
“Saya nikah dan kawinkan engkau, Rivan binti Bardi dengan putri saya. Rinjani binti Surya dengan mas kawin sebesar dua puluh juta di bayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Rinjani binti Surya dengan mas kawin dua puluh juta di bayar tunai.”
SAH ...
Air mataku mulai berembun. Hilang sudah harapanku untuk bersama Mas Riwan. Belum sempat kujawab tentang perasaannya, melainkan undangan sebagai jawaban atas pertanyaannya tempo lalu.
Sesekali kulirik manik mata coklat milik Mas Riwan. Sorot matanya memancarkan kepedihan yang begitu dalam. Cinta di hati kami sangat luas, namun takdir tidak berpihak pada cinta ini.
Embun di pelupuk mataku semakin berdesak-desakan. Akhirnya, air mataku luruh begitu saja. Kucium punggung Mas Rivan yang saat ini sudah menjadi suamiku, sebagai tanda hormat. Setelah itu, di cium dahiku dengan terpaksa. Meski tanpa bicara, aku tahu tatapan itu bukan tatapan kagum ataupun suka.
“Cepat hapus air matamu. Aku nggak mau foto pernikahanku jadi jelek, karena make upmu yang cemong.” Bisiknya.
“Kurang ajar! Tunggu pembalasanku.“ rutukku pelan.
Amarahku kian meledak-ledak di dalam hati. Berbanding terbalik dengannya yang terlihat santai-santai saja. Ekspresinya seakan datar tidak menunjukan kegelisahan sedikit pun.
Langkah demi langkah acara berjalan dengan lancar. Semua keluarga sudah pulang ke rumah masing-masing.
Kurebahkan tubuh ke atas kasur berseprai putih yang penuh dengan bunga mawar bertebaran. Tubuhku sangat letih. Acara yang sangat menguras hati, pikiran dan tenaga.
“Heh, siapa suruh kamu tidur di sini?” gertakku pada sosok yang ikut merebahkan tubuhnya di sampingku. Siapa lagi kalau bukan Rivan, si manusia aneh itu.
“Mau tidur sama kamu.” Jawabnya enteng.
“Apa!?”
Mataku terbelalak.
“Jangan ngimpi kamu. Sekali kamu sentuh aku, aku akan bunuh diri sekarang juga.” Ancamku menggenggam tusuk konde acara pernikahanku.
“Silahkan saja, kalau tusuk konde terlalu sakit. Pakailah ini.” Rivan menyerahkan racun tikus.
Glek ...,
Menelan ludah dalam-dalam.
Tubuh Rinjani bergetar, keringat mengucur deras di pelipisnya. Sejujurnya aku hanya mengancam. Disuntik saja takut, apalagi bunuh diri. Lagi pula perbuatan itu sangat di laknat oleh Allah.
“Sudah selesai belum bunuh dirinya?” tanya Rivan.
“Menyebalkan ...,”
Saatnya membersihkan diri. Air seakan mengobati rasa lelah di acara resepsi. Sejuk dan segar menciptakan kenyamanan tersendiri.
Kuedarkan pandanganku ke sekeliling kamar mandi. Dan ternyata ...
Kyaaa ..., tolong ...,
__ADS_1
Ada penampakan kepala menyembul di ambang pintu. Ternyata Rivan sedang mengitip. Lebih tepatnya melihatku mandi secara sengaja. Kurang asem, aku lupa mengunci pintu.
“Aw ...,” teriaknya kesakitan setelah kupukul dengan gayung sekuat tenaga.
“Rasakan!”
Kuakhiri mandiku malam ini, meski belum puas aku menyiramkan air.
Tes ..., tes ..., darah di kepalanya mengucur deras. Ia terlihat meringis kesakitan. Pertahananku pun luluh. Ku ambil kotak P3K di dalam laci.
“Sini aku obatin” tawarku.
“Tidak usah.”
“Huh, sini. Siapa suruh mengintip. Dasar mesum!”
“Tidak ada kata mesum di antara suami istri.”
DEG ...,
Mataku terbelalak. Rasanya sesak bahkan terasa panas dari dalam hatiku. Bagaikan bohlam lampu yang semakin lama semakin panas. Lalu, mengeluarkan asapnya dari ubun-ubun. Kemudian, duuar ..., meledak seketika.
samar-samar penglihatan ini mulai kabur dan gelap.
“Rinjani ..., suka tidak suka, kau harus menjadi permaisuriku! Hahaha ...,” suara itu, begitu menggema kuat di telinga.
Bulu kuduk di tengkuk serasa berdiri tegak.
“Akulah Rahwana. Hahaha ...,”
Deg . . .
Tubuhku berdesir hebat. Rahwana? Siapa Rahwana?
Bola mataku memutar menelisih kisah tentang Rahwana. Diceritakan Rahwana yang berwatak jahat sengaja menculik Shinta Permaisuri Raja Rama, untuk dijadikan istri. Sungguh kisah yang sangat miris.
“Tidak ..., aku tidak mau.” Air mataku luruh. Terasa sesak di dalam dada. jantungku berdetak hebat membuat tubuh berdesir.
Ingin rasanya kumaki suara jahat itu. Tetapi, lidah ini begitu kelu. Apa salahku? Mengapa nasibku sangat tragis?
“Lebih baik kamu mati, jika tidak mau bersanding denganku!”
Peluhku bercuran deras. Nafasku semakin memburu tak beraturan.
“Tidak ...,” jeritku ketakutan.
Ah, ternyata hanya mimpi.
“Kamu sudah sadar?” tanya Rivan menepuk kedua pipiku.
__ADS_1
“Eng, kamu ndak ngapa-ngapain aku kan?”
Ia hanya diam mengerutkan dahi. Entah apa yang sedang berlalu lalang dipikirannya. Sungguh, tak rela hati ini, jika harus disentuh olehnya.
“Cuma dikit kok. Hehe ...,” Ia terkekeh.
“Kamu jahat!” teriakku meraung-raung.
Rivan begitu lancang. Ia begitu tega menyentuhku tanpa izin. Walaupun ikatan ini halal dan suci, demi laki dan bumi aku tak ikhlas.
Bulir bening di dalam netraku mulai luruh mengaliri pipi. Hancur sudah asa di relung ruang impian. Meski remuk, harus tetapku terjang garis kehidupan ini. Tapi ...,bagaimana dengan impianku bersama Mas Riwan? Mungkin, memang sudah saatnya kupupus semua mimpi itu.
“Lho kok nangis?” tanya Rivan.
Huaaaaa . . .
“Lho ..., malah kenceng. Sudahlah, Aku hanya bercanda dek.” Ucap Rivan dengan wajah tak berdosa.
“Kamu sengaja ya, ngerjain aku?” sahutku protes. Selain terlihat dingin, baru kusadari suamiku juga jail dan menyebalkan.
“Kamu lagi datang bulan kan?” Ia masih saja menggoda dengan wajah datar memuakkan.
“Sok tahu ..., tahu dari mana kamu?” ketusku, semakin membuat darahku mendidih.
“Tuh ...,” Rivan menunjuk ranjang sisa tidur.
Oh tidak. Bocor ... bocor.
Terlihat jelas lukisan merah merona menghiasi sprei. Seperti peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tamu tak diundang sedang mempermalukanku saat itu juga. Kuedarkan pandangan ke segala arah, Rivan masih menertawakanku dengan semangat. Inginku berlari kemudian memuai begitu saja.
Segera ku berlari menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar tidur.
“Dek ..., jangan lama-lama di kamar mandi.” Pinta Rivan dari luar kamae mandi.
“Iya.” Sahut dari balik kamar mandi.
Dalam hitungan jam sifat dingin yang dimilikinya perlahan luntur. Sedikit membuatku nyaris berpikir lega untuk sesaat.
“inget ..., jangan lama-lama nanti listriknya boros.” Tukasnya.
Masih sempatnya dia memikirkan listrik. Kukira sifatnya sudah melunak. Tetapi, lagi-lagi aku tertipu. Dalam sehari saja sudah membuat emosiku terkuras habis. Jika saja ada kamera di sekitar sini sudah kulambaikan bendera putih sedari tadi. Duh gusti ...,
.
Matahari mulai menampakkan sinar. Ia terus merangkak naik meski cahayanya belum sempurna. Jenuh menghantarkan kaki ini untuk berkeliling keluar komplek. Langkahku terhenti di suatu tempat yang tak asing. Terlihat pohon beringin berdaun rimbun. Udara di sekitarnya menciptakan damai, di tambah suasana asri dan sejuk bagi yang menghirupnya.
Nyaman sekali, saat tubuh ini menyandar di batang pohon ini.
“Pembunuh ..., kamu pembunuh!” teriak seseorang padaku.
__ADS_1
Sekejap mata aku terkejut memegang dada yang tak sengaja bergetar. Kutolehkan pandanganku ke sumber suara.
“Tidak mungkin!”