
"Selamat pagi pa!" Suara riang seorang gadis remaja. Dari cara bicaranya, jelas dia seseorang yang ceria dan mudah bergaul.
Dua puluh tahun banyak merubah hidup Azzam. Hidup yang dulu pernah hangat, kini kembali dingin tak berhati. Azzam menjadi sosok yang tak bisa digapai. Kepergian Vira, menjadikan Azzam sosok yang mengerikan. Azzam merubah dirinya menjadi gunung es yang siap membekukan siapa saja yang mendekatinya? Tidak terkecuali Nadya dan putri kecilnya.
Azzam merasa hancur dengan kepergian Vira. Sampai Azzam berpikir ingin menghancurkan hati yang memiliki cinta. Agar rasa sakitnya juga dirasakan oleh orang lain. Azzam bak robot yang tak berhati. Dalam pekerjaan dia tegas tanpa kata ampun. Sedagkan di dalam rumah, Azzam dingin tak tersentuh. Riang tawa putrinya tak lagi mampu membuat Azzam tertawa lepas.
"Pagi!" Sahut Azzam dingin, Nadya hanya melirik mendengar sahutan Azzam.
Sahutan yang sudah sangat bagus. Mengingat sikap Azzam yang tak pernah hangat pada keluarganya. Azzam bagai tubuh yang hidup tanpa nyawa. Nadya tak pernah peduli dengan dingin Azzam. Selama Azzam tak menyakiti hati putrinya. Nadya bertahan demi putrinya, Nadya juga akan bangkit demi putrinya pula.
Nadya sudah terlalu biasa mendengar dingin sahutan Azzam. Bukan hanya setahun atau dua tahun, bertahun-tahun Nadya mencoba menghangatkan hati beku Azzam. Namun semua sia-sia, hati Azzam terlanjur membeku dan dingin. Tak ada hangat dalam tatapan Azzam. Tak ada lembut dalam suara Azzam. Tak ada cinta dalam sentuhan Azzam. Semua terasa dingin layaknya es yang siap membekukan.
Hubungan yang hambar tanpa rasa, dingin tanpa hangat dan bahagia tanpa cinta. Hubungan yang mencoba bertahan hanya demi satu nama. Samaira Nafisa, putri mempesona keluarga besar Azzam Atmaja. Adik sedarah Fatih yang tak pernah dianggap olehnya. Adik yang merindukan kasih sayang seorang kakak dalam diam. Seorang anak yang lahir dengan cinta, meski Azzam tak pernah mengakui rasa cintanya pada Nadya.
"Papa!" Sapa seorang gadis dengan suara riangnya.
Putri kecil Azzam yang lahir dari pernikahan tanpa cinta. Putri yang menggemakan tawa di rumah tanpa cinta. Rumah yang selalu sepi, jauh dari hangat dan kasih sayang. Sikap dingin Azzam, semakin membuat rumah megahnya suram. Tak ada cinta atau kehangatan, Azzam larut dalam duka dan putus asanya. Kehilangan Vira jelas merubah jalan hidupnya. Azzam lupa akan tanggungjawabnya pada keluarga kecil yang telah dibangunnya.
"Hemmm!" Sahut Azzam dingin tanpa mengangkat wajahnya.
Nadya menggeleng lemah, seakan tak percaya sikap Azzam tetap sama. Meski bertahun-tahun dia mencoba bertahan di samping Azzam. Tak ada kasih sayang yang nyata untuk Nadya. Cinta Azzam tak pernah berpaling, meski ada seorang putri diantara Azzam dan Nadya. Namun kehadiran putri kecil nan cantik. Tak mampu merubah dingin Azzam menjadi hangat.
"Pagi ini aku berangkat ke kampus bersama papa!" Pinta Nafisa riang, senyum ceria yang selalu terutas di wajah cantiknya. Berharap sekali saja Azzam tergugah dengan senyumnya.
Azzam nampak diam, tak ada sahutan atau anggukan kepala. Azzam bak tubuh tanpa hati, dia begitu dingin dan hatinya tak tersentuh oleh apapun. Azzam seakan robot yang tak pernah mengenal cinta. Azzam begitu tenang, bahkan terkesan tak peduli akan permintaan putri kecilnya.
"Kenapa kamu pergi bersama papa? Kemana mobilmu?" Ujar Nadya heran, Nafisa tersenyum simpul mendengar perkataan Nadya.
Sebuah senyum yang menyiratkan sesuatu yang istimewa. Nafisa sengaja menyembuyikan niat dibalik keinginannya pergi bersama Azzam. Nafisa merasa bahagia, karena akan ada kejutan untuk ayah yang begitu disayanginya. Nafisa mencoba membuat tawa dalam dingin Azzam. Sebuah pertemuan yang sudah dirancang Nafisa sejak beberapa bulan yang lalu. Berharap semua akan membaik dan meninggalkan kebahagian bagi Azzam. Ayah yang begitu dirindukannya.
"Ada!" Sahutnya polos.
"Lantas, untuk apa berangkat bersama papa?" Sahut Nadya dingin, Nafisa hanya tersenyum. Sesekali dia melirik ke arah Azzam.
Nafisa menunduk sesaat setelah dia melihat sikap Azzam. Nafisa sedih, tatkala dia menyadari Azzam mengacuhkan setiap perkataannya. Tak ada hangat atau sekadar basa-basi menanggapi permintaannya. Azzam hanya diam, menunduk menatap piring yang ada di depannya. Tak sekalipun Azzam mendongak, menatap raut wajah putri kecilnya.
"Aku berangkat sekarang!" Ujar Azzam, tanpa menoleh ke arah Nadya.
Braaakkk
Suara dorongan kursi Azzam, memecah sunyi yang tiba-tiba hadir. Nafisa hanya terdiam membisu, sikap acuh Azzam jelas melukai hatinya. Nadya hanya bisa diam dan pasrah. Ketika dia melihat rasa sakit putrinya. Tak ada yang bisa merubah dingin Azzam menjadi hangat. Terkadang Nadya ingin marah, sekadar melampiaskan rasa sakitnya. Namun cintanya pada Azzam membuatnya lemah. Cinta yang terlalu besar membuatnya terus kalah dan mengalah.
__ADS_1
Braaakkk
"Papa!" Teriak Nafisa, bersamaan dengan suara kursi yang di dorongnya.
Azzam menghentikan langkahnya. Tanpa menoleh Azzam menunggu, lagi dan lagi Nadya tertunduk. Tak sedikitpun nampak kasih sayang Azzam pada Nafisa. Meski sesekali Nadya melihat kehangatan Azzam. Namun semua itu jarang dan mahal.
"Papa serius tidak akan menghadiri acara di kampusku!"
"Papa ada rapat, setelah itu papa harus krluar kota!" Sahut Azzam tegas, Nafisa berjalan menghampiri Azzam.
Namun langkahnya terhenti, ketika Nadya menahan tangannya. Nadya menggeleng lemah, seolah meminta Nafisa berhenti meminta. Dengan lembut Nafisa menepis tangan Nadya. Seutas senyum simpul menandakan Nafisa baik-baik saja.
"Nafisa, jangan ganggu papamu. Dia sangat sibuk!" Teriak Nadya mencegah Nafisa. Sesaat setelah dia melihat Nafisa terus mendekat ke arah Azzam yang berdiri mematung tak jauh dari mereka.
"Sebentar saja papa datang ke kampus. Percayalah, waktu yang aku minta tidak akan membuat papa merugi!"
"Maafkan papa!"
"Setidaknya demi dua puluh tahun yang hilang dalam hidup kak Fatih!" Ujar Nafisa lirih, seketika Azzam terdiam. Jantungnya berdegup hebat. Nadya mundur beberapa langkah, kedua bola matanya membulat sempurna.
Nadya merasa takut, sekaligus tak percaya. Saat telinganya mendengar nama yang tak pernah ingin di dengarnya. Putra yang membuat Azzam berubah 180°. Putra yang memilih melupakan ayah kandungnya. Menjauh dari keluarga yang begitu mengharapkannya. Sebuah nama yang tak pernah disebut selama dua puluh tahun. Pagi ini dengan lantang Nafisa mengingatkannya. Hari yang tak pernah Nadya harapkan, rasa takut kehilangan menguasai hatinya.
"Nafisa, mama sudah katakan. Papa sedang sibuk, jangan ganggu dia!" Ujar Nadya kesal, Nafisa menggeleng tak setuju. Azzam termenung, nama yang begitu dirindukannya. Terdengar jelas di kedua telinganya. Membuncahkan rasa rindu yang tak tertulis.
"Hari ini kesempatan pertama dan mungkin terakhir papa bisa menyapa kak Fatih. Setelah dua puluh tahun papa menahan rindu. Hari ini papa memiliki kesempatan itu. Papa bisa menjadi ayah yang takkan pernah bisa ditolak oleh kak Fatih!"
"Nafisa diam kamu!" Teriak Nadya marah.
"Pa, hari ini kak Fatih akan menjadi mahasiswa terbaik di kampus. Dia lulus dengan prestasi yang luar biasa. Kak Fatih mungkin tak mengharapkan ucapan selamat dari kita. Namun dia tidak akan menolak, ucapan selamat dari tamu kehormatan kampus!" Ujar Nafisa lugas, Azzam menoleh menatap heran Nafisa.
Azzam terkejut ketika mendengar nama Fatih. Apalagi Fatih akan lulus dari universitas, yang artinya waktu telah berputar begitu cepat. Fatih tak lagi anak-anak, kini dia tumbuh dewasa. Putra kecilnya dulu telah menjadi pria yang mapan. Namun satu hal yang sama. Penolakan Fatih akan dirinya, masih sama. Azzam hancur setiap kali menyadari, Fatih tumbuh besar tanpannya dan Vira.
"Maksudmu?"
"Papa tidak akan bisa menjadi ayah bagi kak Fatih di saat terbaiknya. Namun papa bisa menjadi perwakilan kampus yang bangga dengan mahasiswanya!" Ujar Nafisa lantang dan riang.
Azzam tak lagi bisa menahan kerinduannya. Perkataan Nafisa seolah memberikan angis sejuk dalam dahaga kerinduannya pada Fatih. Azzam selalu menunggu kesempatan untuk memeluk Fatih. Mungkin hari in, waktu yang tepat bagi Azzam mendekap erat Fatih. Mengucapkan kata selamat, karena mampu tumbuh dewasa tanpanya. Fatih menjadi kebanggaan Azzam. Jauh sebelum Azzam mendengar prestasi Fatih yang membanggakan.
"Nafisa cukup!" Tegur Nadya lantang, seketika Azzam mengangkat tangannya. Azzam membuka lebar telapak tangan kanannya. Isyarat agar Nadya diam, tak ikut campur urusannya dengan Nafisa.
"Katakan dengan jelas!" Sahut Azzam dingin.
__ADS_1
"Undangan yang mungkin tak pernah sampai ke tangan papa!" Ujar Nafisa, sembari menyodorkan undangan ke arah Azzam.
Dengan sigap Azzam mengambil undangan yang nampak begitu rapi. Undangan yang begitu mewah, jelas hanya untuk tamu-tamu yang istimewa dan penting. Perlahan Azzam membuka sampul undangan. Dengan seksama Azzam membaca setiap kata yang tertulis. Kedua matanya terpaku pada satu nama yang nyata akan menjadi bintang acara.
"Kenapa undangan ini ada padamu?" Ujar Azzam hetan, Nafisa mengangkat kedua bahunya. Dia seolah tak mengerti, alasan yang tepat menjawab pertanyaan Azzam. Namun sedetik kemudian, Nafisa sadar hanya kejujuran yang akan membuatnya tenang.
"Aku menemukannya di dalam tong sampah. Mungkin tanpa sengaja ada yang membuanganya!" Sahut Nafisa polos, Azzam langsung menoleh ke arah Nadya. Sontak saja Nadya menunduk, dia merasa tertuduh dengan tatapan tajam Azzam.
"Kita pergi sekarang!" Ujar Azzam dingin, Nafisa mengangguk tanpa ragu.
"Fatih putraku, aku harap hari ini akan menjadi awal yang baik. Kesempatan yang selalu papa tunggu. Doa tulus yang papa panjatkan. Satu harapan bertemu dan menatap wajahmu. Menjabat hangat tanganmu, mengucapkan kata selamat akan keberhasilanmu. Sungguh papa bahagia membayangkan pertemuan diantara kita. Papa merasa menjadi orang yang paling beruntung. Papa takkan pernah menyesal, seandainya hari ini menjadi hari terakhir papa hidup. Asalkan papa melihat wajahmu, memeluk erat tubuhmu dan membelai lembut kepalamu. Papa bahagia Fatih, bahagia!" batin Azzam penuh keharuan.
"Sifatmu tak pernah berubah, alasan yang membuatku tak pernah bisa mencintaimu!" Bisik Azzam tepat di telinga Nadya. Perkataan tajam yang menghunus tepat di hati Nadya yang lemah.
"Fatih, kita akan bertemu. Papa pastikan kamu akan menerima uluran tangan papa. Tangan yang selalu kamu tepis, pelukan yang selalu kamu acuhkan. Dua puluh tahun papa menunggu hari ini. Harapan yang tak pernah pupus, meski selalu sakit dengan penolakanmu. Fatih, jika kamu sadari. Luka itu bukan hanya kamu yang merasakannya. Papa sakit, papa hancur, papa rapuh, tapi papa jauh lebih tak berdaya. Setiap kali melihat tatapan penuh kebencianmu. Hidup papa gelap tanpamu. Vira telah mematikan pelita kecil dalam hati papa. Dia yang dulu menghangatkan hati papa. Dia pula yang membuatnya gelap. Seandainya papa bisa menyentuhmu, papa ingin mendekapmu. Mengatakan seluruh sakit kehilangan mamamu. Papa merindukanmu, papa merindukan mamamu. Namun rindu ini takkan lagi sama. Semua telah berubah, papa tak lagi sama!" Batin Azzam pilu.
"Nafisa!" Panggil Nadya lirih, tatapan Nadya mengisyaratkan hal yang aneh pada Nafisa. Namun sikap periang Nafisa, tak lantas membuatnya peduli dengan pendapat Nadya. Sejak dulu Nafisa tak pernah sepaham dengan Nadya. Apalagi jika menyangkut Fatih, saudara lain ibu. Lebih tepatnya putra Vira, wanita yang mengisi hati Azzam sepenuhnya.
"Ada apa ma?" Sahut Nafisa santai, seolah dia tak mengerti arti tatapan Nadya.
Nafisa mungkin masih sangat muda, tapi dia sadar betul akan kondisi pernikahan kedua orang tuanya. Nafisa tak pernah merasa kecewa, ketika menyadari sikap dingin Azzam pada Nadya. Selama Azzam setia dan tidak menduakan Nadya. Nafisa mencoba ikhlas, saat dia harus melihat hubungan tak sehat kedua orang tuanya. Nafisa mampu bersikap dewasa, hanya demi ketenangan Nadya ibu yang melahirkannya.
"Kenapa kamu menyebut nama Fatih di depan papa?"
"Mungkin mama benci kak Fatih, tapi sampai kapanpun kak Fatih kakak kandung Nafisa?" Ujar Nafisa tegas dan lantang.
Nafisa tegas menolak keinginan Nadya. Nafisa selalu menganggap Fatih sebagai kakaknya. Meski untuk itu, Nafisa harus berdebat atau berselisih dengan Nadya. Sebagai seorang anak, Nafisa terkadang merasa sepi. Dia memilik ayah, tapi tak pernah merasakan dekap hangat dan pembelaan Azzam. Sebab itu Nafisa selalu ingin dekat dengan Fatih. Agar Nafisa merasakan hangat pelukan seorang kakak. Serta rasa nyaman saat ada yang menjaganya.
"Tapi dia tak pernah menganggapmu adik!"
"Tidak penting dia mengakuiku atau tidak. Aku sudah bahagia melihat papa bahagia. Dua puluh tahun, aku mencoba membuat papa tersenyum. Mencoba mengukir kenangan dengannya, tapi semua sia-sia. Dua puluh tahunku kalah hanya dengan dua tahun kebersamaan papa dengan kak Fatih. Hari ini dengan cara apapun? Akan aku pertemukan mereka. Papa berhak memeluk kak Fatih!"
"Nafisa!" Teriak Nadya marah, Nafisa berlalu tanpa peduli pada Nadya.
Nafisa teguh ingin mempertemukan Azzam dengan Fatih. Pertemuan yang tak pernah diharapkan Nadya. Sebagai seorang istri, Nadya hanya istri di atas kertas. Bahkan Nafisa hanya putri yang selalu diacuhkan oleh Azzam. Sebagai seorang ayah, Azzam hanya memenuhi kebutuhan Fisik Nafisa. Namun kebutuhan batin, Nafisa tak pernah merasakan kasih sayang Azzam yang utuh.
"Kental air takkan pernah bisa gantikan kental darah!" Sahut Nafisa sembari berlari.
Azzam mendengar perkataan Nafisa, sejenak Azzam merasa bahagia. Ketika Nafisa mengakui hubungan saudara dengan Fatih. Putra yang begitu disayanginya. Buah hati yang begitu diharapkannya. Namun tak pernah dia sentuh, bahkan dipeluk. Azzam sangat jauh dari Fatih. Kehancuran yang seolah lengkap, ketika Vira pergi dan Fatih tak menginginkannya.
"Kak Fatih aku datang bersama papa!" Batin Nafisa penuh kebahagian.
__ADS_1