Ikhlas

Ikhlas
Pesta


__ADS_3

"Selamat malam, boleh saya gabung!" Sapa Bayu ramah, Vira mengedipkan mata indahnya. Isyarat Vira mengizinkan Bayu bergabung bersama mereka.


"Silahkan Bayu!" Sahut Fatih, Bayu mengangguk pelan. Sekilas Bayu melirik ke arah Farah yang diam menunduk.


Farah seolah tak peduli dengan kedatangan Bayu. Sikap yang selalu sama pada semua orang. Sebaliknya Bayu datang bukan tanpa undangan. Sengaja Fatih mengundang Bayu malam ini. Selain Fatih merasakan rasa Bayu pada Farah. Bayu juga sahabatnya, orang yang sudah dianggap sebagai saudara olehnya. Fatih berpikir ingin merayakan hari bahagianya bersama Bayu dan Farah. Agar bahagianya terasa lengkap.


"Selamat kawan, semoga bertambahnya usia. Kamu semakin dewasa dan sukses!" Ujar Bayu, sembari mengulurkan tangan sebagai ucapan selamat.


Bayu dan Fatih saling berpelukan. Keduanya larut dalam hangat perayaan sederhana yang sengaja disiapkan Vira. Nampak Bayu dan Fatih tertawa bersama. Hubungan persahabatan yang berharap menjadi persaudaraan.


"Terima kasih, tapi aku jauh lebih bahagia. Jika kamu mampu meluluhkan hati adikku. Hanya padamu aku mempercayakan kebahagiannya. Namun seandainya aku salah menilai, kamu berhak berkata tidak!" Bisik Fatih, seketika Bayu melepaskan pelukannya.


"Kamu!" Ujar Bayu terkejut, Fatih mengangguk pelan.


Fatih mengerti rasa terkejut Bayu, sebab Bayu tak pernah mengatakan apapun tentang Farah. Namun sebagai seorang laki-laki, Fatih melihat jelas tatapan penuh rasa kagum Bayu pada Farah. Sebab itu Fatih berani mengatakan harapannya. Kebahagian Farah yang selalu ingin dia wujudkan.


"Apa dia tahu?" Ujar Bayu cemas, Fatih menggelengkan kepalanya pelan.


"Jangan katakan apapun. Jika tidak ingin persahabatan kita berakhir!" Ujar Bayu lirih, Fatih mengangguk pelan. Fatih mengangkat jari jempolnya, isyarat Fatih mengerti semuanya dengan baik.


"Tidak baik bicara berdua, ketika ada orang lain di samping kalian. Jika memang yang dikatakan sangat rahasia. Lebih baik mencari tempat yang lebih tenang. Agar tak ada fitnah!" Tutur Farah dingin, Bayu menelan ludahnya kasar.


Satu kebodohannya telah membuat Farah berpikir negatif tentang dirinya. Cara bicara Farah, menyiutkan nyali Bayu. Seketika Bayu merasa ragu untuk mendekati Farah. Bukan tidak suka dengan dingin Farah. Melainkan Bayu merasa tak sepadan dengan cara pikir Farah yang luas. Sosok wanita yang terlalu istimewa. Baginya yang mulai mengagumi Farah.


Di saat Bayu merasa malu dengan perkataan Farah. Sebaliknya Fatih tertawa melihat sikap kikuk Bayu. Fatih merasa lucu melihat pipi Bayu layaknya udang rebus. Merah menahan malu, sekaligus kikuk menahan rasa yang dia simpan untuk Farah. Vira menggelengkan kepalanya pelan. Sikap dewasa Farah, terkadang membuat Farah bersikap terlalu dingin pada orang lain. Sikap yang membuat laki-laki takut mendekatinya. Entah sampai kapan dewasa dan mandiri Farah? Satu hal yang selalu diharapkan Vira. Kelak saat dia tiada, Vira berharap ada satu imam di samping Farah.


"Tidak ada yang lucu!"


"Sumpah Bayu, wajahmu sangat lucu. Aku melihat betapa Farah membuatmu ketakutan. Satu katanya saja, seakan mampu membuat tulangmu lemas!" Ujar Fatih, seketika Bayu melempar sendok ke arah Fatih.


Tuukk


"Sakit!" Ujar Fatih, ketika keningnya terbentur sendok yang dilempar Bayu. Tangannya mengusap lembut kening yang terasa ngilu.


"Lebih baik kamu diam, jika tidak ingin merasakan sakit yang lebih!" Sahut Bayu mengancam, Fatih membungkuk pelan. Kedua tangannya menangkup tepat di depan dadanya. Seolah Fatih meminta maaf telah menggoda Bayu.


"Hati-hati saat bercanda, terkadang kelucuan yang berlebihan akan berakibat fatal. Selalu ingat saat tertawa, mungkin detik berikutnya kita menangis!" Tutur Farag tegas, sontak Bayu menoleh ke arah Farah.


Nampak Farah tetap tenang dengan buku yang sedang dibacanya. Bayu melihat raut wajah tenang penuh keteduhan. Farah tak terusik dengan kehangatan Bayu dan Fatih. Sebaliknya Bayu terkesima melihat keseriusan Farah. Seolah ada sebulir air bening menetes dari dagu Farah. Bulir air yang mampu menghilangkan dahaga hatinya. Penghapus kerinduan dalam hatinya. Pelita dalam gelap jiwa.


"Cantik!" Gumam Bayu, Fatih menepuk pundak Bayu pelan. Bayu terkejut, ketika merasakan tangan Fatih menyentuh pundaknya


"Kekagumanmu akan menjadi zina. Jika tak mampu menahannya. Pinang Farah, diterima atau tidak. Sudah menjadi yang terbaik. Setidaknya jangan pertaruhakan imanmu hanya karena cantik fisik yang akan hilang dimasa tua!" Ujar Fatih lirih tepat ditelingan Bayu. Seketika Bayu menggeleng lemah, Fatih tersenyum lalu menepuk pelan pundak Bayu berkali-kali.


"Baiklah!" Sahut Fatih lugas.


"Apapun yang kalian bicarakan, mama minta hentikan dulu. Jika menunggu kalian selesai bicara. Makanan yang ada di depan kalian akan dingin!" Ujar Vira hangat.


"Maaf!" Sahut Bayu dan Fatih bersamaan.


"Farah sayang!" Sapa Vira, Farah mengangguk pelan. Namun tangannya menunjuk ke arah buku yang dipegangnya.


"Selesaikan hafalanmu, setelah itu makan malam!" Ujar Vira, Farah mengangguk pelan.


Bayu menggelengkan kepalanya pelan. Sesat setelah dia melihat buku yang sejak tadi dipegang Farah. Bayu merasa rendah, ketika dia menyadari Farah bukan membaca buku. Melainkan Farah tengah menghafal Al-Quran. Bayu merasa sisi tak pantasnya bersanding dengan Farah. Kekaguman Bayu semakin tak bisa dikatan. Ketika dia melihat kekhusyukan Farah saat menghafal. Bayu benar-benar merasa tak sepadan. Pemikiran yang dewasa, iman yang kuat dan ketakwaan yang begitu besar. Sosok yang tak pernah dibayangkan Bayu menjadi pendampingnya.


"Dalam keramaian, dia begitu tenang menghafal. Dalam kegaduhan, dia begitu santai menghafal. Dalam keglamauran, dia begitu sederhana menghafal. Seakan dunia berhenti berputar baginya. Ketika dia menghafal. Mampukah aku menggapai hati dengan iman sekuat itu? Haruskah cintaku berakhir, saat aku menyadari cintaku takkan mampu merebut duniamu!" Batin Bayu.


"Sebelum makan, jangan lupa membaca doa. Agar yang kita makan menjadi manfaat bukan sebaliknya!"


"Farah!" Ujar Vira, Bayu tersenyum simpul.

__ADS_1


"Terima kasih telah mengingatkanku!" Sahut Bayu, saat menyadari dirinya yang dimaksud Farah. Fatih tertawa melihat cinta Bayu yang semakin terlihat.


"Diam!" Ujar Bayu pada Fatih, kedua mata Bayu melotot ke arah Fatih.


"Oke, maaf!" Ujar Fatih.


Semua orang sibuk dengan hidangan yang ada di depannya. Bayu tak sekalipun mengangkat wajahnya. Bayu takut menatap Farah, dia takut tak mampu mengendalikan hatinya. Bayu tak ingin menghancurkan suasana malam ini dengan perasaan yang tak jelas. Fatih mengamati Bayu dengan seksama. Pemikirannya tentang perasaan Bayu pada Farah terbukti benar adanya. Rasa yang jelas membuat Fatih bahagia.


Tap Tap Tap


"Kak Fatih!" Teriak Nafisa histeris. Nafisa merangkul Fatih dengan erat. Sontak Fatih merasa tercekik, ketika rangkulan Nafisa terasa begitu erat.


"Lepaskan!" Ujar Fatih lantang. Nafisa menggeleng lemah, tangannya semakin erat memeluk Fatih. Dengan sekuat tenaga, Fatih mencoba melepaskan pelukan Nafisa. Namun sia-sia, seakan tenaga Nafisa bertambah.


"Fatih, biarkan Nafisa memelukmu. Dia adikmu!" Ujar Vira, seketika Fatih mengalah.


"Selamat ulang tahun kak Fatih!"


"Terima kasih!"


"Aku tidak sendirian, ada papa dan mama. Mereka ingin merayakan ulang tahunmu!" Ujar Nafisa riang, Fatih seketika melepaskan pelukan Nafisa kasar.


"Fatih!" Teriak Vira marah, sontak Fatih menunduk.


"Nafisa cantik, kenapa papa dan mama tidak masuk?"


"Papa dan mama masih di lobi. Aku berlari menemui kak Fatih. Takut kalian pulang!" Ujar Nafisa riang.


"Kalau begitu duduklah!" Pinta Vira, Nafisa mengangguk tanpa ragu. Nafisa duduk tepat di samping Bayu.


"Apa kabar kak Bayu?" Sapa Nafisa riang.


"Baik!" Sahut Bayu singkat, sembari melirik ke arah Farah. Bayu seakan berharap kata cemburu dari tatapan Farah. Namun semua sia-sia, Farah tak peduli akan kedekatan Bayu dengan Nafisa.


"Malam ini papa ingin merayakan ulang tahun kakak. Papa sengaja mengosongkan jadwalnya malam ini. Papa juga mengundang beberapa kerabat. Salah satunya dokter Bima yang merawat Farah!"


"Aku tidak menginginkan semua itu!"


"Fatih cukup, biarkan papamu merayakannya. Lebih banyak orang, akan lebih baik. Banyak doa untukmu!" Sahut Vira lantang dan final, Fatih menunduk. Nafisa tersenyum penuh kemenangan.


"Akhirnya aku bisa merayakan ulang tahun kakak!" Ujar Nafisa riang, senyum cerianya seketika menghangatkan dingin malam. Nafisa selalu riang, meski jauh dalam hatinya ada luka yang menganga.


Tak berapa Azzam dan Nadya menghampiri meja Vira. Nampak Nadya merangkul lengan Azzam. Tepat di belakang mereka, Andra datang bersama Bima. Entah apa yang sedang direncanakan Azzam? Satu hal yang pasti, malam ini akan terlewati penuh dengan kenangan. Vira berdiri menyambut Azzam dan Nadya. Tangan Vira menjulur menyambut Nadya. Vira menyambut hangat kebaikan Azzam dan Nadya. Tak terlihat rasa marah di mata Vira.


"Silahkan duduk, terima kasih telah merayakan hari ulang tahun Fatih!" Sapa Vira hangat, sembari menangkupkan tangan menyapa Andra dan Bayu.


"Maaf semuanya, saya permisi!"


"Farah berhenti!" Ujar Vira, Farah menoleh. Tangannya menekan tongkat begitu kuat. Agar tubuhnya tak terjatuh.


"Ada apa?" Sahut Farah dingin. Farah merasa marah dengan semua yang dilihatnya.


"Tidak baik pergi, saat semua orang berada di sini!"


"Farah ada atau tidak? Tidak akan membuat acara malam ini berakhir. Farah hanya ingin menenangkan diri. Bintang malam ini bukan Farah, tapi kak Fatih!"


"Tapi kakak butuh kamu!" Ujar Fatih lirih dan bergetar, Farah menggeleng lemah.


"Ada Nafisa yang akan mengisi tempatku. Dia adik yang selama ini menemanimu!" Ujar Farah lantang, Farah tak lagi mampu dirayu.


Farah merasa rendah diri. Ketika berada di samping Nafisa, meski sebenarnya tangguh Farah takkan ada yang menandingi. Farah benar-benar kuat, dia rela menyimpan lukanya demia orang lain.

__ADS_1


"Tapi kakak hanya ingin kamu!"


"Kakak harus belajar merelakan. Tak sepantasnya kakak melukai hati Nafisa. Dia adik yang tulus menyayangimu. Cukup kakak melukai hatinya. Adanya diriku hanya akan menyakiti hatinya!" Tutur Farah tegas, Fatih menggelengkan kepalanya tak percaya. Dia merasa Farah hanya mencari alasan. Namun suara tongkat Farah semakin jelas. Ketika dia mulai pergi, tapi Vira menahan tangannya.


"Farah mama mohon, demi kak Fatih. Sekali saja Farah!"


"Maaf ma!"


"Kenapa Farah? Sebenci itukah kamu pada papa. Katakan apa yang harus papa lakukan demi kata maaf darimu? Papa akan melakukan apapun demi kata maaf itu!" Ujar Azzam menghiba, Farah menggeleng lemah.


Farah melangkah menjauh, kakinya tertatih-tatih melangkah. Suara tongkat bergantian terdengar menyayat hati. Suara seretan kaki Farah, bak tusukan jarum di hati Azzam. Teringat semua rasa sakit yang dialami Farah. Rasa sakit yang jelas takkan terlupa begitu saja.


Buuuggghhh


"Farah, papa mohon!" Ujar Azzam, sembari berlutut. Suara benturan lutut Azzam dengan lantai sangatlah keras. Namun Azzam tak merasakan sakit, hatinya jauh lebih sakit melihat suara tongkat Farah. Tangan Azzam menangkup menghiba, berharap satu kata maaf dari Farah.


"Papa!" Teriak Nadya dan Nafisa bersamaan.


"Azzam!"


"Mas Azzam!" Teriak Vira cemas, Vira berlari hendak membantu Azzam berdiri. Namun langkahnya terhenti, ketika dia menyadari bukan tangannya yang kini pantas membantu Azzam.


Fatih dan Bayu seketika berdiri. Mereka terkejut melihat Azzam berlutut, menghiba pada Farah. CEO besar berlutut berharap rasa kasihan. Sesuatu yang tak pernah terpikir oleh Bayu dan Fatih. Andra dan Bima berhambur ke arah Azzam. Mereka membujuk Azzam bangkit, tapi sia-sia. Azzam menolak semua tangan. Hanya tangan Farah yang diharapkannya.


"Farah!" Teriak Vira emosi.


Tap Tap Tap


Farah terus melangkah, sekuat tenaga Farah mengangkat tongkat penyangganya. Farah tak bergeming, meski dia mendengar teriakan Vira. Langkah kaki Farah terus menjauh. Meski lengannya mulai terasa lelah, Farah terus melangkah.


"Farah, berhenti!" Teriak Vira semakin emosi.


"Mama!" Ujar Fatih cemas. Fatih tidak ingin melihat Vira marah pada Farah.


"Sekali lagi kamu melangkah, mama akan lupa kalau kamu putri mama!" Teriak Vira lantang.


Deg


Seketika jantung Farah berhenti, perkataan Vira membuat Farah sakit. Fatih menggelengkan kepala tak percaya akan perkataan Vira. Tangannya menangkup, memohon agar Vira tak mengutuk Farah hanya karena emosi sesaat. Entah apa yang membuat Vira mampu mengatakan kutukan itu? Namun diam melihat sikap tak pantas Farah. Vira tidak akan sanggup, dia tetap seorang ibu yang mengharapkan hal baik bagi putrinya.


"Kenapa ma? Kenapa?" Ujar Farah tanpa menoleh ke arah Vira. Sebuah pertanyan yang takkan pernah Farah dapatkan jawabannya. Farah seolah ingin mencari keadilan bagi dirinya yang selalu terlindas.


Vira melangkah menghampiri Farah. Vira tidak ingin Farah salah paham dengan maksudnya. Vira tidak berharap Farah semakin berdosa dengan membenci Azzam. Vira ingin Farah tetap bersikap sopan pada Azzam, meski saat ini Farah sangat membenci Azzam.


"Sayang!" Ujar Vira lirih, tangannya menangkup wajah Farah. Namun tangan Vira ditepis oleh Farah.


"Jangan mendekat!" Ujar Farah sembari melangkah mundur.


"Farah, mama memintamu berhenti bukan karena membela papamu. Mama melakukan semua ini demi dirimu!"


"Apa yang mama harapkan dariku?"


"Mama tidak meminta apapun? Hanya satu kata maaf untuk papamu!"


"Maafkan Farah, kata maaf Farah yang mama minta. Sudah tiada bersama harapan Farah!"


"Jangan membenci papamu. Dia tidak sepenuhnya salah!"


"Sejak dulu dia tidak salah, karena seorang laki-laki akan merasa benar meski mengkhianati cinta. Sama halnya dia yang bahagia bersama putrinya. Lantas untuk apa aku ada, jika sudah ada yang mampu menghapus airnya!"


"Tapi papa tidak pernah tahu tentangmu!" Sahut Azzam.

__ADS_1


"Jika begitu, anggap aku tak pernah ada. Jangan meminta maaf, sebab hatiku terlalu dingin hingga kata maaf tak ingin mengenalku!" Sahut Farah lantang.


"Seandainya aku bisa memelukmu, menghapus air matamu!" Batin Bima


__ADS_2