
Vira turun ke dapur tepat setelah azan subuh berkumandang. Vira meninggalkan Azzam yang tertidur pulas. Mereka baru pulang saat tengah malam. Vira terbiasa bangun pagi, meski dia tidur sangat larut. Kebetulan Vira tidak sholat, akhirnya Vira turun ke dapur ingin membantu.
Namun saat dia di dapur, beberapa ART tengah berbagi tugas memasak. Vira tidak diperlukan, bahkan mereka melarang Vira mendekat. Dengan alasan takut Azzam marah. Sebagian besar ART di rumah Atmaja. Sangat takut pada Azzam. Sikap dingin dan tegas Azzam, berbeda dengan sikap Fariz yang ramah dan periang. Mereka lebih nyaman bila berurusan dengan Fariz daripada Azzam.
Akhirnya Vira menuju taman rumah keluarga Atmaja. Sebuah taman yang luas dan indah. Awalnya tukang kebun melarang Vira. Setelah perdebatan panjang, bahkan Vira menggunakan nama Azzam untuk memaksa. Akhirnya Vira diperbolehkan menyiram tanaman. Vira merasa senang, dia mulai meras bosan bila tidak bekerja.
"Vira!"
"Fariz!" sahut Vira seraya menoleh ke arah Fariz. Vira melihat Fariz baru saja datang dari lari pagi. Entah jam berapa Fariz keluar dari kamarnya? Sebelum sang fajar muncul dengan sempurna dia sudah kembali. Terlihat keringat Fariz membasahi seluruh tubuhnya.
Fariz menyapa Vira, saat dia melihat Vira sedang menyiram tanaman. Fariz sempat ragu menyapa Vira. Namun rasa dihatinya untuk Vira belum sepenuhnya musnah. Fariz selalu ingin bisa dekat dengan Vira. Sekadar ingin bicara sebentar. Setidaknya Fariz akan merasa tenang, setelah bicara dengan Vira.
"Kenapa kamu yang menyiram tanaman? Biarkan saja tukang kebun yang melakukannya. Kamu pasti lelah setelah pulang larut malam!" ujar Fariz tanpa jeda, seketika Vira menoleh. Ada rasa heran, kenapa Fariz bisa mengetahui saat Vira pulang.
Vira menatap Fariz heran, ada rasa tak biasa menyergap dalam hati Vira. Rasa takut dan tak biasa saat melihat Fariz menatapnya. Sebaliknya Fariz bisa merasakan ketakutan Vira. Fariz sadar, rasanya untuk Vira tidak pernah hilang. Rasa itu melekat di hati terdalamnya. Fariz seakan tak mampu bernapas saat melihat kedekatan Vira dan Azzam.
"Fariz, kenapa kamu mengertahui aku pulang larut malam?" ujar Vira singkat, Fariz tersenyum tipis. Fariz berjalan mendekat ke arah Vira.
Fariz tidak bisa memejankan kedua matanya. Sesaat setelah Azzam membuat kehebohan. Ketakutan Azzam akan kepergian Vira. Menjadi ketakutan dan kegelisahan yang sama di hati Fariz. Meski dengan porsi yang berbeda. Fariz gelisah takut terjadi sesuatu pada Vira. Bahkan Fariz tak mampu memejamkan kedua matanya sampai dini hari. Meski Vira sudah pulang bersama Azzam.
__ADS_1
Fariz sakit melihat Azzam pulang dengan menggendong Vira. Fariz hancur mengingat Vira ada di dalam kamar bersama Azzam. Fariz terpuruk menyadari bukan dirinya yang ada di samping Vira. Melainkan Azzam yang kini menjadi suami Vira. Kakak kandung yang selalu dia rindukan, tapi seakan jauh dari jangkaunnya. Hubungan yang tak sepantasnya hancur, karena rasanya pada Vira.
"Kehebohan yang dibuat kak Azzam saat mencarimu. Membuat semua orang terbangun. Aku tidak bisa tidur kembali. Jadi aku tahu kamu pulang bersama Azzam saat tengah malam!" ujar Fariz lirih, Vira mengangguk mengerti.
Vira diam mendengarkan, sembari meneruskan pekerjaannya. Fariz berdiri tak jauh dari Vira. Menatap bunga yang bermekaran indah di depannya. Keindahan yang tak pernah bisa menenangkan hatinya. Fariz hancur tanpa ada yang menyadarinya. Fariz rapuh tanpa ada yang menopangnya.
Rasa yang terpendam, kini harus terpendam selamanya. Rasanya tak lagi pantas, sebab sang pemilik hati telah memilih rasa yang lain. Rasa yang ditawarkan darah yang sama dengannya. Seakan rasa itu mengatakan Cinta untuk Vira satu, tapi dari dua hati yang berbeda.
"Vira, jika aku bisa memilih. Aku tak pernah ingin mengenalmu. Jika akhirnya kamu menjadi alasan bahagia kakakku. Tanpamu dia hancur dan rapuh. Sedangkan aku terpuruk saat melihat kalian bersama. Entah kesalahan apa yang pernah aku lakukan? Sehingga aku dihukum seberat ini. Hidup di bawah atap yang sama denganmu. Layaknya hidup di dalam api yang membara. Panasnya seolah membakar tubuh lemahku!" ujar Fariz lirih, sontak Vira melepaskan selang air yang dipegangnya.
Vira menatap lekat Fariz yang sedang berjongkok mencium sekuntum bunga melati. Vira mundur beberapa langkah. Perkataan Fariz membuat Vira tersadar. Dia tidak hanya menyakiti Nadya, tapi Fariz yang nyata ada di dekatnya. Vira telah menghancurkan banyak hati, meski tak pernah Vira menyadarinya.
"Vira, cintaku seputih dan sewangi bunga melati ini. Namun cintaku tidak layu, meski kamu memetiknya. Kini aku berharap kamu bahagia bersama kak Azzam. Jika tidak, akan kupastikan kak Azzam kehilanga dirimu. Aku mencintaimu, tapi bahagiamu jauh lebih penting dihidupku!" ujar Fariz, seraya memberikan sekuntum bunga melati putih mekar. Fariz berjalan menjauh dari Vira, membawa cintanya yang tak bersambut.
"Fariz, aku bahagia bersama kak Azzam. Meski air mata dan hinaan akan ada dalam langkahku. Namun sejatinya bahagia, hanya ada saat kita bersama orang yang kita sayang. Maafkan aku yang telah memilih. Hatiku terlalu takut kehilangan kak Azzam. Dia alasanku berani menggapai bahagia!" ujar Vira lirih, Fariz mengangguk tanpa menoleh. Fariz terus berjalan masuk ke dalam rumah.
"Bahagia, hanya itu yang ingin aku dengar dari bibirmu. Aku mungkin sakit, tapi akan jauh lebih sakit melihat air matamu. Tiga tahun, aku menyimpan rasaku untumu. Tiga tahun, aku diam mengagumimu. Tiga tahun, aku melihat sepimu. Kini tiga tahunku telah kalah oleh cinta tulus kak Azzam. Aku akan melindungi kabahagianmu, dengan diam tanpa kamu menyadarinya. Biarkan tubuh dan jiwamu bersama kak Azzam. Tapi izinkan aku menyimpan rasa ini untukmu. Dengan luka dan air mata yang mengiringinya. Terima kasih mengajarkanku arti mencinta. Kamu berhak bahagia, dengan atau tanpa kak Azzam!" batin Fariz.
Vira kembali menuju kamarnya. Vira harus segera bersiap pergi ke kampus. Hangat sinar mentari menyadarkan dirinya, hari sudah sangat siang. Vira masuk ke dalam kamarnya dengan pelan. Takut membangunkan Azzam yang masih tertidur. Vira masuk ke dalam kamar mandi. Dia harus segera bersiap, jika tidak ingin terlambat.
__ADS_1
"Aaaawwwssss!" teriak Vira histeris, saat dia merasakan ada tangan yang memeluknya erat. Sesaat setelah di keluar dari kamar mandi.
"Jangan pernah bicara berdua dengan Fariz tanpaku. Aku sakit melihat kedekatan kalian. Egoiskah aku, bila aku tak ingin membagi perhatianmu dengan Fariz. Dia mungkin adikku, tapi dia laki-laki yang mencintaimu. Aku mohon, jangan pernah lakukan itu. Aku cemburu!" bisik Azzam tepat di telinga Vira.
Azzam mencium harum rambut Vira. Mendekap tubuh Vira erat, menyandarkan kepalanya di pundak Vira. Menenangkan hatinya yang bergemuruh. Cemburu melihat kedekatan Vira dan Fariz. Vira tertegun mendengar perkataan Azzam. Baru saja dia mendengar hati yang tersakiti karenanya. Sekarang dia mendengar hati yang sakit karena takut kehilangannya.
Vira melepaskan pelukan Azzam, dia memutar tubuhnya menghadap ke arah Azzam. Vira menatap dua bola mata penuh cinta milik Azzam. Vira menangkup wajah tampan Azzam. Wajah yang mengusik ketenangan hatinya.
"Kak Azzam, percayalah nama yang ada dihatiku itu namamu. Tak ada wajah yang kuingat, selain wajahmu. Tak pernah aku menyentuh laki-laki, selain dirimu. Jangan pernah ragu akan cintaku. Aku akan berada di sampingmu, sampai tanganku lelah menggandengmu. Aku akan melangkah mengikutimu, sampai kakiku lelah melangkah. Terima kasih atas cintamu yang begitu besar. Namun alangkah baiknya, cintaiku setelah kamu mencintai Allah SWT. Agar cinta kita abadi dengan ridho-NYA!" ujar Vira lalu mengecup lembut kening Azzam.
"Sayang, jangan pergi!" ujar Azzam sembari menahan tangan Vira.
"Aku tidak akan pergi, tapi berada di sampingmu saat ini. Takutnya membangkitkan hasratku yang tak bisa tersalurkan!" ujar Vira santai, seraya tersenyum manis. Senyum yang membangkitkan gairah Azzam.
"Sayang!"
Buuukkkk
"Kak Azzam, jangan mulai lagi. Aku masih datang bulan!" teriak Vira, saat merasakan tangan dan bibir Azzam bergerilya. Azzam hilang kendali saat Vira mengatakan cinta padanya. Azzam terbawa suasana sehingga dia tidak sadar telah membangkitkan gairah cinta diantara mereka.
__ADS_1
Azzam menyentuh seluruh bagian tubuh Vira tanpa ampun. Dia tidak peduli akan teriak Vira. Azzam semakin tertantang saat mendengar teriakan Vira. Desiran hangat mengalir dalam nadi, napas Azzam memburu.
"Kak Azzam, berhenti atau aku pergi!" teriak Vira kesal.