Ikhlas

Ikhlas
Tamasya


__ADS_3

Matahari mulai menyembulkan kepala di ufuk timur. Tepat jam setengah enam pagi, Rinjani mengemas bekal dan tas tenteng kecil untuk bertamasya.


“Buk, Rinjani berangkat dulu ya.” Pamitnya, mencium tangan Ibuknya penuh takzim.


“Iya, hati-hati ya nduk”


Grojogan sewu, menjadi tempat yang di tuju Rinjani dengan Riwan sahabat kecilnya untuk bertamasya. Pesonanya yang asri, pohon serta deretan pegunungan, seakan memanjakan mata yang melihat. Kurang lebih, ada 1000 anak tangga yang harus di tempuh untuk menuruni air terjunnya. Di sepanjang perjalanan, banyak kera liar yang menghampiri kami. Anehnya, meskipun liar, para kera tidak ada yang menyerang atau menyakiti pengunjung.


“Mas, nanti kita bawa pulang satu, ya?”


“Hus, ngga boleh dek. Nanti kuwalat, kalau bisa dibawa pulang, sudah tak borong semua keranya dek.”


“Masa sih, Mas?”


“Coba saja. Tapi kalau ada apa-apa. Mas ndak tangung jawab, lho ya.”

__ADS_1


Rinjani mencebik. Langkahnya bersungut-sungut menuruni tangga.


Sriekkk ...


“Aduh ...,” Rinjani terpleset.


Plokk ...


Ternyata, sepatu Rinjani terpental mengenai kepala Mas Riwan.


“Duh ..., hati-hati dong dek.” Ucapnya mengusap kepalanya yang ketiban sepatu.


“Dek, maukah kamu menjadi kekasihku?”


lututnya bersimpuh menggenggam tangan mungil milik Rinjani. Siapa yang tidak terpana dengan paras ayunya, kulit kuning langsat, hidung mancung dan alisnya yang tebal dengan mata bulat di sertai bulu mata nan lentik menambah elok wajahnya. Hanya saja, tingkahnya selalu sembrono.

__ADS_1


Sejenak, Rinjani tak bergeming. Pikirannya seolah berkecamuk. Ia tidak dapat mengendalikan perasaannya. Hati bergemuruh di landa kebimbangan.


'Apakah mungkin Mas Riwan mencintaiku dengan tulus, seperi rasa cintaku padanya? jika bisa dikatakan, mungkin aku sangat mencintainya. tetapi, mengapa bayangan pria misterius itu selalu datang? uh, kesal.'


“Dek, kenapa diam saja? Apakah kamu tidak mencintaiku?” lanjutnya.


“Maaf mas, aku tidak bisa.” Jawab Rinjani dengan mata berkaca-kaca. Hatinya masih sangat bingung, antara mencintai Riwan atau pria berwatak dingin tempo hari.


Di saat bersamaan keduanya termenung, bergelut dalam pkiran masing-masing. Lalu, Riwan menatap mata Rinjani dengan tajam, sorot matanya menyimpan seribu pertanyaan. Jawaban Rinjani tak lantas memadamkan bara cintanya.


“Aku sudah terbiasa, menganggapmu sahabat sekaligus kakak. Aku ndak mau kalau nanti, ditinggalkan setelah kamu bosan berpacaran. Aku hanya ingin berdiri di sampingmu, tanpa harus melibatkan perasaan yang sulit di mengerti oleh nalar. Bisakah kita tertawa lepas seperti sekarang ini? Aku sudah mengenalmu sejak kecil mas. Selain penyanyang, kau lebih suka mengatur-atur. Aku terlalu takut, membayangkan semua kemungkinan. Aku tak.mau kehilangannu.” Jawab Rinjani dengan tertunduk.


“Angkat wajahmu dek. Aku tidak akan marah. Sekalipun kamu menolakku, aku ikhlas dek. Aku sangat mengerti perasaanmu. Justru karena tak ingin kehilanganmu, aku ingin menuntunmu bersamaku. Sudah 15 tahun kita bersahabat, sejak itu pula aku mulai mengagumimu. Aku berjanji, tidak akan memaksamu.Tapi ingatlah, aku tidak akan menyerah. Aku akan berusaha mendapatkan hatimu.” Jawabnya tersenyum.


“Tapi mas ...” belum selesai menjawab. Bibirnya terkunci, ketika jari Riwan memberi kode untuk tetap diam.

__ADS_1


“Witing tresno jalaran soko kulino” bisik Riwan dengan penuh arti, membuat Rinjani tersipu. Wajahnya memerah, dadanya berdesir hebat.


Mas Riwan, tanpa kau utarakan pula, jauh di dalam lubuk hatiku sudah ada namamu.Sebelum matahari bersinar di saat itu pula bayanganmu selalu menghantui. Menggoyahkan hati dan mengusik kalbu.


__ADS_2