
“Kamu kenapa nangis? Maafkan aku ya, kalau terlalu kejam padamu?”
'Aku bukan menangis karenamu Mas. hanya saja, hatiku terlalu pedih saat bayangan Riwan--adikmu selalu menari-nari serta mengusik jiwa. maafkan aku, Mas ..."
Rinjani?" Rivan melambaikan tangannya tepat di depan wajah Rinjani. dahinya mengkerut. ada apa dengan Rinjani?
Rinjani diam seribu bahasa. Enggan untuk menjawab. Hanya memalingkan muka dan melangkang mendekati daun jendela.
Diam, mungkin hanya itu yang bisa kulakukan. Hanya saja, rasa kesal-benci kian menggumpal di dalam sanubari.
Sang waktu kian bergulir. Tetes embun mulai bergelayut manja ke dalam dekapan mega. Matahari tak lagi menampakkan sinarnya. Gemericik air yang jatuh seiringan dengan air mata. Mereka seakan tahu, luka hati yang begitu lara karena tak mencinta.
Jemari Rinjani menempel ke kaca yang mulai mengembun.
“Kenapa harus seperti ini?” ucapnya lirih.
Kenapa? Terlambat. Meski Ia menangis seribu kali bahkan sampai langit runtuh pun percuma. Semuanya sudah terjadi.
“Kamu bisa menolaknya kemarin?” Rinjani tersentak mendapati Rivan yang memperhatikannya.
Tentu saja Rinjani menerima lamaran itu. Ia mengira yang melamarnya adalah Riwan-adik iparnya saat ini bukan Rivan-suaminya saat ini (terpaksa). Apa yang akan terjadi jika Rivan mengetahui hal ini? Jangan sampai terjadi …
Haruskah dia merasa bersalah? Tidak. Semua itu salahnya. Di antara seribu gadis mengapa ia memilihku?
__ADS_1
“Karena kamu anak Pak Marno.” jawab Rinjani datar. sangat bodoh, bila ia menceritakan semuanya.
“Hanya karena itu?” Rivan masih ragu. Hanya karena Bapaknya Rinjani mau menerima lamarannya.
Ingin rasanya bertanya lebih jauh lagi. Tapi diurungkan niatnya.
“Iya.” Jawab Rinjani singkat.
Keduanya sama-sama hening bergelut dengan gejolak masing-masing.
Waktu menunjukan pukul 23.06 WIB. Rivan membuka kamarnya. Netranya melihat divan kayu jati berukiran khas jepara dengan kasur springbed 30 cm. Beralih ke gadis yang saat ini telah berstatus istri. Auranya begitu memukau. Rambutnya tergerai sempurna dipangkuan bantal. Langkah demi langkah pelan Rivan menghampiri.
“Kamu sedang apa?” Rinjani mengucek mata.
Belaian. Ia merasakan sentuhan tangan yang sedang mengusap ujung kepala. Matanya masih enggan bangun dari tidur. Namun dengan cepat menepis. Tempat ini masih terasa asing.
Hatinya merasa iba dengan penderitaan gadis di pelupuk matanya. lagi-lagi rasa maludan gengsi selalu menguasai.
Angannya memutar kembali menelisik sosok gadis yang telah lancang mencuri hati. Rambut ikal melambai-lambai seakan berteriak menggoda. Suaranya yang melengking dan menjengkelkan mengapa suara itu berubah menjadi nestapa. Maafkan aku Rinjani.
“Nggak usah panik. Aku nggak akan menyentuh seseorang yang tidak mencintaiku.” Ucap Rivan datar.
Tangannya menarik selimut yang sedang dikenakan Rinjani. Gadis dihadapannya kini melotot. Bulat sempurna.
__ADS_1
“Hei, ini selimutku!” teriak Rinjani. Kedua tangannya sibuk menarik kain tebal itu.
Sedangkan mata keduanya sedang beradu-tatap bersitegang. Dadanya bergetar. Tapi kenapa?
Sebenarnya, Rivan begitu malas berdebat. Terjadi tarik-menarik di antara keduanya.
Huft ... Rivan menghela nafas.
“Ayolah ..., aku nggak bisa tidur tanpa selimut ...” Rinjani merintih berharap dikasihani.
Ternyata tidak pria di hadapannya sangat dingin. Lebih tepatnnya tidak peka dan tidak berperikewanitaan. dimana-mana laki-laki harus mengalah kan? Sedangkan dia? Ah, lupakan.
“Oke ...” akhirnya Rivan mengalah.
Kaki jenjangnya dengan cepat meloncat ke kasur. Tubuhnya sangat lelah.
Sentuhan?
Kuburlah semua keinginan itu. Bahkan engkau tau, tak ada sepercik pun bagian tubuhku yang akan ku persembahkan.
Kuharap engkau mengerti.
"Kamu ngapain ikut tiduran di kasur?" Rinjani melirik tajam.
__ADS_1
"Turun kamu!"
"lebih baik mengijinkanku tidur di sini, atau aku menuntut hak ku sebagai suami? ys ... kamu tinggal pilih ..."