
VIRA POV
Malam itu pertama kalinya aku menatap wajah tampanmu. Malam dimana aku mengenal sosok pewaris keluarga Atmaja? Sejujurnya malam itu bukan pertama kalinya. Namun malam pertama aku melihatmu. Setelah sekian tahun aku menyimpan rasa kagumku. Tepat di depan rumah sederhanaku, aku melihatmu berdiri menungguku. Azzam Auliqa Putra Atmaja, putra sulung keluarga terpandang di kotaku. Putra kebanggaan keluarga Atmaja, keluarga dimana ibuku mengabdi?
Malam itu hatiku bergetar hebat, suara yang tak pernah aku dengar. Suara yang entah sejak kapan aku merindukannya? Nyata terdengar kedua telingaku. Suara yang menyadarkan diriku dari lamunan panjang. Suara yang menjadi awal rasa dihatiku. Sikap hangatmu bagai api yang menghangatkan sepi malamku. Sebaliknya sikap dingin dan acuhku, hanyalah topeng agar rasaku tak terlihat olehmu.
Pertemuan sekaligus awal rasaku untukmu. Menjadi malam terindah sekaligus menakutkan. Aku hanyalah wanita lemah tanpa daya. Aku hidup tanpa berpikir ingin berjuang. Setidaknya aku tidak mengeluh atau takut terluka. Aku hidup dalam zona nyaman yang kubangun. Sampai akhirnya malam itu, pondasi keteguhanku goyah. Hadirnya dirimu nyata mengusik malamku. Imanku kalah oleh hasrat yang tak seharunya ada.
Aku kalah oleh tatapan teduhmu. Aku kalah oleh cinta yang tak seharusnya kurasakan. Aku kalah melawan keegoisan hati yang nyata memilihmu. Sampai aku lupa, siapa diriku sebenarnya? Wanita lemah tak berharta. Bukan mengeluh akan nasib, tapi perbedaan yang nyata ada. Membuatku lupa akan rasa sakit penolakan darimu atau keluargamu. Aku hanyut dalam angan rasa indah yang belum tentu bersambut.
Beberapa hari berlalu, tak pernah lagi aku bertemu denganmu. Aku kembali menjadi Vira si gadis sederhana. Sedangkan kamu menjadi tuan muda keluarga Atmaja. Status yang tak sama dan takkan pernah sama. Aku belajar mengendalikan rasaku. Kupendam rasa kagum ini. Aku sadar akan luka yang mungkin kurasakan bila terus menyimpan rasa ini.
Sampai akhirnya aku bertemu denganmu, tatapan hangatmu semakin terasa hangat. Sikapmu tak lagi sama, sangat hangat dan penuh rasa. Seakan ingin mengatakan diriku pemilik tulang rusukmu. Namun aku sadar akan perbedaan diantara kita. Kutepis semua rasa dan harapan yang kamu berikan. Aku menutup hati untukmu. Meski tanpa kusadari rasa untukku bersemi di hati terdalamku. Akhirnya kubuang semua rasaku untukmu. Ketika Nadya menjadi calon istrimu. Aku tidak ingin menyakiti hati sahabatku. Selama ini dia yang ada dikala suka dan dukaku.
Aku memberikan doa terbaikku, tapi kamu menolak dengan sebuah luka dan darah. Tahukah kamu? Aku lemas tak bertenaga, saat aku melihat darah mengalir dari tangamu. Doa terbaikku untuk kebahagianmu. Menjadi luka menyakitkan untukmu. Aku melihat kamu hancur, sehancur hatiku melihatmu bersanding dengan sahabatku. Air matamu, tak sebanyak air mataku menahan rasa sakit kehilanganmu. Hanya iman yang kupegang teguh. Agar aku mampu menatap kebahagian imam yang kuimpikan.
Waktu berputar begitu cepat, tanpa aku sadari. Hidupku berputar disekelilingmu. Aku terus menepis rasaku untukmu. Menolak rasamu untukku. Sampai akhirnya siang itu kamu menarik tubuhku. Meminta satu kesempatan dan rasa percaya. Jika kamu mampu membuatku bahagia. Sejujurnya meski tak pernah kamu memintanya. Aku percaya bahagiaku ada disampingmu. Namun tak pernah aku berani mengakui rasaku. Hanya disepertiga malam kuletakkan rasaku dan kebahagian hidupmu. Sajadah lusuhku saksi, betapa aku mengharap bahagiamu.
__ADS_1
Kuberikan satu kesempatan padamu. Dengan sikap dingimu, kubawa aku ke tempat yang tak pernah ada dibenakku. Kamu berdoa di depan nisan ayahku, waliku yang telah tiada. Dengan linangan air mata, kamu meminta restunya. Sebuah restu yang mungkin indah bila beliau masih hidup. Seketika aku tertegun, kamu meluluhkan hatiku. Benteng tinggi yang kubangun kokoh.
Aku teharu melihatmu menghargai orang tuaku. Sejak saat itu aku yakin menyerahkan segalanya padamu. Rasa hormatmu pada orang tuaku, kubalas dengan rasa cinta yang tak biasa. Kuberanikan berjuang menggapai bahagia. Berharap dirimu imam yang kelak menuntunku menuju jannah-NYA. Memberikan kebahagian sejati dalam hidupku yang sepi.
Aku menerima pinanganmu dengan bismillah. Kuawali hidup bersamu dengan berani tanpa takut akan badai. Namun nyata hari ini aku mendengar. Betapa aku telah menyakiti sahabatku. Aku menghancurkan harapan dan impian sahabatku. Orang yang pernah ada dalam suka dan dukaku. Aku menangis dalam hati. Tatkala aku mendengar cacian dan makiannya padaku. Aku tak lebih dari wanita murahan di depannya. Aku meninggalkan luka yang dalam dihatinya. hanya demi bahagiaku bersamamu.
Lama aku termenung, sampai akhirnya aku menyadari perkataannya benar. Aku tak lebih dari wanita rendah. Aku tak sepantasnya berada di dekatmu. Namun jauh darimu, mungkinkah aku mampu? Hatiku telah terikat denganmu. Jiwaku terpaut akan sosokmu. Bayanganmu mengikut disetiap langkahku. Aku lemah dan rapuh tanpamu. Namun menerima hinaan dan rasa bersalah. Aku seakan tak sanggup menahan napas.
Wahai imam pilihanku, jalan mana yang harus aku pilih? Tetap disisimu melawan semua badai di setiap langkah. Atau mundur menjauh darimu. Siap merasakan sakit kehilangan dirimu. Azzam Auliqa Putra Atmaja, kenapa aku harus mengenal dirimu? Kenapa hatiku terpaut padamu? Aku tak sanggup menahan beban ini. Kamu bahagia sekaligus sedihku. Seandainya aku bisa, ingin rasanya aku melupakan bayangmu.
VIRA POV END
"Kak Azzam!" teriak Vira histeris. Dia terkejut saat Azzam menghampirinya dengan rambut yang masih basah.
Azzam mengusap rambut basahnya ke arah wajah Vira. Sontak Vira terkejut, karena merasakan dingin di wajahnya. Vira yang tengah duduk melamun tak menyadari kehadiran Azzam disampingnya. Sebaliknya Azzam sengaja melakukan semua itu. Agar Vira sadar dari lamunannya. Azzam tak ingin Vira larut dalam lamunan panjangnya.
"Ada apa denganmu?" ujar Azzam sembari menangkup kedua wajah Vira. Azzam merasakan ada yang salah dengan sikap Vira.
__ADS_1
Sejak pulang dari kampus, Vira lebih pendiam. Setiap kali Azzam mengajaknya bicara. Vira selalu kurang fokus, bahkan terkesan tak peduli akan kehadiran Azzam. Semua berlanjut sampai Vira berada di rumah. Azzam melihat Vira duduk termenung di atas tempat tidur. Azzam melihat raut wajah Vira yang murung. Seakan beban berat sedang dirasakannya. Azzam kalut setiap kali melihat Vira sedih. Seolah ribuan duri menusuk hatinya.
"Aku baik-baik saja!" sahut Vira, sembari menepis tangan Azzam. Vira berdiri meninggalkan Azzam yang termenung. Azzam semakin yakin ada yang salah dengan Vira. Azzam merasakan firasat yang tak biasanya.
"Sayang!" ujar Azzam sembari menahan tangan Vira. Seketika Vira menoleh, dia mengedipkan kedua mata indahnya. Seolah ingin mengatakan dirinya baik-baik saja. Tanpa bicara Vira hendak berlalu dan menepis tangan Azzam.
"Sayang, apapun yang kamu takutkan. Katakan padaku, aku ada untuk menggantikan sakit dan sedihmu. Jangan jadikan diammu, isyarat meninggalkanku. Selangkah kamu pergi, saat itu juga aku rapuh. Aku mohon bicaralah!" bisik Azzam tepat di telinga Vira. Azzam menarik tubuh Vira ke dalam pelukannya.
Azzam memeluk erat tubuh Vira dari belakang. Azzam menyadarkan kepalanya bahu Vira. Mencoba mencari ketenangan dalam kegusaran hatinya. Vira merasakan pelukan hangat Azzam. Ketakutan akan kehilangan Azzam memenuhi benaknya.
"Aku mencintaimu, aku takut kehilanganmu. Namun jika kelak aku pergi, maafkan aku akan lemahku. Tetaplah kuat tanpa diriku, kamu mampu bangkit!" ujar Vira tanpa menoleh ke arah Azzam. Sontak Azzam memutar tubuh Vira menghadap ke arahnya. Azzam mengangkat dagu Vira perlahan.
"Apa yang terjadi? Siapa yang membuatmu berpikir ingin pergi dariku? Jika kamu pergi, akan kupastikan semua orang hancur melihat rapuhku. Aku mungkin tak sempurna, tapi tanpamu aku lebih tak sempurna!" ujar Azzam lirih, sembari mendekap erat Vira.
"Aku mencintaimu, jangan pernah lemah demi diriku. Kamu kuatku dan hidupku!" ujar Azzam lirih.
"Maafkan aku!"
__ADS_1