Ikhlas

Ikhlas
Akhir...


__ADS_3

"Aku hancur karenamu, aku bahagia bersamamu, aku bernapas denganmu, aku hidup melihat senyummu. Sekarang katakan padaku, jika kamu pergi dariku. Apa yang akan terjadi padaku? Hatiku telah memilih dan itu dirimu!" ujar Azzam tegas dan dingin. Vira diam membisu, Azzam menatap lekat wajah Vira.


"Demi dirimu, aku akan melawan dunia. Sebab dirimu segalanya dalam hidupku!" ujar Azzam tegas, Vira menggeleng tidak menyetujui perkataan Azzam.


Keluarga Atmaja bukan keluarga sembarangan. Keluarga yang takkan menerima Vira dengan mudah. Alasan sebenarnya Vira tidak ingin mengenal atau mencintai Azzam. Alasan yang sama dia tidak pernah peduli pada perhatian Fariz. Selama tiga tahun, Vira menganggap angin perhatian Fariz. Semua demi batasan yang ada diantara mereka.


"Seandainya semua itu mudah, aku akan mengizinkan tuan Azzam melakukan hal itu. Namun kenyataannya, tuan Azzam putra dari keluarga yang aku hormati. Bukan karena harta atau status kalian. Tapi kasih sayang keluargamu yang tak pernah membedakan ibuku. Selamanya takkan pernah aku balas dengan luka!" ujar Vira tegas, Azzam diam menatap lurus ke depan.


Azzam bukan penurut, tapi menentang perintah keluarganya tak pernah Azzam lakukan. Terutama ayahnya yang keras dan tak berhati. Selama ini Azzam pribadi yang acuh dan ambisius. Tak pernah dia peduli dengan keputusan keluarganya. Masa muda Azzam dihabiskan, untuk menempuh pendidikan dalam dunia bisnis. Selepas sekolah Azzam fokus mengembangkan bisnis keluarganya. Tak pernah Azzam peduli pada hal lain.


"Tuan Azzam, aku hanya wanita yang lemah. Sangat lemah, sampai ingin rasanya aku menyandarkan hidupku pada tubuh yang kuat. Namun aku sadar, tulang rusuk yang lemah tidak akan pernah mampu melindungi tubuh yang kuat. Apa yang aku katakan? Semua demi dirimu. Aku tidak ingin kehancuran keluargamu. Rasa yang belum ada dan tak seharusnya ada. Lebih baik dikubur dan dilupakan. Agar tak ada air mata yang menetes!" ujar Vira dingin, Azzam menunduk membisu.


Keteguhan hati Vira, sebanding dengan keyakinan Azzam hidup bersama Vira. Ibarat dua jalan yang bersimpangan. Entah kapan dua jalan akan bertemu? Azzam mulai takut memikirkan akhir rasa tulusnya untuk Vira. Semenjak mengenal Vira, hati beku Azzam mulai menghangat. Jika dulu tak pernah ada rasa takut. Kini Azzam mulai takut kehilangan Vira. Kehadiran Vira merebut ketenangan Azzam. Kini hanya Vira yang ada dalam setiap hembusan napas Azzam.


"Keputusanmu bukan demi diriku, tapi demi rasa takut dan pesimismu akan rasaku padamu. Aku tidak akan memaksa, kamu sudah memilih. Aku akan menjauh darimu, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu!" ujat Azzam lirih dan lemah.


Azzam berdiri meninggalkan Vira. Tanpa sedikitpun meminum teh buatan Vira. Semanis apapun teh buatan Vira. Akan terasa pahit, sepahit perkataan Vira padanya. Azzam meninggalkan Vira tanpa menoleh lagi. Vira menatap punggung tegak Azzam yang menjauh. Entah kenapa Vira merasa sesak? Ada rasa ngilu dihatinya, menatap punggung Azzam yang menjauh.


"Azzam Aulian Putra Atmaja, nama indah yang pernah ada dalam hati lemahku. Maaf aku telah menyakiti hatimu. Rasa yang kamu tawarkan padaku. Tidaklah salah, justru aku pernah mengharapkannya dulu. Sepuluh tahun yang lalu, ketika aku melihatmu mengenakan seragam putih abu-abu. Kekaguman yang ada, kala aku masih SD dan beringus. Namun di waktu yang sama, aku tak menyadari perbedaan yang ada. Kini rasa itu telah terlupakan bersama dengan kenyataan yang ada. Keluargamu tak salah, mereka tidak pantas disalahkan. Aku tak ingin melihat, seorang putra meninggalkan kedua orang tuanya. Kelak saat aku mampu berdiri tegak dan rasamu masih ada untukku. Tanpa dirimu meminta, aku akan menghiba padamu. Agar rasa itu ada untukku!" batin Vira pilu.


Azzam berjalan perlahan ke arah mobilnya. Dia kalah oleh keteguhan hati Vira. Azzam tak ingin memaksa Vira. Sudah cukup Azzam meyakinkan hati Vira. Azzam sadar tak perlu meyakinkan hati yang tak pernah percaya. Azzam mendongak menatap langit. Tubuhnya bersandar pada mobil putih mewah miliknya. Azzam memejamkan matanya, menenangkan hati yang terasa sakit. Setetes demi setetes air hujan menyentuh wajahnya. Dingin dan sunyi malam, menambah luka hati Azzam.

__ADS_1


"Tuan Azzam!" sapa Vira lirih, sembari menekan dadanya pelan yang terasa sesak. Dengan tubuh yang masih sangat lemah. Vira mengejar Azzam tanpa peduli pada sakitnya. Terdengar jelas suara napas memburu Vira.


Vira merasa sakit melihat kerapuhan Azzam. Lemah seorang pewaris keluarga Atmaja karenanya. Vira merasa sesak melihat kehancuran Azzam. Tak pernah Vira membayangkan Azzam akan bersikap seperti ini. Ketegasan Azzam berganti akan rasa yang membuatnya lemah.


"Kenapa?" sahut Azzam dingin tanpa menatap wajah Vira. Azzam tak bergeming dari posisinya. Kedua matanya tetap tertutup, seakan tak ingin melihat wajah Vira. Wajah yang mengusik tenang harinya. Wajah yang mengisi hati kosongnya.


Vira menelan ludahnya kasar, melihat sikap dingin Azzam. Vira melihat Azzam kembali seperti dulu, dingin dan beku. Tuan muda keluarga Atmaja yang tak berhati. Ada rasa lega sekaligus sakit. Namun Vira merasa tenang, keputusannya menjauh dari Azzam sangat tepat.


"Tuan Azzam, ponsel anda ketinggalan!" ujar Vira lirih sembari menyodorkan ponsel pintar milik Azzam.


Azzam membuka matanya perlahan. Dia melihat ponsel di tangan Vira. Dengan tersenyum sinis, Azzam mengambil ponsel dari tangan Vira. Azzam membolak-balik ponsel pintar keluaran terbaru. Barang mewah bagi Vira yang mungkin takkan pernah mampu dibelinya.


Vira berjalan menjauh dari Azzam. Gerimis telah berhenti, tergantikan malam yang semakin larut. Vira berjalan di atas tanah becek. Dengan tubuh gontai, Vira berjalan menuju rumahnya. Azzam menatap sendu punggung Vira. Semua telah berakhir, tak ada harapan atau impian akan rasanya.


Pyaaaarrrrr


Suara keras bantingan ponsel, terdengar sangat nyaring di malam yang sunyi. Seketika Vira menoleh, dia melihat ponsel yang dikembalikannya hancur. Vira menutup mulut tak percaya melihat bagian ponsel berceceran. Azzam membanting ponsel pintarnya tanpa ampun.


"Kenapa kamu terkejut? Inilah aku yang sebenarnya, Azzam yang tak berhati. Baru beberapa menit yang lalu kamu melepasku. Aku sudah menghancurkan ponsel ini. Kamu bisa bayangkan, besok apa yang akan kuhancurkan? Kamu memang benar Vira, jika aku bersamamu akan menghancurkan keluargaku. Namun kamu lupa satu hal. Tanpamu bukan keluargaku yang hancur, tapi aku yang hancur!" ujar Azzam dingin.


"Tuan Azzam!"

__ADS_1


"Vira, aku tak pernah mengenalmu. Namun hatiku yakin akan dirimu. Ponsel yang kuhancurkan masih menyisakan kepingan kecil. Namun hatiku yang hancur, tak meninggalkan kepingan sama sekali. Tuan Azzam yang kamu kenal kini tak berhati. Terima kasih atas luka ini, aku akan mengingat masa indah itu. Ketika aku bahagia bisa melihat senyum manis dan mencintaimu!"


"Braaakkk"


"Asthgfirullahhaladzim!" ujar Vira lirih sembari mengelus dadanya pelan. Suara bantingan pintu mobil Azzam mengagetkan Vira. Tak lama Azzam melajukan mobilnya menjauh dari Vira. Azzam pergi membawa cinta yang belum disadari oleh Vira.


"Maaf!" batin Vira.


"Kamu mencintainya Vira, tatapanmu menjawab pertanyaan dalam hatiku. Sikap hangatmu pada kak Azzam. Menunjukkan kamu kalah oleh cintanya. Lantas kenapa kamu memungkirinya?" ujar Fariz lantang, Vira menoleh.


Dia melihat Fariz berdiri tak jauh darinya. Sejak awal Fariz melihat pertemuan antara Azzam dan Vira. Kehangatan diantara mereka nyata adanya. Bahkan kenyataan Azzam siap melawan semua orang demi Vira. Membuat Fariz sadar, ada cinta yang lebih kuat untuk Vira. Cinta diberikan oleh Azzam untuk Vira pemilik hatinya.


"Karena aku bukan wanita yang tepat. Dia pantas bahagia bersama wanita yang jauh lebih sempurna. Aku terlalu lemah!"


"Kamu memang lemah dan penakut, tapi kamu kekuatan bagi kak Azzam. Bertahun-tahun aku melihat jiwanya yang kosong. Dia hidup hanya demi ambisi keluargaku. Tak pernah dia berpikir menggapai bahagianya. Dia menutup diri dan tak ingin mengenalku. Semua karena tekanan dari nama besar keluarga Atmaja!"


"Pertama kali aku melihatnya hidup, hanya saat menatap dan bicara padamu. Pertama kali dia berani melawan, ketika dia merasa akan kehilanganmu. Dia hidup dan kuat saat bersamamu, tapi kamu telah membunuhnya tanpa perlu menusuknya!" ujar Fariz lagi, Vira hanya diam membisu. Dia tak ingin mengenal cinta, bila itu dari keluarga Atmaja.


"Dia akan kembali hidup. Saat hatinya menemukan yang jauh lebih tepat. Vira hanya angin lalu dalam hidup Tuan Azzam. Sebuah angin akan terlupakan, ketika dia mulai menjauh!" ujar Vira dingin.


"Kamu kejam Viral!"

__ADS_1


__ADS_2