Ikhlas

Ikhlas
Azzam Al-Fatih


__ADS_3

DUA PULUH TAHUN KEMUDIAN


"Kamu sudah siap!"


"Dua puluh tahun lebih aku menunggu untuk hari ini. Takkan pernah aku sia-siakan hari ini. Seandainya aku harus mati setelah hari ini aku ikhlas. Hati dan jiwaku menjerit, sakit dan rindu menyiksa hariku. Tak ada kata siap atau tidak siap, hanya akan ada rasa lega dan syukur. Penantianku berakhir hari ini!" Sahut Fatih lantang dan lugas.


Arif mengangguk penuh keharuan. Jelas kerinduan Fatih tak dapat dibendung. Demi hari ini, Fatih menahan duka yang takkan bisa dirasakan oleh orang lain. Jangankan dirasakan, membayangkannya saja takkan sanggup. Hidup bak anak yatim-piatu meski kedua orang tuanya masih hidup. Tidaklah mudah dan butuh perjuangan yang tak sedikit.


"Maafkan om Arif yang tak mampu mengubah dua puluh tahunmu yang sepi. Om Arif hanya bisa diam, mendukungmu tanpa bisa melakukan apapun. Hubungan yang sejak awal tak pernah bersatu. Nyata menjadi alasan setiap tetes air matamu!"


"Tak ada air mata atau penyesalan hari ini. Aku menunggu hari ini, bukan untuk mendengar kata maaf. Aku hanya ingin menatap wajah mama, hanya mama yang ingin aku pikirkan!"


"Fatih, berjanji pada tante Vika. Jangan menyalahkan mama atau merutuki waktu yang telah berputar. Kondisi yang saat ini terjadi, tak lebih dari akhir dari kisah manis kedua orang tuamu. Cinta yang mencoba menjadi penghangat dalam dingin hati kakekmu!" Ujar Vika lembut dan hangat.


"Mereka bukan keluargaku, sampai kapanpun tak pernah aku menganggap dirinya kakek? Terutama tuan Azzam Aulian Putra Atmaja. Dia bukan siapa-siapa dalam hidupku?"


"Fatih, jaga bicaramu!" Sahut Rayyan tegas, Fatih seketika menunduk.


"Aku tak pernah melarangmu membenci mereka. Namun kebencianmu hanya akan menjadi duka bagi kakakku. Takkan aku biarkan pengorbanannya terbalas dengan dendam yang takkan pernah usai!" Ujar Rayyan dingin.


Rayyan berjalan menuju jendela rumah besar Vira. Tangannya menopang wajahnya di daun jendela. Rayyan menunduk, menyembunyikan air matanya. Sebagai perwira tentara, sangat tak pantas dia menangis. Namun sebagai seorang adik, dia lemah tanpa Vira penopang hidupnya. Air matanya tak lagi mampu dibendungnya, menetes bersamaan dengan ingatan akan sosok kakak yang begitu hangat.


Setiap tetes keringat Vira yang telah menjadikannya sukses. Tak ada kata cukup untuk membalas semua budi Vira. Vika dan Rayyan lemah tanpa Vira. Pelita dalam hidup mereka tak lain Vira. Perpisahan dua puluh tahun lalu. Jelas menghancurkan kebahagian mereka. Rayyan mengingat kejadian yang terjadi dua puluh tahun lalu.


FLASH BACK


"Aku tidak akan memintamu pergi, bila hatimu tak ingin pergi. Namun berpura-pura buta tidak melihat kepedihan dan kegelisahanmu, sungguh aku tidak mampu!" Sahut Vira lirih sembari mendekap hangat Kepala Azzam.

__ADS_1


"Tante Melda seorang ibu yang baik. Dia istri yang setia. Seorang menantu yang patuh. Air mata dan kepedihannya terus dipendam. Hanya demi ketenangan keluarga Atmaja. Kini tubuh lemahnya tak lagi mampu menyimpan duka. Terbaring tak berdaya, menjadi pilihan terakhir hati. Menunjukkan pada kalian anak dan suaminya. Beliau butuh dekapan hangat dan kasih sayang kalian!" Tutur Vira lirih, Azzam diam menunduk semakin dalam. Tangannya mendekap erat tubuh Vira. Seolah hatinya benar-benar gelisah.


"Jika air matanya tak pernah kamu hapus. Kini saatnya kakak menghapus peluh rasa sakitnya. Jika dulu tangannya yang menyuapi kakak makan. Kini tangan kakaklah yang harus menopang hidupnya. Takkan ada tawa dalam kebahagian kita. Jika tak ada senyum seorang ibu mengiringinya. Sebab Allah SWT tersenyum pada hamba-NYA, kala senyum seorang ibu terutas karena perilaku anaknya!"


"Kita pergi bersama!" Ujar Azzam memelas, Vira mengangguk pelan. Seketika Azzam berdiri, anggukan kepala Vira yang ditunggu Azzam. Dengan perlahan Azzam menarik tangan Vira, tapi terhenti kala Azzam merasakan kaki Vira tertahan.


"Kenapa?"


"Aku akan pergi denganmu, tapi tidak sekarang!"


"Kalau begitu aku tidak akan pergi!" Ujar Azzam tegas, Vira menggeleng lemah. Dengan sopan Vira menepis tangan Azzam. Vira melepaskan tangan Azzam dengan sangat sopan.


"Penyesalan terbesarku selama ini, bukan mencintai atau menikah denganmu. Namun statusku yang rendah saat bersamamu. Keputusan yang terlalu terburu-buru untuk hidup bersamamu. Sebab kelemahanku yang menjadi alasan kepedihan dan kematian ibuku. Jadi jangan pernah lakukan kesalahan yang sama. Jadilah seorang anak yang berbakti, sebelum menjadi suami dan ayah yang baik!"


"Kamu ingin aku pergi!"


"Pergilah, sebelum semuanya terlambat. Aku dan Fatih akan menyusul!"


"Aku akan datang, saat semuanya membaik!"


"Kamu janji!" Ujar Azzam, Vira mengangguk.


Azzam berjalan menjauh dari Vira, Nadya mengikuti langkah kaki Azzam. Terutas senyum penuh kemenangan di wajah Nadya.


"Aku menang Vira!" Ujar Nadya lirih, Vira menggeleng.


"Kamu tidak pernah menang, dulu atau sekarang. Kamu hanya bisa merebut, tanpa bisa memilikinya!" Sahut Vira lirih, Nadya meradang. Namun amarahnya ditahan, karena Azzam sudah semakin menjauh. Nadya berlari mengejar Azzam, meninggalkan Vira yang termangu menatap punggung Azzam.

__ADS_1


"Kak Azzam!" Teriak Vira, Azzam menghentikan langkahnya. Azzam menoleh ke arah Vira, tatapan sendu Vira menusuk hati Azzam. Ada rasa ngilu yang tiba-tiba terasa di hati Azzam.


"Ajak Fariz menemui tante Melda. Sudah saatnya kalian bersama, menjaga ibu yang telah lama merindukan kalian!" Ujar Vira lantang, Azzam mengangguk pelan. Azzam hendak berlari menghampiri Vira, tapi Vira melarang dengan merentangkan tangan ke arah Azzam.


"Jangan kembali, kakak harus terus maju. Jaga diri kakak baik-baik!" Teriak Vira lantang, Azzam mengangguk ragu. Tatapan Vira seolah ingin mengatakan hal sebaliknya.


"Vira, aku pergi demi dirimu. Aku berharap, kamu penuhi janjimu. Semoga firasatku salah, jika kamu akan meninggalkanku. Aku mencoba menyakinkan diriku. Jika kamu akan tetap bersamaku. Aku akan segera kembali!" Batin Azzam menatap nanar Vira.


"Jaga dirimu imamku, berbahagialah meski tanpa diriku. Sudah seharusnya impian tetap menjadi impian. Sudah sepantasnya seorang anak kembali pada ibunya. Semoga kelak ada bahagia untuk kita!" Batin Vira pilu.


"Kak Vira!"


"Kakak baik-baik saja dan selamanya baik-baik saja!" Sahut Vira tegas.


"Rayyan, jaga dan didik Fatih. Dia amanah kakak, harta terbesar kakak. Jangan isi hatinya dengan dendam. Kakak akan kembali saat semua telah membaik!"


"Kenapa kakak harus mengalah?"


"Semua akan berakhir saat ada yang mengakhirinya!" Sahut Vira tegas, Rayyan dan Vika memeluk Vira erat. Perpisahan yang jelas terjadi dan tak lagi bisa ditunda.


FLASH BACK OFF


"Om Rayyan, maafkan Fatih!" Ujar Fatih, seraya bersandar pada tubuh Rayyan.


"Jangan pernah membenci mereka, karena kak Vira tak ingin melihat kebencianmu. Darah dalam nadimu, darah yang sama mengalir dalam nadi mereka. Kenyataan yang takkan pernah bisa kamu sanggah!"


"Aku tidak akan membenci mereka. Namun saat mama ada di sampingku. Akan kupastikan, kesendiriannya selama dua puluh tahun terbayar lunas. Akan kukembalikan senyum di wajahnya, kuhapus air matanya. Setiap tetes air mata mama, akan menjadi setiap tetes air mata mereka. Orang-orang yang menjadikanku yatim-piatu. Sepi dan dingin tanpa mama di sampingku. Akan kupastikan mereka membayar lunas. Tujuan hidup yang selalu ada dalam hidupku sejak puluhan tahun lalu!" Batin Fatih.

__ADS_1


"Azzam Al-Fatih, nama indah yang membuatmu terus mengingat siapa ayah kandungmu!" Ujar Vika sembari menepuk pelan pundak keponakannya.


"Jika bukan mama yang memberikannya. Akan kuganti nama ini!" Batin Fatih sembari menatap Vika. Mencoba menutupi kebenciannya pada keluarga besar Atmaja.


__ADS_2