Ikhlas

Ikhlas
Kembalinya sang penerus


__ADS_3

Pertemuan Farah dengan Dimas menjadi kejutan yang teramat mengagetkan banyak orang. Dimas putra kedua keluarga Atmaja. Laki-laki yang mencintai Vira, tanpa ingin memiliki Vira. Seorang paman sekaligus saingan bagi Azzam putra Auliqa Atmaja. Seseorang yang dengan sengaja melindungi atau lebih tepatnya menutupi keberadaan Vira dan Farah selama ini. Dimas menjadi garda terdepan dalam menjaga Vira dan Farah. Bukan ingin memiliki Vira atau memberikan namanya belakangnya pada Farah. Namun Dimas bertahan disisi Vira, agar dia bisa menebus sedikit kesalahan Arka Dwi Atmaja. Ayah kandung Dimas yang tak pernah sadar dan terus sombong dengan harta yang dimilikinya. Dimas menjadi satu-satunya keturunan Atmaja yang tak pernah sejalan dengan Arka dan Angga kakak kandungnya.


Tepat setelah Farah dan Fatih pulang. Dimas dan seluruh keluarga besar Atmaja berkumpul. Tak terkecuali Vika dan Arif yang menjadi bagian keluarga Atmaja. Hubungan Vika dan Arif sedikit membaik. Tatkala Vira memberikan pengertian pada Vika. Vira mencoba menyatukan tali yang mulai rantas. Namun dengan keikhlasan seorang kakak, Vira mampu menyatukan Vika dan Arif. Sehingga malam ini mereka berada di tempat yang sama. Menjadi bagian keluarga Atmaja yang angkuh dan sombong akan harta.


Jam di dinding menunjukkan pukul 23.00, waktu semakin larut dan malam semakin sepi. Namun tidak di ruang tengah keluarga Atmaja. Semua masih terjaga, duduk berjajar di sofa panjang rumah megah Atmaja. Hampir seluruh keluarga hadir, kecuali Fatih dan Farah. Dua cucu yang tak pernah diakui dan tak ingin diakui. Fatih dan Farah meninggalkan acara, tepat setelah Farah mengeluarkan semua sakit hatinya. Amarah yang tanpa Farah sadari telah menghancurkan pesta ulang tahun Nafisa adiknya.


"Dimas!"


"Ada apa kak?" Sahut Dimas datar, ketika Angga memanggilnya. Sebuah panggilan bernada dingin dan seolah menyelidik.


Dimas tak pernah gentar menghadapi Angga atau Arka. Dua orang yang begitu kuat dan angkuh. Baik dua puluh tahun yang lalu atau sekarang. Bagi Dimas selama masih di batas wajar. Dimas tidak akan bertindak, tapi jika melebihi batas wajar. Dimas sanggup melakukan apapun dan akan bertarung dengan tenaga penuh. Seperti ketika Vira terusir dalam kondisi hamil. Saat itulah pertama kali Dimas melawan keluarganya sendiri.


"Ada yang ingin kamu jelaskan!" Ujar Angga datar, Dimas diam membisu.


Tatapan Angga mengunci wajah Dimas. Sedangkan Arka hanya bisa mendengarkan. Di usia senjanya tak ada kemampuan Arka membantah. Jangankan mengutarakan pendapat, sekadar bicara saja Arka tak lagi mampu. Usia lanjutnya menjadi alasan lemahnya saat ini.


"Tentang!"


"Farah Nada Maulida, putri Vira!" Ujar Angga, Dimas mengutas senyum. Sedangkan Azzam langsung menoleh. Dia merasa aneh, ketika Farah menjadi masalah dalam keluarganya.


Azzam sebenarnya tidak peduli akan permusuhan yang dikobarkan Farah pada ayah dan kakeknya. Azzam hanya peduli pada alasan Farah memanggil Dimas dengan ssbutan ayah. Panggilan yang jelas diharapkan oleh Azzam. Pelukan hangat Farah pada Dimas. Mematik api cemburu di hati Azzam. Dia marah sekaligus kecewa. Sebab menurut Azzam, hanya dirinya yang berhak mendapatkan panggilan itu.


"Apa yang ingin kakak ketahui? Katakan saja, aku akan menjawabnya!"


"Sejak kapan kamu mengenalnya? Vira baru datang beberapa minggu yang lalu. Azzam saja belum bisa diterima Farah. Lantas kenapa aku melihatmu begitu akrab dengan gadis liar itu? Bahkan dia memanggilmu ayah!" Cecar Angga, Dimas tersenyum tipis. Dimas seakan ingin mengejek Angga yang begitu benci pada Farah.


Dimas menoleh ke arah Azzam. Nampak jelas Azzam telah berubah. Azzam terus menunduk, bahkam terkesan tidak peduli. Azzam nampak lemah dan tak bertulang. Dia bukan Azzam yang dulu. Azzam yang selalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Azzam yang selalu siap berjuang, demi sesuatu yang menjadi haknya. Termasuk panggilan ayah yang begitu diharapkan Azzam. Namun entah kenapa Azzam seakan mengalah dan menyerah kalah?


"Aku mengenal Farah sejak detik pertama dia terlahir. Suara yang di dengar pertama kali oleh telinga Farah, tak lain itu suaraku. Tanganku yang mendekap erat tubuh kecilnya, untuk pertama kali. Dadaku yang selalu menjadi sandaran, ketika Farah sakit. Jadi jika kakak bertanya, kenapa aku akrab dengan Farah? Tak lain karena dia anak angkatku!"

__ADS_1


"Tidak mungkin!" Sahut Azzam lirih, Dimas mengangguk tanda dia benar-benar tidak berbohong.


"Kenapa tidak mungkin? Jelas aku adalah laki-laki yang menjaga Vira selama ini. Bukan suami yang tak pernah bisa membela istrinya sepertimu!"


"Tapi om Dimas sudah menikah, bagaimana mungkin Farah menjadi anak angkat om Dimas? Jangan-jangan om Dimas yang menyembuyikan Vira selama dua puluh tahun!" Ujar Azzam sedikit emosi, Dimas mengangguk pelan. Arka dan Angga tak percaya, jika selama ini Dimas yang menjaga Vira. Sehingga mereka tak pernah menemukan Vira.


"Kenapa om Dimas melakukan itu? Vira istriku, tak seharusnya om Dimas menjauhkan Vira dariku!"


"Lantas aku harus memberikan Vira pada orang-orang keji seperti mereka. Apa kamu pikir kak Angga berhenti mencelakai Vira? Ketika Vira pergi menjauh darimu. Kamu salah Azzam, kak Angga mengerahkan hampir seluruh anak buahnya. Dia mencari Vira, demi membunuh Farah keturunan mereka sendiri!" Ujar Dimas, lalu menoleh ke arah Arka yang tertunduk lesu.


"Om Dimas berbohong?"


"Tanyakan pada kekekmu kebenarannya. Jika perlu tanyakan pada papamu. Benarkah dia ingin membunuh Farah!"


"Cukup Dimas, tidak perlu mengatkan apa-apa lagi? Jika nyatanya perkataanmu, bak minyak tanah yang disiram di atas api!" Sahut Angga.


Seketika Dimas tertawa lepas, Dimas merasa lucu melihat raut wajah Angga yang ketakutan. Angga jelas tak ingin Azzam mengetahui, tentang yang sebenarnya. Sebuah kisah pahit yang mengiring langkah hidup Farah.


"Kamu mendengar sendiri Azzam, raut wajah papamu begitu takut. Dia merasa tak mampu mendapatkan amarahmu. Meski sejujurnya, amarahmu pantas setelah tindakan mereka!" Ujar Dimas datar, Azzam hanya bisa diam.


"Dimas, papa mohon berhenti bicara!"


"Tidak perlu papa takut Azzam mengetahui yang sebenarnya. Satu hal yang papa dan kak Angga harus ketahui. Kedatangan Farah, bukan tanpa alasan. Dia menjadi saksi kejam dan kejinya kalian. Janin yang hampir tiada di tangan dingin kalian!"


Pryaaaarrr


"Papa, apa itu benar?" Ujar Azzam kaget, Angga dan Arka menunduk lesu. Mereka tak menyangka, kejadian masa lalu akan terkuak malam ini.


Azzam tanpa sengaja menyenggol vas bunga di sampingnya. Keterkejutan dan amarahnya berkumpul menjadi satu. Azzam merasa marah, ketika mendengar betapa keji keluarganya.

__ADS_1


"Terlambat Azzam, amarahmu takkan merubah kejadian dua puluh tahun yang lalu. Sekarang bersiaplah menerima konsekuensi dari lemahmu dulu. Vira mungkin berhati lembut, tapi Farah berhati dingin. Dia mewarisi sifat keluarga Atmaja. Dia pula yang akan menghancurkan kesombongan keluarga Atmaja!"


"Kenapa kamu lalukan ini Dimas?" Ujar Angga tak percaya akan pengkhianatan Dimas.


"Karena janji yang pernah aku ucapkan. Janji akan melindungi Vira. Seandainya kalian melakukan tindakan di atas batas kewajaran!"


"Kamu masih mencintainya!" Ujar Angga sinis, Dimas menggelengkan kepalanya lemah.


"Cintaku hanya sebagai seorang kakak. Aku sudah cukup bahagia dengan status itu. Sudah cukup Vira terluka karena keluarga Atmaja. Saatnya Farah membalas setiap tetes air mata Vira dan itu akan dimulai besok!"


"Apa maksudmu om Dimas?" Sahut Fariz yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.


"Bukankah perusahaanmu mulai goyah!" Ujar Dimas, Fariz mengangguk pelan.


"Kenapa om Dimas mengetahuinya? Jangan katakan Farah dibalik semua ini!"


"Kamu tunggu saja besok, persiapkan dirimu untuk menghadapi hari panjangmu!"


"Dimas kamu dibalik semua kehancuran ini? Apa kamu sadar, sikapmu bisa menghancurkan keluarga Atmaja!"


"Maafkan aku papa, tapi aku tidak ambil bagian dari kehancuran keluarga ini. Sebagai seorang anak aku tidak bisa menyadarkanmu. Namun bukan berarti aku berhak menyakitimu. Apapun yang terjadi pada keluarga ini. Menjadi saksi kembalinya sang penerus yang terbuang!"


"Farah!" Sahut Nafisa lirih, Dimas mengangguk pelan.


"Kakak yang kamu hina tanpa peduli harga dirinya telah kembali. Dia datang bukan mengemis pengakuan kalian, tapi dia datang demi permintaan maaf kalian!" Ujar Dimas final.


"Tidak mungkin!" Ujar Angga tak percaya.


"Dia penerus keluarga Atmaja yang tangguh dan dingin!" Ujar Dimas lantang, suaranya menggema di dalam rumah megah keluarga Atmaja.

__ADS_1


__ADS_2