
"Kamu bohong Vira!" Sahut Vira lantang, Azzam menatap Vira tak percaya.
Azzam bak mendengar petir yang menyambar. Sebuah kebenaran yang tak pernah dia bayangkan. Sebuah kenyataan yang benar-benar membuat dunia Azzam seolah runtuh. Azzam benar-benar bodoh, ketika menyadari bukan hanya Fatih yang jauh darinya. Kini putri yang tak pernah diketahui benar-benar jauh darinya. Azzam merasa kecewa dengan dirinya sendiri.
"Aku tidak butuh keyakinanmu!" Ujar Vira dingin.
Vira hendak melangkah keluar, tapi langkahnya terhenti saat dia mendengar permainan Piano. Dia menoleh ke arah panggung, nampak Fatih dan Farah tengah mengisi acara di restoran. Vira diam menatap lurus ke arah dua buah hatinya.
"Lihatlah mas, mereka putri dan putra kebanggaanku. Mereka tak akan menyalahkanku, karena mereka percaya padaku!" Sahut Vira dingin.
Vira menatap Fatih dan Farah, kedua saudara yang baru saja bertemu. Namun akrab dalam waktu dekat, hubungan darah yang takkan pernah bisa dipisahkan oleh waktu. Berapa lama mereka terpisah? Kental darah akan membuat mereka tetap satu. Azzam hanya diam mematung, melihat dua buah hatinya. Mereka bukti cinta yang tak pernah disadari Azzam. Jalan dirinya bersatu dengan Vira, bahkan mungkin terlipisah selamanya.
"Vira!" Teriak Azzam memanggil Vira dengan penuh amarah.
Vira melangkah tanpa peduli akan panggilan Azzam. Meski Teriakan Azzam menggema, tapi tak sedikitpun Vira terpengaruh. Vira merasa sikap Azzam tak lagi penting. Dia hanya peduli pada kebahagian Fatih dan Farah. Anak-anak yang belum mengakui Azzam sebagai ayaj kandungnya.
"Kak Azzam cukup!" Ujar Fariz menahan tangan Azzam. Seketika Azzam menoleh, menatap tajam Fariz. Seakan meminta Fariz melepaskan tangannya.
Nadya dan Nafisa berlari ke arah Azzam. Teriakkan Azzam menggema, semua orang dengan jelas melihat amarah Azzam. Nafisa memegang erat tangan Azzam. Nadya hanya mampu menatap nanar Azzam. Tangan dan kakinya terlalu lemah untuk menopang Azzam. Nadya merasa takkan mampu menenangkan Azzam. Nadya hanya istri di atas kertas bagi Azzam. Tak ada hak Nadya mencampuri urusan Azzam. Apalagi menuntut dirinya menjadi bagian dari hati Azzam.
"Papa tenanglah!" Ujar Nafisa, dia merasa sikap Azzam tak pantas. Amarah yang tak seharusnya terlihat. Sebab Vira tidak salah dan tak pantas disalahkan.
"Kak Azzam, aku mohon!" Ujar Fariz, Azzam diam tak bergeming. Kedua mata Azzam memerah, amarah tersirat dalam setiap tatapannya. Azzam semakin marah, ketika semua orang ingin menghentikannya.
"Papa, Nafisa mohon!" Pinta Nafisa memelas, Azzam diam mengunci Vira. Azzam bak tubuh tak bernyawa, hanya Vira yang seolah mampu membangunkan Azzam.
"Fatih!"
"Farah!" Teriak Vira, nampak Fatih dan Farah menoleh. Vira berjalan menuju pintu keluar. Fatih dan Farah mengikuti langkah kaki Vira.
"Vira Azza Ifatunnisa!" Teriak Azzam histeris.
Vira menoleh menatap Azzam. Sengaja Vira menghentikan langkah kakinya. Vira tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih parah. Farah yang berdiri tepat di samping Fatih. Meminta Fatih membawanya mendekat ke arah Vira. Farah terlihat cemas akan kondisi Vira.
"Tak perlu berteriak mas Azzam. Kamu bisa bicara baik-baik!"
"Katakan padaku Vira, apa kesalahanku padamu? Kamu menghancurkan hidupku. Kamu menjauhkan diriku dari kedua buah hatiku. Kamu membuatku hidup, serasa mati. Dua puluh tahun Vira, dua puluh tahun kamu membuatku hidup tanpa nyawa!" Ujar Azzam penuh amarah, tangannya mencengkram kuat tangan Vira.
Vira meronta melepaskan diri dari cengkraman tangan Azzam. Namun tenaganya tak sekuat itu melawan amarah Azzam. Sejak dulu Azzam tak pernah mampu mengendalikan emosinya. Nampak Vira merintih kesakitan. Kuat cengkraman tangan Azzam, jelas menyakiti Vira.
"Kak Azzam, lepaskan Vira!"
__ADS_1
"Diam kamu, jangan ikut campur urusanku. Dia harus menjawab semua pertanyaanku!"
"Kak Azzam, lepaskan Vira. Setidaknya dengar tangis Nafisa. Dia terluka dengan perkataanmu. Vira hanya masa lalumu, aku dan Nafisa yang ada di sampingmu saat ini!" Ujar Nadya lirih, Azzam menoleh penuh amarah.
Nadya berjalan mundur, Nadya menjauh dan kalah oleh amarah Azzam. Nadya menunduk lesu, menyadari dirinya tak lebih dari istri yang tak dihargai. Nafisa memeluk erat Nadya, Nafisa menangis dalam dekapan Nadya. Dua wanita yang terluka dengan sikap Azzam. Hati yang terus tersakiti oleh dingin hati Azzam.
"Aku tidak akan bicara, jika yang terjadi tak menyakiti putriku. Kenapa kamu bersikap sekejam ini? Hancurkan hatiku, marahi diriku, acuhkan cintaku, lupakan tangisku, bahkan hapus namaku dari ingatanmu. Namun jangan pernah kamu mengacuhkan luka dan air mata Nafisa. Dia putri yang lahir dari cintaku. Dia suci tanpa dosa dan tak bersalah akan lukamu. Aku tak meminta lebih darimu, aku hanya berharap hargai kasih sayang Nafisa untukmu. Layaknya kamu menghargai kasih sayang Fatih putramu. Jangan melupakan Nafisa, ingat dia seperti kamu mengingat Fatih putramu. Jika kamu merindukan Fatih, seharusnya kamu melihat kerinduan Nafisa padamu. Sakit menahan rindu jelas kamu merasakannya. Tidakkah kamu merasa kasihan, ketika kamu menyadari Nafisa menahan rindu yang sama. Tubuhmu begitu dekat, tapi hatimu jauh tak terjamah. Jika kamu tak mampu membuat Nafisa tersenyum. Setidaknya jangan meneteskan air matanya. Dia putri kita, bukti ada cinta diantara kita. Kita yang menjadikan Nafisa terlahir. Jangan pernah mengacuhkan dirinya, aku mohon kak Azzam!" Batin Nadya pilu dan hancur.
"Mama, kenapa papa semarah itu?" Ujar Nafisa di sela tangisnya.
Nafisa melihat amarah Azzam, amarah yang tak pernah dilihat oleh Nafisa. Azzam mungkin dingin pada Nafisa. Namun tak pernah sekali saja, Azzam marah atau membentak Nafisa. Namun saat ini, Azzam benar-benar marah. Emosi Azzam tak mampu dibendung, dia begitu marah dan kecewa pada Farah. Kenyataan manis yang ditutupi berganti kepahitan. Azzam merasa bodoh di depan Farah. Buah hati yang disembunyikan Vira, jelas membuat Azzam terluka.
"Vira, jawab pertanyaanku!" Ujar Azzam sembari mengguncang tubuh Vira.
"Tidak perlu aku menjelaskan apapun. Semua telah berarkhir, tak ada jalan kita bersama. Aku dan kamu tak lagi sama. Nadya dan Nafisa bagian keluargamu. Fatih dan Farah hidupku. Tak ada kata bersama dulu atau sekarang!"
"Kamu kejam Vira, kamu tak berhati. Dua puluh tahun aku menanti hari ini. Dengan dingin kamu mengacuhkanku!" Ujar Azzam tak percaya, Vira menoleh sembari tersenyum sinis.
Vira pribadi yang tangguh, tak pernah sekalipun Vira merengek atau mengeluh. Sesulit atau sesedih apapun hidupnya? Vira selalu tersenyum, menerima semua yang terjadi dengan lapang dada dan ikhlas. Tak ada alasan Vira mengeluh. Sebab Vira percaya, dalam kesulitan pasti ada kemudahan. Hal yang sama dilakukan Vira, saat memilih pergi dari hidup Azzam. Dengan lapang dada, Vira menerima kesedihannya.
"Aku tak pernah memintamu menunggu. Lagipula kamu sudah menemukan bahagiamu. Nadya wanita yang tepat, dia wanita yang kelak mengukir kebahagian dalam hidupmu!" Sahut Vira dingin, Azzam menggelengkan kepalanya tak percaya. Dia melihat Vira yang begitu dingin dan kejam.
"Nadya, Nadya dan Nadya!" Teriak Azzam emosi, Azzam berjalan menghampiri Nadya. Dengan kasar, Azzam menarik tangan Nadya. Nadya berdiri tepat di depan Vira. Azzam semakin tak terkendali.
"Duduklah Farah, kakak akan melindungi mama. Percayalah, mama akan baik-baik saja. Kakak akan menjaga mama!" Bisik Fatih, Farah mengangguk setuju. Kaki Farah benar-benar lemah. Kakinya tak mampu menopang tubuhnya terlalu lama.
"Dia yang selalu ingin menghalangi hubungan kita. Dia hanya wanita ambisius tanpa cinta. Dia tak lebih istri di atas kertas bagiku!" Ujar Azzam menyakitkan, Nadya menggeleng tak percaya. Malam indah yang dibayangkan, hancur tak bersisa.
Air mata Nadya menetes tanpa mampu dihentikan. Bukan hanya malu yang didapatnya, Nadya merasa rendah tanpa harga diri. Nadya seolah wanita murahan yang ingin menghancurkan kebahagian pernikahan orang lain. Nafisa berlari memeluk tubuh Nadya. Nafisa merasa sesak mendengar perkataan Azzam yang menyakitkan. Ribuan duri yang mencap dalam tubuhnya. Tak sesakit perkataan Azzam yang seakan menghunus tajam di hatinya.
Plaaaakkkk
" Jaga bicara anda Tuan Azzam Aulian Putra Atmaja!" Teriak Vira, sesaat setelah menampar Azzam.
Vira merasa marah, saat mendengar Azzam merendahkan Nadya. Sebagai seorang wanita, Vira merasa perkataan Azzam tak pantas terucap. Terlalu menyakitkan dan merendahkan harga diri seorang istri. Vira sangat emosi, sampai dia mengangkat tangan ke arah Azzam.
"Anda mungkin orang besar dengan kekayaan tak terbatas. Lahir dari keluarga terhormat yang selalu dihormati. Namun status sosial anda yang tinggi. Tidak serta merta membuat anda berhak menghina orang lain. Apalagi Nadya yang begitu tulus mencintai anda!" Ujar Vira emosi, perkataan Azzam jelas melukai Vira.
Vira merasa Nadya tak sepantasnya mendapatkan hinaan. Setelah dua puluh tahun pengabdiannya pada Azzam. Nadya yang selalu setia ada di sisi Azzam. Mengisi kesepian Azzam dengan cinta tulus. Menghapus air mata Azzam, tanpa peduli hatinya yang terluka.
Kreekkkk
__ADS_1
Suara pintu utama restoran terbuka. Nampak laki-laki dengan perempuan yang mungkin istrinya berjalan mendekat ke arah mereka. Vira menatap sepasang suami istri dengan tatapan tak biasa. Seutas senyum simpul tersungging di ujung bibir Vira. Seakan merasa beruntung dengan kedatangan mereka.
"Anda bertanya, apa kesalahan yang anda perbuat? Kenapa aku sampai hati menjauhkan Fatih dan Farah. Semua itu tak lain balas budiku pada nyonya Melda yang selalu baik pada ibuku. Sebaliknya kehancuranmu adalah bukti, agar tuan Angga Pratama Atmaja sadar. Kesombongan dan hartanya tak berlaku dalam cinta. Tuan Angga harus melihat kehancuran putra kebanggaannya. Rasa sakit yang pernah aku rasakan. Saat aku harus kehilangan ibuku!"
"Kamu Vira!" Ujar Angga lirih, Vira mendongak menatap Angga. Lalu menjauh dari hadapan Azzam.
"Fatih, kita pulang!" Titah Vira, Fatih langsung mengangguk tanpa ragu.
"Tunggu Vira!" Pinta Azzam, Vira menoleh dari lobi rumah sakit.
"Ada apa lagi Azzam?" Ujar Melda lirih.
"Kamu bisa pergi, tapi Farah akan tinggal bersamaku!" Ujar Azzam dingin.
Braaakkk
"Farah!" Teriak Vira, Fatih menoleh lalu berlari ke arah Farah.
Seketika Vira berlari menghampiri Farah. Nampak Farah terjatuh lemas menghantam lantai. Farah mencoba menggapai Vira yang jelas tak mampu digapainya. Farah merasa takut, ketika mendengar Azzam akan membawanya pulang. Farah sadar dirinya tak mampu mendekat ke arah Vira. Namun demi tetap bersama Vira. Farah melupakan sejenak kelemahannya. Kenekatan yang dibayar dengan luka akibat benturan yang dialaminya.
"Farah tidak ingin bertemu papa. Farah ikut mama!" Teriak Farah dalam dekapan Vira.
Vira mendekap erat Farah, Vira melihat tubuh Farah bergetar. Ketakutan yang tak pernah ingin dilihat Vira. Rasa takut yang berlebihan, mampu membuat kondisi Farah memburuk. Trauma yang dialami Farah, hanya Vira yang menyadari dan mengetahuinya. Seberapa besar resiko yang bisa dialami Farah. Ketika emosi Farah memuncak.
"Farah, ini mama!" Ujar Vira cemas, tangannya menangkup wajah Farah penuh cemas.
Fatih duduk berjongkok tepat di belakang Farah. Raut wajahnya bingung tak mengerti arti kecemasan yang dilihatnya. Ketenangan Vira tak tampak. Guratan-guratan usia yang tampak, jelas menunjukkan hati yang penuh rasa gelisah dan takut. Azzam diam termangu, ketakutan Farah bak tamparan panas di wajahnya. Azzam meringsut duduk di depan Vira dan Farah. Dua wanita yang begitu dicintainya. Dua nama yang tak mudah tergeser akan nama wanita lain.
"Sayang, ini papa!" Ujar Azzam menghiba, Farah menepis tangan Azzam.
Farah sembunyi dalam dekapan Vira. Farah menjerit risteris. Tangannya mencengkram tubuh Vira erat. Air matanya deras menetes, seolah hatinya sakit. Wajah Azzam yang mendekat, terlihat begitu menakutkan. Suara Azzam bak suara aneh dalam gelap malam yang sunyi. Menakutkan penuh dengan kegelapan.
"Sayang, papa mohon. Ini papa sayang, Farah jangan takut!" Ujar Azzam menghiba, Farah terus bersembunyi dalam dekapan Vira.
"Farah tidak ingin bertemu papa. Farah ikut mama!" Teriak Farah dalam dekapan Vira.
"Tapi ini papa sayang!" Ujar Azzam lirih, Farah menggelengkan kepalanya lemah. Farah tidak ingin melihat atau bertemu Azzam. Jelas Farah takut melihat Azzam.
"Tidak, aku ingin bersama mama. Farah hanya ingin bersama mama!" Teriak Farah histeris, Vira mendekap erat Farah.
Vira hancur melihat air mata Farah, dia merasa lemah karena tak mampu membela putrinya. Vira benar-benar takut mendengar teriakan demi teriakan Farah. Putri yang begitu rapuh, tapi sesungguhnya Farah gadis yang pemberani. Putri yang lahir dengan banyak kelebihan dan hanya Farah yang menyadarinya. Vira mencium lembut kening Farah. Berharap Farah melupakan semua yang terjadi.
__ADS_1
Fatih dan Azzam termenung, Farah berubah menjadi tak terkendali. Tak ada kecantikan penuh kelembutan dalam wajah Farah. Semua orang menatap Farah bingung. Nafisa menatap nanar Azzam yang begitu cemas akan kondisi Farah. Kekhawatiran seorang ayah yang tak pernah dia rasakan. Kehangatan yang selalu dia harapakan, sejak dua puluh tahun yang lalu. Nafisa menggeleng tak percaya, semua yang diharapkannya. Dengan mudah dan tanpa paksaan didapat oleh Farah. Rasa sakit hatinya semakin parah, ketika melihat Azzam menghiba.
"Kenapa pa? Kenapa papa memohon padanya. Papa menghiba hanya demi kasih sayang wanita itu. Apa papa tidak melihat lukaku? Kenapa papa mengacuhkan aku?" Batin Nafisa pilu.