
"Baiklah Nadya, hati-hati di jalan. Jangan mengebut mengemudikan mobilnya!" ujar Melda, Nadya mengangguk mengiyakan. Nadya langsung masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Azzam berdiri bersandar pada mobilnya. Kesal dan bahagia bercampur aduk. Kenapa dia harus bertemu dengan Vira dalam kondisi marah? Apalagi dia sempat membentak dengan kesal tadi.
Vira berjalan menghampiri Melda, dia berpamitan pada Melda. Vira menciunm punggung tangan Melda lembut. Dengan penuh kehangatan Melda mencium puncak kepala Vira. Sejak dulu Melda menganggap Vira seperti putrinya. Namun status yang harus selalu Melda jaga. Tidak dengan mudah membiarkan dia mengakui kasih sayangnya pada Hana.
Azzam melihat sikap santun Vira pada Melda. Kelembutan dan sikap menghormati Vira pada Melda. Salah satu alasan Azzam mulai tertarik dengan Vira. Namun rasa tertarik dan kagum Azzam kepada Vira. Tidak akan mudah terwujud, melihat kegigihan orang tuanya menjodohkannya dengan Nadya. Setidaknya selama dia belum yakin akan rasanya. Azzam akan tetap bersikap biasa dan menuruti keinginan orang tuanya.
"Mama, dialah wanita yang aku harapkan menjadi pasanganku. Wanita yang menghargai dan menghormatimu. Bukan demi pujian, tapi demi restu" batin Azzam lirih.
"Tante Melda, Vira pamit pulang. Tante jangan terlalu sering mengkonsumsi makanan berminyak. Tangan tante seringa mengalami kebas. Akan tidak baik hasilnya bila terus seperti itu!" ujar Vira lirih, Melda mengangguk mengerti kecemasan Vira. Memang tangannya mulai kebas dan mengalami kesemutan. Melda sengaja menyembuyikannya, tapi sepertinya Vira mengerti akan kondisinya.
"Terima kasih sayang, tante akan mengingat pesanmu. Tante akan menjaga diri demi perhatianmu. Hati-hati di jalan, tante titip calon menantu!" ujar Melda, Vira mengangguk mengerti. Dia berjalan menjauh dari Melda. Vira membungkuk pelan ke arah Azzam. Sebagai cara Vira berpamitan pada Azzam.
"Tunggu, ada yang ingin aku berikan padamu. Ikut denganku sekarang, aku tidak ingin barangmu mengotori mobil mewahku!" ujar Azzam kesal, Melda dan Nadya terperangah mendengar perkataan Azzam. Dengan langkah pelan, Vira mengekor Azzam sampai di belakang mobilnya.
Azzam memberikan beberapa buku Vira yang tertinggal di mobilnya. Sebenarnya Azzam hanya mencari alasan. Dia ingin berbicara berdua dengan Vira. Tepat di belakang mobilnya, Azzam membuka bagasi mobilnya. Dia mengedipkan mata pada Vira, meminta Vira mengambil sendiri buku yang memang ada di bagasi mobil Azzam.
__ADS_1
"Cepat!" teriak Azzam, seketika Vira membeku. Bentakan Azzam membuat Vira terkejut, Melda dan Nadya mendengar jelas bentakan Azzam. Mereka berpikir kemarahan dan kekesalan Azzam. Imbas dari pertemuan yang terlalu dipaksakan. Melda dan Nadya tidak bisa membantu Vira. Amarah Azzam tidak mudah ditenangkan.
"Maaf!" ujar Vira, sesaat setelah mengambil buku-bukunya. Azzam diam membisu, dia tidak berniat menyahuti perkataan Vira. Sejujurnya kemarahan Azzam bukan hanya karena pertemuannya dengan Nadya. Namun doa dari Vira dan rasa bahagia ibu Vira atas perjodohan dirinya dengan Nadya. Azzam sangat kesal, mengetahui Vira yang mengatakan pada bik Siti. Azzam tidak suka bila Vira setuju akan perjodohannya dengan Nadya.
Braaakkkkk
Azzam menutup pintu bagasi mobilnya dengan sangat keras. Vira memegang dadanya yang berdetak hebat. Suara pintu mobil yang keras, seolah ingin mengatakan betapa marahnya Azzam saat ini. Melda tidak pernah melihat amarah Azzam. Dia tidak menyangka Azzam akan semarah ini. Melda hanya bisa menenangkan Nadya. Agar dia tidak terluka dan merasa bersalah.
"Tunggu!" ujar Azzam pada Vira. Ketika melihat Vira berjalan menjauh darinya. Azzam mendekat pada Vira. Dengan kasar Azzam menarik tangan Vira. Azzam menatap Vira dengan lekat. Sebaliknya Vira menunduk merasa malu. Dia telah membuat majikan ibunya semarah ini. Vira menyesalkan keteledorannya meninggalkan buku di mobil Azzam. Seandainya dia tidak melakukannya. Mungkin Azzam tidak akan semarah ini. Vira benar-benar menyesal, sangat menyesal.
Azzam melepaskan tangan Vira, seketika Vira meremas pergelangannya yang terasa nyeri. Azzam memegangnya terlalu keras. Tanpa sadar Azzam telah melukai pergelangan Vira. Dengan tatapan penuh penyesalan, Azzam melihat Vira yang menahan rasa sakit. Entah apa yang dipikirkan Azzam dengan amarahnya? Satu hal yang sangat jelas, Azzam telah melukai Vira dengan sikapnya.
"Bodoh, kenapa aku melukainya? Dia juga kenapa diam saja menerimanya? Tidak bisakah dia berteriak kesakitan!" batin Azzam menyesal.
Vira terus memijat pelan pergelangannya yang terasa nyeri. Azzam hanya bisa diam menyesal telah melukai Vira. Azzam mendekat pada Vira, dia hendak melihat pergelangan tangan Vira yang sakit. Namun tangannya terhenti di udara. Ketika dia melihat Vira menggeleng lemah.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa? Tuan Azzam tidak perlu khawatir. Anggap saja kita sekarang seri. Aku membuat anda kesal sampai dua kali hari ini. Sekarang tanpa sengaja anda melukai tanganku. Aku harap setelah hari ini, kita tidak lagi bertemu. Maaf telah mengganggu hari anda" ujar Vira lirih, tanpa menoleh pada Azzam. Vira berjalan menuju Nadya, sebaliknya Azzam terlihat kebingungan dengan sikap Vira yang dingin. Pesona Azzam tak mampu menghangatkan atau menyentuh hati Vira.
Vira menghampiri Nadya, lalu masuk ke dalam mobilnya. Melda sempat meminta maaf pada Vira akan sikap kasar Azzam. Namun dengan sopan, Vira menggelengkan kepala. Dia menjelaskan bahwa semua memang salahnya. Vira yang membuat Azzam marah. Melda tersenyum lega, ketika dia melihat Vira ataupun Nadya tidak mempermasalahkan sikap kasar dan dingin Azzam.
Mobil Nadya menjauh dari tempat parkir. Tepat di depan pintu keluar, Vira berteriak meminta Nadya menghentikan mobilnya. Dengan heran Nadya menghentikan mobilnya. Meski dia tidak mengetahui alasan Vira. Nadya pasrah menurutu perkataan Vira. Dengan tergesa-gesa Vira turun dari mobil Nadya. Meski Nadya berteriak menghentikan Vira, tetap saja Vira keluar dari mobil. Azzam melihat Vira turun dari mobil Nadya, sebab mobilnya berada tepat di belakang Vira.
"Kemana dia?" ujar Azzam lirih, sembari terus mengikuti langkah kaki Vira. Sedangkan Vira terus berlari, seakan sedang mengejar sesuatu. Azzam mulai merasa cemas, dia turun dari mobil. Begitu juga Melda dan Nadya yang turun dari mobil. Mereka mulai merasa cemas ketika melihat Vira menyebrang menerobos padatnya jalan siang ini. Tepat di seberang jalan, mereka melihat Vira menghampiri seorang nenek yang ingin menyebrang.
Sontak mereka merasa lega, Vira membantu nenek menyebrang dengan selamat. Setelah selesai membantu sang nenek. Vira berjalan menuju Nadya yang sedang menunggunya. Tanpa Vira sadari, ada sepeda motor yang melaju dengan cepat. Posisi sepeda motor yang terlalu ke tepi jalan. Membuat Vira terserempet setir sepeda. Seketika Vira terjungkal ke arah jalan raya.
"Vira…!" teriak Nadya lantang, Azzam berlari mencoba menyelamatkan Vira.
"Ukhti awas...!" teriak seseorang, lalu menarik tangan Vira menuju ke tepi jalan.
Bruuukkkk
__ADS_1
"Maaf!" ujarnya, ketika tanpa sengaja keduanya jatuh bersamaan.