Ikhlas

Ikhlas
Hangat


__ADS_3

"Selamat pagi tuan Azzam!"


"Pagi!" Sahut Azzam dingin, Vira tersenyum saat melihat Azzam fokus pada layar laptopnya.


"Kamu masih sama seperti dulu. Pekerjaan menjadi dunia yang selalu nyaman. Dunia yang takkan pernah bisa teralihkan oleh siapapun?" Ujar Vira hangat, dia melihat Azzam larut dalam pekerjaan yang terkadang membuat Azzam lupa akan sekitar.


"Vira!" Ujar Azzam lirih, sesaat setelah mendengar perkataan Vira.


Azzam membalikkan badannya, ketika dia mendengar suara yang begitu dirindukannya. Firasat Azzam benar, kala dia melihat Vira berdiri tepat di belakangnya. Seketika Azzam mematikan laptopnya, bersamaan dengan Vira yang duduk tepat di depan Azzam.


"Hanya dirimu yang mampu membuatku melupakan semua pekerjaan. Bagiku harta atau sukses tak ada artinya. Jika dibandingkan dengan keberadaanmu!" Sahut Azzam, Vira mengangguk seraya mengutas senyum.


Azzam menatap lekat Vira. Senyum yang begitu manis, seolah tanda yang begitu menakutkan baginya. Azzam seakan takut senyum itu hanya bahagia sebelum duka. Ketakutan Azzam bukan tanpa alasan. Sikap manis Vira, berbanding terbalik dengan sikap Vira beberapa hari yang lalu. Azzam berharap senyum Vira hanyalah mimpi. Sebuah mimpi yang akan terasa menis dikenang dalam ingatannya. Bukan kenyataan yang akan terasa begitu pahit.


"Rayuanmu takkan menggetarkan hatiku. Jika memang perkataanmu benar, aku akan bahagia mendengarnya. Namun itu dulu, ketika cintaku begitu besar padamu!" Ujar Vira lantang, Azzam seketika menunduk.


Rasa bahagia yang baru saja dirasakannya, seketika berganti pahit. Vira tersenyum melihat raut wajah Azzam yang pias. Wajah tampan Azzam yang kalah oleh pesona Vira. Azzam selalu rapuh, ketika berhadapan dengan Vira. Mungkin cinta Azzam terlalu besar, sehingga Azzam selalu takut kehilangan Vira.


"Aku sudah menduga, senyummu hanya rasa manis sebelum pahit perkataanmu!" Ujar Azzam lirih, Vira hanya tersenyum. Seolah perkataan Azzam terasa lucu di dengarnya.


"Oh iya mas Azzam!"


"Hmmm!"


"Selamat atas kemenanganmu hari ini!"


"Kemenangan!" Ujar Azzam tak mengerti, Vira mengangguk pelan.


Vira menyadarkan tubuhnya pada kursi. Nampak Azzam menopang dagu dengan dagunya. Beberapa orang berdiri tak jauh darinya. Jelas Azzam bukan orang sembarangan. Penjagaan pada Azzam sangat ketat. Tak mudah mendekat pada Azzam, sekadar duduk satu meja dengannya saja takkan mungkin.


"Pagi ini timmu memenangkan proyek baru. Sekali lagi selamat, timmu selalu bisa diandalkan. Mereka orang-orang hebat yang pantas kamu pertahankan!"


"Kenapa kamu bisa tahu tentang proyek itu?" Ujar Azzam bingung.


"Aku salah satu perusahaan yang bersaing dengan perusahaanmu!"


"Kamu kembali dalam dunia bisnis!" Ujar Azzam penasaran, Vira menggeleng lemah.


"Lantas!"


"Aku datang hanya sebagai penasehat. Tak ada lagi waktuku memikirkan dunia luar. Aku mendampingi mereka!" Ujar Vira, sembari menunjuk ke arah jam 2.


Azzam lalu menoleh ke arah yang ditunjukkan Vira. Nampak Fatih dan Bayu duduk berhadapan. Tepat di meja sebelah Fatih, Farah duduk sembari menatap laptopnya. Nampak beberapa buku tebal tepat di samping laptop. Azzam lalu memutar tubuhnya, Azzam menatap penuh kerinduan kedua buah hatinya. Putra yang lahir dari tulus cintanya.

__ADS_1


"Fatih dan Farah!" Ujar Azzam lirih, suara yang begitu samar. Suara yang jelas menunjukkan kerinduan yang teramat besar.


"Kamu merindukan mereka!" Ujar Vira, Azzam mengangguk pelan.


"Sejak tadi aku ada di sana. Bahkan Farah yang mengatakan padaku. Kamu sedang duduk sendiri di sini. Atas izin Fatih, aku datang menemui. Bukan aku takut pada amarah mereka. Namun aku mencoba membuat citramu baik di depan mereka!"


"Aku tahu Vira, apa yang terjadi karena salahku?"


"Tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Salah benar hanya ada dalam hati dan pikiran kita. Satu hal yang paling penting. Jalani yang ada di depan kita. Perbaiki yang salah, pertahankan yang benar. Menyalahkan diri sendiri, hanya akan membuat hidup kita hancur!"


"Jika bukan salahku, kenapa kamu menghukumku seberat ini?"


"Kapan aku menghukummu?"


"Kepergianmu, hukuman mati yang pernah aku rasakan. Jika hukuman mati, sakitnya sekali lalu tak merasakan apapun. Namun hukuman mati yang kamu berikan. Sakitnya berkali-kali, sampai aku lupa akan hidup!"


"Maaf!"


"Untuk!"


"Lukamu!" Ujar Vira singkat.


"Jujur Vira, aku tidak butuh kata maaf darimu. Aku hanya ingin bersama dirimu. Semua luka ini akan sembuh. Aku akan kembali hidup, karena senyummu napas hidupku!"


"Nadya!" Ujar Azzam dingin, Vira mengangguk.


"Dia sahabat yang dulu ada dalam suka dan dukaku. Cukup sekali aku menghancurkan bahagianya. Takkan lagi aku menghilangkan senyum di wajahnya. Dia pantas bahagia!"


"Lalu aku, tak pantaskah aku bahagia!"


"Sesungguhnya mas Azzam bahagia, hanya saja mas Azzam terlalu takut menatap masa depan. Tanpa mas Azzam sadari, Nadya yang selama ini membuatmu bahagia. Nafisa penghapus kerinduanmu pada Fatih. Mereka yang ada dalam hidupmu saat ini!"


"Lalu, apa kamu bahagia dengan pernikahanku? Tidakkah kamu marah, kecewa pada pengkhianatan cintaku!"


"Aku bahagia, bukan karena pernikahanmu. Aku bahagia, karena pernah mencintai dan memiliki bukti cinta darimu. Aku memang marah, kecewa atas pengkhianatamu. Namun aku akan lebih menyesal. Jika kepergianku merubahmu menjadi laki-laki tanpa iman. Aku bersyukur kamu menghapus sedihmu dengan menghalalkan Nadya. Jika tidak, aku istri paling bodoh dan durhaka. Sebab aku telah membuat suamiku bermaksiat!"


"Sekali saja Vira, sekali saja kamu marah padaku. Agar aku merasa berarti dalam hidupmu!"


"Kamu tidak pernah menyadari, betapa berartinya dirimu dalam hidupku? Namun cintaku memang harus tersimpan. Semua demi hati yang ada diantara kita!"


"Aku menyerah Vira, selamanya aku takkan pernah sanggup mengalahkanmu. Tak ada kata yang mampu merubah keputusanmu!"


"Mas Azzam sangat mengenalku!"

__ADS_1


"Aku mengenal sisi tegasmu, tapi aku tak pernah melihat sisi lemahmu. Alasan yang membuatku kehilangan dirimu!" Ujar Azzam dingin, Vira tersenyum.


"Aku tak pernah lemah, karena aku merasa kuat saat melihatmu dan mereka!" Ujar Vira sembari menatap Fatih dan Farah.


"Sungguh Vira, jika aku boleh meminta. Aku ingin waktu berhenti. Agar aku bisa terus menatap teduh wajahmu. Melihat senyum manismu. Merasakan hangat suaramu. Aku merasa bahagia, meski aku melihat dari jauh putraku. Semua karenamu Vira, kamu alasan sedihku sekaligus alasan bahagiaku!" Batin Azzam sembari menatap lekat Vira.


"Seandainya masa lalu bisa kembali. Aku akan menanggalkan nama besar Atmaja!" Ujar Azzam tegas, Vira hanya tersenyum simpul. Perkataan Azzam sudah sangat terlambat. Pertemuan mereka dan perpisahan keduanya. Sudah menjadi jalan yang memang harus dilalui.


"Sekali lagi selamat, kamu selalu tangguh dalam dunia bisnis!" Ujar Vira, lalu berdiri dan berjalan melewati Azzam.


"Tunggu Vira!" Ujar Azzam, sembari menggenggam erat pergelangan tangan Vira. Azzam menahan langkah kaki Vira. Azzam merasa waktu berputar terlalu cepat. Azzam merasa kebersamaannya dengan Vira terlalu singkat.


"Ada apa?" Ujar Vira menoleh, lalu melepaskan tangan Azzam perlahan.


"Hangat!" Batin Azzam, ketika tangan Vira menyentuh tangannya. Azzam merasakan kehangatan yang telah lama terlepas darinya.


"Jika kamu ingin, aku bisa mundur dari proyek ini. Aku tidak ingin Fatih merasa rendah diri, karena kalah dalam proyek ini!"


"Tidak perlu!" Ujar Vira hangat, gelengan kepala Vira menjadi jawaban final bagi Azzam.


"Kenapa?"


"Lihat mereka!" Ujar Vira, menunjuk ke arah Fatih dan Bayu. Azzam menoleh, dia mengikuti isyarat yang dikatan Vira.


"Kekalahan mereka tadi, bukan alasan mereka mundur. Fatih harus merasakan pahit sebuah kekalahan. Sebelum Fatih merasakan manis kemenangan. Sebab itulah sejatinya hidup!"


"Tapi!"


"Mas Azzam tidak perlu cemas, bukankah Fatih dan Farah darah dagingmu. Mereka akan sama sepertimu, siap bertarung tanpa takut kalah!"


"Vira aku merindukanmu!" Ujar Azzam lirih.


"Jangan terlalu banyak minum kopi. Lambungmu tidak sekuat dulu!"


"Kamu mengalihkan pembicaraan!" Ujar Azzam lirih, seraya menunduk menatap lantai tempat kedua kakinya berpijak.


"Aku tak pernah mengalihkan pembicaraan, karena rasa khawatirku bagian dari cintaku. Kini hanya sebatas rasa cemas bukti cintaku!" Ujar Vira tepat di depan wajah Azzam.


"Mata yang indah!" Batin Azzam, sembari menatap lekat Vira yang begitu dekat dengannya.


"Aku harus pergi!"


"Kapan kita bertemu?"

__ADS_1


"Entahlah? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.


__ADS_2