
"Tuan Azzam, terima kasih anda bersedia hadir dalam acara penggalangan dana kampus kami!" ujar pak Fahmi ramah. Azzam mengangguk tanpa menoleh atau menyahuti perkataan Fahmi. Sikap arogant yang terkadang membuat orang berpikir seribu kali untuk mengenal atau mencari masalah dengan Azzam.
Dengan langkah tegap dan gagah, Azzam melangkah masuk ke dalam kampus Vira. Dia tidak datang sendiri, Azzam datang bersama sektretaris cantiknya dan asisten pribadinya. Bahkan Azzam juga membawa dua bodygourd. Tim khusus yang selalu ikut di setiap perjalanan bisnis Azzam. Mereka orang-orang pilihan Azzam, mereka ahli dalam bidangnya masing-masing.
Azzam melangkah jauh ke dalam kampus Vira. Sebanarnya Azzam enggan datang ke acara seperti ini. Biasanya Azzam meminta staf keuangan yang datang mewakilinya. Namun kali ini berbeda, Azzam memilih datang dengan alasan yang lain. Azzam ingin memeriksa lingkungan tempat Vira belajar. Bersama siapa saja Vira bergaul?
"Jam berapa acaranya?" sahut Azzam dingin, Fahmi menelan ludahnya kasar. Dia tak menyangka, pesona Azzam mampu menghipnotisnya.
"Tiga puluh menit lagi acara akan dimulai. Jika Tuan berkenan, silahkan menunggu di ruangan saya!" ujar Rektor ramah, Azzam menggeleng lemah. Azzam terus berjalan, dia menyusuri lorong kampus yang panjang. Azzam mengedarkan pandangannya ke seluruh wilayah kampuas Mencari satu sosok yanh sangat dirindukannya.
"Fia, jam berapa aku ada rapat?" ujar Azzam, Fia mengangguk lalu membuka ponselnya. Fia memeriksa jadwal Azzam setelah dari kampus.
__ADS_1
"Setelah makan siang tuan Azzam!" sahut Fia lirih, Azzam mengangguk mengerti. Jelas terlihat aura kepemimpinan Azzam. Dingin penuh ketegasan dan jauh dari kata pengertian pada orang lain.
"Pak Fahmi, saya akan masuk ke dalam aula tepat saat acara dimulai. Sementara menunggu, saya akan bertemu dengan seseorang. Silahkan anda meneruskan pekerjaannya!" ujar Azzam dingin, Fahmi mengangguk mengerti.
Azzam berjalan menuju kantin kampus untuk mencari Vira. Sebenarnya Azzam sudah berusaha menghubungi Vira. Namun ponsel Vira tidak aktif. Sebab itu Azzam langsung mencarinya ke kantin. Azzam ingin mengatakan dirinya ada acara di kampus Vira.
"Abil, siapa laki-laki tampan dan gagah itu?" bisik Cecil lirih, Abil mendongak menatap Azzam. Kedatangan Azzam di kantin kampus. Seketika membuat kantin menjadi riuh. Hampir semua mata menatap kagum ke arah Azzam. Terkecuali Vira yang tak peduli pada kehadiran Azzam.
"Serius kamu tidak mengenalnya!" ujar Cecil lagi, Abil mengangguk menegaskan.
"Aku dengar dia calon donatur terbesar di kampus kita. Sungguh dia sempurna, tampan dan baik hati!" ujar Cecil lirih.
__ADS_1
"Tidak peduli!" sahut Azzam ketus.
Azzam semakin dekat dengan meja Vira. Dari jauh Azzam sudah tersenyum ke arah Vira. Fia bahagia bisa menikah dengan Vira. Pengertian yang jauh dari kata arogant.
"Sayang!" sapa Azzam, Vira menoleh lalu mengangguk.
"Ada apa ke kampus!" ujar Vira dingin dan tidak peduli. Azzam mengeryitkan dahinya tidak mengerti. Dia melihat amarah dalam diam Vira, seakan Azzam bukan lagi laki-laki yang Vira sayangi.
"Kenapa kamu dingin!"
"Aku sedang sibuk, jadi biarkan aku menyelesaikan ini. Setelah itu aku akan menemanimu!" sahut Vira dingin.
__ADS_1