
"Tidak sulit mencari informasi tentang jati diri orang hebat sepertimu. Namun sama halnya dengan buku baru. Ketika melihat sampul yang bagus, kita berpikir buku itu pasti bermanfaat. Namun tak selamanya bagus di luar indah di dalamnya!" Ujar Farah lantang, Farah menatap Bima yang begitu gagah dengan jas putih.
Farah tak pernah ingin mencari tahu tentang Bima. Namun tanpa sengaja Farah melihat artikel tentang Bima. Siapa Bima? Apa hubungannya dengan keluarga Atmaja? Bahkan status hubungan yang tengah dimiliki Bima tertulis jelas. Alasan yang membuat Farah mengetahui jati diri Bima yang sebenarnya.
"Apa lagi yang kamu tahu tentang aku?"
"Perjodohan yang sempat tergagas dengan Nafisa. Cucu perempuan keluarga Atmaja!" Sahut Farah lantang.
"Kamu mengetahui semuanya?" Ujar Bima lirih. Farah mengangguk pelan.
"Setidaknya bisakah kamu memberi kesempatan keluargaku mengenalmu!"
"Maaf anda siapa?" Sahut Farah lantang.
Farah dan Bima menoleh secara bersamaan. Keduanya terkejut mendengar suara. Bima semakin terkejut, ketika dia menyadari sosok yang berdiri tak jauh darinya. Bima seketika berdiri, Farah menatap heran sikap kikuk Bima. Seakan dua orang yang berdiri di depan mereka begitu menakutkan. Jelas Bima menjaga jarak dengan Farah. Jarak yang terlihat jelas oleh Farah.
"Jika kamu mengenal Bima. Jelas kamu tahu siapa diriku?"
"Sekali lagi saya minta maaf. Saya tidak mengenal anda. Jadi tidak ada hak anda ikut campur tentang kehidupan pribadi saya!" Sahut Farah dingin, Bima diam menunduk. Tatapan tajam yang dia lihat dari sosok yang berdiri di depannya. Seketika membuat nyali Bima menciut.
Bima melangkah mundur, dia berdiri tepat di samping Andra dan Fariz. Dua laki-laki yang tiba-tiba datang menghampiri dirinya dan Farah. Raut wajah pias Bima, seolah isyarat rasa segan pada Andra dan Fariz. Sebaliknya Farah diam tak bergeming. Farah tak berpindah sejengkalpun dari tempatnya. Tatapannya tajam mengunci Andra dan Fariz. Dua orang yang seolah ingin mengintimidasi pemikirannya. Meski sesekali Farah menunduk, bukan karena rasa takut. Namun Farah berusaha menjaga pandangannya.
"Pemikiran yang tegas, tatapan dingin dan kemandirian yang sama. Pribadi tangguh yang tak mudah digoyahkan. Jelas menunjukkan kamu putri Vira Azza Ifatunnisa. Wanita hebat yang selalu kuat melawan badai. Namun Vira yang aku kenal, hatinya tak sedingin dirimu. Vira takkan tega membenci orang yang dicintainya. Dia sanggup hancur demi orang yang disayangi. Tanpa berpikir menghancurkan orang yang dia sayangi!"
"Sedalam itu anda mengenal ibuku. Jelas anda bukan orang biasa. Hanya orang hebat yang mengenal ibuku. Sehebat keluarga Atmaja yang angkuh!"
"Sampai kapan kamu membenci darah yang mengalir dalam nadimu?"
"Sampai kapan benci ini ada? Namun satu hal yang pasti. Jauh sebelum aku terlahir, mereka tak pernah menganggap aku ada. Jadi tidak ada alasan aku menganggap darah mereka mengalir dalam tubuhku!"
"Tapi Azzam tak pernah mengetahuinya!" Ujar Andra.
"Nampaknya anda sangat mengenal tuan Azzam. Sampai anda mengetahui dalam hati tuan Azzam!"
__ADS_1
"Aku bukan hanya mengenalnya. Aku saksi dalam cinta Azzam pada Vira!"
"Alasan itukah yang membuat anda datang menemuiku!" Sahut Farah dingin, Andra menggeleng lemah.
Bima hanya bisa diam, perasaannya kacau. Sikap dingin Farah mampu menghancurkan harapan yang sempat dipupuknya dalam hati. Hubungan yang Bima harapkan bersama Farah. Hubungan hati yang lebih dekat, tapi harus hancur sebelum tercapai.
"Aku tak pernah ikut campur masalah hati Azzam. Sejak dulu aku ada untuk menopang Azzam. Dia sahabat yang sudah aku anggap saudara. Apapun keputusannya aku selalu mendukungnya. Sedangkan suka dan dukanya, menjadi suka dan dukaku. Hubungan yang takkan dimengerti oleh wanita berhati dingin sepertimu!" Tutur Andra final, Farah menunduk seraya menggelengkan kepala. Sekilas nampak senyum simpul di bibir mungil Farah.
"Anda benar tuan, bukan hanya hatiku yang dingin. Tangan dan kakiku lemah, tak ada hak aku mengenal orang lain. Wanita sepertiku tidak hanya dingin. Kehadiranku hanya akan menjadi beban orang lain. Jadi tak mungkin aku mengerti pemikiran bijakmu, karena aku tak lagi ingin memikirkan hal lain. Aku hanya ingin hidup damai bersama ibuku. Salahkah aku berharap kedamaian itu!"
"Salah, jika nyatanya kedatanganmu menghancurkan kedamaian orang lain!" Ujar Andra lantang dan tegas.
"Papa aku mohon hentikan!" Ujar Bima.
Duaaarrr
"Papa!" Ujar Farah lirih tak percaya.
"Sejak kapan kamu berani menghentikan papa? Dia hanya pasienmu, jadi tidak perlu kamu membantunya bicara!" Ujar Andra emosi pada Bima.
"Tenang saja tuan, tidak akan ada yang menghentikan anda bicara. Silahkan anda menghakimi saya. Jangan pernah menyalahkan dokter Bima. Dia tidak bersalah!"
"Andra cukup, kita menghampiri mereka bukan untuk ikut campur. Aku mengajakmu kemari, karena ingin melihat Farah lebih dekat!" Ujar Fariz, Andra mengangguk.
Andra menghentikan perdebatan sengit diantara dirinya dan Farah. Sejak awal Andra hanya menemani Fariz. Bertemu dan mengenal Farah. Alasan utama keduanya ada di depan Farah saat ini. Fariz ingin mengenal keponakan perempuannya.
"Farah, sejak awal tidak ada hak kami ikut campur. Sengaja aku datang menemuimu. Aku ingin melihat keponakan yang tak pernah aku tahu keberadaannya!!"
"Hmmm!"
"Farah, kita pulang!"
"Kak Fatih!"
__ADS_1
"Maaf fuan, saya harus pergi!"
"Tunggu!" Teriak Fariz lantang.
"Ada apa?" Ujar Farah, sembari menahan kursi roda. Farah menatap tajam Fariz, sebaliknya Fariz terlihat dingin dan tegas. Perkataannya seolah perintah yang harus dipatuhi.
"Ada yang harus kamu temui!"
"Siapa?"
"Ibu yang merindukan putranya!"
"Maaf, anda salah meminta bantuan!" Ujar Farah tegas.
"Kamu harus!" Ujar Fariz tegas, Farah menggeleng lemah.
"Tidak ada yang bisa memaksaku, termasuk and tuan Fariz. Siapapun anda aku tak ingin mengetahuinya?"
"Percuma kamu memintanya, dia sama sekali tak tersentuh. Hatinya bagai batu!" Sahut Andra lantang, Bima menggeleng lemah.
Farah diam tak bergeming, tak ada alasan Farah berada di samping mereka. Dengan langkah tegas, Farah menjauh. Meninggalkan Bima dalam kegalauan yang tak bisa dikatakan. Hancurnya harapan yang tersimpan jauh dalam hatinya. Pertemuan Farah dengan Andra yang tak berjalan baik. Kesan buruk yang disematkan Andra pada Farah. Jelas membuat harapannya pupus. Tak ada cara menyatukan rasa yang baru tersemai.
"Dokter Bima!"
"Iya!" Sahut Bima histeris, ketika dia mendengar Farah memanggilnya. Bima mendongak ke arah Farah. Nampak Farah menghentikan kursi rodanya.
"Terima kasih telah merawatku selama ini. Mulai besok, aku akan mencari dokter lain. Pertemuanku dengan tuan Andra meninggalkan kesan yang buruk. Sebab itu aku akan menjauh dari hubungan ini. Aku tidak ingin menjadi alasan renggang hubungan ayah dan anak. Alasan yang sama membuat ibuku hancur!"
"Farah!" Sapa Bima lirih, sebuah sapaan yang seolah menolak permintaan Farah. Sebaliknya tanpa menoleh Farah menggelengkan kepala. Isyarat perkataannya final tak dapat digoyahkan.
"Sejujurnya aku tahu perawatanmu diminta khusus oleh tuan Azzam. Sengaja aku diam, aku ingin mengetahui caramu mendekatkan diriku dengan tuan Azzam. Sempat aku ingin mengenal nama itu, tapi semua kembali menghilang. Ketika aku melihat betapa tuan Azzam telah memiliki banyak cinta. Jadi kasih sayangku tak lagi dia butuhkan!"
"Kamu salah Farah, kak Azzam membutuhkanmu!"
__ADS_1
"Terima kasih membuatku merasa dibutuhkan Meski sesungguhnya, aku tak mengharapkan itu. Katakan pada tuan Azzam, tidak perlu mengejar cinta dariku. Masih banyak cinta di sekitarnya, terutama dari putrinya Nafisa!" Sahut Farah dingin, lalu pergi menjauh.