diantara dirinya dengan Farah.
Sejenak Bayu merasa heran, saat mobil Farah masuk ke dalam halaman luas sebuah rumah megah. Rumah megah yang berdiri kokoh tak jauh dari rumah Vira. Dua rumah yang berbeda, tapi berada di wilayah yang sama. Rumah yang seolah begitu berarti dalam hidup Farah. Nampak raut wajah Farah yang ketakutan. Bayu menghela napas, dia merasa bodoh dan tak berdaya. Bayu merasa tak mampu mendekap Farah dalam sedih dan sakitnya.
"Bayu, kita masuk!" Ajak Fatih ramah, Bayu mengangguk pelan.
Dengan gagah Bayu mendekat ke arah Fatih. Sekilas Bayu melirik Farah yang terus menunduk. Seakan ada beban berat yang tengah mengganjal hatinya. Sesak seketika dirasakan Bayu, saat melihat raut wajah Farah rapuh. Bayu benar- benar tak mampu berpaling dari Farah. Bukan hanya cantik secara fisik, Farah memiliki hati yang jauh lebih cantik. Alasan Bayu begitu terpesona dengan Farah.
"Rumah siapa ini?"
"Tuan Azzam Atmaja!" Sahut Fatih datar, Bayu seketika menoleh.
Bayu melihat Fatih yang begitu tenang. Tak nampak amarah atau penolakan dari Fatih. Sebaliknya Farah begitu rapuh dan hancur. Jelas kedua kaki Farah lemah. Tak sanggup melangkah ke dalam rumah keluarga Atmaja yang megah. Bayu benar-benar tak percaya, dua saudara yang begitu tersakiti. Kini Fatih dan Farah harus dipaksa memaafkan orang-orang yang menyakiti mereka.
"Kamu yakin ingin masuk!" Ujar Bayu, Fatih mengangguk pelan.
Bayu melihat Farah berjalan masuk ke dalam rumah Atmaja. Pintu besar nan indah, menyapa Farah penuh dengan keangkuhan. Anggun langkah kaki Farah, seakan tak nampak ditelan kesombongan sang pemilik rumah yang arogant. Langkah Farah terdengar berirama, bak melodi simfoni indah. Lantai marmer nan mahal, bak piona yang terinjak kaki jenjang Farah. Bayu dan Fatih mengikuti langkah Farah. Menjaga Farah takut langkahnya melemah dan jatuh.
"Tante Vika!"
"Farah sayang!" Sapa Vika, Farah mengangguk meraih tangan lembut Vika. Farah mencium punggung tangan Vika. Lalu memeluk hangat tubuh mungil Vika.
Vika menjadi satu-satunya alasan mereka datang ke rumah keluarga Atmaja. Farah menjadi tamu yang begitu diharapkan oleh Azzam. Dengan bantuan Vika, akhirnya Farah bersedia hadir. Bukan untuk menyapa atau memeluk Azzam. Farah datang demi rasa hormatnya pada Vika. Fatih melakukan hal yang sama. Fatih datang demi rasa bakti pada Vika dan Arif yang telah membesarkannya.
"Fatih, kamu juga datang!" Ujar Vika ramah, Fatih mengangguk pelan. Vika tersenyum ke arah Bayu.
"Tante Vika, dimana Nafisa? Aku ingin mengucapkan selamat padanya!" Ujar Farah lirih, Vika mengedarkan pandangannya.
"Itu Nafisa!" Ujar Vika sembari menunjuk ke sisi kanan arah jam dua.
Nampak Nafisa berdiri diantara orang-orang hebat. Farah menoleh ke arah yang ditunjuk Vika. Dia melihat Nafisa berdiri anggun. Gaun yang dipakai Nafisa, membuat Nafisa cantik dan mempesona. Farah menghampiri Farah, Fatih dan Bayu terus mengikuti langkah Farah.
Sejak memasuk rumah mewah keluarga Atmaja, Farah meletakkan tongkat di dalam bagasi mobil. Farah berjalan anggun tanpa tongkat penyangganya. Farah jelas tak ingin terlihat lemah dimata keluarga Atmaja. Meski itu artinya Farah harus menahan sakit yang teramat. Jangankan berdiri satu jam, sepuluh menit Farah berjalan. Tulang kakinya serasa patah, saraf-sarafnya tegang. Namun Farah tetap berdiri di atas kakinya. Agar tak ada yang memandangnya hina.
"Nafisa!"
__ADS_1
"Farah!"
"Selamat ulang tahun!" Ujar Farah ramah, dengan hangat Farah mengulurkan tangannya. Farah mengucapkan kata selamat tulus dari dalam hatinya.
Nafisa meraih tangan Farah, keduanya saling berjabat tangan. Menghapus perbedaan diantara mereka. Sejenak melupakan rasa sakit kecewa. Setelah merasa cukup berbasa-basi, Farah berjalan menuju sebuah meja. Langkah kakinya mulai melemah, Farah berjalan terhuyung. Fatih dengan sigap memeluk Farah. Menutupi lemah yang sejak tadi ditutupi Farah.
"Terima kasih!"
"Sama-sama!" Ujar Fatih, lalu menuntun Farah menuju meja yang ada di sudut ruangan.
"Kamu haus, kakak akan mengambilkan minuman!"
"Air mineral!" sahut Farah, bersamaan dengan anggukan kepalanya.
Fatih mengiyakan permintaan Farah, dia mencari air mineral yang diminta Farah. Sedangkan Bayu tertahan bersama Nafisa. Fatih sengaja membiarkan Bayu bersama Nafisa. Bukan ingin menjodohkan Bayu dengan Nafisa. Namun sebagai kakak yang baik, Fatih harus bisa bersikap adil. Dengan memberikan kesempatan yang sama pada Nafisa. Agar Nafisa bisa dekat dengan Bayu. Laki-laki yang jelas mengusik harinya.
"Bisa aku menemanimu!" Sapa Azzam, Farah mendongak. Dia melihat Azzam sudah berdiri tegak di depannya. Farah tidak heran, jika Azzam ada di depannya. Secara tempat Farah duduk, tak lain rumah mewah keluarga Azzam.
"Silahkan, tidak ada yang berhak melarang anda!"
"Kenapa kamu sendirian? Dimana tongkat penyanggamu? Aku sempat melihatmu kesakitan. Apa perlu papa panggilkan dokter?"
"Aku datang bersama Kak Fatih dan kak Bayu. Kak Fatih sedang mengambilkan aku minum Sedangkan kak Bayu menemani Nafisa. Soal tongkat penyanggaku, aku meninggalkannya di mobil. Sebab aku merasa mampu berjalan tanpa tongkat. Satu hal lagi, anda tidak perlu memanggil dokter. Aku sudah terbiasa merasakan sakit yang sama. Bukan satu atau dua hari, bertahun-tahun aku merasakan nyeri yang sama. Sakit seperti kulit yang terpisah dari tulang!"
"Farah!" Ujar Azzam lirih, Farah menggeleng lemah.
"Jangan lagi mengatakan kata maaf. Aku tak sanggup lagi mendengarnya. Cukup semua orang menatap sinis padaku. Menyalahkanku atas kecewa yang aku rasa. Kedatanganku demi bakti pada mama, jadi aku mohon pada anda. Lupakan masalah diantara kita, bersikaplah layaknya tuan rumah yang menyambut tamunya!" Ujar Farah dingin, Azzam diam menatap lekat Farah.
"Hanya sebagai tuan rumah, itu pengankuanmu padaku!" Sahut Azzam tak percaya.
"Mungkin anda ayah biologisku, anda imam dunia akhirat mama. Jujur, aku tak pernah ingin membencimu. Sebab aku tak pernah mengenalmu. Hanya saja, saat aku menyadari anda laki-laki yang membuat mama menangis. Saat itu, rasa kecewa ini hadir. Apalagi saat aku melihat perbedaan yang ada diantara anda dan mama. Jelas mama yang tersakiti, meski bukan anda yang menyakiti!"
"Apa yang kamu ketahui tentang cinta suciku dengan Vira? Keabadian cinta kami, takkan mampu diketahui oleh orang lain. Pendapatmu tentang hubunganku dengan Vira terlalu dangkal, karena cinta kami sangat dalam dan tak terlihat oleh mata!" Tutur Azzam lantang, Farah tersenyum sinis.
"Mungkin anda benar, cinta anda dengan mama itu suci dan dalam. Sebab aku orang yang melihat kehancuran seorang Vira Azza Ifatunnisa. Wanita hebat dan tangguh, kalah oleh kesombongan dan keangkuhan keluarga Atmaja. Keluarga yang buta akan kebaikan hati mama. Keluarga yang menganggap dirinya hebat dan tak terkalahkan. Meski sejujurnya sejak awal mereka kalah!" Sahut Farah tak kalah lantang.
"Farah!" Teriak Nafisa, Farah menatap Nafisa datar. Azzam menoleh saat dia mendengar teriakan Nafisa.
Plaaaakkk
"Jaga bicaramu!" Ujar Nafisa emosi, bersamaan dengan tamparan yang mendarat di pipi Farah. Bayu terbelalak, di depan kedua matanya Nafisa menampar Farah. Seketika Bayu menarik kasar Nafisa. Bayu seolah tak peduli akan keberadaan Azzam.
"Apa yang kamu lakukan?" Bentak Bayu kasar, Nafisa terkejut melihat amarah Bayu.
Nafisa hancur mendengar bentakan Bayu, sebuah isyarat jika Bayu membela Farah. Nafisa mundur beberapa langkah. Dunianya seakan runtuh, laki-laki yang begitu dikaguminya. Memarahinya tanpa bertanya alasan sikap kasarnya. Nafisa menatap penuh amarah Farah. Hatinya semakin sakit, saat menyadari Bayu lebih memilih Farah dibandingkan dia.
"Farah, kamu tidak apa-apa?" Ujar Bayu cemas, Farah memegang pipinya yang terasa panas. Tamparan Nafisa sangat kuat, sampai tangan Nafisa meninggalkan bekas di wajah Farah.
Bayu menghampiri Farah dengan penuh rasa cemas. Namun saat Bayu hendak menyentuh pipi Farah. Melihat apakah tamparan Nafisa berbekas? Tangan Bayu terhenti di udara. Farah merentangkan tangannya, melarang Bayu mendekat ke arahnya. Farah seolah menyadari tatapan penuh kebencian Nafisa. Rasa tidak suka Nafisa atas kedekatan Bayu dengan Farah. Seketika Bayu mundur, dia menjauh beberapa langkah. Hatinya sakit menerima penolakan Farah.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Tamparan cucu keluarga Atmaja tidak akan melukaiku!" Ujar Farah dingin, Bayu menggeleng tak percaya. Farah tetap dingin tak tersentuh.
Azzam seketika berdiri, keduanya matanya merah menahan amarah. Dia melihat Nafisa menampar Farah. Ada rasa tak terima di hati Azzam. Saat Azzam melihat sikap kasar Nafisa pada Farah. Sikap yang akan membuat jarak Azzam dan Farah semakin jauh. Azzam tak percaya, Nafisa mampu bersikap kasar.
"Nafisa, jaga sikapmu!" Bentak Azzam, Nafisa menatap tajam Azzam. Nafisa berjalan menghampiri Azzam. Tatapan Nafisa mengunci wajah Azzam. Papa yang selalu dihormatinya.
"Kenapa papa marah? Seharusnya papa melakukan hal yang sama padanya. Dia menghina keluarga kita. Dia hanya anak cacat yang tak mampu berdiri di atas kedua kakinya. Namun bicaranya tinggi, seakan dia mampu tanpa orang lain. Farah tak lebih dari anak tak tahu diri. Menganggap dirinya berharga, sehingga dia bisa bersikap seenaknya sendiri!"
"Nafisa, cukup!" Teriak Azzam lantang, seketika semua orang menoleh. Mereka melihat perdebatan yang tak seharusnya terjadi.
"Kenapa papa menghentikanku? Apa yang aku katakan benar? Dia merasa menjadi seorang putri yang tersakiti. Padahal sikapnya yang membuat semua orang tersakiti. Tak terkecuali papa, ayah kandung yang seharusnya dia hormati. Hijab panjang yang dikenakannya, tak lantas menutupi sikap kasar dan arogantnya!" Ujar Nafisa menggebu, Bayu terdiam mendengar semua hinaan Nafisa. Sekilas Bayu menoleh pada Farah, raut wajah Farah nampak tenang. Tak terusik dengan perkataan Nafisa.
"Farah, jaga bicaramu!" Ujar Azzam emosi, tangannya terangkat hendak menampar Nafisa.
"Jangan pernah tampar putrimu. Tanganmu hanya berhak memeluknya hangat, mendekap ketika dingin menyergapnya. Ingatlah satu hal, anda sudah kehilangan satu putri. Jangan biarkan putrimu yang lain pergi. Lagipula pembelaanmu tidak aku butuhkan. Sejak dua puluh tahun lalu, aku melindungi diriku tanpa bantuanmu. Hinaan dan pandangan miring tentangku, bukan hal yang luar biasa!"
"Kamu memang pantas dihina. Kesombongan dan keangkuhanmu membutakan mata hatimu. Seorang yang memiliki iman, takkan menyimpan dendam sedalam itu. Kamu seperti insan tanpa iman. Hatimu tidak hanya dingin, tapi mati. Sebenarnya aku tidak heran, kamu tumbuh dengan didikan yang tak sesuai. Lahir tanpa mengenal siapa ayahnya?"
Plaaakkkk
"Hati-hati saat kamu bicara!" Ujar Farah dingin, Nafisa terkejut ketika tangan Farah menamparnya. Farah mendekat ke arah Nafisa, tangannya mencengkram wajah cantik Nafisa. Tatapan Farah bak elang yang siap memangsa musuhnya.
"Aku diam menerima penghinaanmu, bukan karena aku takut pada putri keluarga Atmaja yang sombong. Aku menjaga sikapku, karena aku menghormati tuan besar Atmaja yang sudah tak berdaya. Aku menelan mentah hinaanmu, demi harga diri ibu yang melahirkanku. Sejak mama bertemu denganmu, sejak saat itu mama memintaku menjagamu. Mama memintaku mengalah, termasuk perhatian kak Bayu. Mama menanamkan padaku, jika kamu adik yang harus aku lindungi. Namun aku tidak akan tinggal diam atau mengalah. Seandainya kamu meragukan mama. Ingatlah satu hal nona muda Atmaja, apa yang kamu miliki saat ini? Dengan mudah bisa aku hancurkan. Aku mampu membuatmu menjadi pengemis. Tuan besar Atmaja tak lagi bertaring, tuan Angga Atmaja lemah tak berdaya. Mereka tidak akan mampu menolongmu. Jadi jaga bicaramu!" Ujar Farah penuh amarah, dengan kasar Farah menghempaskan wajah Nafisa.
Nampak Nafisa kesakitan, cengkraman tangan Farah membekas di dagu Nafisa. Meninggalkan sakit yang teramat. Fatih dan Bayu melihat sosok yang begitu menyeramkan. Farah tak sepolos dan selugu biasanya. Azzam hanya terdiam melihat Farah membalas sikap kasar Nafisa. Bahkan jauh lebih kasar dan dingin. Tak ada satupun yang mampu melindungi Nafisa. Farah benar-benar berubah.
"Kamu hanya wanita lemah, tak ada kemampuanmu menghancurkan keluargaku. Kamu tidak pernah menyadari, jika keluarga Atmaja tangguh. Tak ada satupun orang yang mampu mengalahkan papa. Dia pembisnis paling hebat. Percuma kamu bicara, jika nyatanya kamu tak mampu melakukan apapun?" Ujar Nafisa sinis, Farah tersenyum sinis.
"Jika kamu ingin bukti, hina sekali lagi mama Vira. Maka akan aku buat keluarga Atmaja hancur-sehancurnya!" Tantang Farah.
Nafisa terdiam membisu. Dia melihat kesungguhan dalam tiap kata Farah. Hati Nafisa mulai menciut, apalagi saat menoleh ke arah Azzam. Nampak sebuah kecemasan yang seolah mengatakan ada yang salah dalam perusahaan Azzam.
Tap Tap Tap
"Tuan Angga Atmaja, dua puluh tahun lalu. Kesombonganmu yang menghancurkan hidup ibuku. Mulai detik ini, kesombongan cucumu yang menjadi awal kehancuran keluargamu. Lindungi keturunanmu, seperti anda melindui melindungi harta anda dulu. Jika memang anda mampu, bangkit dan lawan aku. Dulu anda melawan wanita berhati lemah. Detik ini anda menemukan lawan yang sepadan. Kita sama-sama berhati dingin dan keji!" Tutur Farah tepat di depan Angga Atmaja.
"Apa kabar tuan Arka? Setelah dua puluh tahun aku menunggu. Akhirnya aku bertemu denganmu!"
"Kamu siapa?"
"Keturunan yang kamu buang tanpa belas kasihan!"
"Nadya hanya memiliki satu putri. Sedangkan Fariz, hanya memiliki satu putra!" Sahut Arka polos.
"Tentu anda tidak mengenalku, tapi mulai detik ini anda akan mengenalku!"
"Farah, sudah cukup!"
"Ayah!" Sapa Farah bahagia, seketika Farah berhambur memeluk laki-laki yang dipanggilnya ayah.
__ADS_1
"Ingat janjimu pada ayah!" Ujar Dimas hangat, Farah mengangguk pelan.
"Om Dimas, kenapa Farah memanggilmu ayah?" Ujar Azzam tak mengerti.