
"Fariz, aku pulang dulu. Malam sudah sangat larut, takut aku tidak menemukan angkot. Lagipula kondisi kak Azzam sudah stabil. Dokter sudah memberikan dia obat penenang. Kemungkinan baru besok pagi dia terbangun!" ujar Vira santai saat melihat Fariz duduk di ruang tengah.
Sudah seharian Vira berada di rumah keluarga Atmaja. Dia belum sempat istirahat dan ganti pakaian sepulang kuliah. Fariz memaksanya datang, untuk melihat kondisi Azzam. Fariz sangat memaksanya, sebab Fariz takut terjadi sesuatu pada Azzam. Dugaan Fariz benar, kondisi Azzam tidak baik-baik saja. Seandainya Vira datang satu jam lebih lama. Mungkin semua orang termasuk Vira. Akan kehilangan Azzam selama-lamanya.
Fariz menatap heran, saat Vira berpamitan padanya. Sempat Fariz berpikir, keadaan akan semakin membaik dengan kehadiran Vira. Namun harapannya pupus, tatkala Vira mengatakan akan pulang ke rumahnya sendiri. Sekali meninggalkan Azzam yang terbaring lemah tak berdaya. Fariz bingung harus menjawab apa? Bagaimanapun kehadiran Vira akan menjadi obat paling mujarab untuk Azzam.
Fariz gusar membayangkan yang akan terjadi besok. Ketika Azzam terbangun dan Vira tidak ada disisinya. Hari ini Fariz dibuat hancur, ketika kedua matanya melihat, betapa rapuhnya Azzam tanpa Vira. Lantas bisakah Fariz mengizinkan Vira pulang. Bila kehadirannya sangat dibutuhkan oleh Azzam.
Fariz berdiri mendekat ke arah Vira. Dia melihat Vira menenteng tas ransel. Fariz melihat jelas, betapa siapnya Vira pergi? Semua karena angkuh dan sombong keluarga Atmaja. Fariz menggelengkan kepalanya, tepat di depan Vira Tak ada lagi jawaban paling tepat, selain tidak mengizinkan Vira pulang ke rumahnya.
"Kenapa kamu harus pulang? Tetaplah disini, setidaknya sampai kak Azzam sadarkan diri. Aku tidak bisa mengizinkanmu pulang. Mengingat kak Azzam sangat membutuhkanmu. Tidak bisakah kamu menjaganya malam ini. Sejujurnya aku takut yang terjadi tadi pagi terulang. Kak Azzam butuh dirimu, mama butuh kak Azzan!" ujar Fariz tegas, Vira membisu. Dia terlalu takut untuk berada di rumah ini. Dia merasa berdiri di tepi jurang. Dalamnya jurang, bak dalamnya kebencian tuan Angga padanya.
"Fariz, kak Azzam tidak hanya butuh aku. Dia juga membutuhkanmu. Dampingi dan jaga kak Azzam. Aku yakin dia akan bangkit, bila kamu ada untuk menopangnya. Mungkin aku alasan dia rapuh dan lemah. Namun kasih sayang saudara yang akan membantunya semangat dan bangkit!" sahut Vira datar, Fariz menggeleng lemah.
Fariz menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Menghiba pada Vira agar bersedia untuk tinggal. Setidaknya sampai besok pagi, sebelum matahari terbit. Fariz takkan pernah bisa menopang Azzam. Sebab tubuh Azzam butuh hangat kasih sayang Vira.
Kreeeekkk
"Kenapa kamu ada di rumahku? Bukannya kamu sudah pergi. Apa kamu kembali demi hidup mewah?" ujar Angga sinis, Vira tersenyum sinis mendengar perkataan Angga.
__ADS_1
Angga tak mengetahui kondisi Azzam yang sebenarnya. Bahkan Angga tidak tahu, jika putra kebanggaannya meregang nyawa beberapa jam yang lalu. Sengaja Fariz dan Vira menutupi kondisi Azzam. Sebab mereka takut akan terjadi sesuatu yang lebih fatal pada Melda. Angga tak menyadari keberadaan Vira, sebab dia sibuk mencemaskan kondisi Melda yang memburuk.
Namun Angga merasa aneh, saat mendengar Fariz sedang berdebat. Dia penasaran dengan siapa Fariz berbicara? Sebab itu Angga keluar dari kamarnya. Dia terkejut ketika melihat Vira berdiri tak jauh dari kamarnya.
"Lihatlah Fariz, apa yang tuan besar katakan? Aku tidak berhak ada di rumah ini. Jadi lebih baik aku pulang. Tolong kabari aku, jika kak Azzam sadarkan diri!" ujar Vira, lalu dia berjalan menghampiri Angga Atmaja. Vira menatap lekat tuan besar Atmaja. Seorang ayah yang sanggup melihat hancur putranya. Seorang pemimpin keluarga yang lebih memilih kehormatan dan harta. Daripada kebahagian putra kebanggaannya.
"Tuan besar, aku ada di rumah ini bukan demi hidup mewah. Aku datang mengabdi pada suamiku yang lemah tak berdaya. Suamiku memilih tiada, karena keegoisanmu. Mungkin anda tega melihat dia hancur dan rapuh. Namun sebagai seorang istri, aku tidak ingin melihat dia tiada dengan sia-sia. Sama halnya nyonya Melda yang akan selalu mendukung salah dan benarmu. Menemani disetiap sehat dan sakitmu, seperti itulah aku hari ini. Disini hanya demi suamiku, putra kebanggaanmu!" Tutur Vira tegas dan dingin, Fariz tersenyum penuh kemenangan.
Pertama kalianya Vira menatap Angga saat bicara. Bukan lupa akan batasan diantara dirinya dengan Angga. Namun berani bicara demi harga diri yang tak lagi pantas diinjak. Vira bicara dengan tegas tanpa rasa takut. Setidaknya kini Fariz melihat Vira yang lain. Hancur Azzam membuatnya berani. Rapuh Azzam memberikannya kekuatan. Melawan Angga Atmaja seorang ayah yang tak berhati.
"Jaga bicaramu, kamu hanya anak ART di rumahku. Tak ada hakmu bicara atau mengguruiku. Aku bisa membuatmu hancur, tanpa Azzam bisa menyelamatkannya!" ujar Angga dengan emosi.
"Fariz, aku tidak ingin mengganggu istirahat kak Azzam dan nyonya Melda. Lebih baik aku pulang. Keberadaanku hanya akan menyulut pertengkaran!" ujar Vira dingin, Fariz mengangguk pelan. Fariz tidak akan menahan Vira. Fariz sadar sikap Angga Atmaja sangat tidak pantas. Lagipula kondisi Azzam membaik dan stabil untuk saat ini.
"Papa tidak pernah sadar akan satu hal. Wanita yang baru saja papa usir. Dia penyelamat putramu, dia semangat hidup kak Azzam. Mungkin papa tidak akan sanggup melihat berdiri. Seandainya papa mengetahui kondisi kak Azzam!" ujar Fariz lirih dan dingin, Angga menatap tajam Fariz. Seakan dia tidak terima mendengar perkataan Fariz.
"Jaga bicaramu!" ujar Angga emosi.
"Papa, pergilah ke kamar kak Azzam. Agar papa percaya perkataanku. Lihatlah sendiri kehancuran putramu, kehancuran yang dimulai dengan tanganmu sendiri. Seandainya hari ini Vira datang terlambat. Bukan tubuh lemah kak Azzam yang papa lihat. Namun tubuh yang terbujur kaku tak bernyawa. Papa tidak akan lagi bisa melihat senyum di wajah mama, tapi air mata yang mengiringi pemakaman kak Azzam!" ujar Fariz dingin, Angga terdiam mendengarkan perkataan Fariz.
__ADS_1
"Vira datang karena aku yang memaksanya. Tangannya yang menarik tubuh kak Azzam dari maut. Sedangkan tanganmu yang mendorong kak Azzam dalam kehancuran. Darah yang dia teteskan, bukan tanpa alasan. Kak Azzam ingin membuang darah Atmaja dalam tubuhnya. Namun semua sia-sia, aku dan kak Azzam lahir karena cintamu. Namun kini kami harus mati karena keangkuhanmu!" ujar Fariz semakin dingin, lalu berjalan menjauh dari Angga.
Fariz tak lagi peduli pada pemikiran Angga. Dia tak lagi bisa menatap seorang ayah yang tega menghancurkan hati putranya. Fariz berjalan menuju kamarnya. Fariz meminta kepala ART menjaga Azzam dari luar kamarnya. Azzam tidak akan mengizinkan siapapun masuk ke dalam kamarnya tanpa izin.
Tap Tap Tap
Angga melihat Melda berlari menuju kamar Azzam. Tubuh lemahnya seakan dipaksa untuk berlari. Dengan cemas Angga mengikuti Melda. Angga takut Melda jatuh, jelas terlihat tubuh Melda masih sangat lemah.
Buuggghh
"Azzam!" sapa Melda lemah, tubuhnya jatuh tepat di depan pintu kamar Azzam.
Melda tak sanggup melangkah ke dalam. Melda menatap sisa-sisa amarah Azzam. Vira sudah membersihkan kamar Azzam, mengembalikan semua ke tempat semula. Namun masih ada sisa amarah yang tertinggal. Banyak barang yang hancur tak bersisa. Melda meratapi putranya yang kini terbaring lemah tak berdaya. Alat-alat kesehatan dipasang, demi menopang hidup sang putra.
"Melda bangunlah, Azzam baik-baik saja. Kamu masih sangat lemah, kamu perlu istirahat!" ujar Angga, sembari membantu Melda bangun. Dengan kasar Melda menepis tangan Angga. Melda mendorong tubuh Angga menjauh. Melda berdiri berpegangan pada pintu kamar Azzam.
"Mungkin Azzam hanya pewaris yang kulahirkan untuk keluarga ini. Dia tak lebih dari pemuas napsumu mengusai dunia bisnis. Namun kamu lupa, aku melahirkannya dengan mengorbankan nyawaku. Aku menghapus air matanya ketika kecil. Dia bersandar padaku saat sedihnya. Namun hari ini aku tak lagi berarti dalam hidupnya. Ketika tanganku tak lagi bisa mendekapnya. Keangkuhanmu membuatku jauh darinya. Kini lihatlah tubuh lemah putramu. Dia tiada karena kesombonganmu. Masihkah kamu bangga akan hartamu? Jika kelak tak ada pewaris. Seandainya aku bisa memilih, tidak ingin aku mencintaimu. Agar putraku tidak terluka karena harga diri dan status yang kamu banggakan!" ujar Melda lemah dan lirih.
Melda berjalan masuk ke dalam kamar Azzam. Bersimpuh tepat di samping tubuh Azzam. Melda memegang tangan Azzam, mencium lembut tangan lemah sang putra. Dia melihat Azzam hidup hanya dengan sisa cinta Vira yang tertinggal.
__ADS_1
"Maafkan mama, maafkan lemah mama. Tidak akan mama mencegahmu pergi. Kejarlah cintamu sejauh dia pergi. Tinggalkan keluarga tak berhati ini. Maafkan mama yang tak bisa mengikuti langkahmu. Angga Atmaja mungkin orang yang kejam, tapi dia laki-laki yang ada dihati mama. Cinta mama padanya, yang membuat mama harus tetap dirumah ini. Sama halnya dirimu yang hidup dan mati dengan cinta Vira. Mama juga sama, bahagia dengan suci cinta yang tersisa!" batin Melda sembari menangis meratapi hancur putranya.