
"Tuan Azzam, ada tamu!"
"Siapa?" Sahut Nadya.
"Saya tidak tahu, seorang pemuda tampan!" Sahut sang ART ramah.
Azzam mengangguk mengerti, dia menghentikan sarapannya. Azzam berjalan keluar dari ruang makan. Nadya yang penasaran dengan tamu di pagi hari. Langsung berjalan mengikuti langkah kaki Azzam. Nadya ingin melihat, tamu yang begitu penting. Sampai dia datang ke rumahnya. Sebab Azzam tak pernah mengizinkan, koleganya datang ke rumah.
"Fatih!" Sapa Azzam heran, Fatih menoleh.
Dia melihat Azzam berjalan beriringan dengan Nadya. Ada sedikit rasa kecewa, tapi Fatih menyadari semua sudah berubah. Azzam bukan lagi suami Vira, tak ada alasan Fatih marah atau kecewa melihat kebersamaan Nadya dengan Azzam.
"Maaf saya datang sepagi ini. Ada yang ingin saya tanyakan pada anda!" Ujar Fatih ramah, Azzam mengangguk pelan.
Azzam tak lagi berharap akan pengakuan Fatih. Sudah cukup bagi Azzam melihat tatapan hangat Fatih padanya. Azzam tak berharap, Fatih menatapnya dengan kebencian seperti dulu. Azzam sudah bahagia, ketika Fatih mulai menghargai dirinya. Meski belum ada pengakuan akan status dirinya bagi Fatih dan Farah.
"Masuklah, kita bicara di dalam!"
"Terima kasih!" Sahut Fatih sopan, Azzam mempersilahkan Fatih masuk.
Azzam melangkah lebih dulu, lalu diikuti Nadya. Fatih berjalan paling akhir. Dia melihat sepasang suami istri yang saling melengkapi. Meski mulut tak mengatakan cinta. Nadya istri sah Azzam, ibu sambung yang tak pernah dan takkan mungkin diakui oleh Fatih. Dengan langkah pelan, Fatih terus mengikuti Azzam. Pandangan Fatih selalu tertunduk, tak sedikitpun Fatih penasaran dengan isi rumah Azzam. Kemewahan rumah Azzam tak mengusik hati Fatih. Dalam benaknya hanya Farah dan Farah. Tidak ada yang lain, alasan Fatih mampu melangkah bertamu ke rumah Azzam.
"Ada apa Fatih? Sepertinya ada hal yang begitu penting. Sampai kamu mampu mengetuk pintu rumah papa!"
Fatih terdiam mendengar perkataan Azzam. Kebenaran yang seolah tak ingin diakui oleh Fatih. Namun nyata dilakukan Fatih dengan penuh kesadaran. Fatih tak pernah membayangkan datang ke rumah Azzam. Jangankan bertamu, mengetuk pintu rumah Azzam. Sangatlah tidak mungkin bagi Fatih.
"Maaf jika kedatangan saya mengganggu. Sebelumnya secara pribadi saya meminta maaf. Saya ingin meminta bantuan anda!" Ujar Fatih ramah dan sopan.
Azzam mengangguk pelan, dia begitu bahagia melihat putranya datang mengetuk pintu rumahnya. Hati ini menjadi hari paling bahagia bagi Azzam. Harapannya melihat putranya dari dekat tercapai. Fatih begitu dekat dengannya. Bahkan Azzam bisa merasakan hembusan napas putranya. Meski masih jelas terasa jarak yang sengaja dibuat oleh Fatih.
"Bantuan apa?" Sahut Azzam dingin, Fatih mendongak. Menatap dua bola mata Azzam. Mata yang begitu mirip dengan dua bola mata Farah.
"Bawa aku masuk ke dalam kediaman keluarga Atmaja. Aku ingin bertemu dengan kakek Dimas!"
__ADS_1
"Om Dimas!" Sahut Azzam tak mengerti, Fatih menganggukkan kepalanya pelan.
Azzam terdiam mendengar permintaan Fatih. Bantuan yang begitu mudah bagi Azzam, tapi terasa menyakitkan baginya. Kebahagian Azzam berganti rasa kecewa, ketika Fatih datang padanya. Hanya untuk bertemu dengan Dimas. Adik sambung papanya, laki-laki yang pernah mencintai Vira dulu. Namun kali ini, Dimas yang mendapatkan kasih sayang Farah putrinya.
"Aku harus segera bertemu dengan kakek Dimas. Sebelum kondisi mama semakin memburuk!"
"Kenapa mamamu mencari om Dimas? Apa dia mencari mangsa baru? Saat dia merasa kak Azzam tak bisa dimilikinya!" Sahut Nadya sinis, sontak Fatih menoleh. Dengan tatapan tajamnya, Fatih menghunus jantung Nadya.
Fatih marah mendengar perkataan Nadya yang tak masuk akal. Seandainya Nadya bukan ibu dari saudara sambungnya. Mungkin Fatih sudah melakukan hal yang tidak diinginkan. Namun Fatih mencoba tenang, dia datang untuk bertamu. Bukan mencari keributan, apalagi dengan tuan rumah.
"Diam kamu!" Bentak Azzam, Nadya terkejut mendengar bentakan Azzam. Ada rasa sakit, ketika dia merasa tak dihargai di depan Fatih.
"Maaf sebelumnya tante, jika permintaanku tidak mungkin. Namun percayalah, aku mencari kakek Dimas murni karena urusan yang lain. Bukan demi hubungan lama yang tak berlanjut!" Sahut Fatih lirih.
"Siapa yang mengatakan permintaan tidak mungkin? Sangat mungkin terjadi, kamu keturunan keluarga Atmaja. Kediaman keluarga Atmaja dengan mudah kamu datangi. Tidak perlu alasan atau izin dari siapapun? Papa hanya bingung, kenapa kamu mencari om Dimas? Apalagi ada hubungannya dengan kondisi Vira!" Tutur Azzam, Fatih diam menunduk.
"Farah!"
"Kenapa lagi dengan gadis liar itu? Apa yang dia lakukan sekarang?" Sahut Nadya sinis, Azzam langsung menoleh. Jelas tatapan tidak sukanya pada Nadya. Perkataan Nadya jelas melukai hati Azzam.
Nadya menunduk sembari meremas ujung bajunya. Azzam benar-benar marah, ketika Nadya menilai buruk Farah. Walau perkataan Nadya tidak salah, tapi Azzam tidak akan mengizinkan siapapun menilai Farah seperti itu? Farah putri Vira, tentu memiliki hati yang bersih. Alasan sikap keras dan dingin Farah. Tak lain karena sikap kejam keluarga Atmaja pada Farah dan Vira.
"Papa!"
"Ingatkan mamamu akan batasannya. Jika tidak papa akan lupa air matamu. Jelaskan padanya, posisinya hanya untuk di sampingku Bukan berada di depanku, jadi minta dia untuk menjaga bicaranya!" Ujar Azzam tegas, pada Nafisa.
"Maaf, lebih baik saya pergi. Terima kasih sudah menerima saya!" Pamit Fatih sopan, Nafisa menggeleng. Dia tidak ingin melihat Fatih pergi. Azzam diam membisu, pertengkarannya dengan Nadya. Kini menjadi alasan putranya semakin jauh.
"Maafkan tante Fatih, tidak seharusnya tante bersikap keterlaluan!"
"Bukan tante yang salah, saya yang salah telah mengetuk pintu rumah ini. Rumah yang sejak dua puluh tahun lalu tak lagi kumiliki!"
"Fatih, jangan bicara seperti itu!" Pinta Azzam menghiba, Nafisa langsung duduk tepat di sebelah Fatih. Tangannya menggenggam erat lengan Fatih. Nafisa menghiba sebuah kasih sayang yang tak pernah dia dapatkan dari Fatih.
__ADS_1
Nafisa merasa sepi tanpa saudara. Dia merasa sedih, saat Fatih mengatakan dengan jelas statusnya. Fatih menolak menjadi bagian keluarga Azzam. Artinya Fatih menolak menjadi kakak bagi Nafisa. Azzam hanya bisa diam, melihat sikap tegas Fatih. Nadya menunduk menyesal, tapi semua seakan terlambat. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, hinaan terlanjur terucap. Tak lagi mampu kembali tertelan.
"Nafisa, belajarlah dewasa. Pahami kondisi keluarga kita tak sama dengan yang lain. Maaf kakak tidak bisa menjagamu dengan baik. Kakak hanya bisa berdoa, kamu selalu baik-baik saja!" Ujar Fatih, sembari mengusap lembut rambut Nafisa.
Dengan mata sendu, Nafisa menatap Fatih. Air matanya siap jatuh menetes. Tak ada yang mampu memahami sepi dan sakit hati Nafisa. Semua orang sibuk memikirkan sakit hati mereka. Sedangkan Nafisa sendiri mencari kata bahagianya. Tidak terkecuali ibu yang melahirkannya. Nadya yang selalu mementingkan hati dan dendamnya. Terus menuntut kata bahagia dari Azzam. Tanpa dia sadari, sikapnya membuat jarak yang semakin lebar dengan Azzam.
"Papa!"
"Fatih, kamu memanggilku papa!" Ujar Azzam lirih penuh rasa haru. Tatapannya seolah tak percaya akan pendengarannya. Panggilan yang selalu dirindukannya. Kini nyata terdengar oleh dirinya.
"Hmmm!" Sahut Fatih lirih sembari mengedipkan kedua mata indahnya. Azzam terpaku mendengar panggilan penuh kasih sayang dari Fatih. Tak ada yang mampu menggantikan kebahagian Azzam saat ini.
"Katakan sekali lagi!" Pinta Azzam menghiba.
"Papa, entah kapan lagi aku mampu memanggilmu papa? Satu pintaku padamu, jangan pernah sakiti hati Nafisa. Dia tidak salah akan kondisi keluarga kita. Fatih berharap, papa dan tante memahami sakit hati Nafisa. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti. Masanya sekarang hanya untuk hidup bahagia tanpa beban. Jadi Fatih mohon, jangan pernah berdebat di depan Nafisa. Kalian berdua sudah bersama selama dua puluh tahun lebih. Nafisa bukti adanya cinta di hati kalian. Jadi jangan pernah kalian korbankan masa mudanya dengan pemikiran pernikahan yang menakutkan!" Tutur Fatih tegas.
"Kamu tidak keberatan dengan pernikahan kami!" Ujar Nadya, Fatih menunduk lesu.
"Bohong jika aku mengatakan tidak marah atau kecewa. Namun pernikahan kalian sudah terjadi, Nafisa sudah terlahir. Adik yang harus kuakui sepenuh hati. Nafisa tidak bersalah, tak pantas dia terluka dan sakit seperti Farah!" Ujar Fatih sedih.
"Farah sakit, dimana dia?" Ujar Azzam cemas.
"Cukup Farah yang sakit, aku tidak berharap Nafisa mengalami hal yang sama. Papa, tolong jaga Nafisa. Sebab Fatih tidak akan sanggup menjaga Nafisa. Sebagai seorang kakak, aku telah gagal menjaga Farah adikku. Aku kehilangan dia, tanpa tahu dimana keberadaannya?"
"Fatih!" Sapa Nadya, Fatih menepis tangan Nadya perlahan. Saat Nadya hendak memeluknya.
"Maaf tante, anda istri papa dan ibu Nafisa. Namun dalam hidupku, anda bukan siapa-siapa? Jaga pernikahan anda demi Nafisa, percayalah kami tidak akan merebut sesuatu yang sudah hilang dari kami!" Ujar Fatih tegas dan tenang, Azzam diam menunduk. Pernikahan dengan Nadya menjadi kesalahan paling fatal dalam hidupnya.
"Tuan Azzam, demi Nafisa aku memanggilmu papa. Namun aku takkan bisa memanggilmu papa, demi Farah adikku. Jadilah kepala keluarga yang teguh dan tegas. Jangan biarkan keluarga kecilmu hancur lagi. Cukup Farah adikku yang tersisih, jangan lagi ada wanita lain selain mama yang terluka dengan cintamu. Seperti anda mempertahankan perusahaan, bijaklah dalam mengayomi keluarga kecil ini. Jujur aku iri melihat kehangatan kalian. Namun mama tak pernah mengajarkanku menghancurkan hubungan. Melainkan memperbaiki hubungan!"
"Fatih!"
"Permisi, aku harus pulang!"
__ADS_1
"Tunggu Fatih, papa akan mengantarmu menemui kakek Dimas!"
"Terima kasih, aku akan menunggu di luar!" Sahut Fatih datar.