Ikhlas

Ikhlas
Makan Malam yang Gagal


__ADS_3

"Selamat malam, maaf saya terlambat!" Sapa Vira ramah, semua orang menoleh ke arah Vira.


Dengan gamis berwarna maroon, dipadukan dengan hijab senada. Vira datang memenuhi undangan makan malam keluarga Atmaja. Vira datang paling akhir. Fatih sudah datang bersama dengan Vika dan Arif. Sedangkan Rayyan sedang ada tugas di luar kota. Jadi Vira sebagai kakak tertua Vika. Harus datang mewakili keluarga Vika.


"Tidak ada masalah, kami semua belum mulai makan malam. Kami masih menunggu tamu penting. Jadi silahkan duduk!" Sahut Angga dingin dan angkuh, Vira mengangguk pelan.


Dia duduk tepat di ujung meja, berhadapan dengan Arka Atmaja yang duduk di ujung meja satunya. Vira membungkuk pelan, isyarat dia menyapa Arka. Namun sikap lain ditunjukkan Arka. Dia membalas sopan santun Vira dengan senyum sinis. Vira tak peduli dengan sikap Arka. Dia datang hanya demi Vika, apapun yang orang lain pikirkan? Tidak akan pernah membuat Vira kecewa atau marah.


Lama semua orang terdiam, suasana terasa kaku. Tak ada kehangatan atau rasa persaudaraan. Vika menunduk menutupi kesedihannya. Dia tidak rela melihat kakaknya tersisih. Seandainya semua bisa kembali. Mungkin tak pernah Vika berharap mengenal Arif.


"Mama!" Teriak Fatih, dia berlari sesaat setelah menghempaskan tangan Azzam kasar.


Fatih berlari menghampiri Vira. Tanpa aba-aba Fatih langsung memeluk Vira. Bergelayut manja pada leher Vira. Mencium seluruh bagian wajah Vira. Tak ayal seluruh wajah Vira basah, karena air liur Fatih. Vira menarik tubuh Fatih. Mengangkat lalu memangku Fatih. Vira meluapkan kerinduan pada buah hati tercintanya.


"Azzam, dimana dia? Bukankah kamu pergi bersama Fatih untuk menjemputnya!" Ujar Angga lirih, Azzam menoleh ke belakang. Terlihat Nadya berjalan perlahan menghampiri meja.


"Apa kabar sayang?" Sapa Angga pada Nadya. Melda berdiri menghampiri Nadya, memeluk erat Nadya. Melupakan Vira sang menantu yang sebenarnya.


Melda menuntun Nadya duduk di sampingnya. Berdampingan dengan Azzam yang duduk tepat di sebelah Fariz. Formasi lengkap keluarga Atmaja dengan calon menantu mereka. Fariz datang bersama dengan Cecil. Hubungan keduanya mulai membaik. Semenjak Fariz membuka diri, untuk mengenal Cecil.


"Nadya, kami senang kamu bersedia hadir di acara malam ini. Kamu dan Cecil pelengkap sempurna acara malam ini!" Ujar Angga senang, Vira diam membisu. Perkataan Angga membuatnya merasa tersindir. Tersisih di keramaian, sangatlah menyakitkan.


"Nadya juga senang bisa hadir malam ini!"


"Azzam, terima kasih telah membawa Nadya dengan selamat!" Ujar Angga semakin menjadi. Sindiran demi sindiran terus dilontarkan. Hanya agar Vira tersakiti dengan perkataannya.


"Nadya, di samping Fariz itu Cecil. Dia calon adik iparmu!" Ujar Angga, Nadya mengangguk mengerti maksud perkataan Angga.


Tak berapa lama para pelayan menyajikan makanan. Semua orang mendapatkan makanan sesuai pesanan. Vira dan Vika terdiam melihat menu yang disajikan. Angga tersenyum sinis, ketika dia menangkap raut wajah Vira. Angga seolah menang dengan menu pilihannya.


"Maaf nona Vira, restoran ini hanya menyajikan sea food. Jadi tidak ada makanan lain selain ini!"


"Vika, apa kamu tidak terbiasa mengkonsumsi sea food? Melihat dulu kamu miskin, jadi makanan ini mungkin asing bagimu!" Ujar Angga berlebihan, Arif menatap Vika. Seketika tangannya menggenggam erat Vika.


Arif merasa marah mendengar perkataan Angga yang seolah menghina Vika. Arif menatap lekat Vika yang terus menunduk. Rasa sakit Vika nyata terasa di hati Arif. Vira melihat ke arah Vika. Mungkin dia sakit bahkan marah mendengar sindiran Angga. Namun hatinya jauh lebih sakit, ketika dia melihat Vika dihina.


"Sayang, maafkan aku. Kita bisa pulang sekarang, jika kamu menginginkannya!" Bisik Arif seraya menggenggam erat tangan Vika.


"Papa cukup, lebih baik kita mulai makan malamnya!" Ujar Azzam lirih, Angga mengangguk pelan.

__ADS_1


Saat semua orang sibuk mengunyah makanan. Vira dan Vika hanya diam. Bahkan Fatih tak berselera dengan makanan yang ada. Mereka diam duduk tanpa bersuara. Menghormati mereka yang sedang makan malam.


"Nona Vira, jika anda tidak keberatan. Aku bisa memesankan nasi goreng di depan restoran untuk kalian!" Ujar Angga, Vira tersenyum menyahuti perkataan Angga.


"Terima kasih, kami tidak lapar!"


"Kalian tidak lapar atau tidak terbiasa dengan makanan mewah ini. Sengaja hari ini aku memesan semua ini. Karena aku ingin merayakan pertemuan Azzam dengan Nadya. Jika anda tidak ikut makan. Aku sebagai tuan rumah merasa tidak nyaman!" Ujar Angga sinis dan dingin.


"Fatih sayang, bisa turun dan tunggu mama di depan. Mama ingin bicara dengan keluarga papa!" Ujar Vira, Fatih mengangguk tanpa ragu. Fatih turun lalu berjalan menuju pintu masuk.restoran. Vira merasa tenang, sebab di depan restoran ada beberapa pengawal yang akan menjaga Fatih.


"Tuan Angga, terima kasih atas tawarannya. Memang saya dan Vika tidak terbiasa dengan makanan mahal. Jadi alangkah bijaknya, jika saya dan Vika pergi dari restoran ini. Agar kalian bisa makan dengan tenang!"


"Arif, kakak dan Vika akan pulang lebih dulu. Kamu tetaplah disini, temani keluargamu lebih lama!" Ujar Vira, seketika Vika berdiri. Tanpa menunggu persetujuan Arif.


"Sayang, kita bisa pulang bersama!" Ujar Arif, Vika menggeleng lemah. Dengan langkah pelan, Vika menjauh dari Arif.


"Kakak makanlah bersama mereka. Aku akan pulang bersama kak Vira. Maaf tidak bisa menemanimu lebih lama!"


"Maaf semuanya, aku dan Vika akan pulang lebih dulu. Semoga makan malam kalian menyenangkan!" Pamit Vira ramah, Azzam dan Arif menunduk terdiam.


"Kenapa harus pulang? Kalian bisa tetap tinggal. Ada makanan murah di depan restoran. Kalian bisa memakan itu!" Sahut Angga, Vira menangkupkan tangan di depan dada.


"Sayang, bukankah seharusnya seorang istri harus mengikuti langkah suami. Kenapa kamu malah pulang tanpaku? Masihkah kamu menghormatiku!" Ujar Arif lantang, Vira dan Vika menoleh. Perkataan Arif terasa menyakitkan di telinga mereka.


Vika melangkah menghampiri Arif yang tengah berdiri penuh rasa marah. Mungkin Arif kecewa pada Vika, karena lebih memilih Vira daripadanya.


"Kak Arif, maaf aku telah lalai. Silahkan kakak lanjutkan makan. Aku akan berdiri menunggu sampai kakak selesai makan!"


"Kenapa kamu harus berdiri?" Ujar Arif heran, Vika tersenyum di balik cadarnya. Senyum yang menyimpan air mata kepedihan.


"Vika duduklah!" Ujar Fariz, Vika menggeleng lemah.


"Vika, duduklah sayang. Biarkan kakakmu pulang lebih dulu. Mama Melda masih ingin mengenalmu!" Ujar Melda ramah.


"Terima kasih mama Melda, kaki Vika masih kuat berdiri. Silahkan kalian melanjutkan makan malam. Tak perlu pedulikan Vika!"


"Vika duduklah!" Ujar Arif, Vika mengangguk tanpa ragu.


"Ternyata kamu hanya ingin mencari perhatian. Nyatanya kamu sekarang duduk, saat Arif memintanya!"

__ADS_1


"Aku harus duduk, jika tidak kak Arif akan mengatakan aku sebagai istri durhaka!" Sahut Vika.


"Sayang!" Sahut Arif lirih, seolah merasa tak setuju dengan pendapat Vika.


"Ketika seorang istri terhina, kalian para suami hanya diam membisu. Saat istri diam menahan lapar, suami dengan lahapnya makan tanpa peduli lapar istri!" Ujar Vika, sontak Arif berdiri. Dia terkejut dengan perkataan Vika. Arif mendekat berdiri di samping Vika.


"Sayang maaf, aku tidak bermaksud!"


"Kak Arif tidak salah, kami yang salah telah memaksa menjadi bagian keluarga ini. Aku mungkin diam, saat mereka menguji kesabaranku dengan menghina harga diriku. Namun sabarku berubah menjadi amarah dan kecewa. Ketika kak Vira terus dipojokkan, bahkan malam ini dengan sengaja mengundang kak Nadya!" Ujar Vika penuh emosi, Arif menggenggam tangan Vika.


"Sayang maaf!" Ujar Arif lirih.


"Kak Azzam, sampai detik ini aku masih menganggapmu kakak ipar. Namun selangkah kak Vira keluar dari restoran ini tanpamu. Saat itu juga aku tidak lagi menganggapmu kakak ipar!" Ujar Vika lantang.


"Vika, sudah cukup. Kak Vira akan makan di luar. Kamu temani Arif, kakak sudah memesan makanan untukmu!"


"Kak Arif, itulah kasih sayang yang tulus. Kak Vira tidak akan makan sesuatu, bila aku belum makan. Namun dengan arogant, kak Arif memintaku memilih. Suami atau kakak yang peduli pada bahagia adiknya!" Tutur Vika semakin menjadi, Arif menunduk lesu.


"Dasar kakakmu yang tidak bisa menerima kenyataan. Dia sudah bukan bagian dari keluarga ini. Kenapa dia datang? Jika hanya ingin membuat keributan!" Ujar Angga ketus.


"Maaf saya permisi!" Pamit Vira.


Tap Tap Tap


"Nadya, semoga kamu bahagia!" Ujar Vira sembari menjulurkan tangan untuk bersalaman dengan Nadya.


"Terima kasih!" Sahut Nadya lirih.


"Vira, ini yang kamu harapkan!" Ujar Azzam tanpa menoleh pada Vira.


"Apapun yang aku harapkan tidak penting. Genggam tangan Nadya erat. Agar tak ada lagi Vira yang lain!" Sahut Vira, lalu berlalu meninggalkan Azzam.


"Selamat kak Azzam, selamat!" Batin Vira pilu.


"Cecil, kita pergi bersama Vira. Aku lelah pura-pura bahagia bersama mereka!" Ujar Fariz sembari menggandeng tangan Cecil.


"Fariz berhenti!"


"Dulu papa tidak bisa menghentikanku. Sekarangpun papa tidak berhak melakukannya!" Sahut Fariz lantang.

__ADS_1


__ADS_2