
"Pagi Azzam!" sapa Melda ramah, Azzam mengangguk pelan.
"Pagi pa!" sapa Azzam pada Angga, sekilas Angga menoleh sembari mengangguk pelan.
Tak berapa lama Fariz turun, lengkahplah anggota keluarga Atmaja. Melda menyiapkan sarapan untuk kedua jagoannya. Angga menoleh bergantian ke arah Azzam dan Fariz. Ada rasa bangga dihati Angga melihat kedua putranya duduk bersama di meja yang sama. Azzam yang membanggakan dalam dunia bisnis. Fariz putra kedua yang kelak akan membantunya dalam dunia bisnis.
"Azzam, dimana Vira? kenapa dia tidak turun bersamamu?" ujar Melda, Azzam mengangkat kedua bahunya pelan. Seolah mengatakan jika dia tidak mengetahui keberadaan Vira.
Fariz menatap ke arah Azzam. Ada amarah yang seakan siap untuk meledak. Fariz merasa ada yang salah dengan sikap Azzam. Meski sebenarnya Fariz tahu alasan sebenarnya Vira tidak ikut sarapan.
"Mungkin dia sadar kalau tidak pantas duduk satu meja dengan kita. Sebab itu dia tidak turun untuk sarapan!" sahut Angga ketus, Melda menatap tajam ke arah Angga. Isyarat agar Angga diam dan tidak banyak bicara.
Azzam diam tak menggubris perkataan Angga. Dia masih kepikiran alasan sikap dingin Vira. Di malam pertama mereka bersama. Justru terjadi kesalahpahaman yang tak semestinya. Azzam dan Vira saling diam dan bersikap dingin satu sama lain. Sedangkan Fariz tak peduli dengan perkataan Angga. Selama itu hanya sebatas ucapan, tapi jika Angga bersikap berlebihan di atas batas wajar. Fariz akan melakukan hal yang tak pernah dipikirkan Angga.
"Fariz, bukankah kamu satu kelas dengan Vira. Kenapa kamu tidak berangkat bersamanya? Jadi tidak perlu Vira pergi sendiri!" ujar Melda mencoba memancing reaksi Azzam. Sebagai seorang ibu, Melda menyadari ada perang dingin antara Azzam dan Fariz. Namun sebagai wanita dia melihat kedua putranya mencintai satu wanita.
Melda sengaja meminta Fariz berangkat dengan Vira. Sebab dia ingin melihat sejauh mana rasa khawatir Azzam pada Vira. Sebaliknya pada Fariz, Melda ingin melihat sikap Fariz akan permintaannya.
"Jangan berani kamu mengantar Vira. Ingat dia bukan hanya teman satu kampusmu. Dia sekarang kakak iparmu. Perlakukan dia selayaknya kakak ipar, tidak lebih!" sahut Azzam ketus tanpa menatap Fariz. Melda dan Angga kaget mendengar perkataan dan sikap dingin Azzam. Sedangkan Fariz seolah tak peduli akan amarah Azzam.
Fariz mengenal siapa Vira jauh sebelum Azzam? Jika dulu saja Vira selalu menolak pergi bersamanya, saat dia masih sendiri. Apalagi sekarang saat Vira sudah menjadi seorang istri. Tentu dengan lantang Vira akan menolak ajakannya, dengan atau tanpa izin suaminya.
"Aku juga tidak berminat. Selama tiga tahun aku mencoba melakukannya. Selalu dia tolak, apalagi sekarang saat ada suaminya. Tanpa bertanya aku sudah tahu jawabannya!" sahut Fariz dingin dan acuh, Azzam tersenyum tipis. Azzam bahagia mengetahui, dirinya laki-laki yang dekat dengannya. Vira menjaga kehormatannya dengan segala cara.
"Kalian berdua kenapa meributkan anak ART itu? Tidakkah kalian punya topik yang lain. Anak ART itu saja yang kalian bicarakan!" ujar Angga kesal, Melda menyenggol lengan Angga. Melda menatap tajam Angga seakan ingin memakannya. Melda mengingatkan Angga, jika Vira telah menjadi istri Azzam. Menantu keluarga Atmaja. Jadi tidak sepantasnya Angga bicara sekasar itu.
"Papa, dia istri Azzam sekarang!" ujar Azzam singkat dan jelas, Fariz tersenyum simpul. Dia melihat ketegasan seorang Azzam. Pertama kalinya Azzam bicara tentang hal lain selain bisnis dengan Angga Atmaja.
__ADS_1
"Mama, aku ada acara tambahan. Mungkin nanti malam aku telat pulang!" ujar Fariz, Melda mengangguk pelan.
Akhrinya keempat anggota keluarga Atmaja sarapan bersama. Hanya saat sarapan mereka bisa berkumpul bersama. Meja makan menjadi tempat paling istimewa di rumah ini. Sebab semua jarak dan amarah melebur tak berbekas. Meski mereka tak pernah hangat satu dengan yang lain. Namun saat sarapan mereka melupakan amarah masing-masing.
"Azzam, bagaimana perkembangan proyek luar kota yang kamu ambil alih? Kenapa papa belum mendapatkan laporannya?" ujar Angga sesaat setelah sarapan selesai. Melda menggeleng tak percaya, Angga dan Azzam dua pribadi yang sama. Mereka hanya bicara soal bisnis dan bisnis.
Fariz berdiri berpamitan pada Melda dan Angga. Fariz berjalan menuju kamarnya untuk mengambil tas. Tepat saat di tangga, dia bertemu dengan Vira yang baru saja keluar membawa beberapa buku. Fariz menyapa Vira, lalu naik menuju ke kamarnya. Meninggalkan Azzam dan Angga yang masih berdiskusi. Fariz melihat Vira bersandar di dinding dapur. Fariz menduga Vira sedang menunggu Azzam.
"Aku sudah mengirimkan detailnya pada papa. Siang ini aku ada janji bertemu dengan mereka. Jika tidak ada halangan, minggu depan kita bisa mulai melaksanakan proyeknya!" ujar Azzam, Angga manggut-manggut mengerti.
Azzam selalu bisa membuat Angga bangga dengan prestasinya. Azzam menjadi pembisnis yang disegani. Semenjak Azzam menjadi CEO, dia mampu mengembangkan bisnis keluarga Atmaja menjadi sangat pesat. Azzam menjadi CEO muda dengan berbagai prestasi. Dengan tangan dinginnya, Azzam menjadi pembisnis hebat dan tak terkalahkan.
"Papa percaya padamu. Lakukan yang terbaik untuk perusahaan kita. Papa akan selalu mendukung keputusanmu!" ujar Angga bangga.
Melda berdiri meninggalkan Angga dan Azzam. Sebelas dua belas dengan Fariz, Melda enggan mendengarkan obrolan Azzam dan Angga tentang bisnis. Melda memutuskan pergi ke dapur. Mengambilkan makanan ringan untuk Azzam sebelum ke kantor.
"Vira sayang, kenapa berdiri disini? Kenapa tidak menghampiri Azzam di meja makan?" sapa Melda ramah, saat melihat Vira menunduk bersandar pada dinding dapur.
"Azzam, Vira menunggumu!" teriak Melda lantang, sontak Azzam menoleh ke arah Melda. Dia melihat Vira diam bersandar di dinding dapur.
Angga tersenyum sinis menatap Vira. Menantu yang tak pernah dia inginkan. Wanita yang kelak bisa membuatnya jauh dari putra kebanggannya. Azzam menatap lekat Vira yang terus menunduk. Entah apa yang di benak Azzam? Namun sikap dingin vira semalam masih menyisakan tanya. Azzam takut membuat Vira semakin marah. Azzam memilih menjauh dan tidak peduli pada Vira.
"Jika papa tidak sibuk, datanglah nanti saat makan siang. Kita bisa menghadiri rapat bersama-sama!" ujar Azzam, Angga mengangguk. Azzam terus bicara dengan Angga tanpa peduli pada Vira. Melda merasa kasihan pada Vira. Azzam pribadi yang tak bisa ditebak. Sikap tak peduli Azzam, seakan mengatakan dia tidak peduli akan keberadaan Vira.
"Papa akan datang!" sahut Angga tegas.
Keduanya larut dalam pembicaraan bisnis. Azzam lupa akan keberadaan Vira. Sebaliknya Vira yang mulai merasa tersisih, memutuskan untuk berangkat tanpa Azzam. Dengan sopan Vira berpamitan pada Melda. Vira mencium punggung tangan Melda. Sedangkan Melda mencium puncak kepala Vira. Sebagai tanda dia sangat menyayangi Vira.
__ADS_1
Vira berjalan sembari menunduk melewati Angga dan Azzam. Vira tidak menoleh ke arah Azzam. Vira tidak ingin mengganggu Azzam. Sejak awal dunia mereka berbeda. Vira mulai menyadari perbedaan yang ada. Vira berjalan pelan keluar dari rumah keluarga Atmaja. Rumah yang mungkin tak pernah pantas dia tinggali. Status yang menjadi perbedaan dirinya dengan penghuni rumah ini.
"Sikap acuhmu menyadarkan aku akan satu hal. Jika aku hanya wanita yang ingin kamu miliki. Bukan wanita yang kamu hargai. Tatapan dinginmu mengingatkan diriku akan status sosialku. Tuan Azzam selamanya akan menjadi tuan muda. Sedangkan Vira akan tetap menjadi anak ART. Seandainya orang lain yang mengacuhkan dan meragukanku. Aku tidak akan terluka dan merasa tersisih. Terima kasih atas apa yang kamu berikan? Aku tidak pantas untukmu!" batin Vira pilu, sembari mengusap air mata yang menetes.
Vira berjalan menuju gerbang tinggi keluarga Atmaja. Sesekali Vira mengusap air mata yang menetes. Air mata yang jatuh dari hati yang tersakiti. Vira menekan pelan dadanya yang terasa sakit. Vira terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Vira melupakan kebahagian sesaat yang ditawarkan Azzam.
Kreeeekkkk
Pintu gerbang terbuka sempurna. Vira menatap lurus ke depan. Jalan panjang yang harus Vira lalui. Bukan dengan lemah dan air mata, tapi demi semangat untuk tetap berjuang. Vira menunduk menatap tanah merah, lalu mendongak menatap langit cerah. Vira berjanji dalam hati akan kuat menghadapi semua ini.
"Berhenti!" teriak Vira menghentikan angkutan umum. Vira harus segera berangkat, jika tidak ingin terlambat. Vira masuk ke dalam angkutan umum. Kendaraan yang selalu ada dalam langkah Azzam.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini?" ujar Azzam sembari menahan tangan Vira. Azzam menarik tubuh Vira turun dari angkutan umum.
"Maaf tuan Azzam, aku harus ke kampus!"
"Vira, cukup!" teriak Azzam kesal, Vira diam membisu. Teriakan Azzam membuat Vira terdiam.
"Maaf!"
"Aku akan mengantarmu!" ujar Azzam. Tanpa banyak bicara, Vira masuk ke dalam mobil mewah Azzam. Vira duduk di jok belakang.
"Sayang, ada apa denganmu? Sejak semalam kamu marah tanpa alasan. Pagi ini kamu pergi tanpa pamit padaku!"
"Aku harus berangkat!"
"Sayang, jika aku salah. Aku minta maaf, tapi jangan seperti ini!" ujar Azzam memelas, sembari mengulurkan tangannya. Meminta Vira turun dan duduk di depan. Vira keluar dan duduk di kursi depan. Tanpa peduli pada tangan Azzam. Entah kenapa Vira terlalu takut jatuh dalam rayuan Azzam? Sekali Azzam mengacuhkannya, rasa sakitnya tak dapat Vira tahan.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja!" ujar Vira sesaat setelah duduk di mobil Azzam. Seketika Azzam berjalan memutar. Dia duduk tepat di samping Vira. Azzam menatap sendu Vira yang terus menunduk.
"Maaf!" ujar Azzam sembari mencium tangan Vira lembut. Azzam terus menggenggam tangan Vira. Azzam tak ingin kehilangan tangan Vira.