Ikhlas

Ikhlas
Dosen Idola


__ADS_3

"Assalammualaikum, selamat pagi semua!" sapa Arif di depan ruang kelas.


Seketika suara riuh para mahasiswa berhenti. Tatkala Arif Al Hakim, seorang dosen pendidikan bahasa masuk ke dalam ruang kelas. Hampir seluruh murid takjub menatap sang dosen yang masih sangat muda. Tak terkecuali Vira dan Fariz. Kedua bola mata Vira dan Fariz seakan ingin melompat dari tempatnya.


Vira begitu terkejut dan tidak pernah menyangka. Ustad Arif yang dikenal sangat ramah di lingkungannya. Tak lain salah satu dosen di kampusnya. Bahkan menjadi dosen pengajar di kelasnya. Sedangkan Fariz sangat terkejut sekaligus khawatir. Ketika dia melihat kandidat paling kuat mendapatkan cinta Vira. Menjadi dosen yang mengajarnya dan Vira. Secara otomatis dia akan memiliki banyak waktu dan kesempatan bersama Vira. Sungguh Fariz tak mampu membayangkan. Perjuangannya selama bertahun-tahun kalah oleh dosen pengajarnya sendiri.


"Waalaikumsalam!" sahut para mahasiswa serentak. Arif mengangguk pelan, lalu sekilas mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kelas. Dia menangkap satu sosok yang beberapa hari ini selalu bertemu dengannya. Kebetulan Vira duduk di tengah-tengah tepat segaris dengan posisi Arif berdiri.


Arif berjalan maju ke depan kelas. Dia berdiri di depan papan tulis. Arif menulis namanya di papan. Sebagai perkenalan awal dia dengan para muridnya. Sikap ramah Arif membuatnya mudah bergaul dengan siapa saja? Namun dia selalu menjaga batasan dengan yang bukan mukhrim. Prinsip yang selalu Arif pegang teguh.


"Perkenalkan nama saya Arif Al Hakim, panggil saya dengan pak Arif. Namun jika kalian bertemu saya di luar kampus. Silahkan panggil saya dengan nama Arif saja atau kak Arif. Saya hanya akan mengajar satu materi yaitu bahasa. Kebetulan saya mengusai beberapa bahasa!" tutur Atif menerangkan, semua mahasiswa mengangguk mengerti.


Terlihat beberapa mahasiswa perempuan menopang dagunya dengan tangan. Mereka menatap lekat Arif sang dosen muda. Bukan hanya mahasiswa perempuan. Sebagian mahasiswa laki-laki memuji ketampanan dan kepintaran Arif. Kaca mata minus yang melekat di kedua mata indahnya. Seolah menunjukkan kepintaran sang dosen. Serta penampilan Arif yang casual, tapi rapi dan sopan. Menambah aura ketampanan yang tak terbantahkan. Namun diantara rasa kagum mereka akan sosok sang dosen. Hanya Vira dan Fariz yang seolah tak peduli, bahkan sangat acuh dengan ketampanan sang dosen.

__ADS_1


"Pak Arif, sudah menikah apa belum? Jika sudah alhamdulillah. Sebab kami masih punya kesempatan, untuk tidak jomblo!" teriak Teguh sahabat Fariz. Sontak satu kelas berteriak menyoraki pertanyaan tak berbobot teguh.


Arif hanya tersenyum mendengar pertanyaan yang sama hampir di semua kelas. Bahkan dimana dia ada? Selalu saja ada pertanyaan tentang statusnya. Terkadang Arif merasa bosan, tapi lama kelamaan Arif mulai terbiasa. Dia sudah tidak peduli, bahkan acuh akan pertanyaan soal status. Sebuah status yang ditunggu oleh kedua orang tuanya.


"Kebetulan saya belum menikah!" jawab Arif singkat, sontak para mahasiswa berteriak senang. Para mahasiswa perempuan merasa senang. Berharap ada kesempatan menjadi pasangan hidup Arif. Sebaliknya mahasiswa laki-laki merasa sedih. Sebab secara otomatis Arif akan menjadi idola. Sekaligus saingan mereka. Termasuk saingan Fariz mendapatkan cinta Vira.


Setelah perkenalan selesai, Arif memulai pelajarannya. Semua mahasiswa mulai terlihat lesu. Sebab pelajaran bahasa. Selalu menjadi mata pelajaran yang membosankan dan cenderung kurang dinikmati. Namun kenyataannya berbeda dengan kelas Arif. Metode pembelajaran Arif berbeda. Dia tidak menggunakan metode satu arah, tapi dua arah. Maksudnya dia tidak hanya menyampaikan materi, tapi menerima materi dari para mahasiswa. Arif juga menggunakan alat-alat digital yang cenderung menjadi kebutuhan pokok para mahasiswanya.


Hampir dua jam Arif mengajar di kelas Vira. Waktu yang membosankan berakhir penuh dengan kecerian. Para mahasiswa terlihat menikmati cara penyampain materi Arif. Mungkin usia yang terpaut tidak terlalu jauh. Membuat mereka dengan mudah menerima materi yang diberikan Arif. Semua mahasiswa merasa kecewa, ketika bel berbunyi menandakan jam materi Arif selesai.


"Vira Azza Ifatunnisa, bisa saya minta waktu sebentar!" panggil Arif lirih, tepat saat Vira melewatinya. Arif tidak langsung keluar setelah mendengar suara bel berbunyi. Sembari menatap semua buku materi yang dibawanya. Arif menunggu Vira keluar dari kelas. Ada sesuatu yang ingin diberikan Arif pada Vira.


Vira menghentikan langkahnya, sesaat setelah mendengar Arif memanggilnya. Dia berdiri sedikit menjauh dari Arif. Dia tidak ingin ada fitnah yang tersebar di kampus. Cukup baginya gosip yang beredar di lingkungan rumahnya. Tidak ingin Vira ada gosip yang tak sedap lagi antara dirinya dan Arif. Apalagi di kampus Arif menjadi idola para mahasiswa. Sangat tidak mungkin, jika Vira terlalu dekat dengan sang dosen tampan.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu?" sahut Vira ramah, Arif mengangguk mendengar pertanyaan Vira. Meski anggukan kepalanya tidak akan pernah bisa dilihat Vira.


Tak sedetikpun Vira mengangkat kepalanya. Dia tidak melihat ke arah Arif. Vira sangat menghormati Arif, sebagai seorang dosen sekaligus ustad di lingkungannya. Sebagai seseorang dengan ilmu agama yang lebih tinggi. Vira merasa pantas untuk menghormati Arif. Sikap sopan Vira tidak membuat Arif tersinggung. Malah ada rasa yakin, jika Vira memang wanita yang tak biasa.


"Ini ada undangan dari masjid di kota. Akan ada pengajian akbar. Mungkin kamu bisa datang. Kebetulan juga akan ada bakti sosial, bagi para anak yatim dan janda. Lingkungan kita juga ikut berpartisipasi. Mungkin kamu memiliki waktu luang. Bisa membantu kami para panitia!" ujar Arif lirih, Vira mengambil undangan yang diletakkan Arif di meja tepat di depan Vira.


Melihat sikap Vira yang menjaga jarak padanya. Arif mulai mengerti, jika Vira tidak ingin disentuh atau menyentuh yang bukan mukhrim. Vira membuka undangan yang diberikan Arif. Dia melihat waktu yang tertera. Vira gamang untuk menjawab permintaan Vira.


"Saya tidak bisa berjanji bisa hadir. Ada kewajiban lain yang harus saya kerjakan. Jika semua kewajiban saya selesai. Dengan senang hati saya akan datang. Jadi sebaiknya ustad meminta bantuan orang lain. Kehadiran saya mungkin hanya sebagai peserta pengajian. Sekali lagi saya minta maaf!" ujar Vira, Arif mengangguk mengerti.


Atif sangat memahami betapa berat beban hidup Vira. Tidak sepantasnya bila Arif memaksa Vira, untuk menerima undangannya dengan melalaikan kewajibannya sebagai seorang anak.


"Tidak ada paksaan dalam undangan ini. Sekali lagi terima kasih atas waktunya. Tapi aku berharap melihatmu ada diantara peserta pengajian malam ini!" ujar Arif, Vira mengangguk. Lalu pamit untuk keluar dari ruang kelas.

__ADS_1


"Wanita yang tak biasa, seorang makmum yang akan menuntun tangan imam menuju jannah-NYA. Siapapun imammu kelak? Semoga bahagia ada bersamamu!" gumam Arif.


__ADS_2