
"Farah!"
"Kakak, kenapa ada di sini?" Sahut Farah tak percaya. Bayu hanya diam seraya menoleh ke arah Arif yang ada di sampingnya.
Farah melihat Bayu sudah berdiri tepat di samping mobilnya. Farah merasa heran, sekaligus terkejut. Ketika menyadari, jika Bayu sengaja menunggunya. Namun dengan cepat, Farah membuang rasa percaya dirinya. Farah mulai mengatakan pada dirinya sendiri. Jika Bayu tidak sengaja bertemu dengannya.
"Aku menunggumu!" Sahut Arif.
"Untuk!" Sahut Farah dingin.
"Aku ingin melihatmu, apakah hatimu tenang setelah menghancurkan orang yang begitu dekat denganmu!" Ujar Arif sinis dan dingin.
"Alhamdulillah. Aku mendapatkan ketenangan, sekaligus menyadari satu hal. Hanya pada-NYA aku bisa mengeluh dan percaya. DIA yang tak pernah mengkhianati hamba-hamba-NYA. Rumah yang selalu terbuka, ketika hamba-NYA butuh. Walau terkadang ditinggalkan dan diacuhkan oleh hamba-hamba-NYA!"
"Kamu menyindirku!" Sahut Arif dingin, Farah menggelengkan kepalanya lemah.
Terutas senyum simpul di wajah Farah. Sedangkan Bayu menatap sendu Farah, wanita yang sangat dicintainya. Namun tak pernah mengharapkan cintanya. Bayu hanya bisa menatap, tak ada kata yang terucap dari bibir Bayu. Farah membuatnya terdiam membisu, cinta Bayu nyata. Namun penolakan Farah, jauh lebih nyata.
"Aku tak membandingkan dirimu dengan-NYA. Sebab dirimu berbeda, takkan pernah sama!" Sahut Farah santai.
Farah berjalan melewati Bayu yang tengah bersandar di depan mobilnya. Farah hendak masuk ke dalam mobil. Namun tepat di depan Bayu, secara spontan Bayu menahan tangan Farah. Seketika Farah menghentikan langkahnya. Farah menoleh ke arah Bayu, sebuah tatapan yang mengisyaratkan rasa tidak tahu.
"Kenapa?"
"Apa?" Sahut Farah tak mengerti, Bayu menunduk tanpa sedikitpun melonggarkan pegangannya.
"Kenapa kamu hanya mengetuk pintu rumah-NYA? Sedangkan pintu rumahku selalu terbuka untukmu. Kenapa kamu mengeluh hanya pada-NYA? Walau kamu sadar, aku siap mendengar keluh-kesahmu. Kenapa kamu menangis sendiri di hadapan-NYA? Di saat aku siap menjadi pundak tempatmu menangis. Kenapa kamu hanya mencari-NYA? Meski aku selalu menanti panggilanmu. Kenapa kamu tak mempercayaiku? Sekali saja Farah, jadikan aku penopang lelahmu. Jujur Farah, setiap tetes air matamu. Bukti lemahku yang tak mampu merangkulmu. Suara tangismu, menyayat tipis hatiku. Percaya atau tidak, disaat kamu melantunkan ayat suci Al-Quran. Aku menangis, meratapi kebodohanku yang tak mampu menyentuh hati kecilmu!" Tutur Bayu lirih, Farah diam termenung.
Farah menunduk, seolah perkataan Bayu merasuk dalam jiwa bekunya. Farah terenyuh, ketika ada seseorang yang menawarkan rasa tulus padanya. Namun Farah tak menyadari satu hal. Rasa tulus Bayu, hanya akan membuat Farah lemah. Seandainya rasa itu ada dihati Farah. Ada sedikit ketakutan dalam hati Farah. Jika Bayu tersakiti dengan rasa cinta Farah.
__ADS_1
"Terima kasih, tapi maaf kak. Cintamu terlalu tulus, untuk hati gelapku. Rasamu terlalu suci, sehingga aku takut ternoda dengan tujuanku. Akan ada hati yang pantas untukmu. Saat itu terjadi, aku orang pertama yang mengucapkan selamat untukmu. Saat ini, hanya pada-NYA aku bersandar. Agar tak ada hati tersakiti!" Ujar Farah tegas, tangannya menepis perlahan tangan Bayu.
Bayu menatap sendu Farah, lagi dan lagi Farah menolak rasanya. Bayu tak pernah terluka dengan penolakan Farah. Namun Bayu merasa hancur, melihat sakit Farah dalam gelap malam. Sendiri tanpa ada yang menemani Farah. Kerapuhan Farah yang terlihat di kedua mata Bayu. Jelas menghancurkan hati Bayu, terasa sakit dan menyesakkan. Bayu benar-benar tak berdaya, kalah akan teguh pendirian Farah.
"Farah!"
"Ada apa lagi?" Sahut Farah dingin, Arif menatap Farah tajam.
"Kamu terlalu mudah menyakiti, sampai kamu tak mampu menghargai cinta tulus Bayu. Entah apa kesalahan kak Vira? Sampai dia harus melahirkan putri sepertimu!"
"Seandainya aku bisa memilih, tak pernah aku ingin dilahirkan. Jika nyata hadirku menjadi alasan sakit mama. Anda tak mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Silahkan anda menghina atau berpendapat buruk tentang saya. Namun jangan pernah salahkan mama. Dia sudah cukup hancur, ketika melahirkanku tanpa tuan Azzam disisinya. Kehancurannya semakin lengkap, saat aku tak pernah mendapatkan pengakuan keluarga Atmaja!"
"Kamu!" Ujar Arif emosi, Bayu menahan tangan Arif. Gelengan kepala Bayu, isyarat agar Arif diam dan mengalah. Bayu berharap tak ada perdebatan untuk malam ini.
"Farah, tante Vira sakit. Saat ini beliau ada di rumah sakit. Alasan aku dan om Arif menunggumu. Kami ingin kamu mengunjungi tante Vira!"
Sekuat tenaga Farah bersandar pada mobil. Bayu berlari menghampiri Farah. Namun langkahnya terhenti, tepat ketika Farah mengangkat tangannya. Farah melarang Bayu mendekat.
"Jangan mendekat, sekali perhatianmu akan membuatku luluh. Aku mampu sendiri sampai detik ini. Jadi biarkan aku sendiri!" Ujar Farah tegas, lalu membuka pintu mobilnya.
Bayu menggelengkan kepalanya tak percaya. Lalu dengan sigap Bayu merampas kunci mobil Farah. Dengan kedua tangan kuatnya, Bayu membopong Farah. Arif membuka pintu mobil Farah sisi kiri. Tanpa banyak bicara, Bayu menyandarkan Farah di kursi mobil. Bahkan Bayu memasangkan sabuk pengaman. Bayu tak peduli akan amarah Farah, pemberontakan Farah tak berarti. Bayu masuk ke dalam mobil Farah.
"Kamu lancang!"
"Aku mungkin kurang ajar, tapi diam melihatmu kerasmu. Akan membuatku menyesal seumur hidup!" Ujar Bayu final, Farah menoleh ke arah lain. Farah melihat keluar jendela mobilnya. Sekilas Bayu menoleh, tangan bergetar menahan gejolak hatinya. Bayu mencoba menahan diri, agar tangannya tak menyentuh Farah lebih intim.
Bayu melajukan mobil Farah, menerjang gelap malam. Tak ada suara dalam mobil, hanya suara napas yang terdengar begitu nyaring. Bayu dan Farah, sama-sama diam membisu. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
"Turunlah!" Ujar Bayu lirih, Farah mendongak. Dia melihat ke sisi kirinya, nampak sebuah rumah sakit. Tanpa Farah sadari, dia telah tub di rumah sakit.
__ADS_1
"Tante Vira ada di kamar VVIP 3!" Ujar Bayu lagi. Farah mengangguk tanpa menoleh ke arah Bayu.
"Terima kasih!" Ujar Farah lirih, lalu turun dari mobilnya. Bayu mengangguk, meski dia sadar Farah takkan melihatnya. Farah terlalu marah, sampai dia tak ingin menoleh ke arah Bayu.
Farah berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Dia melewati lorong rumah sakit mencari kamar Vira. Sampai akhirnya Farah menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar Vira.
Tok Tok Tok
"Permisi!" Ujar Farah sembari membuka pintu.
"Farah, kamu datang sayang!" Ujar Vira mengangguk pelan.
Farah diam mematung di dekat pintu. Vira menggelengkan kepalanya lemah, melihat Farah yang tak ingin mendekat ke arahnya. Vira mengetahui alasan Farah, tapi tak ada yang bisa dilakukan Vira. Farah benar-benar teguh dengan pendiriannya.
"Sayang kemarilah, mama merindukanmu!" Ujar Vira, Farah diam membisu.
"Kenapa tidak masuk?" Ujar Azzam lirih, Azzam baru saja selesai sholat malam.
"Maaf mama, Farah harus pulang. Besok pagi sebelum Farah berangkat ke luar kota. Farah akan mampir. Semoga mama lekas sembuh!" Ujar Farah, lalu memutar tubuhnya. Farah hendak berjalan keluar. Namun langkahnya terhenti, ketika mendengar suara Azzam.
"Tunggu, tidak perlu keluar. Aku yang akan keluar!"
"Tidak perlu, mama akan baik-baik saja tanpaku!"
"Tinggalah, demi mamamu!" Ujar Azzam lirih.
"Aku akan datang nanti!" Sahut Farah dingin.
"Mama, diakah laki-laki yang membuatmu hancur. Laki-laki yang seharusnya kupanggil papa. Dia yang mampu membuatmu tenang. Sandaran dikala sakitmu. Pelipur di saat laramu. Mama, maafkan Farah yang tak mampu menerimanya. Maafkan Farah!" Batin Farah pilu, lalu meninggalkan ruangan Vira.
__ADS_1