
"Mama, kenapa memintaku datang kemari? Aku sedang ada rapat penting. Selalu saja mama memaksakan kehendak!" cecar Azzam kesal, Melda tersenyum mendengar Azzam menggerutu. Sengaja dia memaksa Azzam datang. Sebab Melda ingin Azzam ikut dengannya berbelanja. Kegiatan yang paling dibenci Azzam selama ini.
Azzam pekerja keras yang tak suka akan kemewahan. Dia tak pernah suka pergi berbelanja. Selama ini Azzam membeli keperluannya dengan bantuan Melda atau asisten pribadinya. Sekali atau dua kali Azzam membeli sesuatu dengan cara online. Azzam lebih memilih rapat satu hari penuh. Daripada harus datang ke pusat perbelanjaan. Pertama kalinya Azzam berbelanja tanpa banyak bicara. Tidak lain saat pergi dengan Vira. Azzam diam mengikuti langkah kaki Vira. Tak ada keluhan yang keluar dari bibir Azzam. Entah kenapa Azzam merasa nyaman saat berbelanja dengan Vira malam itu?
"Azzam, sudah selesai bicaranya. Maaf mama mengganggumu, tapi bolehkan sekali-kali mama minta Azzam menemani mama belanja. Kebetulan mama bertemu seseorang yang pasti membuatmu terkejut!" ujar Melda sembari tersenyum simpul, Azzam menggeleng lemah. Siapapun orang yang dimaksud mamanya? Azzam sedikitpun tidak tertarik. Azzam jauh lebih memilih tinggal di kantor. Daripada mengelilingi pusat perbelanjaan. Kegiatan yang sangat tidak berguna menurut Azzam.
"Memangnya mama bertemu siapa? Jangan katakan mama memiliki rencana terselubung. Jika benar, awas saja! Azzam tidak akan pulang nanti malam, kalau perlu selamanya!" ancam Azzam, Melda tertawa mendengar kekesalan Azzam. Bukannya khawatir Azzam akan melakukan ancamannya. Melda malah tertawa melihat putra sulungnya marah, karena merasa tertindas olehnya. Lalu Melda menunjuk ke arah seorang gadis yang sedang berjalan menghampiri Melda dan Azzam.
"Itu Nadya sudah datang. Tadi mama bertemu dia di tempat parkir. Jadi sekalian saja mama ajak dia belanja bersama. Lalu papa memberikan ide, untuk mengajakmu sekalian. Agar kalian bisa semakin dekat satu dengan yang lain!" ujar Melda santai, Azzam menggeleng lemah. Lalu dia menunduk lemah. Seandainya bukan demi Melda, mungkin Azzam sudah berlari pulang atau kembali ke kantor. Melda melambai pada Nadya, dengan ramah Nadya mengangguk seraya melambai. Sebagai jawaban atas sapaan Melda.
"Mama keterlaluan, memintaku meninggalkan rapat hanya demi gadis manja ini. Seandainya aku mengetahui, dia ada disini. Aku akan kabur dari tempat ini. Dasar papa dan mama, sama-sama bersekongkol ingin membuatku tersiksa. kenapa tidak sekalian mama menutup sementara pusat perbelanjaan ini. Agar aku dan calon menantunya itu jalan berdua sungguhan. Meski mereka mencoba mendekatkanku. Tapi tetap saja aku akan menjauh. Dia lebih pantas menjadi adikku, daripada istriku!" ujar Azzam kesal.
Nadya berjalan menghampiri Melda. Dia memang berjanji akan ikut dengan Melda, untuk berbelanja dan makan siang bersama. Namun Nadya tidak tahu, jika Azzam akan ikut dengan mereka. Nadya mengamati penampilan Azzam yang sangat berbeda. Jas yang dipakainya, seolah mengatakan betapa Azzam sangat dewasa dan bijaksana. Kacamata minus yang dipakai Azzam, seolah menunjukkan kepintarannya. Nadya terpikat dengan ketampanan dan kamapanan Azzam. Ada rasa heran dalam hati Nadya. Ketika dia menyadari, laki-laki sempurna seperti Azzam tidak memiliki kekasih sampai usianya yang cukup matang.
"Mama, kenapa harus dia yang bertemu denganku? Dia masih sangat kecil untukku. Dia seusia Fariz, kenapa harus aku yang kalian jodohkan? Fariz jauh lebih tepat bersamanya!" ujar Azzam kesal, Melda sudah menduga Azzam akan bicara seperti itu. Maka sejak tadi, Melda tidak mengatakan alasan meminta Azzam menemuinya. Jika sampai Azzam mengetahuinya, tentu dia akan langsung menolak tanpa peduli perasaan Melda lagi.
__ADS_1
Nadya duduk tepat di depan Azzam. Tak sedetikpun Nadya melepas tatapannya pada Azzam. Sebaliknya Azzam mengacuhkan Nadya. Dia sibuk dengan ponsel pintarnya. Azzam menganggap keberadaan Vira seperti angin lalu. Melda merasa kasihan melihat Nadya yang seolah diacuhkan Azzam.
"Nadya, kita makan siang saja. Azzam ada rapat penting. Jadi dia tidak ada waktu menemani kita. Lebih baik sekarang kamu pesan makanan!" ujar Melda ramah, Nadya mengangguk pelan. Sekilas dia melirik Azzam yang tak berniat melihat ke arahnya.
Nadya memilih beberapa menu makanan. Dia memesan untuk dua orang sekaligus. Melda tersenyum mengerti. Dia mengetahui jika Nadya tidak datang sendirian. Jadi wajar jika Nadya memesan dua makanan sekaligus. Disaat Melda mengerti sikap Nadya yang mungkin aneh. Azzam justru merasa ilfill pada Nadya. Dia tidak menyangka, jika Nadya akan memesan satu menu dengan dua porsi sekaligus. Azzam berpikir Nadya bertubuh kecil, tapi serakah saat makan.
"Azzam sayang, kamu pesan makanan juga. Tidak enak kalau kita makan, kamu hanya melihat. Lagipula nanti kamu yang akan membayar semua makanan ini. Mama ingin kamu traktir!" ujar Melda menggoda Azzam. Tanpa banyak bicara, Azzam memesan makanan. Melda bahagia melihat Azzam yang mulai melunak. Meski sebenarnya diam Azzam, agar dia bisa segera kembali ke kantor. Azzam tidak nyaman duduk berhadapan dengan Nadya.
Setelah semua makanan dipesan, Melda mencoba mencairkan suasana. Setidaknya Melda ingin Azzam dan Nadya saling mengenal. Namun usaha Melda sia-sia, Azzam tetap diam seakan tak melihat Nadya yang duduk di depannya. Azzam mencoba mencari kesibukan yang lain. Dia larut dalam ponsel pintarnya.
Setelah menunggu beberapa menit. Makanan yang mereka pesan sudah sampai. Azzam merasa lega, sebab setelah makan. Azzam bisa langsung kembali ke kantor. Melda tersenyum melihat Nadya yang berhati baik. Terlihat bagaimana dia memperlakukan temannya? Dengan cara Nadya memilihkan makanan yang sama dengannya. Melda menduga Nadya sangat menghargai temannya. Tak ada rasa berbeda yang ditunjukkan Nadya.
"Mama, sungguh kamu kejam. Satu gadis manja ini sudah cukup membuatku malas. Sekarang ada lagi temannya yang datang. Jika tahu akan terjebak bersama mereka. Aku tidak akan pernah peduli akan permintaan mama tadi. Sekarang aku hanya bisa berharap. Temannya tidak akan menatapku lapar seperti gadis manja ini!" batin Azzam.
"Maaf tante Melda, jika tidak keberatan. Silahkan makan lebih dulu. Aku akan menunggu nya datang. Dia mungkin sebentar lagi selesi. Sebenarnya dia izin mencari mushola. Dia pergi sholat dhuhur!" ujar Nadya ramah, Melda menggeleng lemah. Dalam hati dia semakin kagum akan sikap Nadya yang sangat menghargai hubungan pertemanannya.
__ADS_1
"Kalau begitu coba kamu hubungi dia. Takutnya dia tersesat dan tidak mengetahui kita disini!" ujar Melda lagi, Nadya menggeleng lemah. Azzam merasa kesal harus menunggu seseorang yang tak pernah ingin dia tunggu.
"Jika kamu tidak memiliki pulsa, katakan saja. Bila perlu pakai ponselku, hubungi dia dan katakan kita sedang menunggunya. Aku tidak punya banyak waktu!" ujar Azzam dingin dan ketus. Lagi dan lagi Nadya menggeleng.
"Dia tidak memiliki ponsel!" sahut Nadya final.
"Terserah kalian saja. Aku akan menyelesaikan makanku. Aku harus segera kembali ke kantor!" ujar Azzam emosi, dia langsung menyantap makanan yang dipesannya. Lalu Melda menunjuk ke arah seseorang. Nadya mengikuti arah tangan Melda, lalu tersenyum sembari melambaikan tangan.
"Akhirnya kamu selesai juga, kami menunggumu. Ayo makan sayang, nanti semakin dingin makanannya!" ujar Melda, Vira hanya menggeleng lemah sembari menangkupkan tangan. Seolah dia meminta maaf, karena tidak bisa ikut makan bersama mereka.
"Kamu puasa!" ujar Nadya lirih.
"Ternyata aku menunggu orang berpuasa untum makan siang. Kalian berdua benar-benar membuatku marah!" ujar Azzam ketus dan kesal. Dia tidak bicara tanpa mengangkat wajahnya.
"Maaf tuan Azzam, semua ini salahku. Jangan menyalahkan Nadya!" sahut Vira lirih.
__ADS_1
"Dia…?" ujar Azzam, lalu mendongak melihat ke arah Vira. Terlihat wajah dan hijabnya sedikit basah, karena Vira baru saja mengambil air wudhu.
"Vira, maafkan anak tante! Dia sejak tadi kesal, karena tante memaksanya datang dan meningglkan rapatnya!" ujar Melda, Vira mengangguk mengerti.