Ikhlas

Ikhlas
Bayu Afrizal Sanjaya


__ADS_3

"Aku harus memeriksa pasien. Jika kamu ingin menungguku, silahkan saja. Aku akan kembali satu jam lagi!" Ujar Bima final, Nafisa diam menatap punggung Bima yang menjauh.


"Kakak menyimpan rasa padanya!" Batin Nafisa penasaran, tapi penuh keyakinan.


"Aku menunggu kakak di kantin!" Teriak Nafisa, Bima mengangguk tanpa menoleh pada Nafisa.


Langkah tegap Bima, menghilang diiringi tatapan nanar Nafisa. Tatapan yang seolah kecewa, lebih tepatnya cemburu pada hubungan Bima dan Farah. Dalam sekejap Farah mampu merebut perhatian dua laki-laki yang sangat dekat dengannya.


"Haruskah aku kecewa dengan keberadaannya!" Batin Nafisa penuh tanda tanya.


Nafisa melangkah menuju kantin rumah sakit. Dengan langkah gamang Nafisa terus melangkah. Sampai akhirnya langkah kakinya terhenti, ketika kedua matanya menatap kehangatan yang sangat dirindukannya. Nafisa sembunyi di balik tiang tepat di depannya. Nafisa menghindar, agar Fatih tak melihatnya dengan kecemasan di raut wajahnya.


"Mama!" Sapa Fatih, Vira mengangguk pelan. Dia melihat Fatih datang lengkap dengan pakaian kerja. Itu artinya Fatih belum pulang ke rumah. Fatih sengaja datang langsung dari kantor. Dia ingin menemui Farah, sekaligus berdiskusi dengan Vira.


"Kamu datang Fatih!"


"Kalau mama disini, Farah bersama siapa?" Ujar Fatih cemas, ketika melihat Vira berada di kantin tanpa Farah. Nafisa hanya bisa menatap pilu kehangatan Fatih dan Vira


"Dia sendirian, Farah marah pada mama!" Sahut Vira santai, Fatih menggelengkan kepalanya tak percaya. Tidak mungkin Farah marah, apalagi pada Vira ibu kandungnya. Namun kenyataannya seperti itu. Farah marah pada Vira. Dia merasa Vira telah membuat Farah malu.


"Marah, memangnya kenapa Farah mama?"


"Dokter Bima meminta Farah rawat inap beberapa hari lagi. Namun Farah menolak, tapi mama memaksa. Mama tidak ingin mengambil resiko dengan membawa Farah pulang. Lebih baik dia marah, daripada sampai di rumah dia sakit!" Ujar Vira, Fatih mengangguk pelan.


"Mama benar, aku akan mencoba membujuk Farah!" Ujar Fatih yakin, seketika Fatih heran. Dia tidak mengerti, kenapa Fatih dilarang membujuk Farah. Namun Fatih percaya, Vira melarang tentu dengan alasan yang jelas. Fatih percaya, semua akan baik-baik saja.


"Tidak perlu!" Sahut Vira, seraya menggeleng.


"Kenapa?"


"Mama mengenal Farah, dia tidak mudah mengubah pikirannya. Biarkan saja Farah seperti itu. Dia akan sembuh dengan sendirinya. Farah sangat tidak suka bila dikasihani. Biarkan Farah belajar mengendalikan egonya!"


"Baiklah, Fatih tidak akan mengganggunya!" Ujar Fatih tegas.


Vira menatap bangga Fatih. Kemeja putih yang dipadankan dengan jas hitam. Membuat Fatih nampak gagah. Ketampanan dan kharisma Azzam jelas menurun pada Fatih. Tubuh tegap dan tinggi Fatih, menambah pesona Fatih tak terbantahkan lagi.

__ADS_1


"Bagaimana hasil rapat hari ini?"


"Aku dan Bayu harus banyak belajar. Kami mengerti secara teori, tapi itu tidaklah cukup. Kami harus bisa memahami pasar!"


"Mama percaya kamu mampu. Setelah Farah keluar dari rumah sakit. Mama sendiri yang akan mengajarimu!"


"Terima kasih!" Ujar Fatih, Vira mengangguk pelan.


"Dimana Bayu?"


"Dia sedang mengambil laptop di mobil. Nanti akan menyusulku ke ruangan Farah!"


"Lebih baik kita kembali ke ruangan Farah. Mama tidak ingin melihat sikap dingin Farah pada Bayu. Cukup pada dokter Bima, Farah bersikap tak pantas!" Ujar Vira, Fatih mengutas senyum.


"Bayu bukan laki-laki sembarangan. Seorang Farah takkan membuat Bayu tersindir. Bayu bermuka tebal, dia memiliki banyak jurus meluluhkan hati wanita!" Ujar Fatih yakin, Vira hanya diam mendengar keyakinan Fatih.


Vira berjalan cepat menuju ruangan Farah, Fatih mengikuti Vira. Fatih melihat kecemasan Vira, langkah cepat sang mama. Jelas membuat Fatih sadar, jika sang mama benar-benar cemas. Fatih melihat ketakutan yang sama, ketika Farah histeris bertemu dengan Azzam. Akhirnya Fatih tersadar, Vira bukan mencemaskan Bayu. Vira mencemaskan ketakutan Farah, ketika Farah bertemu dengan Bayu. Apalagi tidak ada Fatih atau Vira di sampingnya.


"Kamu siapa?" Sapa Vira tepat di depan pintu ruangan Farah.


"Saya!"


"Dia Bayu sahabat Fatih!" Sahut Fatih memotong perkataan Bayu. Vira mengangguk mengerti, menenangkan hatinya yang gelisah.


"Kenapa tidak masuk?" Ujar Vira hangat, Bayu menggeleng lemah.


"Kenapa?" Ujar Vira, saat Vira melihat Bayu tetap diam dan menunduk.


Vira mendekat ke arah pintu yang sedikit terbuka. Nampak Farah tengah memangku Al-Quran. Farah tengah melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Seketika Vira mengangguk, mengerti alasan Bayu menghentikan langkahnya. Vira menganggumi sikap sopan Bayu terhadap Farah.


"Dia Farah adik perempuanku!" Bisik Fatih, Bayu mendongak tak percaya. Fatih mengedipkan matanya, isyarat perkataannya benar adanya.


"Dia memang adikku, kebetulan dia penghapal Al-Quran. Sejak kecil dia tinggal bersama mama. Aku baru saja mengenalnya!"


"Kamu bercanda!" Sahut Bayu lirih tak percaya.

__ADS_1


"Dia memang adik kandung Fatih!" Ujar Vira menyakinkan Bayu.


"Maaf tante, Bayu tidak percaya. Sebab Bayu mengenal Fatih sejak kecil dan tak pernah mengenal Farah!"


"Terlalu rumit dijelaskan!" Ujar Vira singkat, Bayu mengangguk tanpa menoleh ke arah Vira. Bayu merasa malu, ketika dia terpergok diam menganggumi adik sahabatnya.


"Kenapa tidak masuk?"


"Saya tidak ingin mengganggu Farah mengaji. Sekali lagi Bayu minta maaf. Suara merdu Farah, membuat Bayu termenung. Sampai tanpa sadar, Bayu berdiri lama di depan ruangan Farah!"


"Tidak perlu meminta maaf. Jika seseorang merasa damai mendengarkan lantunan ayat suci. Artinya hatinya masih diliputi rasa cinta!" Ujar Vira hangat, lalu mengajak Fatih dan Bayu masuk.


Farah terus melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Semakin lama Bayu, semakin mengagumi Farah. Ketenangan dan kefasihan Farah saat mengaji, seolah tak terusik dengan kedatangannya bersama Vira dan Fatih. Bayu terpana, melihat pribadi yang begitu sempurna. Kecantikan wajah dan hati yang menyatu dalam satu pribadi yang lembut dan teduh.


"Duduklah Bayu, tidak perlu canggung. Farah tidak akan terusik dengan kedatangan kita!" Ujar Vira, Fatih langsung mengajak Bayu duduk.


"Sekarang kalian katakan, apa yang terjadi saat rapat? Sekaligus katakan padaku, adakah yang tak kalian mengerti!"


"Tapi!"


"Tapi kenapa Bayu!"


"Farah!"


"Tidak perlu mencemaskan dia. Farah hanya akan tenang, ketika dia mengaji!" Sahut Vira sembari membawa secangkir kopi yang dibeli Vira untuk Fatih dan Bayu.


"Kenapa kehangatan itu jelas ada dalam sentuhan dan perkataan mama Vira? Sebaliknya mama selalu angkuh, seakan mama tak pernah melihat kehangatanku!" Batin Nafisa.


"Wanita sempurna!" Ujar Bayu lirih.


"Jangan terlalu gembira, takutnya kekagumanmu akan membuatmu terluka!" Bisik Fatih.


"Maksudmu?"


"Farah tak seperti Nafisa yang mudah ditaklukkan!"

__ADS_1


"Kamu terlalu banyak berpikir!" Ujar Bayu menutupi gemuruh hatinya.


__ADS_2