
"Haruskah kamu sembunyi sejauh ini Farah!" Ujar Bayu lantang, suaranya seketika membuyarkan lamunan Farah.
Bayu berdiri tepat di samping Farah. Suara langkah kakinya terdengar begitu lirih. Sampai Farah tak menyadari akan kedatangan Bayu. Beberapa saat Bayu terdiam, melihat Farah duduk di atas kursi roda Langkah kakinya terhenti, ketika dia melihat selang infus yang masih menancap di telapak tangannya. Sejenak napas Bayu terhenti, dadanya terasa sesak. Menyadari dirinya tak mampu berbuat banyak.
Bayu merasa bodoh, tatkala tangannya tak mampu memeluk Farah. Mendekap penuh cinta tubuh Farah yang lemah. Memberikan kasih sayang hangat pada wanita yang paling dicintainya. Bayu merasa tak berdaya, saat hatinya berharap menjadi yang paling penting dalam hidup Farah. Namun nyatanya Bayh hanya bisa menatap, tanpa bisa mendekat atau mendekap erat tubuh Farah.
"Kakak!" Sapa Farah lirih dan lemah. Dia menoleh, nampak Bayu berdiri tepat di sampingnya. Bayu menatap senja, seakan ingin mengalihkan pandangannya akan sakit Farah.
Bayu tak mampu melihat Farah sakit. Dia terus berusaha menahan air matanya. Bayu tak ingin terlihat lemah. Bayu harus kuat demi Farah. Dia datang sejauh ini bukan untuk lemah dan menangis. Bayu bertekad ingin menjadi penopang Farah. Dia akan menjadi kuat, jauh lebih kuat dari bayangan Farah.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku!"
"Tentang?"
"Haruskah kamu pergi sejauh ini? Sumpah Farah, aku lelah mengejar langkah kakimu. Namun aku harus kuat, aku takkan pernah membiarkanmu pergi jauh dariku!"
"Bagaimana kakak bisa sampai di tempat ini?" Ujar Farah lirih, Bayu menoleh dengan tatapan kesal.
Bayu merasa Farah membuatnya marah. Bukannya menjawab pertanyaannya, Farah malah sibuk bertanya. Namun amarah mereda, saat melihat tatapan teduh mata Farah. Tak dapat Bayu marah pada Farah, apalagi hanya karena masalah sepele.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku!" Ujar Bayu teguh, Farah menunduk pelan. Lama Bayu melihat Farah tertunduk. Tak berapa lama, terdengar helaan napas Farah.
"Senja yang membuatku sampai di tempat ini. Ketenangan yang tak kudapatkan di kota itu!"
"Tapi mereka keluargamu!"
"Aku tahu kak, tapi keluarga yang tak sepaham denganku. Penduduk disini juga keluargaku. Mereka tak pernah menyalahkan atau meninggikanku. Mereka merangkulku tanpa ragu. Kasih sayang tulus yang membuatku sampai di tempat ini!" Tutur Farah, Bayu diam membisu.
__ADS_1
"Apa kamu masih ragu dengan ketulusanku? Aku tak berharap lebih, setidaknya jujurlah padaku Farah. Entah kamu menganggapku sebagai kakak atau lebih? Namun jangan pernah kamu pergi tanpa kata. Aku seperti kehilangan akal, aku bingung tanpa arah!"
"Buktinya kakak sampai di tempat ini!" Sahut Farah santai, Bayu menggelengkan kepalanya lemah.
"Setelah dua minggu, aku baru menemukanmu. Apa kamu pikir dua mingguku bisa terlewat dengan tenang? Demi menemukanmu, aku rela pulang ke rumah keluarga Sanjaya. Rumah yang telah lama aku tinggalkan!"
"Setidaknya hubungan yang merenggang kembali erat. Sudah seharusnya kakak pulang. Walau bukan untuk menemukanku!"
"Kamu mengenal keluargaku!" Ujar Bayu, Farah mengangguk perlahan.
"Pantas kamu terus menolakku, ternyata kamu sudah mengenal keluargaku!"
"Aku menolakmu bukan karena keluargamu. Aku tidak takut pada keluarga Atmaja, apalagi keluarga Sanjaya. Aku hanya tidak ingin menyakiti kakak!"
"Penolakanmu menyakitiku Farah!" Sahut Bayu lirih dan lemah.
Nampak wajah pucat Farah yang tertimpa cahaya emas senja. Angin sore yang dingin mulai menyapa Farah dan Bayu. Senja beranjak pergi, tapi Farah dan Bayu seolah enggan untuk pergi. Bayu menatap wajah Farah yang silau akan terang cahaya senja. Sekuat tenaga Bayu menahan diri. Tangannya gemetaran, ingin menangkup wajah cantik Farah.
Hasrat menggebu penuh dengan cinta, bukan napsu semata. Bayu hanya bisa diam menatap nanar Farah. Dengan lemah Farah mengangkat tangannya. Dia hendak menunjukkan tangannya yang ditempel selang infus. Bayu semakin sesak, saat tangan mungil Farah bengkak.
"Kenapa dengan tanganmu?" Ujar Bayu pura-pura tak mengerti. Meski jauh dalam hatinya Bayu menangis. Ingin rasanya Bayu memeluk tubuh Farah. Menjaga dan melindungi Farah, berharap sakit Farah berpindah padanya.
"Kakak jelas mengetahui arti dari tanganku. Namun kakak mengingkarinya. Tangan ini lemah kakak, dua minggu lebih tangan ini menerima suntikan tanpa henti. Seandainya tangan ini mampu bicara. Mungkin dia marah pada tubuh lemahku, karena dia menerima suntikan menyakitkan. Hanya demi meringankan sakit yang kurasakan. Wanita sepertiku tak mampu mengikuti langkah kakimu. Hatiku tak sanggup menerima tulus cintamu. Jujur kak, seandainya hanya karena keluarga Sanjaya. Aku tidak akan menolakmu, akan kulawan mereka. Seandainya aku mampu membahagiakanmu. Namun tubuhku kini lemah dan saat tubuh ini kuat. Aku harus berperang dengan keluarga Atmaja. Aku berharap sisa hidupku, mampu menyadarkan mereka!"
"Kenapa Farah? Aku mohon, jangan acuhkan diriku!" Ujar Bayu, sembari berlutut tepat di depan kursi roda Farah. Secara spontan Bayu menggenggam erat tangan Farah erat. Bayu tak sanggup lagi menahan kegelisahan hatinya. Bayu tak mampu menahan hasrat di hatinya.
"Kak!" Ujar Farah kikuk, Bayu menggelengkan kepalanya. Seolah sikapnya wajar, ketika hatinya benar-benar membutuhkan kepastian dari Farah.
__ADS_1
"Aku mohon!" Ujar Bayu lirih, sembari meletakkan kepalanya di atas tangannya dan Farah. Bayu benar-benar takut kehilangan Farah.
Farah diam menatap Bayu yang menghiba penuh ketulusan. Tak bisa dipungkiri, Farah mulai merasa nyaman di samping Bayu. Perjuangan Bayu menemukannya, bukan hal bisa dianggap sepele. Perjalanan panjang yang ditempuh Bayu. Menjadi bukti tekad rasa yang Bayu miliki untuknya. Farah tak mampu menolak rasa itu, tapi menerima rasa tulus Bayu juga bukan hal yang mudah.
"Kenapa kakak memilih wanit lemah sepertiku? Biarkan aku sendiri dengan sakit ini. Jika kakak menghiba pada diriku. Jujur aku malu, kakak pantas mendapatkan yang lebih dariku!"
"Aku mohon, biarkan aku berada di dekatmu!" Ujar Bayu memelas, Farah mengusap rambut Bayu. Harum rambut Bayu, menggetarkan hati dingin Farah. Belaian lembut Farah, nyata menggetarkan seluruh tubuh Bayu.
Bayu merasakan hangat yang tak bisa dikatakan. Nadinya berdetak hebat, aliran darahnya begitu deras. Hasrat Bayu memuncak, otak Bayu seakan ingin meledak menahan napsu yang mengisi benak dan hatinya. Belaian tangan Farah, seketika melemahkan saraf Bayu. Farah membuat Bayu tak berkutik. Cinta Bayu nyata, tak mampu dipandang sebelah mata.
"Kak, jangan lakukan ini. Aku tak pantas mendapatkannya. Hatiku penuh dengan dendam. Aku harus menyelesaikan impianku. Tak ada waktuku memikirkan urusan hati. Keluarga Atmaja masih utuh, aku belum menyentuh pondaai rumahnya!"
"Jadikanku alat menggapai impianmu. Kita bersama-sama melawan keluarga Atmaja. Setidaknya aku mampu melindungimu!" Ujar Bayu, Farah menggelengkan kepalanya pelan.
"Seorang suami bukan alat untuk balas dendam. Seorang suami menjadi penuntun dalam gelap langkah istri. Kepala keluarga yang harus dipatuhi, bukan dikekang dengan cinta. Aku tidak akan membiarkan kakak menjadi budak dalam cintaku. Kakak lebih dari kehormatanku, selamanya aku menghormatimu. Cintaku bukan penjara hidupmu, cintaku yang akan menjagamu!"
"Kamu mencintaiku!" Ujar Bayu tak percaya, Farah mengangguk pelan.
"Aku mencintaimu kak, hatiku nyaman dekat denganmu. Jiwaku gelisah jauh darimu, rinduku hanya untukmu. Namun cintaku kalah oleh ego dan impianku. Aku tak mampu menggapai cintamu, karena aku tak ingin menjadi beban dan rendah dihadapanmu. Wanita lemah penyakitan sepertiku, hanya akan membuatmu malu. Tatapan sinis orang padaku saat bersamamu. Takkan pernah bisa kuterima. Aku harus melupakan cinta ini, karena aku ingin menghancurkan keluarga Atmaja!"
"Demi aku lupakan impianmu!"
"Maaf aku tidak bisa!"
"Kalau begitu, biarkan aku menjadi tongkat penyanggamu. Aku janji akan diam di sampingmu, tanpa bertanya atau menyalahkanmu!" Ujar Bayu lantang, Farah diam sembari menatap lurus senja yang mulai menghilang. Bayu diam menunduk, genggaman tangannya semakin erat. Bayu takut kehilangan Farah. Dia takkan mamlu bertahan dengan cinta yang menggelora di dalam hatinya. Keteguhan Farah menghancurkan hati Bayu yang rapuh.
"Farah sangat mencintainya!" Batin Falan, sembari menatap Farah dan Bayu. Cahaya jingga senja, memayungi dua hati yang bingung mencari jalan penyatuan cinta.
__ADS_1