
"Azzam, kemejamu berwarna merah darah. Entah sebesar apa rasa sayangmu padanya? Sampai kamu tidak merasakan lagi sakit tanganmu. Hanya rasa cemas yang nyata terlihat, saat kamu menatap Vira yang ketakutan!" ujar Arif lirih. Azzam menoleh ke arah Arif. Dia sepupu sekaligus rival yang bisa merebut Vira darinya.
"Rasa sakitku hanya saat melihatnya bersama orang lain. Rasa sakitku hanya jika aku melihat air matanya. Rasa sakitku membunuhku, bila mendengar dia terus menolakku. Darah yang mengalir ini tak seberapa. Akan banyak darah yang bisa kutumpahkan. Seandainya Vira menginginkannya!" ujar Azzam dingin, Arif mendekat lalu menepuk pundak Azzam pelan.
Arif mengenal Azzam dengan sangat baik. Meski Arif keluar dari keluarga Atmaja. Namun hubungan keduanya sangat baik. Keduanya bersahabat tanpa ada yang mengetahuinya. Persabahatan mereka berakhir, kala Azzam dan Arif menempuh pendidikan di jurusan dan negara yang berbeda.
"Kamu mencintainya!" sahut Arif, tepat di samping Azzam.
"Aku tidak tahu ini cinta atau bukan. Satu hal yang aku mengerti. Vira satu-satunya wanita yang membuatku gila!" sahut Azzam sembari berjalan menjauh dari Arif.
"Vira layak dicintai, dia pribadi yang baik dan sopan. Rasaku padanya nyata, tapi melihat rasamu aku merasa dirimu yang bisa membahagiakannya. Namun keyakinanku berbanding terbalik dengan watak keluargamu. Seandainya keluargamu bukan keluarga Atmaja. Tidak akan pernah aku gamang dengan cintamu. Semoga kamu bisa memperjuangkan cintamu!" batin Arif.
Azzam berjalan masuk ke dalam pesta. Hingar bingar pesta seketika berhenti. Sunyi dan senyam saat melihat Azzam masuk dengan penampilan yang berantakan. Kemaja putih yang dipakainya penuh dengan warna merah darah. Telapak tangannya terus meneteskan darah segar. Azzam membuka pembalut tangannya. Setiap tetes darah yang mengalir, seakan membawa kegelisahan hati Azzam.
"Azzam!" teriak Melda histeris. Dia berlari menghampiri Azzam. Melda berlari sekuat mungkin, dia tidak peduli pada pandangan orang lain akan sikapnya.
Melda menangkup wajah Azzam putranya. Dia membelai lembut wajah Azzam yang terlihat rapuh. Dengan lembut Melda menarik tangan Azzam. Melda membalut tangan Azzam dengan gaun yang dipakainya. Melda tidak peduli lagi akan penampilannya. Sedetik kemudian Melda mencium tangan Azzam yang penuh darah.
"Azzam!" ujar lirih, air mata Melda menetes membasahi tangan Azzam. Angga mendekat ke arah Melda. Dia melihat kerapuhan Melda setelah sekian tahun lamanya. Angga melihat jelas rasa sakit Melda istrinya yang terluka karena sikap konyol Azzam.
Dengan kasar Angga menarik tubuh Azzam menatap ke arahnya. Angga meradang melihat sikap konyol Azzam. Apalagi di depan para koleganya. Angga merasa malu, bahkan sangat marah ketika melihat Melda menangis.
Plaaaakkk
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan? Pewaris keluarga Atmaja tidak akan bersikap bodoh sepertimu!" teriak Angga lantang, Melda berhambur memeluk Azzam. Menghadang Angga mendekati Azzam.
Melda memeluk erat Azzam, menjadi perisai agar tak ada yang bisa menyakiti Azzam. Air mata Melda semakin keras. Fariz mendekat membawa kotok P3K. Dia ingin membalut tangan Azzam, tapi ditolak oleh Azzam. Nadya mencoba mendekat pada Azzam. Namun terhenti saat dia melihat tatapan tajam Azzam ke arahnya. Nadya merasa malu dengan penolakan Azzam.
"Jangan pernah sentuh putraku. Jika kamu ingin menyalahkan atau menampar orang lain. Itu aku bukan Azzam. Aku ibu yang gagal, aku menghancurkan hati putraku. Ingat tuan Angga Atmaja sekali lagi tanganmu terangkat pada putraku. Kamu akan melihat amarah seorang ibu!" ujar Melda emosi, Angga mundur beberapa langkah. Dia melihat amarah Melda yang tak pernah ada. Ketenangan dan kebijaksanaan Melda lenyap tak berbekas.
Sebaliknya Azzam menatap dingin ke arah Melda. Seolah Azzam merasa sikap Melda terlambat. Kecemasan Melda seakan tak berarti di saat hatinya kini terluka. Azzam melepaskan pelukan Melda. Dia berjalan ke arah Angga ayahnya.
"Papa, jika belum puas menamparku. Silahkan lakukan lagi, aku tidak akan mencegahmu. Bagimu aku hanya pewaris yang harus selalu tunduk pada aturan keluarga Atmaja. Sampai papa lupa, aku putra yang terlahir dengan cintamu. Aku seorang putra yang merindukan kehangatan pelukanmu. Seorang putra yang ingin dimengerti oleh keluarganya. Bukan hanya pewaris yang harus mengikuti aturan keluarga tanpa hati!" tutur Azzam dingin, kegelisahan hatinya membuat Azzam kehilangan akal.
Azzam bicara tanpa arah. Dia bak pemabuk yang tak bisa mengendalikan sakit hatinya. Angga tak bisa mengenali Azzam putra kebanggaannya. Dia merasa Azzam bicara layaknya orang yang kehilangan akal. Angga menatap lekat Azzam. Dia bisa melihat kegelisahan yang tersimpan dihati Azzam selama ini.
"Azzam, hentikan sikap bodohmu. Masuk ke dalam rumah, bersihkan lukamu. Kita akan bicara saat kamu sadar. Papa akan menunda pertunanganmu dengan Nadya!" ujar Angga tegas dan lantang, seketika Azzam tertawa mendengar perkataan Angga.
"Mama, bukankah kamu ibu yang melahirkanku. Kenapa kamu mengacuhkanku? Bukankah aku meminta bantuanmu. Kenapa kamu diam membiarkan mereka memperdayaku? Haruskah aku berada pada posisi sempurna, tapi hatiku menangis!" ujar Azzam lirih, Melda menggeleng lemah.
"Kak Azzam, hentikan semua ini!" ujar Fariz, Azzam menoleh ke arah Fariz. Arif mendekat pada Azzam, lalu memeluk tubuh Azzam yang semakin melemah. Arif memeluk erat sahabatnya, dia yang paling mengetahui alasan kegilaan Azzam. Semua orang tercengang melihat kedekatan Arif dan Azzam. Tidak ada yang menyadari persahabatan diantara keduanya.
"Hentikan Azzam, semakin banyak kamu bicara. Keluargamu akan semakin penasaran alasan dibalik pemberontakkanmu. Mungkin tulangmu kuat menahan pukulan keluarga Atmaja, tapi tulang Vira tidak sekuat dirimu!" bisik Arif tepat di telingan Azzam. Dengan pelan Azzam mengangguk, lalu Arif melepaskan pelukannya. Saat dia merasa Azzam mulai tenang.
Vira berjalan menghampiri Azzam dengan membawa segelas air putih. Vira memberikannya pada Azzam. Tangan Vira bergetar membawa napan. Bukan dia takut berhadapan dengan keluarga Atmaja. Namun darah yang mengalir di tangan Azzam. Membuat Vira takut setengah mati.
"Terima kasih!" ujar Azzam, sesaat setelah meneguk air dari Vira. Setelah menerima gelas dari Azzam. Vira langsung pergi kembali ke dapur. Nadya melihat perubahan sikap Azzam setelah bertemu Vira. Rasa cemburu membutakan mata hatinya. Persahabatan dengan Vira seakan tak berarti. Hanya rasa marah yang kini nyata terlihat.
__ADS_1
"Azzam!" ujar Melda, Azzam menahan tangan Melda. Dengan langkah gontai, Azzam berjalan menuju kamarnya. Namun berhenti setelah beberapa langkah. Dia menoleh ke arah Angga Atmaja.
"Tuan Angga Atmaja, kami putramu bukan boneka. Jangan perlakukan kami layaknya aset keluarga Atmaja. Jika anda tidak ingin kehilangan kami!" ujar Azzam tegas dan dingin.
Bersamaan dengan Azzam yang masuk ke dalam rumah. Nadya berjalan penuh amarah mencari Vira. Dia ingin menegaskan posisinya dan mengakhiri persahabatan yang pernah ada. Rasa cemburu dan takut kehilangan Azzam membuatnya kehilangan akal. Melupakan semua kenangan yang pernah ada diantara dirinya dan Vira.
"Vira!" teriak Nadya lantang, Vira menoleh melihat Nadya berdiri di belakangnya. Vira tersenyum melihat Nadya datang menyapanya. Vira berjalan menghampiri Nadya dengan senyum bahagia.
Plaaakkk
Suara keras tamparan Nadya mengagetkan seluruh ART keluarga Atmaja. Nadya mengikuti Vira yang masuk ke dapur. Keras tamparan Nadya membekas di pipi Vira. Seketika Vira memegang pipinya bekas tamparan Nadya.
"Kamu keterlaluan, kamu menusukku dari belakang. Aku tahu kenapa kak Azzam bersikap seperti itu? Semua pasti karena dirimu. Kamu munafik Vira, kamu pengkhianat!" teriak Nadya kesal, Vira menggeleng lemah. Dia menahan air matanya, vira tidak ingin membenarkan semua tuduhan Nadya dengan menangis. Vira berusaha tenang dan menganggap sikap Nadya hanya emosi sesaat.
"Kenapa kamu diam? Jawab aku Vira atau aku benar. Kamu penyebab kak Azzam melukai dirinya!" ujar Nadya semakin emosi, Vira menggeleng lemah. Tangan Nadya hendak menampar Vira kedua kalinya. Namun tertahan oleh seseorang.
"Apa kamu akan diam menerima tamparan dan tuduhannya?"
"Lepaskan!" ujar Nadya lirih, dia merasa kesakitan menerima cengkraman tangan yang menahannya.
"Tidak perlu aku menyangkal atau mengiyakan tuduhan Nadya. Dia berhak menyalahkanku atau menghinaku. Aku hanya ART dimatanya kini. Secara status mungkin aku di bawahnya. Derajat kami memang berbeda, tapi secara iman kita sama. Aku diam hanya demi balas budiku padanya. Dia teman yang ada saat susah dan sedihku. Sebanyak apapun dia menamparku, aku tidak akan membalasnya. Bukan membenarkan atau takut membela diri. Namun Persahabatan yang pernah ada diantara kami. Terlalu berharga jika rusak hanya karena cinta!" tutur Vira lirih, lalu berjalan menghampiri Nadya.
"Nadya, gaun yang kamu pakai sama dengan gaji ibuku dalam sebulan. Lantas darimana aku pantas bersaing denganmu? Seandainya aku mencintai tuan Azzam, aku akan melepaskannya. Karena tulang rusukku terlalu lemah menahan beban keluarga tuan Azzam!" ujar Vira lalu menjauh dari Nadya yang termangu.
__ADS_1
"Sikap ini alasanku mencintainya!" ujar Azzam dingin sembari menghempaskan tangan Nadya kasar.