
"Assalammualaikum!" ujar Vira lirih dan lemah. Suara Vira sedikit parau, menandakan letih tubuh Vira malam ini.
"Waalaikumsalam!"
Terdengar sahutan dari ruang tengah. Vira berjalan masuk ke dalam rumahnya. Langkah kakinya terasa berat, sesekali terlihat Vira memijit pelipisnya pelan. Tepat di samping ruang tengah, Vira menghentikan langkahnya. Vira menoleh seraya tersenyum, lalu beranjak kembali hendak menuju kamarnya.
"Kak!" sapa Vika, Vira menoleh ke arah dapur.
Vika membawa nampan berisi makanan dan minuman. Sesaat setelah mendengar mobil Vira. Vika bergegas menuju dapur, menghangatkan makan malam. Menyiapkan makanan untuk Vira kakaknya. Kebiasaan yang selalu dilakukan Vika sejak dulu. Arif tidak pernah melarang atau sekadar bertanya alasan sikap Vika. Arif menerima Vika sepenuhnya, dengan lemah dan lebih. Termasuk kebiasaan lama Vira yang takkan pernah Arif ingin merubahnya.
"Terima kasih Vika, kakak tidak lapar!" sahut Vira lesu, lalu berlalu tanpa menoleh lagi pada Vika.
Braakkk
Vika meletakkan nampan berisi makanan di atas meja. Vika berlari mengejar langkah pelan Vira. Tiba-tiba Vika memeluk Vira dari belakang. Menghentikan langkah Vira, mendekap tubuh lemah dan letih sang kakak. Pelukan Vika sangat erat, sampai Vira merasa sesak. Vira menepuk pelan tangan Vika. Isyarat dia baik-baik saja. Berharap Vika tak mencemaskan dirinya.
Vika menggeleng lemah, setetes air mata Vika membasahi punggung Vira. Vika gadis pendiam dan sangat perasa. Berbanding terbalik dengan Vira yang kuat dan tak mudah bergantung. Vika merasa semakin jauh dengan Vira. Dia mendapatkan pendamping hidup, tapi kehilangan saudara yang selama ini menjadi sandarannya.
"Kenapa kamu menangis? Kakak memang tidak lapar. Seharian kakak pergi ke tempat proyek. Sekarang hanya istirahat yang kakak butuhkan!" ujar Vira, Vika diam membisu di balik punggung Vira.
Dengan lembut Vira menarik tubuh Vika menghadap ke arahnya. Vira mengangkat dagu Vika pelan, menatap sendu kedua mata Vika yang sembab. Vira menarik tubuh Vika, lalu memeluknya erat. Membalas perhatian Vika yang tulus padanya.
"Vika sayang, kakak benar-benar tidak lapar. Jika kamu tidak percaya, baiklah kakak akan makan malam. Namun biarkan kakak bersih-bersih dulu. Setelah itu kakak turun makan malam. Sekarang pergilah temani suamimu. Dia yang harus kamu layani. Kakak bisa menyiapkan makan malam sendiri!" ujar Vira ramah, sembari mengusap kepala Vika yang tertutup hijab.
Vika menggelengkan kepala tidak setuju dengan perkataan Vira. Vika merasa menyiapkan keperluan Vira masih menjadi tugasnya. Arif memang suami yang harus dihormati dan dilayani oleh Vika dengan sepenuh hati. Namun Vira jauh lebih berharga, Vira ada jauh sebelum Arif dalam hidupnya. Jadi tidak mungkin Vika melupakan kebiasaannya bersama Vira.
"Kak Vira, aku merindukan hari-hari bersama kita. Kakak semakin jauh dariku. Kakak selalu mengajarkanku untuk berbakti pada kak Arif. Namun tanpa kakak sadari, tanpa sengaja kakak ingin menjauh dariku!"
"Kamu salah Vika, kakak tetap ada di sampingmu. Hanya saja, kamu telah berbeda. Ada Arif yang akan menjagamu. Dia imam sekaligus pendampingmu. Dia yang kini menggantikan tanggungjawab kakak. Selamanya kita keluarga, tidak akan pernah kita terpisah. Kakak jauh lebih tenang semenjak kamu menikah. Satu beban kakak saat ini. Menikahkan Rayyan dengan makmum yang terbaik!" ujar Vira, Vika mengangguk mengiyakan. Kedua saling melepas pelukan, Vira tersenyum menatap wajah Vika.
__ADS_1
"Kamu harus bahagia demi kakak!" ujar Vira lirih, lalu beranjak naik ke lantai dua. Vira berjalan perlahan menuju kamarnya. Satu demi satu anak tangga dilewati. Tenaga Vira telah terkuras habis. Kini tersisa tubuh lemah yang letih.
Tap Tap Tap
"Apakah keberadaanku yang membuatmu menjauh dari Fatih? Apakah kamu ingin melepas tanggungjawab Fatih padaku? Sampai kamu tega menguak masa laluku!" ujar Azzam dingin, Vira mendongak terkejut.
Vira melihat Azzam berdiri gagah di anak tangga teratas. Dengan mata sayu, Vira menatap lekat Azzam. Tanpa menyahuti perkataan Azzam, Vira berjalan menghampiri Azzam. Vira menduga Azzam mendengar pembicaraannya dengan Vika. Sehingga Azzam merasa hal yang sama berlaku untuk Fatih.
"Maaf, aku lelah!"
"Kita harus bicara, menghindar bukan cara yang benar. Aku sengaja diam melihat sikap dinginmu. Berpikir kamu butuh waktu untuk menenangkan diri. Kamu pergi ke luar kota dan pulang larut malam setiap harinya. Hanya agar kamu tidak bertemu denganku. Vira sudah cukup sikap konyolmu. Bukan hanya Vika yang merindukanmu. Fatih putra kita kesepian tanpamu!"
"Kak Azzam, Fatih bukan anak yang cengeng. Dia lahir dengan ketegaran seorang ibu. Jadi tidak mungkin dia menangis, hanya karena merindukanku. Fatih anak pemberani dan tangguh, dia memahami kesibukanku!"
"Vira, dia masih anak-anak. Sekuat-kuatnya Fatih, dia butuh orang tuanya. Dia butuh kita, bukan hanya salah satu diantara kita. Mungkin Fatih tidak akan menangis, tapi diam Fatih jawaban dari lukanya!"
"Bukankah kakak ada bersamanya!" sahut Vira, lalu berjalan menjauh dari Azzam.
Braakkkk
"Kak Azzam, apa yang kamu lakukan? Keluar dari kamarku!" ujar Vira lantang, sesaat setelah mendengar Azzam menutup kasar pintu kamar Vira.
"Kamu tidak berhak mengusirku. Kamarmu juga kamarku. Kamu masih sah istriku, sampai detik ini aku tidak pernah mengucapkan talak padamu!"
"Aku mohon keluarlah, aku benar-benar lelah!"
"Vira, kamu egois dan angkuh. Sikapmu seakan kamu yang paling terluka. Nyatanya sikapmu malah menyakiti Fatih. Lihatlah Vira, semua orang terluka dengan sikapmu!"
"Keluar!" ujar Vira sembari menunjuk ke arah pintu. Isyarat meminta Azzam keluar dari kamarnya. Azzam tersenyum sinis, dia menatap Vira yang sangat berbeda. Vira jauh dari pribadi yang ramah. Vira yang ada di depannya penuh dengan amarah.
__ADS_1
"Kenapa kamu berubah Vira? Dimana suara merdu lagi menenangkan milikmu? Apa yang telah terjadi padamu? Sampai kamu berbuat sejauh ini. Aku tidak akan ikut campur urusanmu. Seadainya Fatih tidak terluka dan merindukan ibunya!"
"Aku mohon keluarlah!" ujar Vira lirih, sembari menangkupkan tangan di depan dadanya.
"Apa karena om Dimas sikapmu inj? Apa dia laki-laki yang membuatmu selangkah demi selangkah jauh dari kam?" ujar Azzam sinis, Vira menatap tajam Azzam. Kedua bola mata Vira membulat sempurna. Tak menyangka Azzam akan berkata seperti itu.
"Apa yang kamu miliki saat ini? Semua pemberian om Dimas!" ujar Azzam semakin sinis.
Plaakkk
"Aku mungkin miskin, tapi aku punya harga diri. Tidak akan kujual itu, demi status dan kebahagian semua. Hubunganku dengan kak Dimas itu tulus. Tidak berhak kamu menghina persabahabatan kami!"
"Jika dia sahabatmu, lantas siapa aku? Bukankah aku suamimu. Kenapa padanya kamu mengatakan keluh kesahmu? Seharusnya aku orang yang mengetahui dukamu. Aku orang yang seharusnya menghapus air matamu!" ujar Azzam emosi.
"Karena dia tidak pernah meragukanku. Dia tidak pernah ingin menyakitiku. Kamu memang suamiku, dia bukan siapa-siapaku? Satu hak yang membuatmu ada di atasnya. Namun di sisi lain, kamu jauh di bawahnya!"
"Dia memahamimu, karena kamu menceritakan semua keluh kesahmu!" ujar Azzam, Vira menggeleng lemah.
"Sebaliknya kak Azzam, aku tidak pernah mengeluh padanya. Kak Dimas tidak pernah mengetahui masalahku. Hanya saja dia tahu bagaimana menghargaiku? Bukan bagaimana cara menghancurkanku!?" ujar Vira sinis.
"Mungkin kamu lupa, aku pernah mengatakan dasar hubungan kita. Kejujuran satu-satunya yang aku minta sebagai mahar pernikahan kita. Namun kamu mengkhianatinya. Kamu menjadikan cintaku alat balas dendam!"
"Vira kamu salah paham, itu dulu sebelum aku mencintaimu!"
"Sudahlah, aku benar-benar letih. Jika kakak tidak ingin keluar dari kamarku. Tetaplah disini, tidak akan ada yang nemintamu keluar!"
"Vira, kumohon maafkan aku. Lupakan kenangan pahit masa lalu!" bisik Azzam tepat di telinga Vira. Azzam memeluk erat tubuh Vura dari belakang. Merasakan hangat tubuh dan harum rambut Vira. Azzam larut dalam kerinduan yang begitu besar.
"Aku tidak pernah bisa membencimu, karena aku mencintaimu. Namun salahkah aku yang terus bertahan dengan duka ini. Biarkan aku merasakan sendiri tanpamu. Belajar berdamai dengan luka ini. Sampai aku lelah dan menyerah akan dingin dan sepi yang kurasakan!"
__ADS_1
"Kenapa Vira? Kenapa kamu menelan semua luka itu? Tak satu katapun kamu katakan padaku. Berpikir aku pantas menanggung beban hatimu!" ujar Azzam lirih, Vira menggeleng tanpa ragu.
"Jangan pernah membelaku, jika ada pertengkaran antara aku dan keluargamu. Sebaliknya jangan pernah salahkan keputusan yang aku buat. Percaya tanpa meragukan yang aku harapkan darimu. Rasa percaya yang tanpa sadar telah terkhianati oleh angkuhmu!" ujar Vira final.