Ikhlas

Ikhlas
Keputusan


__ADS_3

"Mama!" Sapa Azzam ramah, Melda tersentak kaget. Ketika menyadari Azzam telah berdiri tepat di belakangnya.


Azzam duduk tepat di samping Melda. Menatap hampa langit-langut rumahnya. Azzam hilang dalam gelisah yang tak berujung. Larut dalam kebimbangan yang tak pernah dibayangkannya.


"Ada apa Azzam? Terjadi sesuatu padamu!" Sahut Melda lirih, Azzam diam membisu. Sekilas Azzam menutup mata, dia tak mazmpu menantang dunia. Kenyataan Vira meminta dirinya memilih. Membuat Azzam tak lagi berkutik.


"Mama, Vira ingin aku keluar dari keluarga Atmaja!" Ujar Azzam lirih, Melda seketika menoleh ke arah Azzam. Hatinya terasa ngilu, tepat saat Azzam mengatakan akan meninggalkan dirinya.


Melda tetaplah seorang ibu yang akan terluka jauh dari putranya. Namun terus membiarkan Azzam jauh dari Vira dan Fatih. Melda tidak akan tega. Apalagi cinta Azzam yang begitu besar pada Vira. Membuat Melda menekan rasa ego seorang ibu. Hanya dengan restu, Melda berharap Azzam mendapatkan kebahagiannya.


"Lantas, apa jawabanmu?"


"Aku bingung harus mengiyakan atau menolak permintaan Vira. Aku bimbang bukan karena takut hidup miskin. Namun meninggalkan keluarga ini, sungguh aku tidak sanggup!" Ujar Azzam lirih, Melda mengelus rambut Azzam.


Kehangatan yang tak pernah bisa Melda tunjukkan. Selama ini Azzam selalu tegar, tidak pernah dia mengeluh pada Melda. Jika hari ini Azzam mengeluh, itu artinya Azzam benar-benar bimbang dan ragu. Memilih satu diantara dua, dimana keduanya sangat berarti dalam hidup Azzam.


"Jika memang kamu tidak sanggup meninggalkan keluarga ini. Maka dengan berat hati, kamu harus melepaskan Vira. Sampai kapanpun? Vira dengan keluarga ini tidak akan menyatu. Layaknya bumi dan langit, saling membutuhkan tapi tak mungkin menyatu. Kenangan masa lalu yang terjadi. Tidak akan mudah terlupa, apalagi kini kakek Arka ikut campur. Semua akan jauh lebih sulit!"


"Tapi Fatih, aku ingin hidup bersamanya!" Sahut Azzam, Melda mengangguk mengerti maksud Azzam.


"Fatih akan selalu bersamamu, dengan atau tanpa Vira. Tidak akan ada yang bisa mengelak hubungan diantara kalian. Dia darah dagingmu, sepenuhnya kamu berhak bersamanya. Baik Vira atau hukum, tidak akan bisa memisahkan kalian!" Ujar Melda, Azzam diam membisu.


Entah kenapa mulut Azzam tertutup rapat? Tenggorokan Azzam tercekat, tak ada suara yang mampu keluar. Sekadar ingin mengutarakan isi hatinya. Diam menjadi cara Azzam melewati beban ini. Azzam tak mampu memilih, sebab selamanya Vira bagian dari hidupnya.


"Aku mencintai Vira. Wanita yang membuatku merasa bodoh dan hancur. Dia yang kusakiti, tapi dia juga yang kusayangi. Vira pelengkap dalam hidupku yang kosong. Aku tak lagi mampu berdiri menatap Vira. Jika aku memilih bertahan dengan keluarga ini!" Ujar Azzam, Melda diam membisu. Kini tak ada lagi kata yang mampu menjawab luka hati sang putra.


Selama bertahun-tahun, Melda melihat kehampaan hidup Azzam. Jauh dari Vira dan Fatih yang belum terlahir. Dengan kedua matanya, Melda melihat penyesalan Azzam. Air mata yang tak pernah menetes. Dengan mudah menetes menjawab luka hati Azzam. Semua kenangan itu tidak akan pernah terlupakan. Vira nyata ada dalam hidup putranya.

__ADS_1


"Azzam, kembalilah pada Vira. Sebelum semuanya semakin menjauh. Bangun keluarga kecilmu dengan Vira. Kelak mama berdoa, Vira akan menerima keluarga ini. Sebaliknya juga mama berharap, Vira menjadi menantu keluarga Atmaja yang sesungguhnya!" Ujar Melda, Azzam diam menatap langit rumahnya.


Plok Plok Plok


"Bodoh, jika kamu keluar dari rumah ini demi dia!" Ujar Arka lantang, Azzam menatap Arka. Dengan tatapan yang tak lagi mampu diartikan.


"Melda, kamu bodoh. Seharusnya kamu melarang Azzam bersama Vira. Bukan malah mendukung, bahkan mendoakan Vira anak ART itu. Sampai kapanpun? Aku tidak akan membiarkan dia menjadi bagian keluarga Atmaja. Darah ART tak pantas menyatu dengan keluarga Atmaja!"


"Maafkan aku pa!" Sahut Melda lirih, Arka berkacak pinggang. Amarahnya tak lagi bisa dibendung. Setelah mendengar Melda menyetujui niat Azzam pergi dari keluarga Atmaja.


"Vira benar, selamanya kakek sama. Hanya harta dan status yang diutamakan!" Ujar Azzam lirih, lalu berdiri meninggalkan Arka yang tak berhati.


"Azzam!" Panggil Arka lantang.


Sontak Azzam menatap Arka tajam, menanti maksud dari panggilan Arka padanya. Azzam ingin mendengar sikap picik Arka.


"Sekali kamu keluar dari rumah ini. Selamanya kamu akan menjadi musuh kami!" Ujar Arka lantang.


"Akupun tahu jawaban kegelisahan hatiku!" Batin Azzam.


...☆☆☆☆☆...


Malam menjadi masa, dimana setiap makhluk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya? Suara hewan malam, bagai nyanyian nina bobo yang menidurkan semua makhluk. Hujan yang turun sejak sore, membuat hawa dingin yang menghadirkan rasa lelap. Namun sepasang mata indah Azzam tak mampu terlelap.


Gejolak batin dan pergulatannya nyata mengusik malam Azzam. Tak ada jawaban untuk kebimbangan Azzam. Namun satu hal yang pasti, dia hidup bukan untuk bersedih. Azzam harus berjuang menggapai kebahagiannya. Vira dan Fatih alasan kebahagiannya kini. Mereka yang harus Azzam perjuangkan. Bukan keluarga Atmaja yang penuh dengan kesombongan akan status.


"Vira, aku memilihmu!" Ujar Azzam lantang.

__ADS_1


Dengan langkah tegas, Azzam menuju lemari pakaiannya. Mengambil beberapa pakaian dan memasukkannya ke dalam koper sedang. Azzam hanya akan membawa beberapa barang. Tidak akan Azzam membawa sesuatu yang kelak dipertanyakan oleh Keluarga Atmaja.


"Akhirnya kamu bisa bersikap. Penantian Vira tidak sia-sia. Setidaknya kini kamu mencoba untuk berjuang bersamanya!"


"Om Dimas!"


"Kenapa terkejut? Sejak tadi aku melihatmu. Aku bangga akhirnya kamu bersikap dewasa!"


"Kenapa om Dimas mendukungku? Bukankah om Dimas mencintai Vira!"


"Aku tidak hanya mencintai Vira, aku siap bekorban semuanya demi Vira. Namun Fatih butuh orang tuanya. Tidak sepantasnya aku membuatnya sedih!" Ujar Dimas, Azzam menunduk malu dan merasa bersalah.


"Aku telah menyakiti putraku!"


"Memang kamu telah menyakitinya, sangat menyakitinya. Sampai-sampai Fatih tidak bisa menangis. Dia hanya diam menahan sakit yang tak seharusnya dirasakannya!"


"Maksud om Dimas?"


"Vira tidak sepertimu Azzam. Dia tidak pernah meminta Fatih menerima laki-laki lain sebagai ayahnya. Sedangkan kamu, hanya demi membuat Vira cemburu. Kamu meminta Fatih menggandeng tangan Nadya. Sehingga dia mulai mengerti, Nadya wanita yang kelak menjadi ibu sambungnya!"


"Bukankah om Dimas sangat dekat dengan Fatih. Sangat tidak masuk akal, jika Vira tak pernah mengenalkan Fatih pada om!" Ujar Azzam lantang, Dimas tersenyum simpul.


"Itulah bodohnya kamu, menganggap benar apa yang kamu lihat? Memutuskan salah, apa yang belum tentu benar? Seharusnya kamu mendengar jelas panggilan Fatih padaku. Agar kamu tahu, siapa aku dimata Fatih? Vira benar akan satu hal tentangmu. Kamu mungkin telah mencintainya, tapi kamu tetap Azzam putra Atmaja yang arogant. Merasa benar dengan sikapnya yang salah, tapi tak pernah ingin melihat kebenaran!" Ujar Dimas.


"Om Dimas, apa yang sebenarnya ingin om katakan?"


"Kamu bodoh Azzam, itu yang ingin aku katakan!"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena telah menyia-nyiakan kebahagian yang aku dan Fariz harapkan!" Ujar Dimas final.


__ADS_2