
"Kemana kita sekarang?" Ujar Bayu datar, Farah menoleh ke arah Bayu.
Setelah hampir satu jam Farah dan Bayu bertemu rekan kerja perusahaan Fatih. Farah hendak mengantar Bayu, tapi entah kenapa Farah ingin sekali pergi ke suatu tempat? Kebetulan juga Fatih mengirim pesan ingin bertemu di tempat yang akan dituju Farah. Tanpa mengatakan akan pergi kemana? Sekadar bertanya pada Bayu bersedia atau tidak ikut dengannya? Farah malah membawa Bayu pergi ke tempat yang dia inginkan. Alhasil Bayu hanya bisa pasrah, akan dibawa kemana oleh Farah?
"Kemana kita pergi?"
"Bisa diam tidak, aku tidak akan membuatmu celaka. Malah aku akan membawamu pergi menemui belahan hatimu!" Ujar Farah santai tanpa beban.
Bayu menghela napas panjang, dia merasa bahagia sekaligus takut. Bayu merasa bahagia pergi dengan Farah. Namun terselip ketakutan, jika Farah akan membawanya menemui Nafisa. Wanita yang sejak tadi menjadi topik utama percakapan Farah dan Bayu. Helaan napas Bayu, seolah isyarat Bayu merasa tidak nyaman dengan ajakan Farah.
"Baiklah, aku ikut kemana kamu pergi? Asalkan kamu baik-baik saja!"
"Terima kasih atas persetujuannya, tapi meski kamu tidak setuju aku juga akan pergi. Lagipula aku yang membawa mobil. Jadi suka tidak suka kamu akan ikut denganku. Kecuali kamu ingin pulang jalan kaki!"
"Jalan kaki!"
"Hmmmm!" Sahut Farah, sembari mengangguk pelan.
"kenapa jalan kaki?"
"Lihat sekelilingmu, mungkin tidak ada mobil untuk membawamu pulang?" Ujar Farah santai, lagi dan lagi Bayu hanya bisa menghela napas.
Bayu melihat Farah yang berbeda. Farah yang pendiam, kini banyak bicara dan ceria. Meski dingin Farah masih terasa. Namun Bayu merasakan dingin yang jauh dari kata beku. Farah begitu hangat, jarak yang selalu membatasi Bayu dengan Farah tak nampak. Bayu merasa hangat, rasa yang tersimpan untuk Farah semakin besar. Dia melihat pribadi yang penuh cinta dan kasih sayang.
Ciiiiittt
"Turun!" Titah Farah, tepat saat Farah menginjak pedal rem. Mobil Farah berhenti tepat di depan sebuah rumah tua.
Rumah tua yang tak pernah Farah kunjungi. Jika bisa dikatakan, Farah baru pertama kali menginjak rumah ini. Jangankan mengunjungi rumah ini, mengetahui letak rumah ini saja. Farah baru pertama kali. Farah sengaja datang, setelah mendapat sharelock dari Fatih. Sejak pagi Fatih sudah ada di rumah ini. Sengaja Farah datang menyusul. Farah merasa penasaran dengan arti rumah ini bagi Vira ibu yang sangat dicintainya.
Bayu turun dengan perasaan yang kacau. Dia merasa heran, saat melihat sebuah rumah kecil dan tua. Sebuah rumah yang luasnya, bahkan tidak ada separuh dari halaman depan rumah Farah. Rumah yang begitu biasa, tapi terlihat begitu berharga dimata Farah. Bayu jelas melihat betapa bahagianya Farah.
"Rumahku!" Ujar Farah lirih, sekilas terutas senyum dibibir mungil Farah. Senyum yang begitu meneduhkan bagi Bayu. Sangat indah dan membahagiakan hati Bayu.
"Rumah siapa ini? Kenapa kamu begitu bahagia saat menatapnya? Aku belum lama mengenalmu, tapi aku menyadari. Tak mudah membuatmu tersenyum. Namun tanpa ada hal istimewa, kamu menyuguhkan senyum yang begitu meneduhkan. Sesederhana inikah alasaanmu senyum? Jika memang masih kesempatan untuk membuatmu tersenyum. Izinkan aku memenuhi hal sederhana tentangmu. Agar aku bisa membuatmu tersenyum manis. Senyum yang meneduhkan hatiku. Katakan Farah, biarkan aku melihat senyum itu sekali lagi!" Batin Bayu, seraya melirik Farah yang terkagum-kagum dengan rumah tua yang ada di depannya.
"Rumah siapa?" Ujar Bayu, Farah menoleh tanpa menyahuti perkataan Bayu.
Farah melangkah masuk ke dalam halaman rumah. Bukan gerbang besi yang dilewati Farah. Melainkan pintu kayu terlihat reyot tapi masih sangat kuat. Farah berjalan tertatih menggunakan tongkat. Bayu berjalan tepat di belakang Farah. Bayu berjaga takut Farah terjatuh.
"Awas!" Teriak Bayu, bersamaan dengan Farah yang hampir terjatuh.
"Jangan mendekat, aku ada wudhu!" Ujar Farah melarang. Bayu mengangguk sembari melangkah mundur.
Farah mencoba menyeimbangkan langkah kakinya. Farah berjalan penuh rasa bahagia menuju rumah impiannya. Rumah tempat Vira tumbuh besar. Suasana kampung yang sunyi, alam yang asri. Semakin membuat Farah tenang, Bayu hanya bisa diam mengikuti langkah Farah. Setidaknya hanya ini yang bisa Bayu lakukan. Menjaga Farah dari jauh, meski Farah tak pernah menginginkannya.
"Tunggu, bukankah itu mobil Fatih. Jadi dia ada di sini. Sedangkan aku menemui para klien!" Gerutu Bayu, seketika Farah menoleh. Tatapan tajam Farah, menjadi jawaban atas gerutu Bayu.
"Maaf, aku terbawa emosi!"
"Ikut masuk atau berdiri di luar!" Ajak Farah, Bayu mengangguk.
Farah dan Bayu berjalan memasuki rumah yang begitu sederhana. Nampak rumah kosong tanpa perabotan. Bukan lantai marmer, melainkan lantai berlapisankan semen. Farah menyentuh pelan daun pintu, sedikit keropos walau nampak kuat dan kokoh. Bayu terus mengamati raut wajah Farah yang berubah-ubah. Sedetik yang lalu Farah terlihat begitu bahagia. Sekarang Bayu melihat Farah yang sedih.
__ADS_1
"Assalammualaikum!" Ujar Farah lirih, perlahan Farah melangkah masuk dengan kaki kanan. Sesaat setelah Farah melepaskan sepatu yang dipakainya.
"Waalaikumsalam!" Sahut Bayu, Farah menunduk sembari mengusap setetes bening air matanya.
Farah meletakkan tongkat penopangnya di luar rumah. Farah berjalan merambat di dinding bata yang mulai kusam. Sebagian dinding mulai berlumut, langit rumah nampak keropos. Farah terus berjalan, tangannya memegang dinding saksi bisu Vira tumbuh. Rumah yang begitu berarti dalam hidup Farah. Lebih berharga dari rumah megahnya.
"Farah, rumah siapa ini?"
"Nenek!"
"Maksudmu, ini rumah tante Vira!" Ujar Bayu tak percaya, dengan anggukan kepala. Farah menjawab pertanyaan Bayu.
"Rumah tempat mama, om Rayyan dan tante Vika dibesarkan. Rumah kecil peninggalan kakek. Rumah dimana nenek meninggalkan mama untuk selama-lamanya?" Tutur Farah lirih, Bayu menoleh ke arah Farah.
Nampak Farah menatap lurus ke dinding tak jauh darinya. Ada sebuah foto yang sudah sangat usang. Namun masih jelas terlihat, siapa saja yang ada di dalam foto? Meski Bayu tak pernah mengenal dekat keluarga Farah. Bayu yakin foto yang ada di depannya itu milik keluarga Vira. Nampak seorang ibu tengah menggendong bayi perempuan mungil dan di sisi kanan-kiri ada bocah laki-laki dan perempuan yang sudah menginjak remaja.
"Mereka keluarga mama, nenek yang selalu menyayangi mama. Seorang ibu yang harus kalah oleh hinaan keluarga Atmaja!"
"Farah!"
"Tidak perlu terkejut, semua itu benar adanya. Nenek meninggal tepat setelah mama dan papa menikah. Nenek menjadi sasaran amarah tuan besar Atmaja. Keluarga yang selalu merendahkan mama!"
"Bagaimana kamu bisa mengetahui semua itu?" Ujar Bayu heran.
"Kenapa heran? Apa karena aku tak pernah mengenal keluarga Atmaja? Sehingga kamu berpikir aku tak akan pernah mengetahyu semua hal yang terjadi di masa lalu!" Ujar Farah tegas, Bayu menunduk merasa bersalah. Dia tak menyangka, Farah akan dengan mudah membaca pikirannya.
"Banyak hal yang tidak pernah kamu ketahui tentangku!" Tutur Farah, sembari melangkah maju ke arah Foto. Farah mengusap pelan foto yang ada di depannya. Hati Farah mulai terasa sakit, napas Farah mulai sesak.
"Maaf Farah, aku tidak bermaksud!"
"Kenapa kamu selalu menyimpan dukamu? Banyak orang yang menyayangimu. Mereka ingin mengenalmu, setidaknya menjadi sandaran di kala tangisnmu!" Sahut Bayu, Farah menggeleng lemah. Bayu terkejut melihat gelengan kepala Farah. Seolah sikap dingin Farah, sengaja dilakukan Farah demi menutupi rapuhnya.
Farah mengambil foto yang menempel di dinding. Farah duduk bersila di atas lantai semen. Farah memangku foto usang keluarga Vira. Dengan ujung hijabnya, Farah membersihkan foto itu. Berkali-kali Farah mengusap foto mendiang neneknya. Setetes air mata Farah jatuh tepat di wajah sang nenek. Bayu cemas melihat air mata Farah. Bayu serasa sesak, melihat kesedihan Farah.
"Ada apa Farah? Kenapa kamu menangis?" Ujar Bayu cemas, Bayu duduk tepat di depan Farah.
"Lihatlah kak, betapa cantiknya nenek Farah? Tangannya begitu hangat mendekap mama dan om Rayyan. Jelas kakinya sangat kuat, ketika memangku tante Vika yang lucu!" Ujar Farah lirih menahan tangis.
"Lantas, apa yang membuatmu sedih? Nenekmu sangat bahagia bersama anak-anaknya!"
"Nenek memang bahagia, sampai papa masuk dalam hidup mama!" Ujar Farah sinis, Bayu terkejut dengan perkataan Farah.
"Farah, jangan bicara seperti itu!"
"Itulah kenyataannya kak, kisah cinta yang begitu indah. Namun menyiman duka yang sangat dalam. Mama mencintai penerus keluarga yang membuat ibunya meninggal. Keluarga yang begitu kejam dan bengis. Mereka hanya memikirkan status sosial, tanpa peduli kebaikan hati mama!"
"Pemikiran yang membuatmu tak ingin mengenal cinta. Menganggap laki-laki sama seperti tuan Azzam. Berpikir jika keluarga kaya akan selalu meremehkanmu!" Ujar Bayu tegas, seakan Bayu sedang mengatakan isi hatinya. Farah mengangguk tanpa ragu. Jawaban final yang membuat Bayu lesu.
"Jika aku boleh jujur, terkadang aku ingin mengenal cinta. Namun saat ada cinta yang mendekat. Aku selalu ingat akan air mata mama. Tangis mama di kala sujudnya. Tangis yang keluar dari lubuk hati terdalamnya. Sakitnya membuat mama tak mampu bersuara. Katakan padaku kak, bisakah aku menghapus kenangan pahit itu? Air mata yang kulihat hampir di separuh hidupku!"
"Bisa, jika kamu mengizinkanku melukis senyum di wajahmu. Menulis kata bahagia di hatimu. Menggantikan kenangan pahitmu, dengan lembaran kenangan manis kita. Akan kubuat dunia kita yang bahagia!" Ujar Bayu lantang, Farah mendongak menatap lekat Bayu.
Bayu tanpa sadar mengatakan seluruh isi hatinya. Rasa sedih yang dilihatnya, memberi Bayu kekuatan mengatakan sesuatu yang selama ini disimpannya. Bayu tidak peduli, jika Farah menerima atau menolaknya. Bayu hanya ingin melindungi Farah dengan cara apapun. Bagi Bayu, kebahagian Farah yang paling utama saat ini. Tidak ada ketakutan atau harga diri yang tinggi. Jika menyangkut kebahagian Farah.
__ADS_1
"Tidak mungkin!"
"Kenapa? Apa aku tak pantas menjadi imam seorang penghafal Al-Quran? Mungkin imanku lemah, tapi tidak niat dan cintaku!"
"Maafkan aku kak, tapi aku bukan wanita yang tepat untukmu. Alasanku mengajak kakak kemari. Agar kakak melihat kelam hatiku. Gelap yang ada dalam jiwa seorang Farah. Kakak pantas bersatu dengan wanita yang lebih sempuran!"
"Kamu bicara terlalu manis, tapi nyatanya menyakitkan hatiku. Kamu menolakku dengan merendahkan dirimu. Namun sesungguhnya kamu hanya ingin mengatakan, jika aku yang begitu rendah!" Ujar Bayu lantang, Farah menggeleng lemah.
Farah bangkit dari duduknya, dengan kaki yang mulai terasa sakit. Farah berdiri mendekat ke jendela di sisi kanan. Sebuah jendela yang menghadap langsung ke kebun. Nampak gunung menjulang tinggi, menenangkan hati yang diliputi rasa cemas. Farah menatap langit biru yang cerah.
"Kak, aku tak pernah ingin merendahkan siapapun? Terutama dirimu, seorang kakak yang begitu ingin menjaga dan melindunguku. Hari ini aku membawamu datang ke rumah yang begitu berarti dalam hidupku. Rumah yang pertama kali aku kunjungi dan itu hanya bersamamu. Sekarang katakan padaku, apa mungkin aku merendahkanmu? Tidak kak, aku sangat menghormatimu. Alasan itulah yang membuatku yakin. Kakak akan bahagia tanpaku!"
"Kenapa tanpamu?"
"Karena kakiku terlalu lemah mengikuti langkahmu. Tanganku terlalu dingin, untuk memeluk dan menghangatkan tubuhmu. Hatiku gelap tanpa cahaya. Tak ada sinar yang mampu menghapus gelapnya. Rasamu terlalu murni, sehingga aku tak dapat menerimanya!"
"Artinya kamu menolakku!" Ujar Bayu, Farah diam membisu. Bibirnya kelu, dia tak mampu menjawab pertanyaan yang begitu mudah.
"Kenapa diam? Sejak tadi kamu lantang, mengatakan semua hal yang menurutmu benar. Lalu, kenapa sekarang aku merasa kamu tak ingin menolakku? Katakan Farah, apa arti diammu? Jangan buat aku penasaran dengan diam yang takkan mampu menjawab pertanyaanku!"
"Aku bukan yang terbaik!"
"Kata siapa? Apa hakmu menilai baik tidaknya dirimu? Jika memang kamu buruk, sejak kapan aku menjadi yang terbaik?"
"Kakak berhak bahagia!"
"Aku memang ingin bahagia dan bahagiaku hanya denganmu. Apa kamu menyadari sakit dan sesakku? Ketika aku melihat tetes demi tetes air matamu. Sejak aku mendengar suara merdumu. Tidurku gelisah, aku lupa kata pulas saat tidur. Aku tak lagi bisa merasakan nikmat saat makan. Kamu menghancurkan hidupku, bayanganmu mengisi hampir seluruh benakku!"
"Maaf!"
"Aku tidak butuh kata maaf darimu!" Teriak Bayu lantang, Farah diam menunduk. Amarah Bayu memuncak, dia melihat cinta yang seolah ditahan oleh Farah. Bayu tak lagi bisa menahan rasa yang ada dalam hatinya.
"Farah, jujurlah padaku!" Pinta Bayu memelas, tatapan Bayu nanar. Menatap Farah yang terus diam.Tak ada kata yang keluar dari bibirnya.
Allahhuakbar Allahhuakbar
Sayub terdengar suara azan, Farah seketika mendongak. Farah memutar tubuhnya 180°, Farah berjalan menuju kamar mandi. Sejak dulu Farah selalu bergegas sholat, ketika mendengar suara azan. Farah berjalan melewati Bayu.
"Farah, aku mohon jujurlah!" Pinta Bayu memelas, tangan Bayu menggenggam erat pergelangan tangan Farah. Menahan langkah kaki Farah. Berharap Farah menjawab semua kegelisahan hati Bayu.
"Aku harus sholat!" Ujar Farah lirih, sembari menepis tangan Bayu. Farah melepaskan tangan Bayu. Lalu berjalan menjauh dari Bayu.
"Farah!" Sapa Bayu lirih, Farah menoleh.
"Jika tidak keberatan, kita bisa sholat bersama. Jadilah imam sholatku!" Pinta Farah hangat.
"Kenapa kamu begitu takut mengatakan cintamu? Kenapa kamu membuat hatiku sesakit ini? Kamu memintaku menjadi imam sholatmu, tapi kamu menolak aku menjadi imam dunia akhiratmu. Kenapa Farah hatimu begitu dingin!" batin Bayu.
Buuughhh
"Hanya kesabaran dan ketulusan cinta yang mampu membuka hati gelap Farah!" Ujar Fatih, tepat setelah memukul pundak Bayu.
"Kamu!"
__ADS_1
"Terima kasih telah mencintai adikku. Jika memang bukan Farah yang menerima cintamu. Masih ada Nafisa yang ceria!"
"Diam kamu!" Ujar Bayu dingin.