
"Selamat siang, maaf saya terlambat!" ujar Vira tanpa menatap lawan bicaranya. Vira bergegas duduk, dia merasa malu karena datang terlambat. Vira tidak melihat, siapa orang yang duduk di depannya.
"Vira!" sapa Arif ramah, sontak Vira mendongak. Dia menatap lekat Arif, sang dosen yang dulu pernah mengajarnya. Vira terdiam membisu, pertemuan yang tak pernah Vira bayangkan. Nyata kini terjadi di depan kedua matanya.
Lama Vira tertegun, dia bertemu satu per satu orang dari masa lalunya. Hari Vira membuat janji bertemu dengan laki-laki yang akan meminang adik perempuannya. Kebetulan Vira sudah mengetahui, jika sang calon merupakan dosen di kampus sang adik. Namun Vira tidak pernah menduga, jika itu Arif mantan dosennya dulu.
"Kenapa bapak ada disini? Dimana Vika? Jangan katakan bapak orang yang akan meminang Vika!" ujar Vira, Arif diam lalu mengangguk pelan.
Seketika Vira menggeleng lemah, dia tak percaya akan fakta yang didengarnya. Vira meneguk segelas penuh air putih. Keterkejutannya membuat Vira haus. Dia bingung harus bersikap seperti apa? Vika adik perempuan satu-satunya. Dia tidak ingin melihat Vika sakit hati. Sedangkan nyata, Arif bagian keluarga Atmaja. Keluarga yang membuatnya hancur tanpa sisa.
Arif hanya diam menanti keputusan Vira. Dia tidak akan berharap lebih pada hubungannya dengan Vika. Jelas Arif melihat tatapan penuh kebencian Vira akan keluarga Atmaja. Mungkin Arif tidak bersalah, tapi darah yang mengalir dalam nadinya. Jelas darah keluarga Atmaja yang angkuh dan sombong.
"Dimana Vika?" ujar Vira dingin, Arif menunjuk ke arah kamar mandi. Arif tak lagi bisa berharap, jelas restu itu tidak akan pernah ada untuknya.
Vika Nur Khairunnisa, adik bungsu Vira. Wanita yang memutuskan bercadar semenjak SMP. Adik yang tak pernah Vira kenalkan pada Azzam. Semenjak SMP Vika tinggal di pesantren. Vika tidak pernah bertemu Vira selama lima tahun terakhir. Hanya melalui ponsel, Vira menghubungi Vika. Selain itu, Vira memantau sekolah Vika dari jauh.
Beberapa hari yang lalu, Vika menemui dirinya. Dengan penuh keyakinan dan sedikit rasa takut. Vika mengatakan pada Vira, jika akan ada dosen yang meminangnya. Vika menjelaskan pada Vira. Jika dia tidak akan berta'aruf tanpa izin dari Vira. Sebab itu dia akan mengiyakan pinangan Arif. Seandainya Vira menyetujuinya, jika tidak Vika akan menolak pinangan Arif.
"Kak Vira!" sapa Vika ramah, lalu mencium punggung tangan Vira. Vika duduk tepat di samping Vira. Terlihat Arif semakin tegang, sikap dingin Vira seolah jawaban akan pinangannya.
Arif tak percaya akan berhadapan dengan Vira. Wanita yang dulu mengetuk hatinya. Tak lain kakak perempuan wanita yang menggetarkan hatinya. Wanita bercadar yang mampu membuat hatinya terpaut. Mahasiswi terbaik di kampus yang kini dipimpinnya. Arif merasa sesak, dadanya seakan terhimpit batu besar. Diam Vira serta tatapan dinginnya. Membuat nyali Arif menciut. Sebelumnya Arif pernah bertanya, seandainya kakaknya menolak Arif. Akankah Vika setuju dengan sang kakak? Di luar dugaan Arif, Vika mengangguk tegas tanpa keraguan. Alasan terbesar Arif pesimis akan hubungannya dengan Vika.
"Vika, sejauh mana hubunganmu dengan pak Arif? Apa kakakmu Rayyan mengetahui masalah ini? Lantas apa pendapatnya?" cecar Vira dingin tanpa jeda. Sontak Vika menunduk lesu, Arif menggeleng tak percaya. Dia melihat sisi lain Vira. Lima tahun menghilang, Vira seakan terlahir kembali. Menjadi Vira yang dewasa dan pemberani.
__ADS_1
Gleeekkk
Arif menelan ludahnya kasar, ketika tatapannya bertemu dengan tatapan tajam Vira. Arif menyadari penolakan yang akan dia terima. Arif bisa menyimpulkan semua itu. Dari cara Vira bertanya dan sikap diam Vika yang seakan tak percaya pada ketulusannya. Arif pasrah apapun yang terjadi? Tidak ada alasan Arif memaksakan cintanya.
"Vika, kenapa kamu diam? kakak sedang bertanya padamu. Kemana keberanianmu saat meminta kakak menemui pak Arif? Sekarang setelah kakak mengiyakan permintaanmu. Kenapa kamu hanya menunduk? Seolah kamu sendiri tidak pernah yakin akan hubungan kalian!" ujar Vira dingin, Vika menunduk semakin dalam. Arif menggeleng lemah, dia berada diposisi yang tak menguntungkan. Vira bukan orang yang mudah dihadapi.
Arif jelas melihat keteguhan Vira saat meninggalkan Azzam. Tak ada penyesalan atau air mata yang terlihat. Apalagi kisah cintanya yang tak bersambut. Akan dengan mudah dihancurkan oleh Vira. Diam Vika semakin menciutkan nyali Arif. Kedua kalinya dia jatuh cinta, entah kenapa harus pada dua saudara kandung? Jika dulu Arif mampu melupakan Vira. Entah sekarang mampukah Arif melupakan Vika? Mahasiswi yang mengusik malam-malam indah Arif.
"Vira, tidak perlu menekan Vika. Dia bukan wanita pemberani sepertimu. Vika tidak akan bicara, jika kamu tidak mengizinkan. Biarkan dia diam, aku yang akan menjawab. Katakan apapun yang ingin kamu ketahui!" ujar Arif tegas, Vira mengangguk mengerti. Sekilas Vira menoleh ke arah Vika.
"Aku datang kemari bukan untuk bicara. Aku tidak ingin mencari kelemahan atau kebaikan dirimu. Aku mengenal pak Arif, sebelum pak Arif mengenal Vika. Aku percaya pak Arif calon imam yang baik. Sebaliknya aku memahami Vika, lebih dari pak Arif memahaminya. Aku tahu kapan dia yakin dan kapan dia ragu? Aku ada di depan pak Arif hanya demi Vika. Aku akan pergi, jika Vika menginginkannya. Sekarang katakan, pantaskah Vika diam dan terus menunduk? Disaat aku butuh kejelasan darinya" ujar Vira dingin, Arif menggeleng lemah. Vira menghubungi seseorang, Vira meminta orang dihubunginya datang.
"Vira, aku menyukai adikmu. Mungkin kamu tidak akan setuju, tapi aku percaya kamu memahami sakitnya hati. Ketika rasa rasa itu tak bersambut. Namun aku menyadari, masa lalumu yang pahit. Menjadi pelajaran paling berharga dalam hidupmu dan kamu tidak akan pernah membiarkan Vika merasakannya. Namun alangkah bijaknya, jika masa lalumu tidak kamu sangkut pautkan dengan masa sekarang. Hubunganmu dengan Azzam, berbeda dengan hubungan diantara kami. Percayalah Vira, sampai detik ini Vika tidak pernah membalas rasaku. Vika mengenalku sebagai seorang dosen, tidak lebih!" ujar Arif, Vira diam seraya menoleh ke arah Vika. Lalu tak berapa lama Vira menggeleng seraya tersenyum tipis. Dia tidak setuju akan perkataan Arif. Pemikiran dangkal yang dianggap mampu memahami dalam hati Vira.
"Aku tidak pernah menyangkut pautkan masalahku dengan Vika. Dia tidak pernah mengetahui kepedihanku, biarkan semua terkubur sedalam mungkin. Aku hanya butuh satu ketegasan dari Vika. Yakin akan hubungan kalian!" ujar Vira tegas.
"Vika, bicaralah sekarang. Katakan isi hatimu, jika tidak Vira akan berpikir salah tentangku!" ujar Arif, Vika menghela napas panjang.
"Kak Vira, jika aku tidak yakin akan hubungan ini. Maka tidak akan pernah aku memintamu datang. Seorang imam jalan makmum menuju jannah-NYA. Sangat bodoh bila aku memilih seseorang dengan sembarangan. Pak Arif tidak sempurna, tapi aku percaya kami akan sempurna bila saling melengkapi!" ujar Vika, Vira mengangguk pelan. Arif merasa lega mendengar pembelaan Vika. Kini tidak ada lagi alasan Vira menolak rasanya untuk Vika.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu!" ujar Vira lirih, sembari berdiri. Vira berjalan meninggalkan Arif dan Vika. Seketika Vika menghadang Vira. Dia merentangkan tangan di depan Vira. Pertanda dia tidak ingin melihat Vira pergi.
"Kakak jangan pergi, aku tidak akan meneruskan hubungan ini. Seandainya kakak tidak mengizinkan. Aku tidak akan bahagia tanpa restu kakak. Pilihanmu jalan hidupku. jangan tinggalkan aku tanpa bicara apa-apa?" ujar Vika, suara isak tangis terdengar jelas. Air mata Vika menetes di balik cadarnya. Arif termenung menatap Vika. Dia terenyuh melihat besar rasa sayang Vika pada Vira.
__ADS_1
"Kakak harus pergi, tidak ada hak kakak memutuskan jalan hidupmu. Bukankah kamu sudah memutuskan, jika pak Arif yang terbaik. Jadi jangan pernah mundur dengan pilihanmu!" ujar Vira, Vika menggeleng lemah.
"Kakak berhak atas hidupku. Kakak bukan hanya saudaraku, kakak ibu bagiku. Aku butuh ridhomu, sedangkan diammu jelas mengatakan kakak tidak setuju!"
"Vika, kakak tidak menolak atau mengiyakan hubunganmu dengan pak Arif. Sungguh bukan kakak yang berhak bicara. Sebentar lagi kak Rayyan datang. Dia wali yang akan mengantarmu menuju pelaminan. Kak Rayyan yang akan menyerahkan dirimu pada imam pilihanmu!" ujar Vira, lalu berjalan melewati Vika.
"Aku mohon jangan pergi, Vika butuh kakak!" ujar Vika lirih, sembari menangkupkan kedua tangannya.
"Vira, mereka tidak pantas disalahkan. Aku dan keluargaku yang melukaimu, bukan Arif!" ujar Azzam lirih, tangannya menahan lengan Vira erat. Entah darimana Azzam datang? Namun kedatangannya membuat semua orang terkejut.
"Aku tidak melarang hubungan mereka!" sahut Vira seraya meronta melepaskan tangan Azzam.
"Tapi diammu seakan penolakan akan hubungan mereka!" ujar Azzam dingin.
"Kak Azzam, Vika sudah dewasa. Dia bisa memutuskan dan menanggung akibat dari keputusannya. Layaknya diriku yang terlalu cepat yakin pada cinta kita. Namun nyatanya cinta kita menghancurkan banyak hati. Sekarang aku memilih diam, aku ingin melihat seberapa bijak Vika memutuskan!"
"Kak Azzam benar, jika mereka tidak pantas disalahkan. Cinta mereka tulus dan putih. Tak ternoda oleh perbedaan. Namun status yang disematkan orang tuamu. Tidak akan pernah bisa menyatukan perbedaan itu. Anak ART tidak pantas bersanding dengan keluarga Atmaja. Bukankah itu yang selalu dipikirkan keluargamu!" ujar Vira emosi.
"Kak Vira!" sapa Rayyan, Vika berlari memeluk Rayyan. Tubuh tegapnya merangkul Vika dengan sangat sempurna.
"Kamu sudah datang, putuskan yang terbaik untuk Vika!" ujar Vira final.
"Kak Rayyan, aku minta maaf!" ujar Vika lirih, takut akan amarah Vira. Rayyan mengusap kepala Vika. Menenangkan Vika yang takut akan amarah Vira.
__ADS_1
"Arif, semua akan baik-baik saja!" ujar Azzam menenangkan.