Ikhlas

Ikhlas
Hadiah kecil


__ADS_3

"Kak Azzam!" Gumam Rayyan lirih, Fatih langsung menoleh searah tatapan Rayyan.


Sebuah mobil mewah nampak memasuki gerbang tinggi universitas ternama di kota ini. Mobil yang jelas menunjukkan kehebatan sang pemilik. Rayyan langsung bisa mengenali sang pemilik mobil. Orang yang dulu begitu dekat dengan Vira. Tepat saat mobil berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri. Rayyan tanpa sengaja menyebut namanya. Sebuah nama yang mengusik hati keponakannya.


Sebaliknya Fatih terkejut, bukan karena dia bahagia melihat Azzam. Namun rasa marah yang jelas menguasai hatinya. Kepalan tangan yang seketika menghantam mobil. Mampu menunjukkan besar amarah dan rasa kecewanya. Rayyan menggeleng lemah, menepuk pelan pundak Fatih. Berharap Fatih menghapus kebencian yang tak seharusnya ada.


"Om Rayyan, Fatih harus masuk. Kita akan bertemu di aula!" Pamit Fatih ramah, lalu mencium punggung tangan Rayyan. Sosok yang selama ini dihormati oleh Fatih layaknya seorang ayah.


"Tunggu Fatih!" Cegah Rayyan tegas, Fatih menghentikan langkahnya. Tatkala tangannya tertahan oleh tangan Rayyan.


Fatih heran melihat Rayyan yang begitu tegang. Raut wajah Rayyan sangat serius, Fatih semakin tak heran. Tatkala Rayyan sulit mengatakan keinginannya. Sebagai seorang tentara, Rayyan selalu tegas dan teguh dalam pendiriannya. Sangat tidak mungkin Rayyan ragu mengatakan sesuatu, jika memang tidak ada yang disembuyikan. Fatih menatap lekat wajah Rayyan. Dengan penuh ketenangan Fatih menanti kata dari Rayyan.


"Ada apa?" Ujar Fatih lirih, tatkala Fatih mulai merasa lelah menunggu jawaban dari Rayyan.


"Sapa kak Azzam, dia papamu. Tak sepantasnya kamu mengacuhkan kedatangannya. Seorang anak wajib hormat pada orang tuanya!" Ujar Rayyan, Fatih menoleh ke arah mobil Azzam.


Tak ada sedikitpun hasrat dimata Fatih, untuk menyapa Azzam. Jelas Fatih tak berharap menyapa atau bertemu dengan Azzam. Seorang ayah yang tak pernah memiliki tempat di hati Fatih. Rayyan termenung menatap Fatih, dingin sikap Fatih seolah membuat Rayyan yakin. Jika Azzam tak pernah ada dalam hati putranya.


Nampak Azzam dan Nafisa turun bersamaan. Fatih tak pernah menganggap Nafisa sebagai adiknya, tapi dia mengetahui kalau Nafisa adik sambungnya. Lalu dengan perlahan, Fatih menepis tangan Rayyan. Fatih melepaskan cengkraman tangan Rayyan. Fatih memutar tubuhnya searah jam dua belas. Menatap lurus ke arah Azzam dan Nafisa.


"Om Rayyan, dia tidak akan merasa kesepian tanpa diriku. Dia tetap bahagia, selama ada putri yang selalu tersenyum di sampingnya!" Ujar Fatih dingin, sembari menatap tajam ayah yang tak pernah bisa disentuhnya.


"Tapi dia ayahmu, kamu berjanji takkan pernah membencinya. Kenapa sekarang kamu mengacuhkannya? Kamu tak menepati janji, seorang laki-laki harus bertanggungjawab akan janjinya!"


"Aku tidak akan membencinya bila tak melihatnya. Sebab itu aku pergi, agar rasa kecewa tak mengisi hatiku!"


"Fatih!" Sapa Rayyan memelas, Fatih menggeleng lemah.


"Tidak mudah bagiku melupakan dua puluh tahun yang telah terlewati. Mungkin aku bisa melupakan setiap rasa sepiku. Menghapus kecewa yang terpendam dalam jiwaku. Mengacuhkan setiap duka yang pernah aku rasakan. Namun menerima dia masuk ke dalam hidupku. Semua itu tidak mudah dan takkan mungkin bagiku!" Ujar Fatih sembari berlalu.


Fatih berjalan tegak masuk ke dalam kampus. Mengacuhkan kedatangan ayah yang sangat merindukannya. Meninggalkan Rayyan yang tak percaya akan sikap teguh sang keponakan. Fatih menghancurkan banyak hati yang mengharapkan cintanya. Langkah tegak Fatih, seirama dengan hatinya yang teguh menjauh dari Azzam.


"Kak Fatih!" Gumam Nafisa lirih.


Azzam menatap nanar sang putra yang tak pernah ingin mengenalnya. Tatapan sendu penuh rasa sakit. Menghancurkan dingin yang membelenggu jiwa Azzam. Menyisakan lemah dan tersiksa akan penolakan Fatih putranya. Tubuh Azzam mematung, langkah kakinya tertahan. Sikap acuh Fatih, seakan menghancurkan seluruh tulang belulangnya.


"Sampai kapan kamu membenci papa? Setidaknya sekali saja, beri kesempatan papa mengetuk hatimu. Papa akan buktikan padamu, betapa besar rasa sayang papa untukmu? Dulu atau sekarang, tak pernah berubah rasa sayang papa padamu. Dua puluh tahun tak pernah bisa menghapus rasa sayang dan rindu ini. Selamanya kamu ada dalam hati dan jiwa papa. Sekali saja Fatih, sekali saja!" Batin Azzam pilu.


Bugggghh


"Aku takkan memintamu bersabar menerima sikapnya. Namun jika rasa sayangmu masih ada untuknya. Kuatkan hatimu, dia tak jauh berbeda darimu. Fatih tengah mencari jati dirinya, mencoba menyembuhkan luka yang dulu menganga dalam hidupnya!" Ujar Arif, sesaat setelah menepuk pundak Azzam.


Arif mungkin suami Vika, adik ipar Vira sekaligus paman yang paling menyayangi Fatih. Namun dibalik semua hubungan itu, Arif adalah sepupu Azzam. Hubungan darah yang takkan mungkin hilang dengan begitu mudah. Arif satu-satunya orang yang selalu mengatakan kondisi Fatih pada Azzam. Orang yang mencoba menyatukan Azzam dengan Fatih. Meski semua terasa sangat sulit dan mustahil sampai saat ini.


"Arif!"


"Azzam, percayalah Fatih tak sekeras itu. Dia lahir dari cintamu dengan Vira. Dalam setiap kerasmu ada lembut Vira. Dalam lemahmu ada teguh Vira. Dalam sikap gamangmu ada bijak Vira. Kelak saat dia menyadari arti cinta. Dia akan mengerti, apa yang terjadi tak lebih dari jalan tertulis?"


"Dua puluh tahun?"


"Aku tahu Azzam, dua puluh tahun yang terlewat tidaklah mudah. Namun hari ini akan menjadi akhir sepi selama dua puluh tahun?"


"Maksudmu apa Arif?"


"Kak Vira akan kembali. Dia akan datang dengan cahaya cintanya. Kak Vira alasan semua duka ini. Hanya dia yang mampu menyembuhkannya!" Ujar Arif tenang, Azzam menoleh terkejut. Raut wajahhya memerah, perasaannya bercampur aduk.


"Vira!" Teriak Azzam tak percaya, tangannya mencengkram lengan Arif sangat kuat. Azzam tak percaya Vira akan kembali. Setelah dua puluh tahun kepergian, hari ini terdengar jelas Vira akan kembali.


"Iya, Kak Vira kembali. Dia akan datang memenuhi janjinya pada Fatih. Bersabarlah Azzam, percayalah Fatih akan mengakuimu suatu hari nanti!" Sahut Arif tegas.


"Vira, dia kembali!" Ujar Azzam lirih, setetes bening air mata Azzam menetes. Kerinduan dan amarah membuncah dalam dadanya. Azzam tak percaya, nama yang kama terkubur kini terucap dari bibirnya.

__ADS_1


"Kak Arif, kita harus masuk!" Sapa Vika lirih, Azzam dan Arif menoleh bersamaan. Suara lembut Vika, membuyarkan kepiluan yang tiba-tiba hadir dalam hati Azzam.


"Sebentar sayang!" Sahut Arif lembut dan mesra.


Vika mengangguk pelan. Sekilas Vika melihat Azzam menyeka air mata yang terlanjur menetes. Vika melihat kesedihan yang jelas dirasakan oleh Azzam. Besar kerinduan pada sosok Vira, istri yang pergi menjauh.


"Vika!" Sapa Azzam ramah, Vika mengangguk pelan menyahuti sapaan Azzam.


"Apa kabar kak Azzam?" Ujar Vika sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Vika menghormati Azzam layaknya seorang kakak. Kisah cinta Vira yang tak pernah bahagia. Tak pernah membuat Vika merasa pantas menyalahkan Azzam. Dengan bijak Vika menyikapi masalah yang terjadi. Vika merasa Azzam tak bersalah, tapi Azzam jugalah alasan semua ini terjadi.


"Lama tidak bertemu, aku harap kamu baik-baik saja. Terima kasih telah menjaga Fatih, setidaknya aku tenang melihat Fatih tumbuh dalam pengawasanmu!"


"Kamu juga selalu mengawasinya!" Sahut Arif lantang, sembari menepuk pelan pundak Azzam.


"Arif!"


"Tidak perlu terkejut, kami semua tahu. Hampir setiap hari kamu datang ke rumah kami. Hanya untuk memeriksa kondisi Fatih. Setiap malam kamu berdiri dalam gelap, menatap kamar putra yang kamu rindukan. Kami sadar, sekeras apapun Fatih menolakmu. Namun hatimu tetaplah seorang ayah yang hanya tenang. Ketika melihat putranya baik-baik saja!" Tutur Arif, Vika mengedipkan kedua mata indahnya.


"Apa yang dikatakan kak Arif benar? Fatih putramu, dia keponakan sekaligus putra kak Vira. Fatih amanah yang kita jaga bersama-sama. Tak perlu ada kata terima kasih, Fatih berhak mendapatkan kasih sayang orang-orang menyayanginya!" Sahut Vika ramah.


Azzam termenung menatap kepergian Vika dan Arif. Keduanya pamit saat melihat ada pihak kampus yang menjemput Azzam. Sebagai tamu kehormatan, Azzam mendapat keistimewaan dalam penyambutan. Sedangkan Nafisa sudah pergi menyusul Fatih. Nafisa berniat menyapa Fatih, mengucapkan kata selamat secara langsung. Nafisa tidak peduli seandainya Fatih menolak kedatangannya. Nafisa akan tetap mengucapkan kata selamat dengan menanggung segala resiko.


"Kak Fatih!"


"Kenapa dia mengikutiku? Bukankah tadi dia datang bersama tuan Azzam!" Batin Fatih, sesaat setelah dia melihat Nafisa berlari ke arahnya.


"Kak Fatih!" Teriak Nafisa lantang, langkah kakinya semakin lebar. Nafisa mencoba mengejar Fatih yang terus berjalan menjauh darinya.


"Kak Fatih!" Ujar Nafisa lantang, sembari merentangkan tangan tepat di depan Fatih. Nafisa menghentikan langkah Fatih, dia menghadang langkah kakak yang begitu dingin padanya.


"Dingin, mirip dengan papa yang tak pernah tersenyum. Mereka sama-sama angkuh, dingin tak berhati. Dasar ayah dan anak, sebelas dua belas!" Batin Nafisa kesal, bibirnya maju beberapa centi ke arah wajah Fatih.


"Jika tidak ada yang ingin kamu katakan. Aku akan pergi, waktuku tidak banyak. Apalagi untuk hal yang tidak penting!" Ujar Fatih dingin tak berhati.


Huuufff


"Aku memanggilmu sejak tadi, bukannya berhenti kakak malah terus berjalan. Tidak mungkin mahasiswa terbaik di kampus memiliki kelainan pendengaran!" Sahut Nafisa ketus.


"Terserah!" Ujar Fatih dingin, lalu pergi melewati Nafisa.


"Kak Fatih!" Teriak Nafisa lantang, sontak beberapa mahasiswa melihat ke arah Fatih dan Nafisa. Tak terkecuali beberapa sahabat Fatih.


Sejak Nafisa menginjakkan kakinya di kampus. Tak ada satupun yang mengetahui fakta, jika Nafisa adik kandung Fatih. Hubungan keduanya tak pernah akrab, bahkan terkesan tak saling mengenal. Sebab itu, saat Nafisa memanggil Fatih dengan sebutan kakak. Semua mata langsung terkejut. Pribadi Fatih yang dingin, membuat Fatih menjadi idola yang tak tersentuh dan selalu membuat penasaran.


"Apa lagi?"


"Aku belum selesai bicara!"


"Kalau begitu bicara, jangan hanya membuang waktuku!"


"Bisa tidak kita bicara dengan tenang!" Pinta Nafisa menghiba, Fatih menatap tajam Nafisa. Tak ada rasa benci dalam hatinya untuk Nafisa. Namun mengakui hubungan darah diantara mereka, tidak semudah membalikkan telapak tangan.


"Aku harus masuk. Bicara sekarang atau tidak sama sekali!" Ujar Fatih final, Nafisa mendengus kesal.


Nafisa akhirnya mengaku kalah, dia memilih mengikuti permintaan Fatih. Kehangatan yang dibayangkan sejak tadi, pupus tak bersisa. Lalu secara perlahan Nafisa memasukkan tangannya ke dalam tas. Nafisa mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dengan penuh kasih sayang, Nafisa memberikan sebuah kado. Sebuah hadiah kecil yang sengaja dipersiapkan Nafisa. Kasih sayang yang ingin ditunjukkan pada Fatih. Berharap hati dingin Fatih tersentuh dan luluh akan hangat kasih sayangnya. Sehingga Fatih bersedia merentangkan tangan, memberikan pelukan hangat yang selalu dirindukan oleh Nafisa.


"Hadiah untuk kakak!" Ujar Nafisa sembari menyodorkan bungkusan kecil ke arah Fatih.


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Kelulusan kakak!"


"Terima kasih, tapi aku tidak terbiasa menerima hadiah!"


"Tapi aku tulus memberikannya pada kakak!" Ujar Nafisa lirih, Fatih diam menatap bingkisan kecil di tangan Nafisa.


"Aku mohon, kakak bersedia menerimanya. Aku membelinya dengan uang sakuku!" Ujar Nafisa lirih, Fatih tetap tak bergeming.


Buuugghh


"Ambillah Fatih, itu bukan hanya sekedar hadiah. Ada kasih sayang tersirat dalam hadiah itu!" Ujar Bayu, sembari menepuk pelan pundak Fatih.


"Jika kamu suka, kamu bisa memilikinya!" Ujar Fatih dingin.


"Seandainya itu untukku, aku akan mengambilnya sejak tadi. Takkan aku biarkan mata-mata lapar mereka menikmati kecantikan adikmu!" Bisik Bayu lirih, Fatih langsung menoleh ke belakang. Dia melihat beberapa mahasiswa menatap lapar ke arah Nafisa.


"Aku tidak akan pergi sampai kakak menerima hadiahku!"


"Terserah!" Ujar Fatih, lalu berlalu pergi.


"Kak Fatih jahat!" Ujar Nafisa lirih.


"Pergilah, sebelum kamu merasa lelah. Aku tak mengenalmu, tapi aku mengenal kakakmu. Dia selalu teguh pada keputusannya. Menunggu disini tidak akan membuatnya kembali!"


"Dia pasti kembali, aku yakin hatinya tak sedingin itu?"


"Pergilah, aku mohon!" Ujar Bayu, Nafisa menggeleng lemah. Nafisa bertahan dengan keputusannya.


Bukan tanpa alasan Nafisa bertahan. Sejak semalam Nafis bertekad harus bisa mengucapkan selamat pada Fatih. Dengan resiko yang mungkin tak pernah dibayangkannya. Termasuk berdiri memohon hanya demi hadiah yang sudah dipersiapkannya.


"Kini aku percaya kamu adik kandung Fatih. Kalian berdua sama-sama keras kepala!" Ujar Bayu, Nafisa menunduk sembari memegang hadiah untuk Fatih.


Hampir lima belas menit Nafisa berdiri. Kaki dan tangannya mulai kram. Bayu setia menemani Nafisa, karena dia mengenal teman-teman satu angkatannya. Bayu merasa perlu menjaga Nafisa layaknya seorang adik. Bayu tidak ingin Nafisa mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Mungkin Nafisa putri orang ternama. Namun tak ada yang bisa menjamin, jika hasrat sudah menguasai otak yang kotor. Walau Nafisa tak tersentuh, perkataan tak pantas teman Bayu. Mampu membuat Nafisa hancur.


"Jangan pernah menemuiku seperti ini!" Ujar Fatih dingin, sesaat setelah memakaikan jas almamaternya pada Nafisa. Fatih kembali hanya untuk menutupi tubuh yang memperlihatkan kecantikan Nafisa. Dia tidak ingin ada yang berpikir buruk tentang Nafisa. Bagaimanapun dia adik perempuannya? Adik yang seharusnya Fatih lindungi.


"Kak Fatih!"


"Apalagi, aku sudah menerima hadiahmu!" Sahut Fatih sinis.


"Terima kasih!" Ujar Nafisa riang.


"Untuk!"


"Kasih sayang kakak!"


"Hmmm!"


"Kak Fatih, aku menyayangimu!"


"Pergilah, sebelum aku mengembalikan hadiahmu!"


"Baik!" Ujar Nafisa lalu berlari menjauh.


"Adikmu unik penuh keceriaan!" Bisik Bayu.


"Jaga pandanganmu, jika tidak ingin berurusan denganku!" Ujar Fatih tegas.


"Akhirnya sang kakak mengakui adiknya!"


"Diam kamu bayu!"

__ADS_1


__ADS_2